
Kevin tidak menatap Muna dengan tajam. Tatapan matanya lebih cendrung pada mengerti saja dengan ketegasan istrinya tersebut. Hal itu tentu jauh berbeda dengan arti sorot mata Triyas dan Brata yang merasa tak suka dengan hal yang baru saja Muna putuskan sendiri, seolah dia sangat mencampuri urusan suaminya. Saat perihal kerja sama yang dengan gamblang Muna batalkan.
“Maaf Nyonya Kevin. Apa yang anda maksud dengan kecurangan?” tanya Triyas berani menatap Muna dengan sorot mata menyala.
“Apa namanya bukan curang jika telah nyata melakukan pendekatan dengan calon relasi dengan menggunakan segala cara? Akrab tidak harus menempel, menggesek juga setengah menggoda, seperti tadi bu Triyas.” Tegas Muna menyindir yang baru saja ia lihat dari gesture Triyas pada suaminya.
“Ha ... Ha ... Ha. Anda cemburu … ah anda sangat tidak professional. Mencampurkan urusan bisnis dengan masalah rumah tangga.” Jawab Triyas menertawai, seolah ia menangkap keresahan Muna.
“Ah … ini bukan masalah cemburu. Sebab itu hanya di miliki oleh pasangan yang tidak percaya diri. Hanya, jika ada calon relasi yang bisa saling menjaga kehormatan dengan baik. Untuk apa menerima kerja sama dengan orang-orang yang tak mengerti tata karma pergaulan.” Muna tentu saja masih terlihat stabil. Senyumnya juga masih terpasang dengan manisnya. Berbeda dengan wajah Triyas yang terpias rona malu. Jika sikapnya tadi jelas terbaca.
“Anda salah menilai Nyonya Kevin. Saya bukan tidak tau tata karma. Menjalin ke akraban itu biasa saja, hanya, mungkin anda yang kurang bergaul, ya ... Sebab keseharian anda hanya di habiskan menjaga anak-anak kalian.” Triyas masih saja membela diri. Bahkan menghina profesi Muna yang ia kira hanya seorang Ibu Rumah Tangga.
“Oh … iya maaf, jika saya salah menilai anda. Dan baiklah, jika memang seperti itu tata karma yang anda ketahui. Sekali lagi, perusahaan kami tidak akan merugi tanpa bekerja sama dengan perusahaan kalian. Sayang … aku merasa lelah. Dan hanya ingin berdua denganmu di kamar hotel. Maklumlah, ibu rumah tangga sepertiku. Tentu sangat udik saat di ajak suami tidur di hotel." Muna merasa obrolannya dengan Triyas semakin tak bermanfaat.
“Pak Brata dan bu Triyas. Terima kasih promo tentang kerja sama yang kalian tawarkan. Dan janji saya, memang malam ini akan saya berikan jawaban. Dan bapak dan ibu pun mendengarkan jawabannya. Yang di sampaikan langsung oleh dewan komisaris juga istri saya. Maka, maaf. Di lain kesempatanpun saya pastikan kita tidak akan bekerja sama. Selamat malam.” Lanjut Kevin pamit dari hadapan Brata dan Triyas yang hanya dapat melongo.
“Apa yang kamu lakukan pada Kevin tadi …?” tanya Brata agak kesal pada sekretarisnya.
“Bukankah selama ini aku tengah menjalankan perintahmu, untuk melakukan pendekatan dengan gencar. Dan malam ini, aku bahkan sudah merogoh kocekku untuk berpenampilan semenarik mungkin. Obat perangsang juga sudah ku siapkan, agar malam ini kita bisa menjebaknya.” Kesal Triyas.
“Tapi mana mungkin dia tergoda olehmu. Kamu lihat sendiri istrinya bahkan memesonaku.” Jujur Brata pada Triyas.
“Siapa yang bilang kalau kali ini Kevin itu datang hanya sendiri?”
“Haikal … sekretarisnya yang sudah memastikan jika Kevin akan datang sendiri.” Jawab Brata pasti
__ADS_1
“Brenggsek … mereka sudah membaca gelagat kita.” Jawab Triyas gusar.
“Ini … kamu saja meminum minuman yang sudah ku beri obat perangsang ini. Walau kenyataannya kita gagal bekerja sama dengan perusahaan milik Kevin. Setidaknya kita malam ini kita tidak gagal untuk bercinta.” Bisik Triyas berdiri menghadap pria yang berstatus bosnya itu, sambil satu tangannya mencengkram benda yang masih meringkuk di balik celana boxer Brata.
“Cepat lepas pakaianmu …” Perintah Muna pada Kevin saat mereka sudah di dalam kamar hotel.
“Waw … istriku sudah tidak sabar ingin bertukar peluh denganku …?” ledek Kevin sembari melepas jas yang sejak tadi terpasang di tubuhnya.
“Bukan … aku hanya ingin segera membuangnya. Jas itu sudah terserang hama ulat keket.”Jawab Muna ngedumel sembari berusaha melepas perhiasan yang menempel di tubuhnya. Juga berusaha melepas gaun malam yang ia gunakan ke pesta tadi. Dan akan masuk toilet untuk membersihkan tubuhnya.
“Mae cemburu …?” tanya Kevin bahagia jika istrinya sungguh memiliki rasa itu padanya.
“Tidak. Hanya antisipasi. Jiwa cassanova abang kambuh.” Kekeh Muna berjalan melewati Kevin tanpa busana dan hanya memejang bathrobe di tangannya.
“Ada apa dengan penampilanku?” tanya Muna tanpa rasa bersalah.
“Istriku sedang menggodaku?” Kevin melepas semua pakaiannya ingin kembaran dengan Muna tentunya.
“Siapa yang menggoda …? Aku akan mandi. Apa salah aku tidak menggunakan busana?” tanya Muna yang tau suaminya sudah resah melihat rupanya sekarang.
“Istri pintar.” Puji Kevin yang justru lebih dahulu masuk dalam bath up yang tentu akan mereka jadikan tempat pemanasan sebelum masuk dalam permainan inti sepanjang malam, dan mungkin akan sampai pagi.
“Abang … belajarlah lebih tegas lagi dalam menghadapi relasi atau calon relasi bisnis. Usahakan lebih peka lagi membaca gesture mereka. Jangan sampai hal semalam terulang lagi. Sebenarnya aku sangat malu melakukannya semalam.” Ungkap Muna saat pagi telah datang dan mereka masih sama sama polos hanya bersembunyi di balik selimut yang sama. Sedang melepas lelah setelah melewati sensasi cumbuan dan penyatuan yang selalu indah mereka ciptakan bersama.
“Maaf … abang bukan tidak peka. Bahkan abangkan sudah bilang sama Mae sebelumnya. Hanya janjiku pada mereka memang saat kami di sini, abang akan jawab.” Jelas Kevin.
__ADS_1
“Muna sungguh malu semalam. Muna sepertinya tidak elegan menjawab penolakan kontrak kerja semalam. Mestinya abang saja yang menjawabnya, bukan Muna.” Seolah menyesal Muna mengakui jika semalam ia tersulut emosi.
“Abang tidak mempermasalahkannya. Toh, jawaban kita sama. Yaitu menolak kerjasama itu.” Peluk Kevin pada Muna.
“Apa Muna memang tidak profesional. Tak dapat membedakan urusan bisnis dan rumah tangga, bang?” tanya Muna mencari kejujuran dari mata suaminya.
“Bisnis itu rejeki dari Allah. Rumah tangga juga anugerah dari Allah. Bukankah tugas kita adalah menjaga semua pemberian Allah itu dengan semampu kita?”
“Abang tidak malu, punya istri suka ikut campur urusan bisnis abang?" tanya Muna lagi pada suaminya.
“Kenapa malu …?”
“Abang jadi seperti suami takut istri.” Gumam Muna dengan pelan namun masih sangat jelas di dengar Kevin.
“Abang takutnya sama Allah, Mae. Dan kamu adalah pemberiannya. Membahagiakanmu adalah yang utama agar Allah tidak kecewa sama abang. Kehilangan relasi bisnis itu biasa, kehilangan kamu baru buat abang gila.” Jawab Kevin menciun kening Muna dengan lama.
“Kenapa abang makin tua makin manis sih …?” puji Muna pada suaminya itu.
“Ah tidak. Hanya Mae yang tidak menyadari jika memiliki suami semanis ini sejak awal jumpa.” Kevin ikut memuji dirinya sendiri.
“Apa dengan begini Muna memang harus menimbang lagi, soal proposal yang abang ajukan sama Muna ya?” Senyum Muna penuh arti.
“Proposal abang yang mana?” tanya Kevin pura-pura lupa.
Bersambung …
__ADS_1