
Gita bukanlah wanita mata duitan. Urusan materi pun hampir bisa di katakan tak pernah susah.
Masa kecil Gita hanya tentang kekurangan perhatian dari suami mamanya yang juga masih berstatus suami maminya Kevin. Juga milik wanita wanita lainnya yang hanya di cicip tapi tidak di ajak serius oleh Diendra Mahesa.
Tapi untuk urusan materi, mereka selalu berkecukupan. Tak pernah tau rasanya berkekurangan. Tapi sanksi sosial yang membuat Daren dan Gita tak ingin tumbuh menjadi tamak.
Mereka cendrung malu, minder. Saat membanggakan kekayaan papinya. Karena itulah mereka terbiasa hidup apa adanya. Sama dengan Indira, baru setelah, mami Beatrix meninggal saja ia bisa bergaya bagai orang kaya baru. Saat Diendra benar benar telah hanya memilihnya menjadi istri sah.
Itupun harus masih berjuang dengan Yolanda, mantan kekasih Kevin. Yang sempat di nikahi Diendra secara siri. Semua itu mengundang kepiluan tersendiri bagi Indira. Ia sungguh takut karma, ia juga resah jika anak anaknya akan mewarisi sikap dan sifat seperti suaminya.
Pendidikan di sekolah, serta pengalaman hidup yang mendewasakan Gita. Saat ia pernah ingin mencoba hidup selayaknya anak orang kaya, ia justru di manfaatkan seorang pria seperti Baskoro.
Seperempat kepahitan hidup sudah ia cicipi bukan. Maka, saat ia telah berumah tangga ia sungguh ingin menjalani dengan baik dan benar.
Hingga sampai urusan keuangan yang riskan konflik pun, ia beranikan untuk membahasnya sejak awal masa pernikahan mereka. Sungguh bijaksana bukan? Gita tidak suka konflik di akhir cerita, memilih cerewet di awal saja agat tidak berlarut larut masalahnya di kemudian hari.
Gita punya gaji sendiri, ia juga masih punya tabungan pemberian orang tuanya. Tapi saat sudah menikah iapun berhak mendapatkan nafkah.
"Ya... 2 bulan terakhir sejak a'a di angkat jadi WaCEO gaji pokok 17jt neng." Jawab Gilang pada Gita yang sejak tadi menunggu suaminya bersuara.
"Waktu gaji segitu, pas a'a kasih ibu semua. A'a tetep di kasih 500ribu buat jajan." selidik Gita.
"Ga, neng. Ibu minta 10 juta saja. Karena katanya a'a banyak pengeluaran karena mau nikah gitu." Jujur Gilang pada Gita saat mereka masih rebahan di tempat tidur.
"Hmm... terus nanti gimana?" Minggu depan gajihan lho. Dan itu juga artinya mulai bulan depan a'a sudah mulai wajin kasih nafkah ke istri dan tetap berbakti sama ibu. Apa jangan jangan, kemarin ibu sempat cemberut sama eneng, bukan hanya karena urusan ambil kan nasi buat a'a ya? Mungkin ibu mengira a'a ga bisa adil dalam membagi nafkah." Tebak Gita mengira-ngira.
Cup... pucuk kepala Gita jadi sasaran kecupan singkat Gilang.
"Waktu masih sendiri, gaji a'a full buat ibu. Dan wajar saja itu di kelola ibu, sebab tinggal pun masih satu atap kan. Tapi sekarang a'a sudah punya istri yang nafkah lahir batinnya harus a'a penuhi. Sekarang a'a balik nanya ke eneng, kira-kira sebaiknya kita kasih ibu berapa?" Gilang mulai berdemokrasi pada istrinya.
"Kok nanya eneng?"
__ADS_1
"Kan eneng istrinya a'a. Tempat a'a berbagi semuanya. Termasuk hal ini perlu kita sepakati berdua. Percuma kan a'a bahagiakan ibu, tapi istri a'a ga ikhlas. Demikian juga sebaliknya. Ntar a'a ga dapat berkahnya neng." Gita mengangguk pelan, tanda membenarkan.
"A'a... Misal nih ya. Kalo ibu di kasih 5 juta saja perbulan bagaimana? Sisa yang 12 juta buat kita."
"12 juta buat kita apa artinya?"
"Ya untuk belanja kebutuham sehari-hari lah. Bayar biaya operasional rumah tangga termasuk gaji bi Inah."
"Buat eneng berapa?"
"Ya kalo ada sisa dari 12 juta itulah a'..."
"Ya ga bisa dong. Masa buat ibu 5jt buat bi Inah 1,5jt. Lalu buat eneng hanya sisa. Bukankah eneng layani suami full 24jam, masa ga di bayar?"
Gita mendongak lalu menoyor jidat suaminya dengan gemas.
"Emangnya eneng wanita bayaran." Gita pura pura marah.
"Ga..., aduh. Bukan gitu bebebph. Nafkah lahir istri tetap harus di tentukan lah nominalnya. 3,5 juta. Deal? jadi 7 juta nya. A'a yang pegang untuk biaya operasional." Tegas Gilang.
"Bukan. Buat beli skincarenya eneng saja itu mah. Dapur, listrik, air semua masuk di 7 jt yang sama a'a. Gimana?"
"Oke deal a'ayank." Peluk Gita. Walau terdengar lebih kecil dari pembagian untuk ibu mertua, tapi entahlah, Guta merasa senang saja dengan keputusan itu.
"Eh... tapi. Apa ibu ga marah kalo cuma dapat segitu?" Gita baru sadar, ia dapat lebih sedikit dari ibu Gilang, tapi ia masih makan bersama Gilang bukan? Dan ibunya mendapat jatah 5juta sebulan itu include, semua di situ.
"Ibu tidak akan marah neng. Asal bilang. Nanti a'a yang kasih pengertian ke ibu. Kan itu resiko, jika anak laki lakinya sudah menikah. Bukankah kita juga perlu menyiapkan masa depan rumah tangga kita. Tidak mungkin selamanya kita selalu berbakti tapi dalam rumah tangga kita berkekurangan." papar Gilang kembali.
"Iya deh, eneng percayakan sama a'a dalam urusan menyampaikan hal itu. Tolong sampaikan dengan baik pada ibu. Eneng ga mau di kira istri yang mau mendominasi a'a setelah menikah. Eneng maunya damai damai saja a'."
"Ya iyalah. A'a juga percaya doa istri yang sholehah akan di ijabah Allah. Jadi, tolonh doakan usaha dan pekerjaan a'a lancar ya. Proyeknya goal. Jadi, kita bisa dapat uang tambahan."
__ADS_1
"Amin."
"Tapi neng. Misal... ini misal ya. Kalo a'a ada dapat uang luaran. Apa boleh a'a kasih le ibu, atau kasih dikit ke teh Arum dan anak anaknya." Tampaknya pasangam ini memang ingin membahas tuntas urusan pembagian keuangan rumah tangga mereka.
"Boleh a'. Asal bilang." jawab Gita yang hidungnya sudah di jentikkan oleh suaminya.
"Okeeh... ga masalah kalo soal bilang dan nego, a'a termasuk spesialis good speaking kan." Peluk Gilang pada Gita.
"Heemmm bukan hanya good, tapi gombalnya itu yang kadang berlebihan kadarnya." Kekeh Gita sambil bergelinjang, mulai kegelian.
"Mana pernah a'a gombalin eneng. Semua yang a'a pernah bilang itu reel bebebph. Kenyataan." Gilang membela dirinya.
"Ya... se-nyata rayapan tangan nakal a'a yang sudah nemplok di dada ini kan maksudnya." Gita menunjuk dengan mulutnya ke arah dadanya sendiri.
"Inilah kelemahan a'a neng."
"Apaan?"
"Ga bisa liat benda ini polosan. Maunya kalo ga ngeremmas, ya ngisep. Aneh ga?" kekeh Gilang yang sudah kaya bayi besar menempel di dada tanpa kain gendongan itu
"Itu bukan aneh lagi. Tapi doyan kali..." sahut Gita menarik tangan Gilang yang satunya lagi untuk mengobrak abrik bagian dada yang tak tersentuh.
"Heeem suka kan?" ledek Gilang sebentar menghentikan aksi nyu su nya.
"Nikmat." Jawab Gita singkat.
Bersambung...
Sekian dulu part pengantar tidur jelang weekend malam ini.
Semoga mimpi indah, dan tidur dalam dekapan suami masing-masing. Jangan suami tetangga.
__ADS_1
Bagi yang jomblo, janda, duda atau semacamnya. Nyak doain semoga disegerakan bertemu dengan pasanganya, Amiiin.
πΉπΉββππππ