CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 198 : KAKEK SUDRAJAT


__ADS_3

I’m sorry my love.


Nyak ga tau harus di hukum gimana nih. Akibat lalai update lebih dari 30 hari.


Nyak ngaku salah. Tapi ini ga sengaja.


Sumpah … nyak sedih lama ga nongol.


Sekarang malah ga berani janji untuk bisa up terus. Takut ingkar, jatuhnya dosa sama reader semua.


Pliis … sabar ya.


Pelan-pelan nyak ngumpulin semangat nyak yang sempat kececer di akhir tahun lalu.


Semoga di mengerti 🙏


***


Muna bukanlah sosok wanita yang mudah lupa . Ia hanya pura-pura tidak mengingat tentang permintaan suaminya, yang ingin ia hamil lagi. Hamil anak ke empat sebagai hadiah ulang tahun untuk Kevin diusianya ke 40 tahun, tiga bulan mendatang.


Cita-cita Muna sebagai wanita karier yang bekerja di kantoran seperti impiannya memang sudah tercapai. Bahkan kini ia adalah seorang Direktur sebuah rumah sakit karena garis keturunan yang tak terelakkan. Tapi, menjadi mamah muda tidak masuk dalam daftar keinginan yang sesungguhnya.


Namun, siapakah Muna yang hanya manusia biasa. Yang selalu gagal menolak rasa yang sedemikian mencuat, melawan takdir indah yang hanya teruntuknya. Bersyukur dan menjalani semuanya dengan keikhlasan hati adalah hal yang wajib ia perankan sekarang.


Tak sesulit pada masa pacaran, di mana hatinya terselimut rasa cemas dan takut untuk memberi hati dan semuanya pada seorang Kevin. Sebab, Kevin sudah menjelma menjadi malaikat tak bersayapnya. Setelah menikah, bukan tak ada aral dalam hubungan mereka. Bukankah, pernah ada Belia yang ingin merusak hubungan LDR mereka, dan kini ada Triyas yang akan coba-coba peruntungannya untuk menggoda Kevin. Hah … manusia spesies serangga itu, wajib di basmi.


Basi.


Hanya reader setia dan nyak otor yang malas menulis saja yang tau bagaimana bucinnya Kevin pada Muna, eh … Monalisa Hildimar ini. Kemalas-malasan Muna dengan tawaran Honey Moon ini pun hanya isapan jempol. Buktinya ia yang sangat menikmati kebersamaannya dengan pria pertama yang membuat hatinya jatuh, bergetar tak karuan ini, dan sudah Muna pastikan juga akan menjadi pria terakhir untuk ia abdikan.

__ADS_1


Kebahagiaan Muna dan Kevin di negeri orang sangat berbanding terbalik dengan rumah tangga Gilang dan Gita. Yang baru saja akan bersantai di Jakarta, tetapi harus segera pulang ke Bandung. Atas informasi dari Gibran.


Gibran Sudrajat, lelaki yang awalnya hanya pegawai magang di perusahaan yang di pimpin Gilang. Dan kini sudah menjadi pegawai tetap sebagai sekretaris Gilang.


“Ijin Pak Gilang. Maaf menggangu. Saya mohon cuti selama 5 hari. Karena harus di rumah sakit.” Chat Gibran pada Gilang.


“Siapa yang sakit …?” tanya Gilang membalas chat tersebut.


“Kakek saya, pak.” Balas Gilang singkat.


“Iya … silahkan ajukan surat ijinnya, ke bagian HRD.” Begitu Gilang membalas chat Gibran.


Kakek Gibran. Bukankah itu artinya juga kakek Gilang. Kakek Sudrajat, pria itu ayah biologis Edy Sudrajat yang tidak lain adalah ayah kandung Gilang. Bukankah selama ini Gilang penasaran dengan pria bengis dan kejam itu. Pria yang membuatnya tak lama merasakan indahnya masa memiliki ayah. Seorang kakek yang tega merampas kebahagiaan cucunya demi untuk menikah lagi dengan wanita pilihannya.


“Neng … maaf ya. Kita ga bisa lama di Jakarta.” Gilang membereskan perlengkapan mereka untuk segera kembali ke habitat.


“Iya ga pa pa, A’. Yang penting tuh tetap bersama A’a dan Gwen.” Senyum teduh Gita mendadak mengusir segala rasa bersalah dan tak nyaman yang sempat bersemayam dalam hati seorang Gilang.


“Penyejuk hati … emang Eneng Al-qur’an.” Kekeh Gita yang tak pernah terlihat terlena dengan segala bentuk kegombalan suami tampannya ini.


“Eneng … iih.”


“A’a … aaah.” Jawabnya meladeni ledekan suaminya tersebut.


“Nanti … A’a jenguk kakek Sudrajat?” pertanyaan itu muncul begitu saja saat mereka sudah berada di atas kendaraan roda empat, menuju Bandung.


“Entahlah …” lirihnya.


Gilang bukan Nabi, apalagi Tuhan. Bagaimanapun hatinya masih terluka. Jangan kira dengan ia menerima Gibran bekerja, pikiran dan hatinya sudah berdamai dengan masa lalu pahitnya. Bagaimanapun ia adalah manusia biasa, yang memiliki perasaan dendam akan kesakit hatiannya.

__ADS_1


Gilang makin sedih jika melihat ibunya. Mungkin Gilang tak punya kenangan bersama sang kakek. Tapi bagaimana dengan ibunya. Tentu ada ruang khusus untuk membenci mertua laki-lakinya itu. Hati mana tidak tertoreh luka, saat dengan jelas di pisahkan. Suami yang di paksa untuk mengkhianati cinta. Bahkan hal itu terulang lagi, pada calon istri Gilang sebelumnya. Kapan ibu Dian benar bahagia? Apa ia terlahir hanya untuk terluka dan di hina karena kemiskinannya.


“A’a … umur orang tidak ada yang tau. Sesalah apapun, sebaiknya temui saja. Jenguklah. Setidaknya sebagai atasan Gibran. Tak salah kan, kita menunjukkan rasa simpatik.” Gita yang hatinya seluas samudra untuk memaafkan, tak pernah memprovokasi hati suaminya untuk selalu berkubang dalam dendam yang mestinya harus berakhir.


“Nanti A’a ijin sama ibu dulu Neng. Gimanapun A’a juga tidak boleh membelakangi ibu. Sebab, ibu yang lebih sakit hati daripada A’a.” Ujar Gilang menanggapi obrolan Gita.


“Heeem … a’a tuh udah nikah. Udah dewasa. Udah jadiayah juga. Masa hal begitu masih harus lapor ibu.” Sindir Gita yang merasa tidak senang suaminya masih harus meminta pendapat sang ibu. Yang menurut Gita pasti tidak akan memberi ijin, agar bisa berpartisipasi dengan kesakit hatiannya di masa lalu.


“Kita ngobrol yang lain aja Neng. Takut A’a emosi.” Jujur Gilang pada sang istri yang seperti suka membahas masalah yang belum pasti kebenarannya.


“Maafin Eneng, A’.” Jawab Gita, yang kemudian di elus Gilang rambutnya dengan tangan kiri.


“A’a yang harusnya minta maaf. Sedang mau fokus nyetir aja. Biar kita cepat sampai dengan selamat.” Senyumnya terkembang manis untuk sang istri.


Kendadaan roda empat bermuatan, empat orang itu pun telah tiba di rumah Gilang. Kedatangan mereka sudah di sambut hangat oleh Bi Inah yang super cekatan danramah menyambut kedatangan majikannya itu.


“Gween … bibi kangen.” Sapanya yang langsung mengambil Gwen dari pengasuhnya.


“Silahkan mandi dan istirahat. Gwen biar bibi yang jaga.” Ujar Bi Inah tanpa di minta dan sangat pengertian itu.


“Terima kasih Bi Inah.” Senyum Gita melebar mendengar permintaan Inah yang sangat mendukung keadaan tubuh mereka yang memang butuh istirahat.


Hari baru tiba, istirahat yang cukup semalam sangat membuat kondisi Gilang lebih bugar dari kemarin. Kini ia sudah siap kembali beraktifitas di tempat kerja. Ditambah lagi senyum manis dan celotehan Gwen yang sudah makin banyak, menyemarakkan sauna pagi cerah ceria mereka pagi itu.


Tak ada daster lusuh yang Gita gunakan tiap pagi, saat mengantar Gilang pergi bekerja. Sebab ibu satu anak itu selalu berpenampilan menarik dengan kecantikan luar dalam yang ia miliki saat melepas kepergian suaminya. Dengan tujuan agar suaminmya selalu rindu untuk pulang cepat kerumah, sebab selalu ada hati yang menderu rindu akan dia.


Ponsel Gilang berbunyi tepat saat sabuk pengamannya terklik melintang sempurna di tubuhnya. Gilang melajukan mobil dengan kecepatan sedang, untuk memulai perjalanan. Kemudian menyentuh icon hijau unttuk menerima panggilan tadi.


“Kamu sudah tau kakek Sudrajat masuk rumah sakit, Lang … “

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2