CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 79 : MAKANAN PENUTUP


__ADS_3

Kemudian baru mereka makan malam bersama dengan menu sarden yang jadi bintang utamanya.


Ayam goreng sudah terlebih dahulu di embat oleh Riswan dan Haniyah. Sebab keduanya tampak kompak tidak mau mengambil lauk sarden yang sudah di mix dengan sayur dan mie tadi.


Berbanding terbalik dengan Gita yang justru tak sabar ingin segera memberi nilai pada hidangan rakyat jelata tersebut.


Gita sudah mengisi nasi di piringnya dan juga Gilang. Tak mau terulang kasus wajah cemberut si ibu mertua.


Seperti waktu pertama kali bermalam di rumah itu.


Lauk sarden mix sayur dan mie itu sudah di piring Gita, menjadi teman nasi yang akan segera di transferkan ke dalam mulut dan kerongkongannya. Gita merasa lucu, baru kali ini menikmati hidangan karbo juga dengan lauk berkarbo. Udah kaya jeruk makan jeruk saja,. pikir Gita sendiri.


"Gimana neng?" antusias Gilang saat menu itu sudah benar masuk ke dalam mulut Gita.


Istrinya itu mengangkat alisnya turun naik. Juga dengan senyum lebar.


"Enak a'..., saosnya kaya saos sphageti a'." Ujarnya sumringah.


"Ikannya gimana?"


"Ya rasa ikanlah, masa kaya stiek sapi." Gurau Gita pada suaminya, masih di meja makan.


"Ya beginilah menu andalan wong cilik Git." Ucap ibu Gilang pelan sembil memamah makanan yang masuk dalam mulutnya.


"Kenapa wong cilik? Memangnya berapa harga sarden?" tanya Gita tampak serius.


"Bercanda kamu, Git. Masa ga pernah liat harga sarden?" bu Dian tak kalah serius.


"Beneran belum pernah makannya dan ga tau harganya bu." Jawab Gita jujur.


"Neng... sarden ini satu kalengnya, mungkin sekarang tujuh ribu rupiah, kacang panjang ini kurang lebih tiga ribu rupiah, mienya juga tiga ribu. Jadi total seporsi ini hanya lima belas ribu rupiah neng, bisa di makan bertiga. Karena hanya sebagai lauk." Jelas Gilang pada Gita.

__ADS_1


"Waah... murah sekali ya ..."


"Ini menu makanan penyambung hidup kami, Git. Saat teh Arum dan Gilang masih sekolah. Kami harus berhemat, tapi juga ingin makan ikan. Supaya kebutuhan gizinya tetap tercukupi." Kenang ibu Gilang flashback ke masa lalu.


"Udah bu, itu masa lalu. Masa yang indah. Tapi tak semua yang indah itu kita ulangi. Tuh liat, alhamdulilah Riswan dan Haniyah. Walau sudah tak memiliki ayah, tapi tetap beruntung. Bisa menikmati ayam goreng bahkan tanpa berbagi porsi. Tidak seperti kita dulu, telor sebutir harus cukup buat tiga orang. Itu artinya, taraf hidup kita sudah lebih baik ya kan." terang Gilang kemudian. Sambil memandang ke arah Gita yang bahkan sudah menghabiskan sendokan sarden di dalam piringnya tadi.


“Waah… sudah bersih. Tambah, neng?” tawar ilang pada Gita.


“Eh, jangan. Ga usah a’, udahan aja makannya. Yang lain kan belum makannya.” Jawab Gita agak malu dan sadar jika tak hanya dia yng akan memakan lauk itu.


Gilang segera mengambil mangkuk berisi lauk legend di keluarganya tersebut, lalu menuangkan lagi di dalam piring istrinya.


“Habiskan aja neng, a’a buat telor ceplok sebentar.” Jawabnya sambil berdiri akan ke dapur untuk memasak telur praktis.


“E…eh. A’a. Jangan a’a yang buatkan. A’a duduk aja, bentar eneng buatkan.” Gita kini lebih gesit dan cepat tanggap. Terutama urusan perut suaminya, apalagi di rumah ibu mertuanya.


Walau ada jeda saat prosesi makan malam itu, namun tak mengurangi semangat mereka untuk terus melanjutkan makan malam sederhana malam itu.


Setelah makan Gita memilih berada dalam kamar Gilang, sekedar membersihkan apa saja yang bisa ia rapikan di dalam sana. Dan ternyata Gilang punya beberapa koleksi komik Kungfu Boy yang legend tahun 90 –an itu. Gita gabut atau apa, sehingga terduduk saja di dalam kamar itu, sambil membacanya. Sedangkan Gilang seperti biasa, jika di rumahnya. Ia selalu menghabiskan hampir seperempat malamnya ngobrol bersama ibu, dari teras hingga kamar wanita yang telah melahirkannya itu.


Gilang segera mengambil buku di tangannya tersebut. Melipat bagian yang terbuka,mungkin saja besok atau kapan. Gita ingin melanjutkan bacaan itu lagi dan meletakan komik itu di atas meja. Kemudian menggendong istrinya ke atas tempat tidur.


Huh


Bukannya tidur, saat di angkat tangan Gita malah ia kalungkan di leher Gilang. Mulai menantang sang suami dengan mencium cium pipi, dahi, dagu dan terakhir bibir manis suaminya.


“Heem… nakal. Dari tadi nungguin ya neng.” Tebak Gilang membuat Gita mengangguk sambil tersenyum mengoda.


“Maaf ya… ga marahkan?” ujar Gilang yang sudah meletakkan Gita di atas ranjang.


“Ga lah… ngapain marah. Kan A’a jarang jarang ketemu ibu. Malam lainnya juga a’a sama eneng terus.”

__ADS_1


“Makasih ya neng, atas pengertiannya.” Gilang mendusel dusel pucuk kepala istrinya dengan sayang.


“Tadinya eneng udah mau tidur, tapi… “ kalimatnya menggantung seolah berpikir sebentar.


“Tapi apa?”


“Terlanjur enak kalo sebelum tidur tuh, di peluk a’a.” jujyrnya agak malu.


“Cieee… yang candu bau keetek a’a niih.” Goda Gilang meraih kepala istrinya lalu menyerangnya dengan ciuman bertubi tubi.


Jangan tanya bagian mana yang paling lama, ciuman itu mendarat. Tentu saja bibir mereka yang saling bertemu lama, di dalam kamar dengan suhu dingin karena penyejuk udara yang baru di pasang sore tadi. Sehingga kondisi itu sangat mendukung kegiatan mereka untuk lagi lagi melakukan kegiatan persatuan Indonesia.


Keduanya masih dalam posisi saling mema gut bibir satu sama lain, seolah sebelumnya lama tak saling jumpa. Sehingga hanya rindu yang mengisi ruang kososng dalam hati keduanya. Entahlah siapa yang mendominasi rasa itu, tetapi sepertinya hal itu naluriah sekali. Sebab tak pernah ada aba aba untuk kegiatan yang satu itu, kini pakaian piyama Gita sudah tak di tempatnya.


Awalnya hanya tangan Gilang yang memilin pucuk merah jambu kecoklatan squisy milik Gita yang agak mengeras. Membuat Gita menggeliat saat merasakan geli , sakit dan nikmat secara bersamaan. Tapi kesininya, sudah kepala Gilang saja yang nemplok pada posisi tadi, di dada Gita. Dan Gilang tidak tau bagaimana caranya, agar bisa lepas dari salah satu pucuk kembar itu, sebab tangan Gita sudah merem as- re mas rambutnya, seolah menekan kepalanya agar tak henti hentinya mengisap dan memainkan lidahnya di sana.


“Ijin nafas bentar neng.” Gilang merenggangkan kegiatannya di dada Gita, dengan senyumnya. Hal itu justru membuat wajah Gita memerah agak malu, lalu membuang muka.


“Istriku makin hari makin cantik. Cantik banget deh malam ini.” Puji Gilang setelah mengembalikan posisi wajah Gita yang sempat ia buang tadi.


“A’a…?” ringkihnya malu, sambil mengigit bibirnya sendiri.


“Makasih telor ceploknya ya neng, tapi lain kali. Garamnya secuil saja dan di tabur keliling, supaya menyebar.” Oh Tuhan, suami idaman ini, membahas masalah hasil masakan istri bahkan di atas tempat tidur.


“Ya ampun a’… jadi telor buatan eneng tadi ke asinan?” tanya Gita mendadak ciut geloranya di ajak ngobrol soal masil masakannya tadi.


“Ga asin banget. Cuma ga merata saja rasa asinnya. Nabur garamnya di satu tempat saja kayaknya. Sama kaya cinta eneng yang hanya eneng curahkan sama a’a seorang, ia kan neng..?’


“A’a… eneng serius nanya.”


“Iya … a’a juga serius ngerasanya kok.” Kekeh Gilang. Yang sudah melorotkan pakaian bagian bawah istrinya.

__ADS_1


“Neng sejak punya istri, menu makan malam apapun rasanya kurang lho, kalo ga ada dissertnya. Dan sajian makanan penutup tersempurna itu adalah makan kamu, neng.” Ulalaa… Gilang makin jadi suami, makin somplak ya gaes


Bersambung…


__ADS_2