CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 105 : SANDAL JEPIT


__ADS_3

Gita, Asep dan ambu hanya tertawa kecil. Sekedar menarik kekiri dan ke kanan bibir mereka, agar terlihat merespon ucapan Muna.


Tidak hanya memory Muna yang kembali ke belakang, tiga kepala lainnya pun. Tentu belum lupa, bagaimana konsep pernikahan dadakan ala Muna dan Kevin yang penuh lika liku dan kejutan.


Namun, sultan bebas ya. Walaupun waktunya singkat, ala ala Proklamasi. Karena uang banyak yang bicara, tentulah semuanya lancar dan spektakuler.


Cup.


Tiba-tiba Kevin datang dan mencium kepala Muna dari belakang.


"Ayo, main di pantai Mae. Naya, sama Laras saja." Ajaknya pada Muna istrinya, yang memang baru berhasil menidurkan Anaya di Gazebo yang sudah mereka lengkapi dengan box yang bisa membuat tubuh Anaya terayun ayun.


"Oke... lets's go." Jawab Muna antusias. Sambil memberikan kode kepada Laras untuk mendekatkan dirinya, untuk menjaga Anaya yang sedang tidur terlalu tersebut.


Sontak kegembiraan Aydan auto 100% kegirangan. Bagaimana tidak dia seolah, bak anak tunggal yang sangat diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Bermain-main di tepian pantai. Membuat istana pasir, berkejaran, bergulung-gulungan dengan ombak, mencari cangkang kerang di tempat yang masih aman untuk ia tempati. Hingga lupa, jika matahari sudah dengan galaknya melihat mereka dari atas langit, yang semakin terik. Kulit mereka kemerahan, akibat sengatan sang raja siang. Namun ketiganya tidak peduli, tetap saja mereka melakukan segala kegiatan yang mereka rasa sangat mengasyikkan. Sebab hal itu tidaklah sering mereka lakukan. Bahkan mungkin jarang terulang lagi, maka selama momen itu bisa mereka nikmati bertiga. Mereka tetap melaksanakannya.


Berbanding terbalik dengan Gita dan Gilang yang memang hanya memilih berjalan-jalan ringan, menyusuri tepian pantai. Dengan sesekali singgah untuk melakukan foto untuk mengabadikan kenangan, jika kini mereka sedang berada di sebuah pantai. Mereka memang belum bisa memastikan. Apakah Gita sudah berbadan dua atau tidak. Tapi besar keinginan harapan keduanya untuk segera memiliki momongan.


Sehingga walaupun belum dilakukan pemeriksaan Gilang dan Gita sama-sama sepakat untuk lebih memilih agar mereka menjaga diri saja, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika memang Gita hamil.


"A'Gi... sok. Kalo mau main banana boatnya. Nanti eneng tunggu di Gazebo aja." Tawar Gita pada suaminya, mengingat jika tak sengaja dari tadi suaminya hanya berada tak jauh darinya.


"Hmm... ga mau ah neng. A'a teh, mau temenin eneng saja." Jawabnya dengan terus menggenggam tangan kanan Gita saat mereka hanya berjalan pelan menyusuri pantai itu.


"Makasih ya A' selalu ada buat eneng. Di sisi eneng, tanpa ada rasa risih dan bosan." Ujar Gita mendadak melow.


"Gimana bisa bosan, a'a cinta ini sama eneng. Apalagi insya Allah, sekarang teh udah ada buah cinta kita yang tumbuh di sini niih. Heemm.. sehat sehat ya sayangnya ayah." Gilang memeluk Gita dari belakang, dan mengelus perut yang sungguh masih sangat rata itu.


"Amiiin, eneng udah ga sabar lho a'. Mau kencingin tespack. Biar cepet tau, kalo di sini tuh udah terjadi pembuahan." Ujar Gita ikut mengelus perutnya sendiri.

__ADS_1


"Neng... kita jalannya udah kejauhan. Naik punggung a'a ya. Biar cepet sampe ke gazebo." Gilang sudah duduk berlutut membelakangi tempat Gita berdiri, untuk memberi punggungnya untuk di naiki oleh istri tercinta.


"Waaah... jauh a' pulangnya. Nanti a'a kecapean." tolak Gita dengan menempelkan badannya pada punggung yang sudah dalam posisi siap menggendong itu.


"Ga papa a'a kecapean siangnya. Jadi ntar malam kita tidur saja. Dari pada dede bayinya kepentok si jaka."


Plakh... punggung Gilang berhasil di pukul manja oleh sang istri, yang hanya sok sok an menolak tawaran gendongan dari suaminya.


Kini Gita tak ubahnya bagai tas ransel, yang melungker di belakang Gilang. Bohong saja jika Gilang tak cape dan merasa lelah, tetapi ia pikir. Lebih baik dia saja yang merasa capek, dari pada istrinya.


"Capek a'... eneng berat ya? Eneng turun di sini aja deh a'..." rengek Gita saat gazebo yang mereka tuju sudah mulai terlihat.


"Hah... yang berat itu bukan eneng." Ujar Gilang dengan nafas yang hampir tersengal.


"Terus apa?"


"Melupakanmu neng." Kekeh Gilang memulai aksi gombalnya.


"Neng..."


"Hmm... apa. Udah cape banget ya a'?" tanya Gita yang sesungguhnya takut jika Gilang sungguh kelelahan olehnya.


"Ga... kok. A'a masih kuat sayang." Jawabnya masih dengan pelan menggendong Gita.


Sesekali tengkuk Gita di cium-cium Gita dari belakang. Tak peduli jika area itu sudah mulai basah, di serang keringat.


"Neng... a'a mau, kita teh kaya sandal jepit ya Neng." Celetuknya saat gazebo makin dekat.


"Kenapa?" tanya Gita dengan polosnya.

__ADS_1


"Selalu berdua, berpasangan tanpa ada yang ketiga."


"Ea... eaaa eaaa. Ga bisa gitu donk a.." Kali ini gombalan Gilang tak di setujui Gita.


"Laah... eneng mau selingkuh?" tanya Gilang menghentikan langkahnya.


"Ya ga gitu juga lah a'. Kan hampir tiap malam kita tak kenal lelah, demi ciptakan orang ketiga dalam rumah tangga kita." Jawab Gita dengan nada riang penuh keusilan dan genit.


"Eeh, asem ya ini calon emak emak. Itu bukan orang ketiga yank, tapi buah cinta."


"Oohh... beda ya a'...?"


"Ya jelas beda lah neng, jauh. Bagai Sabang sana Marouke."


"Hi... hi... hi. Iya deh iya. Iih si calon ayah, cepet juga naik darahnya." Goda Gita pada suaminya.


"Bukan naik darah yank... tapi bakalan macet ga bisa keluar darah... putih." Ujarnya agak terjeda.


"Kenapa...?"


"Bukannya kalo hamil muda, si jaka ga boleh main ke iting iting, neng?" tanya Gilang pada Gita.


"Ga tau juga. Kan eneng belum pernah hamul a'." Jawabnya spontan.


"He...he. Besok pas di Bandung. Kita langsung periksa ya Neng. Biar cepet tau dan makan makanan apa aja. Dan kita boleh ngapain aja." Ujar Gilang lagi.


"Yang pasti tuuh, bumil wajib di manja." Tegas Gita dengan senyuman.


"Hah... kalo itu sih. Ga hamil juga, udah selalu a'a lakuin buat eneng mah. Apasih yang ga, buat istri tercinta dan tersayang ini. Heeem?" tanya Gilang yang sudah semakin merapat.

__ADS_1


"Aunty Gita kenapa? cakit ya? kok di gendong om Lang?" pertanyaan itu segera lolos dari mulut si comel Aydan. Saat keduanya sudah kembali ketempat kumpul mereka. Sebab makan siang sudah siap. Aneka bakaran ikan laut.


Bersambung...


__ADS_2