CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 16 : NGELUNJAK


__ADS_3

Gita menoleh ke arag Gilang, dan sedikit menganggukan kepalanya.


"Iya, kalo ga salah ada minyak gorengnya 2 liter." Gita memperjelas isi paketan tersebut.


"Beneran...?"


"Wah ahsyiikk... sering sering saja ngasih paketan sembakonya. Jangan kaya caleg, yang ingat rakyat jelata hanya lima tahun sekali."


"Hm... kalo sering sering ngasih sovenir, berarti Gilang harus sering menikah juga ya bu, ibu?" canda Gilang melirik ke arah Gita.


"A'a... " Cicit Gita manja sambil menoleh ke arah Gilang.


"Becanda sayang. A'a mau ketemu tim dekor dulu neng. Ikut?" ajak Gilang pada istrinya itu.


"Eh... Lang. Istrinya di sini aja. Ikut ngabisin rujak nih, kali udah isi. Seger lho buat yang baru hamil muda." tebak mak ghibah squad. Bahkan ngeduluin nyak othor ya... dalam memprediksi kehamilan. Sebel.


"Gimana neng?"


"Iya..., eneng mau ikut rujakkan aja, a'." Jawab Gita penuh senyum tercetak di wajahnya.


"Oke... bu ibu, Gilang masuk ya." Pamit Gilang sopan lalu meninggalkan istrinya di sana. Semoga Gita ga di rujak bebeg oleh mak ghibah squad itu.


"Sini... sini neng. Duduk deket sini." Mak Erot .. eh. Maknya Dinda sudah menunjukkan ramah level 10 nya pada menantu bu Dian itu.


"Iya... makasih bu. Di sini saja, eneng dekat ibu." Ujarnya memilih duduk di samping ibu mertuanya. Dan mulai mengambil buah nenas untuk di lahapnya


"Jangan ambil buah nenas, yang lain saja." ibu Gilang menahan tangan Gita. Mungkin ia juga berharap menantunya itu segera hamil.


"Kenapa?" polos Gita bertanya.


"Nenasnya muda neng. Bisa keguguran kalo makan itu." Buseeet tu penerjemah oke pake bingit deh.


"Emang kalo orang haid, bisa keguguran ya ?" tanya Gita masih agak tidak mengerti dengan arah pembicaraan ibu ibu komplek itu. Tapi tetap saja melepas nenas tadi, dan beralih ke potongan buah kedondong.


"Oh... lagi haid ya. Gagal dong si Gilang dapat momongan." Celetuk salah satu ibu ibu di sana.


"Ga papa. Kan mesinnya masih baru. Lagi pengenalan. Ntar lama lama dan terus berusaha juga pasti jadi tuh Gilang junior." Sahut yang lain lagi.


"Hm... ngadonnya keseringan tuh. Jadi gagal maning jadi bayi." oh maaaii got, asli, semua kaya hidupnya ga bercacat cela aja dewh.


Gita ga tau harus jawab apa, mencoba memulai melahap buah buahan itu saja, mungkin adalah hal yang bisa ia lakukan.


"Jangan cocol yang itu. Pedas banget. Yang ini saja." Lagi. Ibu Gilang menahan tangan Gita agar tidak mencolek sambal ekstra hot melotot tadi.


Ibu Gilang langsung menyodorkan cobek yang sambelnya manis ke arah menantunya.


"Cocol yang ini saja. Nanti kamu sakit perut." Ujar ibu tulus pada Gita.

__ADS_1


"Oh... so sweetnya. Tuh, ibu mertuanya baik banget tuh neng. Betuntung deh punya mertua baik seperti ini. Kemaren saya mau besanan lho, tapi Gilangnya cuek beett." Yaah... curhat dong maaak.


"Masa bu Joyo. Gilang ga mau sama anak ibu yang mana ? Yanti atau Nanik?"


"Ya terserah Gilang mau yang mana aja. Kan anakku dua itu perawan semua."


"Ga jodoh itu namanya bu." Jawab ibu Gilang pelan.


"Iya ga papa. Si eneng teh. Berapa bersaudara?"


"Kami bertiga bersaudara bu." Jawab Gita anteng.


"Ada laki lakinya?"


"Eneng anak tunggal perempuan. Kakak laki-laki keduanya."


"Waaah... cocok deh kalo gitu. Jodohin sama anak perawan ibu saja, bagaimana...?"


"Huuuuh kesempatan niih?" timpuk yang lain sirik dong, karena bu Joyo pintar mengambil kesempatan dalan obrolan itu.


"Hmm... kak Kevin istrinya sudah punya anak dua. Kak Daren baru menikah dua bulan lalu. Maaf stoknya sudah habis bu." Kekeh Gita nakal.


"Yaaaah terlambat deh."


"Ha .... ha.. " Gelak tawa yang lainnya merasa senang atas kegagalan usaha bu Joyo mendapatkan kesempatan memiliki menantu tajir seperti bu Dian.


"Ngomong ngomong nih ... nyiapin berapa paket sembako sih buat besok?" Kepo again.


"Banyak banget itu mah. Tamunya juga ga sampe segitu paling."


"Itu khusus buat yang di sini saja. Untuk pegawai kantor dan karyawan pabrik udah di bagi lewat kantor. Nanti yang ngebagi di kantor kemarin yang akan bagi di sini. Supaya ga double."


"Hmm... double juga ga papa kok neng..."


"Iya ga papa... asal yang di sini juga kebagian semua."


"Kenapa harus sembako?"


"Sebab sembako lebih berguna dari sekedar gantungan kunci."


"Tapi kan itu mahal banget, apa aja sih isinya?" penasaran donk mau tau yang lengkap.


"Iya... lumayan mahal memang. Tapi alhamdulilah ada rejekinya."


"Beruntungnya kalian, nikah bisa sambil berbagi begitu."


"Iya bu. Kami hanya menyambung rejeki yang di titipkan pada kami."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Uang Gita sama A' Gilang mana cukup buat nyelenggarakan akad, resepsi dan ngunduh mantu ini."


"Lalu... siapa yang biayain?


"Ya ortunya lah dudul... Gitu aja bingung." Mulai deh tuh mulut no filter keluar lagi.


"Bukan. Papi hanya biayain acara akad sederhana yang laksanakan di rumah." Dalam hati ibu Gilang melihat betapa rendah hati menantunya ini. Bukankah akad kemarin jika di taksir, memakan biaya ratusan juta. Itu dia bilang sederhana.


"Terus siapa yang biayain?" Ghibah squad terus ngejar info dong.


"Kak Kevin yang kasih cek buat melancarkan semua acara. Makanya sampe sovenir pun harus yang mahal dan berguna. Supaya sesuai dengan dana yang sudah ia keluarkan."


"Busyeeet... kalo boleh tau. Berapa isi cek nya atuh neng?"


"Hmm... kasih tau ga ya bu ibu?" kekeh Gita.


"Ya kasih tau atuh neng." Semprot mak lampir... eh... mak Dinda penuh harap.


"Ga usah tau deh. Nanti jatuhnya ria. Yang pasti cukup lah untuk semuanya." Gita tak berminat mengubar sedekah seseorang. Apalagi itu adalah kakaknya sendiri.


"1 M ya neng?" tebak yang lain masih penasaran.


"Ga lah bu. Itu cuma sisanya." Jawab Gita membuat penasaran mak mak ghibah squad.


"Sisanya aja 1 M, lah di kasihnya berapa dong?"


"Ha...ha... Gita cuma bercanda kok bu. Ga penting." Gita mengalihkan isu.


"Eh... berarti kakaknya kaya banget donk, adiknya nikah aja sampe di biayai M M an. Itu duit semuakan, ga campur daun nangka."


"Ya duit lah masa daun. Gimana sih?" timpal yang lain.


"Eh.... boleh minta alamat kantornya ga. Mau cari lowongan pekerjaan, kali aja bisa ketular tajir, ya minimal ga miskin miskin gini amat lah." celetuk yang lain lagi.


"Wah kebetulan bu. Di kantor mulai senin depan mau buka lowongan pekerjaan. Lumayan banyak butuh tenaga kerja, sebab mau buka cabang di Cisarua. Siapkan berkas lamaran saja." Gita langsung antusias menanggapinya.


"Yang ga pake lamaran langsung kerja boleh ga neng? supaya langsung di terima gitu." Laaah... masih ngunjak nih ibu ibu. Sudah besok bakalan dapat paket sembako. Mau kerja kantoran ga pake ngelamar lagi.


"Ya ga bisa dong bu. Gilang aja sebelum nikah lamaran dulu, ya kan neng." Tiba-tiba Gilang sudah nimbrung saja di antar mak ghibah, ibu dan istrinya itu.


Bersambung....


Nah cukup lah 3x sehari edisi ghibah hari ini. Lumayan ngencengin urat saraf para readersku. Jangan lupa, ojo marah marah yo.


Ini hanya fiktif belaka.

__ADS_1


Kalo ada kesamaan alur, dan nama tokoh, hanya kebetulan.


πŸŒΉπŸŒΉβ˜•β˜•πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™


__ADS_2