
Sebenarnya, Muna bukan tidak mau hamil. Sebab, kemarin ia sudah berdamai dengan hatinya untuk menerima mahkluk hidup yang sudah tumbuh dalam rahimnya.
Di tambah lagi nasihat Babe Rojak dan dukungan Nyak Time yang selalu siap sedia mendampingi cucunya. Untuk mensukseskan kehamilan ketiganya ini. Apa yang bisa Muna lakukan sekarang, selain bersyukur dan menikmati masa masa kehamilan yang sudah menjadi takdirnya tersebut.
Suasana di rumah Babe mendadak heboh. Karena kedatangan Aydan si bocah comel. Annaya belum banyak tampil, sebab masih bayi. Yang spesialisnya hanya berceloteh dengan kata-kata pendek yang tak banyak mengandung arti.
Muna dan Kevin tak banyak memiliki kesempatan untuk bermain dengan kedua anak mereka, jika ada Nyak Time dan Babe Rojak. Kedua anak mereka selalu anteng, jika dekat dengan pasangan Betawi kental itu.
"Gimana rencana untuk bulan depan, Mae? Serius kita buat acara pengajiannya di sini?" tanya Kevin pada Muna saat mereka mirip pasangan sejoli yang sedang berkencan di atas rooftop dekat kamar Siska dulu.
"Ya ... Ga papa lah gantian gitu kita buat acaranya, Bang. Biar adil. Nyak sama Babe juga punya tetangga dan Muna juga lama ga silaturahmi di mari." Urai Muna, sadar jika masa kecilnya di komplek itu. Rumahnya ya di rumah Babe Rojak. Sejarah tak bisa di pungkiri bukan. Bahwa walau kini ia telah jadi seorang milyader, toh kampung ini adalah tempatnya di besarkan.
"Oke. Fix ya ... Nanti kita minta tolong sama Pak RT saja untuk mengundang warga dan sebagainya. Supaya Babe tidak repot." Lanjut Kevin.
"Sebaiknya jangan, Bang. Menurut Muna, Babe akan lebih merasa di hargai dan bermanfaat jika di kasih kepercayaan. Rasa bangga akan bertambah cucu pasti membuat Babe makin semangat, Pap."
"Iya sih. Cuma, Abang takut Babe cape aja."
"Tanya Babe aja, mau repot ga dianya." Ujar Muna lagi.
"Iya ya ... Tapi nanti, Abang kirim Tama aja buat kawal Babe ya."
"Tama lagi, Tama pintar membelah diri, Bang? Mau gimana hebohnya sih itu acara, sampai Abang mau bikin orang banyak repot." Tawa renyah Muna yang tak mengerti dengan jalan pikiran Kevin yang sepertinya agak lebay kali ini, selebay proses pembuatan anak ketiga mereka itu.
Hari Minggu tiba, Kevin sekeluarga sudah akan bergeser ke rumah Keluarga Hildimar.
__ADS_1
Senyum sumringah Aydan belum luntur, setelah merasa puas sehari satu malam berada di rumah Engkongnya.
Kesepakatan untuk acara bulan depan juga sudah beres. Di sanggupi oleh Babe Rojak dan dengan segala permintaan Kevin yang lumayan cerewet.
Urusan audit masih dalam proses, pihak Sisil dan Erwin masih mengkaji ulang beberapa temuan mereka. Sehingga meminta waktu beberapa minggu lagi untuk benar menyelesaikan pekerjaan itu hingga rampung.
Pulang ke Bandung adalah pilihan yang tentu Kevin dan Muna lakukan. Mengingat, pembukaan anak cabang perusahaan di Cisarua sudah tak bisa di tunda.
Keluarga ini cukup unik, tak peduli seperti kucing yang berkali-kali pindah tempat tinggal, tak jelas. Tapi, demi kebersamaan. Itulah yang dapat mereka jalani.
Gita dan Gilang juga sudah berada di Bandung. Aura segar ibu hamil sudah terpancar berseri di wajah Gita. Yang sudah di nyatakan sehat dan boleh beraktivitas, walau tetap tak boleh berat.
"AGi ... Eneng boleh ikut ke kantor ya hari ini?" rengek Gita di pagi Senin, saat Gilang sudah bersiap akan berangkat ke perusahaan. Padahal setelah sholat subuh tadi mereka sudah sepakat, kalau hari ini Gita tak usah ke kantor. Agar tak cape, dan sore nanti mereka sudah sepakat akan ke dokter kandungan. Untuk memeriksakan dengan detaul kondisi kehamilan Gita.
"Yakin ... Ga bakalan cape, Neng?"
"Banyak lah. Eneng bisa nonton Drakor atau dengerin musik Klasik. Biar Calon anak ayah otaknya cerdas. Atau Eneng masak sama Bi Inah?" Gilang memberi solusi pada istrinya.
"Iih, Ayah terbaik. Boleh juga ide masaknya. Nanti Eneng belajar bikin kue aja deh kalo gitu." Ide Gita pun muncul. Entah sepintas saja bayangan kue Nona Manis tiba-tiba terlintas di benaknya, saat itu.
"Mau bikin kue apa? A'a boleh bantu cek bahan kue yang ada dulu, Neng? Mumpung Bi Inah belum ke sini. Biar sekalian, Bi Inah beli bahannya." Ya Tuhan, Gilang kayaknya tidak hanya terbuat dari tanah nih. Tapi campur gula pasir juga, manis banget jadi suami, perhatian, pengertian. Nilai PKn nya pasti 9 nih di raport sejak SD.
"Mau buat kue Nona Manis, A'. Huuum, dari namanya aja udah ngegemesin deh. Cek google sebentar liat bahannya." Ujar Gita menyentuh gawainya untuk memastikan bahan apa saja yang ia butuhkan nanti.
Keduanya sudah berjalan ke dapur, memastikan ketersediaan bahan yang selalu siap di lemari pendingin di rumah mereka.
__ADS_1
"Ups ... Hanya daun pandan A', yang ga ada." Ujar Gita memastikan bahan yang akan ia eksekusi nanti.
Gilang gercep, dengan sigap segera menjentikkan jarinya untuk menghubungi Bi Inah, agar membawakan daun Pandan untuk mendukung pembuatan kue kidaman sang istri. Gilang kalo duda pasti banyak yang nyambut niih😂.
Selanjutnya Gilang sudah berada di perusahaan, belum dua jam ia berada di ruangannya tetapi sudah di kejutkan dengan kedatangan CEOnya, Kevin Sebastian Mahesa.
"Lang ... Bagaimana keadaan Gita?" tanyanya perhatian.
"Alhamdulilah, baik. Tapi, belum berani ku ijinkan ikut ke kantor, sore nanti kami akan ke Obgyn." Jelas Gilang menyambut Kevin dengan cepat.
"Alhamdulilah. Rabu, kita resmikan anak cabang di Cisarua ya. Otomatis, Haikal sudah stay di sana. Soal Gibran bagaimana?" Kevin masih meminta keputusan Gilang. Jangan kira setelah lama di Cikoneng, Kevin lupa dengan segala urusan kantornya. Dia adalah penagih pekerjaan yang sangat ketat, lebih ketat dari celana legging dan stoking yaah.
"Oh ... Siap. Mulai besok Gibran akan mulai bekerja. Hari ini jam kedua ia sudah saya panggil untuk penandatangan kontrak kerja, dan pengarahan teknis pekerjaan di sini." Gilang sudah matang memikirkan hal ini. Ia juga sudah menekuk lututnya untuk memohon petunjuk Allah. Dalam hal mengambil keputusan menerima Gibran Sudrjat sebagai Pegawai Baru di perusahaan itu.
"Alhamdilah. Terima kasih atas keprofesian kerjanya, Lang. Saya yakin kamu, bisa memilah antara urusan keluarga dan pekerjaan. Apapun yang akan terjadi nanti." Kevin menepuk bahu Gilang bangga.
"Terima kasih dukungannya. Oh, iya. Pak Bos sama siapa di Bandung?" tanya Gilang tak kalah perhatian.
"Ada Mae, Ay sama Nay juga." Jawab Kevin semangat.
"Waah ... Main ke rumah Pak. Eneng lagi bikin kue di rumah. Maklum bu Mil suka berkarya." Puji Gilang pada istrinya.
"Nanti ku ajak mereka menyerbu rumah kalian." Kekeh Kevin menanggapi ajakan Gilang.
Hah ... Belum tau dia kalau Muna juga berstatus buMil.
__ADS_1
Bersambung ...