
Kita tinggalkan sejenak keuwuan pasangan dua gombal yang sedang berjuang dalam proses melanjutkan keturun itu. Sejenak kita tengok pasangan pengantin basi yang kemarin sudah terlebih dahulu pulang ke Jakarta, demi mendadak surprisenya tersebut.
Pagi senin, eh bukan subuh senin setelah sholat subuh Kevin sudah berangkat ke Bandung. Bersama supir dan Tama asisten barunya, yang entah kapan di seleksi. Yang pasti udah cocok dan paham dengan segala bentuk perintah Kevin. Tama masih muda, usianya 24 tahun, baru tamat S1 jurusan komunikasi. Mereka di pertemukan saat Tama menunggui salah satu keluarganya di Hildimar Hospital. Maka, kerjasama pun terjalin. Sudah kurang lebih dua bulan.
Kevin tiba di perusahaannya, mengagetkan beberapa karyawan yang tampak bertumpuk di beberapa kubikel tertentu. Ngapain lagi kalo bukan bergosip, entah tentang apa. Bagi mereka saat Wakil CEO tak ada adalah waktu terbaik untuk berleha leha dan bersantai ria. Sebab Gilang bukanlah wakil CEO yang hanya bersembunyi di balik kursinya untuk bekerja, tetapi selalu mengadakan patroli dadakan untuk memastikan kinerja para karyawan tersebut. Dan selalu membuat catatan khusus untuk ia pertimbangkan bahkan jika perlu akan ia laporkan pada atasannya dan di bicarakan saat rapat rutin bersama seluruh karyawan tersebut.
“Bosan kerja…?” tanya Kevin singkat yang mampu membuat pias pucat di wajah tiga orang yang berdiri di kubikel orang lain demi menjalin keharmonisan gossip mereka.
“Maaf pa. Pinjam penggaris.” Alasan Mela yang segera beringsut meninggalkan kubikel itu sambil membawa penggaris temannya.
Dan dua lainnya ikut bergeser pelan tak berani memberi alasan berada pada titik kumpul itu.
Kevin tidak menggubris jawaban dan segera berlalu menuju ruangannya.
“Siska keruangan saya.”Tengoknya sebentar ke ruangan sekretaris.
“Baik pak.” Siska yakin tidak salah lihat, jika itu benar Kevin bukan Gilang. Ya, Siska pun tidak tau jika hari ini Kevin yang turun ke perusahaan. Walau ia tau jika Gilang dan Gita masih berada di Singapura.
“Selamat pagi pak Kevin.” Ceria Siska menyapa Kevin yang su dah duduk di sofa ruangannya. Itu berarti dia tidak sedang membahas pekerjaan.
“Pagi juga Sis. Mau tanya, kamu kapan cuti?”
“Hah…?”
“Ke Korea. Kalian kapan berangkat?”
“Oh… minggu depan.”
“Langsung nikah atau bagaimana?”
“Tidak. Kesana juga sebentar kamis berangkat, minggu pulang. Hanya jumpa dengan ibunya Asep.”
“Kok Cuma sebentar?”
“Biasalah ASN ga bisa cuti sembarangan, potong gajih pak. Kalo kami berangkat kamis, jadi dia hanya ijin sehari, di hari jumat itu saja.” Jelas Siska.
“Apa Asep berhenti saja ya jadi ASN. Kerja di sini saja gimana?” Kevin memang suka sesuka dengkulnya ya gaes kalo ngomong.
“Hah…? Siapa kita kok mau berentikan dia jadi ASN pak?” jawab Siska bingung.
“Iya juga ya. Terus nikahnya kapan?”
__ADS_1
“Insya Allah bulan depan di Cikoneng.”
“Itu kampung lho Sis. Yakin?”
“Yakin dong pak. Bangga lagi kalo bisa nikah dan resepsi di kampung. Bakalan heboh ntar.”
“Gitu ya... apa ga serba susah nantinya? Ga ada gedung kan?”
“Iya… acaranya di gelar di halaman rumah saja. Tetangga pasti bakalan rame jogged gitu.”
“Masa begitu rame Sis?”
“Iiih bapak mana tau sensasinya nikahan dan resepsi di kampung. Apalagi kalo bisa sewa artis ibu kota. Bisa satu malam suntuk lho jogednya sampai pagi, rame banget jadinya.”
“Hah… segitunya. Ga norak?”
“Norak itu bagi bapak. Tapi bahagia bagi warga kampung. Penjaja makanan juga ikut lancar usahanya. Warga kampung juga tiga hari sebelum hari H sudah pada kumpul pa, bikin panggung, juga masak bersama untuk acara tersebut.”
“Hah… serepot itu. Ga bawa cathering saja gitu Sis dari kota.”
“Ya… di desa gotong royongnya masih kental pa. Hal itu justru di nanti nantikan.”
“Bapak mau lama di sana? Ga hanya datang di hari H?” tanya Siska lagi.
“Maulah nyak babe udah lama penasaran kampunhmu, sekalian mau ajak Aydan dan Naya anggap liburan ke desa gitu. Banyak pantai juga di sana, pasti seru Ay main di sana.”
“Iya sih, kalau bapak pasti ke sana dan mau lama. Nanti Siska bilangin ke ayah, supaya bersihkan rumah sebelah. Pasang AC ya, kasihan Naya.” Saran Siska.
“Ya boleh boleh. Kalau tidak repot di cat ulang ya Sis, minta tolong misal ada plafon yang jebol atau rusak bagian mana saja. Minta Pak Herman perbaiki.” Pinta Kevin pada Siska.
“Baiklah siap pak… nanti akan Siska bilang sama ayah.” Jawabnya kalem.
“Oh iya… Sis. Bagaimana perekrutan pegawai baru sudah panyak pelamar?”
“Banyak banget, lebih 50 orang pelamarnya.”
“Wow… tapi sudah mulai seleksi?
“Sudah jalan ujian tertulisnya. Sedang di ranking.”
“Kita ambil 30 orang ya yang nilai terbaik.”
__ADS_1
“Sudah pak.”
“Oh… gitu. Nanti tahap wawancara akhir saya dan Mae masuk TIM ya. Karena Gilang bilang Gita akan resign. Jadi kita butuh tambahan untuk sekretaris Gilang.”
“Kenapa tidak ambil Ninik saja pak?”
“Ninik cewek.”
“Tapi kan teman Gita juga.” Timpal Siska lagi.
“Tapi dia sudah klop bekerja sama dengan Danu di HRD.” Jawab Kevin lagi.
“Saran aja sih, jika mau kasih jabatan sekretaris, mendingan pegawai lama. Yang sudah kenal kita. Dari pada memberi jabatan pada orang baru. Lagi pula jatuhnya ga ada apresiasi pada pegawai lama yang sudah loyal pada perusahaan ini.”
“Iya kalau loyal, kalau tidak? Sini ikuti saya.” Ujar Kevin yang lagi lagi keluar mendadak dari ruangannya. Dan berjalan pelan menuju kubikel kubikel yang di ciumnya rawan gossip.
Lagi… Kevin seperti hantu. Tiba-tiba berdiri di kubikel tadi dengan formasi yang sama, bagai dejavu tiga orang tadi lagi lagi Kevin dapatkan sedang berdiri diri, ketawa ketiwi membahas sesuatu yang ga jelas di kubikel tadi lagi.
“Kalian bertiga ikut saya ke ruangan.” Suara Kevin bagai petir yang menggelegar di rungu ke tiga karyawan kurang etika itu.
“Mampus kalian…!” Umpat Siska dalam hati.
Ga usah tanya mereka ngapain di dalam. Tentu saja siding mendadak di gelar, tapi Kevin sedang kekurangan karyawan ya. Maka ke tiga orang tadi tidak segera di pecat, melainkan hanya di beri peringatan untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak seharusnya di lakukan di jam kerja.
Kevin bukan orang semena mena ya, yang tak berhati dalam hal mencabut jalan rejeki orang dengan membabi buta. Tapi tetap menunjukkan ketidak sukaannya pada orang yang tidak disiplin. Hukuman pasti selalu ada.
Tepat saat jam Sholat isya akan bermulai, Kevin sudah kembali berada di Jakarta lagi.
“Abang… kok pulang. Bukannya nginap di Bandung?” kejut Muna mendapati suaminya sudah berdiri di depan pintu utama.
“Hah…? bunuh abang aja Mae, kalau harus di suruh tidur sendiri di Bandung tanpa kalian.” Peluknya pada Muna yang bahkan belum 24 jam berpisah sudah membuatnya rindu lagi.
Bersambung…
Mereka memang selalu uwu ya gaes. Pelan pelan kita persiapkan pernikaham Asep dan Siska nih.
Siapin saweran... soalnya kita bakalan joged sampai pagi.
Makasiih
🌹🌹☕☕👍👍🙏🙏
__ADS_1