
Rumah Hildimar itu besar, bisa di kategorikan juga sebagai istana. Pelayannya saja 12. Kamarnya puluhan. Sebenarnya dengan keadaan itu, Muna tak perlu repot turun ke dapur untuk sekedar membuatkan makanan untu sang suami. Bukankah mereka sudah keluar uang untuk mengajih parapelayan tersebut.
Tapi itu hanya berlaku untuk orang kaya lainnya. Tidak dengan Muna. Urusan pakaian oke lah Muna tak pernah repot mencuci dan menyetrika. Sebab untuk pekerjaan itu benar ia serahkan pada para pekerja di rumahnya. Sama dengan tugas berbersih rumah dan halaman, ia cukup memastikan semuanya di lakukan dengan baik saja. Termasuk memfilter siapa saja yang boleh masuk dan di terima untuk bertamu, tentu mereka punya pelayan tersendiri.
Zahra bukan orang lain, masih ada hubungan kerabat dengan Muna. Para pelayan tau akan silsilah itu. Sehingga saat Zahra berdiri di depan pintu, tentu saja sudah di silahkan masuk menemui Muna yang sedang ngobrol santai dengan kedua orang tuanya.
“Haaii … apa kabar mu Zahra ?” peluk Muna pada istri Daren tersebut. Sekilas Muna sempat melihat ada sembab di iris mata wanita tersebut.
“Heem … baik Kak.” Jawab Zahra melepas rangkulan Muna.
“Oh iya … Zah. Ini, ada Mama dan Abah baru pulang dari China.” Tak lupa Muna mengingatkan jika di sana ada kedua orang ruanya.
Zahra wanita alim nan santun, tak perlu di perintah pun sudah pasti aya menyalimi kedua tangan kedua orang tua yang berada di tempat yang sama dengannya.
“Duduk lah, ada kabar apa ?” Muna tanpa basa basi langsung pada tujuan kedatangan Zahra.
“Itu Kak … aku mau laporan. Tentang bangunan PAUD yang kemarin di garap dan di percayakan pada kami. Sekarang sudah siap di gunakan.” Lapor Zahra dengan nada gembira.
“Waaaw … hampir lupa. Bagaimana dengan isiannya …?” Muna benar-benar hampir menskip proyek itu.
“Alhamdulilah sudah terisi semua Kak. Dari fasilitas bermain, belajar hingga perabotan, jika saja ada orang tua yang akan menitipkan anaknya sejak usia 3 bulan.” Terang Zahra melupakan sembab matanya tadi.
“Masya Allah … selengkap itu. Kamu dapat donator dari mana?” kagum Muna pada fasilitas yang lengkap tersebut.
__ADS_1
“Dapat di tempat tidur Kak.” Jawab Zahra mengulum senyumnya.
“Gimana …?”
“Daren yang ingin melengkapi semuanya.” Jawabnya tak melunturkan senyum di wajah cantiknya.
“Kolaborasi yang sangat baik. Mona … sebaiknya taruh lah satu dokter anak di PAUD itu, untuk memantau kesehatan anak-anak yang di titip di PAUD kalian. Ini hanya saran saja sih.” Rona ikut menanggapi obrolan Zahra dan Muna.
“Iya tante … sekarang PAUD tidak seperti dulu yang di kira hanya sarana menitipkan anak atau mendidik anak yang akan di siapkan pra sekolah. Tetapi sekarang namanya PAUD HI, yang mencakup semuanya. Memenuhi layanan secara keseluruhan dari gizi, kesehatan, pendidikan hingga pengasuhan dan perlindungan yang optimal, agar dapat memastikan perkembangan anak usia dini sudah sesuai dengan tahapannya.”Jelas Zahra rinci.
“Waw … pantesan Mona mau hamil terus. Soalnya anak-anaknya nanti sudah ada yang nampung untuk di didik pada PAUD milik tantenya sendiri. Mama bangga sama kalian.” Decak Rona merasa senang.
“Ga gitu juga Ma. Ini jadi juga kecolongan.” Muna tersipu agak malu mengingat ulah usil Kevin.
“Ma … temani Abah di kamar ya. Rasanya sudah capek duduk.” Pinta Dadang yang merasa masih harus banyak beristirahat.
“Oke … Mona … Zahra. Mama dan Abah permisi ke dalam dulu ya. Lanjutkan saja obrolannya. Maaf, tidak bisa lama bergabung.” Pamit Rona pada kedua wanita di tempat itu.
“Jadi kira-kira kapan kita bisa meresmikan PAUD itu …?” tanya Muna.
“Belum bisa cepat sih Kak. Kan kita belum menyeleksi tenaga pendidiknya, tenaga pengasuhnya, juga orang-orang yang di perlukan untuk bisa stay di sana.”
“Teman-teman sesama guru di PAUD mu, apa tidak ada yang berminat pindah begitu …?”
__ADS_1
“Ada beberapa, tapi tidak semua. Juga kami tentu tidak enak jika semua pindah. Sebaiknya memang kita buat loker terbuka saja, bagaimana?” Zahra tidak bisa mengambil keputusan sebelum di setujui oleh Muna.
“Tolong kamu atur ya, mengenai draff alokasi pekerjaan dan pembayaran gaji mereka. Tolong kirim ke aku dulu. Agar semuanya sesuai dan lagi-lagi kita memang perlu donatur untuk memodali ini. Tapi … teman tidur kita sama-sama dermawan kan ya …? Jadi gampanglah itu.” canda Muna pada Zahra memuji suami mereka berdua.
“Heem … mereka cukup peka dan sangat mengerti serta mendukung ini Kak. Jadi sepertinya investasi di PAUD tidak hanya menguntungkan di kemudian hari, tapi lebih kepada menghasilkan anak-anak cerdas pada Generasi berikutnya. Itu yang lebih Daren bangga.” Jawab Zahra dengan raut wajah bahagia.
“Iya … jika memikirkan soal keuntungan secara materi jelas ini sangat lambat untuk di jadikan uang. Tapi, menghasilkan anak anak emas itu tidak bisa di nilai dengan berapa tumpukan uang pun.” Timpal Muna setuju.
“Kak Muna … isi lagi?” Zahra baru menyadri atau baru berani memastikan. Setelah berdamai dengan hatinya selama menuju perjalanan dari rumah sakit ke tempat Muna.
“Alhamdulilah … udah mau 4 bulan ini. Minggu depan datang ya, kita Tasyukuran di rumah Babe.” Muna mengundang Zahra secara langsung.
“Heem selamat ya Kak.” Ujarnya lirih. Jatuh juga air yang sedari tadi ia tahan hendak keluar.
“Kenapa sedih …?” Muna mendekatkan dirinya kea rah Zahra.
“Aku baru saja dari rumah sakit Kak. Kemarin aku diam-diam memeriksakan diri tanpa Daren. Sebab, ia terlihat sudah sangat ingin kami punya anak. Aku merasa perlu memeriksakan diriku. Dan ternyata memang ovulasi ku bermasalah Kak. Aku awalnya sempat curiga dengan jadwal haidku yang tidak teratur. Dan tenyata benar, aku mandul Kak.” Tangis Zahra pecah dalam pelukan Muna. Rupanya sedari tadi ia hanya pura-pura tegar saat mengaungkan tentang proyek PAUD yang ia sudah selesaikan. Inilah alasan mata sembab Zahra bahkan sejak ia berada di kediaman Hildimar.
“Sabar Zah … Allah tidak pernah meletakan tantangan hidup lebih dari kemampuan umatnya. Allah punya misi sendiri dalam menempatkan permasalahan manusia. Kita hanya bonekanya Allah. Tugas kita hanya menerima takdir dan terus berprasangka baik, bahwa di balik duka selalu ada suka.” Muna mengelus pucuk rambut Zahra lembut. Muna sebenarnya lebih muda dari Zahra. Hanya karena menikah dengan kakak Daren membuatnya di anggap tua dan selalu di tuakan oleh adik adik iparnya.
“Apakah Daren akan tetap menjadikan aku istri satu-satunya ya Kak?” pikiran wanita mandul itu bermacam-macam, tidak dapat di terka. Mulai dari takut di cerai, curiga suami selingkuh, sampai mengijinkan suami nikah lagi itu selalu menjadi fenomena yang sering terjadi.
Bersambung ….
__ADS_1