
Acara pemakaman berlangsung hikmad. Walau Sudrajat bukan bagian dari RKM di wilayah itu. Namun Dian sudah lama tinggal dan aktif dalam acara pengajian juga bagian dari pengurus di mesjid tempat tinggalnya. Juga tentu Dian adalah sosok warga ya Maka, tamu pun banyak yang datang untuk ikut berbela sungkawa atas kepulangan kakek Sudrajat yang tidak lain adalah mertua Bu Dian.
Ritual selanjutnya juga akan terus menerus di adakan di rumah ibu Gilang tersebut, tanpa terlewatkan.
“Mari di nikmati seadanya.” Tawar Dian sopan pada besannya sepulang dari acara pemakaman tadi. Jangan tanya kapan Dian menyiapkan makanan dan segala sesuatunya. Lewat Arum, Muna sudah memberikan beberapa gepok uang untuk kelancaran proses pemakanan juga sajian untuk di nimkati para pelayat di rumah duka.
“Lang … sudah boleh makan kan? Ayok makan dulu nak.” Ajak Dian yang melihat Gilang masih terlihat agak linglung.
“Iya nih Lang. Ada rujak. Cocolannya enak, pedasnya pas.” Kevin dengan cueknya membawa sepiring rujak dengan sambal cocol yang terlihat mengiurkan.
“Hah … makan pedas?” tanyanya dengan suara pelan. Sungguh, wajah Gilang seperti orang snewen.
Gilang sudah banyak membaca tentang makanan yang boleh di makan dan tidak pasca operasi. Apalagi yang di operasi adalah cangkok ginjal. Bukankah sekarang ia masih berstatus pasien pasca operasi. Lalu mengapa tadi ia di suruh mencangkul, kemudian di tawarkan makan pedas. Apa Kevin memang ingin adiknya segera menjadi janda.
“Sejak kapan kamu ga tahan makan pedas, hah?” tanya Kevin mendekati Gilang.
“Hah …?” Gilang hanya bisa hah heh hah heh saja tidak mengerti.
“Gita … Gilang ini kenapa?” tanya Kevin bingung dengan Gilang yang terlihat tidak seperti biasanya.
“Gimana …?” tanya Gita mendekati posisi Gilang dan Kevin dengan tatapan mata penuh misteri.
“Tadi dia hanya di bius kan? Bukan di ambil sedikit plasma otaknya. Kok linglung gitu?” tanya Kevin menunjuk ke arah Gilang.
“Hah … di bius saja. Ini kenapa?” Gilang menunjuk bagian bawah perutnya yang ia jaga sejak tadi, dan selalu berhati-hati.
Bukh
Kevin dengan sengaja meninju bagian yang Gilang tunjuk.
“Aduuh …” erang Gilang tak sempat menghindar. Tapi aneh, ia hanya merasa sakit justru setelah di tinju, tapi tidak sejak tadi.
Gilang segera membuka kancing bajunya dan menarik perban yang tertempel di atas permukaan kulit perutnya.
“Amazing … ga ada luka di sini. Eneeeeeeng?” Gilang melotot ke arah Gita yang sudah bersembunyi di belakang tubuh Kevin. Minta perlindungan.
“Itu perban apa?” tanya Kevin bingung, dan menatap Gilang dan Gita berganti-ganti.
“Hi hi hii … Gita iseng kak. “ Gita mengaku sebelum di hakimi massa.
“Oh … istri nakal. Yaaaa.” Gilang sudah menarik tangan Gita agar tidak bersembunyi di belakang tubuh Kevin.
“Maaf …” Kekeh Gita.
__ADS_1
“Biar apa Neng ?” tanya Gilang mengeleng – gelengkan kepalanya.
“Biar dramatis saja.” Jawabnya tanpa dosa.
“Tunggu hukuman untuk istri nakal sepertimu, nanti malam.” Bisik Gilang tanpa bisa di dengar orang lain.
“Jadi kamu tidak tau, jika kakek tadi bahkan tak sempat di bedah. Lang?” tanya Kevin.
“Tidak.” Jawab Gilang sambil memeluk Gita dari belakang.
“Jadi tadi … kata dokter. Saat mereka akan membedah kakekmu. Mendadak kondisi akek drop. Dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara kamu, sudah terlanjur di anestesi.” Jelas Kevin. Dan penjelasan ini memang tidak ia dapatkan dari Gita yang hanya banyak diam sepanjang perjalanan mereka.
“Wooh… pantas saja, aku tidak merasa sakit apa-apa. Hanya memang bingung, ini di perban kenapa tidak terasa sakit apa-apa. Ternyata, ada yang sukses ngeprank suaminya sendiri.” Kekeh Gilang merasa konyol telah tertipui oleh akting Gita.
“Mana ada pasien pasca operasi bisa dalam waktu singkat melakukan perjalanan udara. Sudah berdarah-darah kamunya, Lang.” Muna ikut nimbrung. Ikut meratapi nasib Gilang yang sudah di tipu oleh Gita.
Rumah Dian memang di sambangi lelayat, sebagai rumah duka. Tetapi atas kekonyolan yang terjadi oleh orang-orang di dalamnya, membuat suasana duka itu tidak begitu kental terasa. Mereka memang sedang berdukacita. Namun terperangkap dalam rasa sukacita yang terselubung.
Bukan mereka berbahagia atas kematian Kakek Sudrajat, hanya ada sesuatu yang lebih patut mereka syukuri atas jalan yang Allah ingin tunjukkan pada keluarga tersebut. Saat ikhlas sungguh mereka aplikasikan. Tetap selalu ada upah yang setimpal yang di bayar lunas oleh maha besar Tuhan untuk mereka.
“Tetap salut atas keputusanmu yang sangat luar biasa ingin meyelamatkan nyawa kakek, Lang. Jika aku di posisimu. Aku tidak kuat.” Kevin menepuk bahu Gilang bangga.
“Entahlah. Mungkin aku memang masih dalam keadaan tidak sadar melakukannya.” Jawab Gilang akhirnya mengaku, jika ia tidak setegar itu.
“Hah … semua itu sudah berseliweran di dalam pikiranku, pak. Tetapi … jawabannya tetap sama. Lakukan saja, maka Bismillah saja. Aku tetap yakin dengan keputusan itu.” Jawab Gilang dengan nada tegas.
“Sekarang kamu sudah jadi pasien pasca operasi. Jadi boleh 7 hari tidak ke kantor manapun. Silahkan pergi berbulan madu sana.” Ujar Kevin yang selalu memberikan reward untuk segala sesuatu yang membanggakan.
“Hah … honeymoon A’ …” Teriak Gita senang.
“No … tidak sekarang. Kita masih berduka.” Jawab Gilang bijaksana.
“Oke. Selesaikan dulu semuanya. Kapan mau, semua kakak yang siapkan.” Lanjut Kevin yang maha baik itu.
“Tapi janji looh. Pulangnya Gewn harus punya adik.” Tambahnya lagi.
“Ha ha ..ha. Kalo itu aku yang no.” Jawab Gita cepat.
“Kenapa …?” tanya Kevin.
“Gita bukan Bu Mona. Bekas operasinya belum kering pak Bos.” Jawab Gilang cepat. Bukankah Gilang yang masih trauma dan berjanji tidak akan membuat Gita hamil lagi. Ia tak rela Gita bertarung nyawa di atas meja operasi, demi menambah momongan mereka.
Semua rumah tangga memiliki komitmennya masing-masing. Memiliki aturan yang hanya suami dan istri itu sendiri yang menyepakati untuk di laksanakan bersama. Termasuk keinginan Gilang yang hanya ingin punya anak satu saja, tentu berbeda dengan Kevin yang sempat merongrong Muna untuk kembali hamil anak ke empat di usia nya yang ke 40 nanti.
__ADS_1
Itulah uniknya rumah tangga. Tak ada yang bisa ikut campur di dalamnya. Selama itu menghasilkan rasa bahagia antar orang di dalamnya, lalu orang lain bisa apa? Hanya golongan netijen yang selalu suka mengomentari tanpa tau apa kesepakatan dalam masing-masing rumah tangga itu sendiri.
Bersambung …
Dengan rasa yang beraneka ragam.
Nyak kasih warning ya🙏
Kita sedang berada di ujung cerita.
Untuk kisah keluarga Kevin, nyak selalu gagal buat episode yang pendek. Entah apa daya tariknya. Nyak selalu dapat ide membuat bab ini menjadi ratusan.
Ijinkan nyak nafas sebentar. Semoga tidak terbentur dengan aktivitas di dunia nyata.
Nyak akan membuat cerita tentang Aydan dan Bintang nantinya.
Semoga selalu di nanti.
Wasallam
Mampir juga di Karya Baru Nyak.
Sesuai voting kemarin
Yang lounching adalah :
LOVE WITH MY HOT UNCLE
BAB 1 : MAHLIGAI DOSA
Om Abi …” rintih Kaniya pelan mengigit bibirnya sendiri merasa geli dan nyaman saat leher putihnya di endus dan di sesap sedikit oleh Abian saudara ayahnya. Hal itu sering terjadi, berulang – ulang oleh pria beranjak dewasa yang secara silsilah adalah Om Kaniya.
Usia mereka terpaut hampir tujuh tahun. Saat itu Abian berusia 23 tahun, sedang berada di semester akhir perkuliahan Strata satunya. Ya … Abian Wiguna adalah adik bungsu dari Abrar Waluya ayah Kaniya. Anak tunggal dari hasil pernikahannya dengan Veronia. Pernikahan mereka hanya berselang 13 tahun. Pernikahan itu tak bisa di lanjutkan karena adanya bukti perselingkuhan Veronia dengan mantan kekasihnya. Abrar tak bisa melanjutkan pernikahan yang ternoda itu. Mengusir Veronia dari rumahnya dan meminta agar Kaniya tetap tinggal bersamanya.
“Biar kan begini dulu Kaniya. Ini akan Om rindukan selamanya.” Pinta Abian yang kini tangannya sudah menangkup buahan kecil di dada remaja berusia 16 tahun itu yang masih mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atasnya. Salah memang, dosa itu pasti. Secara silsilah mereka adalah om dan keponakan. Secara usia pun, Abian termasuk fedofil. Sebab telah memperlakukan hal tak pantas pada anak usia di bawah umur.
“Om Abi yakin akan pergi dari Niya …?” ringisnya pelan. Ada air yang tanpa ijin jatuh membasahi pipi remaja itu. Saat pria yang sedang menempel di tubuhnya itu pamit untuk pergi ke London untuk melanjutkan kuliah pasca sarjananya.
PINISIRIIIN ....?
Yuk mampir🙏🙏
__ADS_1