CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 31 : HOBBY TERPENDAM


__ADS_3

Barisan para istri tajir melintir sudah berjalan bergerilya di sebuah mall terkemuka di negara Singapura. Tak salah yang Gita katakan, bahkan di Jakarta saja mereka tak pernah bersama seperti sekarang ini. Hanya karena ide Kevin yang membuat mereka bisa seperti sekarang. Bisa meyalurkan hobby terpendam para istri.


Diendra sudah menculik istrinya, agar tidak bergabung bersama anak dan menantunya menjelajah mall itu.


"Mama mau beli apa saja boleh, tapi ga usah bareng mereka." Ujar Diendra.


"Papi takut mama di traktir lingerie?" delik Indira pada suaminya.


"Ha... ha... kaya masih bisa make aja." Ledek Diendra pada istrinya.


Mereka berduapun terbahak lagi, Diendra mengajak Indira ke outlet jewelry, sebagai kompensasi istrinya tak ikut dalam barisan muda mudi tadi. Dan selanjutnya mereka hanya menghabiskan waktu di ruang perawatan massage dan spa. Maklum udah tua, ga jauh jauh urusannya dari menjaga kesehatan saja.


Kevin, Gilang dan Daren memilih menunggu di kopi shop saja. Bertukar kisah dan pengalaman, tentu saja seputar bisnis yang kini mereka jalani.


Muna dan Zahra bukan model ipar yang kemaruk, apa lagi gila harta. Suami mereka juga tentu sudah melimpahi mereka dengan apapun. Jadilah Gita bingung harus membeli apa untuk keduanya.


"Eh... beneran aku ga punya ide lho beli apa buat kalian." Gita sudah berdiri deretan tas branded.


"Kak Zahra mau tas?" tawat Gita lembut.


"Ga tau di pake ke mana Git."Jawabnya bingung.


"Mama Ay...?"


"Haduuuh... papap Aydan itu rada sengklek. Beli tas sama sepatu suka ga kira kira lho, yang ada belum di pake. Sudah datang lagi barang baru lainnya. Ku lama lama kayaknya bisa buka pasar lelang deh saking banyaknya." Jawab Muna kesal.


"Huuum... kak Kevin yang belanja?" tanya Gita lagi.


"Bukan, sekarang di sudah punya asisten baru lagi namanya Tama. Sekarang kerjaannya update barang limited edition, ya Tama itulah kaki tangannya untuk ke sana kemari membeli ini dan itu. Kesel gua." Umpat Muna. Kalo sudah gitu Betawi Muna keluar deh.


"Kenapa jadi kesal? bukannya senang ya di belikan barang mahal?" tanya Zahra yang memang jarang dekat dan masih sangat menaruh hormat dan segan pada Muna.


"Mubazir Zah. Ku ga suka begitu. Tapi kemarin dia udah janji sih, ga gitu lagi." Muna sih, nyeplos saja. Apalagi di kalangan keluarga, mungkin tuanya nanti malah jadi nyak Time ketimbang mama Rona.

__ADS_1


"Padahal maksudnya nunjukin rasa sayang ya kak." Zahra menambahkan lagi.


"Iya... tau. Tapi caranya salah. Dia ada waktu bermain dengan Ay dan Naya saja bagiku sudah bahagia banget padahal. Nah, itu juga. Kalian jarang main ke rumahkan. Satu kamar sudah ia sulap jadi arena main mandi bola dan permainan lainnya. Mereka bisa menghabiskan waktu setengah hari di dalam situ. Mana si Naya baby 4 bulan itu juga anteng lagi, mau maunya ikut nimbrung di dalam." Cerita Muna yang hampir tak bisa di hentikan.


"Iih punya anak seru ya kak." Sambung Gita.


"Amazing Git. Nanti sebentar lagi kalian pasti juga akan mengalami indahnya morning sicknes, drama cari makanan kidaman, sampai sensasi mulesnya mau lahiran. Semuanya patut di banggakan, dan di syukuri supaya lelah ngurus anak segera hilang." Nasihat Muna pada dua ipar yang semua lebih tua darinya. Gita 29 tahun, Zahra bahkan masuk 31 tahun. Sedangkan Muna baru otw 26 tahun. Tapi, jangan lupa. Muna nikah sama bandot tua ya gais, jadi wajarlah iparnya memanggilnya dengan panggilan kakak.


"Doakan usaha kami berhasil ya. Sebenarnya selain menemani abi Daren, kami ke sini mau melanjutkan pemeriksaan tentang seputar kesehatan rahimku. Kami memang baru 4 bulan menikah, tapi tetap saja merasa resah menunggu, jadi ke dokter obgyin deh di Jakarta. Katanya apa ya... itu rahimku agak jauh gitu, jadi memang sulit untuk di buahi. Jadi kami di suruh cek ke dokter lain, mungkin ada alternatif dan saran lainnya. Kebetulan kan abi perjalanan dinas ke sini. Jadi, sekalian lah. Kali jodoh berobat di sini." Jelas Zahra dengan lembut.


"Oh... bisa gitu ya. Eh, baru denger lho." Celetuk Gita.


"Iya... memang macem macem Git. Masalah seputar rahim. Bahkan kalo haid suka sakit sampe guling guling juga harus waspada. Dan segera periksa, kemungkinan kista dan masalah lainnya yang menghambat lajunya mendapat keturunan." Jelas Muna lagi.


"Kemarin di Belanda ambil Fakultas kedokteran bu...?" ledek Gita.


"Ouwh... tidak. Tapi kan, managerial rumah sakit. Kami sering dulu sharing dengan dokter dokter dan segala permasalahannya di dalam rumah sakit, jadi sedikit banyak tentu tau hal seputar kesehatan. Hallo dokter." Canda Muna tertawa.


"Iya kak, makasih. Amiiin."


"Gimana pembangunan PAUD kita. Kapan selesai?"


"Insya Allah, dua bulan lagi kak?" jawab Zahra pasti.


"Naaah... nanti kamu menghibur diri dulu di situ. Main main deh sama bayi bayi di sana. Nanti Naya dan Aydan jadi peserta didiknya. Pas Naya sudah bisa makan tambahan selain ASI. Aku bisa fokus di rumkit. Soalnya abang, pasti mulai sibuk mengurus kantor yang di Cisarua." Celoteh Muna. Hah... Muna. Sudah kaya masih mikir usaha dan pekerjaan saja.


"Eh... jadi kita beli apa nih. Aku bahkan ga yakin masih punya kepala atau tidak jika ga beli apa apa untuk kalian, bisa di gantung oleh papa Aydan." Kikik Gita merasa makin bingung.


"Lingerie sih bukan ide buruk, senang malah si suami mesumku itu. Tapi, dia pasti marah lagi kalo yang di beli bukan yang mahal." Kekeh Muna.


"Apa dong? Cincin? ah... udah banyak pasti." Gita bertanya dan menjawab sendiri.


"Bagaimana kalau jam tangan saja, biar kita tidak lupa waktu." Ide itu keluar dari Zahra yang memiliki keperibadian lembut.

__ADS_1


"Alhamdulilaaaaaah. Ide bagus. Yukkk buruan." Gita sudah menarik keduanya menuju outlet yang menjual koleksi jam original dan mahal tentunya.


"Samaan atau sesuai selera nih?" Ujar Muna yang tatapannya sudah mulai ke sandung satu model jam kecil.


"Sesuai selera saja kak, silahkan." Ujar Gita tanpa gentar.


"Yakin gua di traktir nih?" Muna meyakinkan lagi.


"Ho'oh yakin, Ambil dah." Cekikik Gita. Dan Muna langsung meminta pelayan toko mengambilkan untuknya sebuah jam tangan rancangan Tiffany & Co yang dianggap sebagai salah satu jam mewah termahal di dunia ini diberi tajuk sebagai 'Tiffany and Co Art Deco Two-Hand Timepiece'.


Bagian dial di jam yang berwarna putih disambungkan dengan strap bahan satin yang memberikan efek shiny ditambah dengan dekorasi berlian yang mengilau dan taburan emas putih 18 karat. Jackpott, Muna bukan aji mumpung ya. Dia hanya baru menemukan model jam yang cocok di hati.


Gita tidak mempermasalahkan soal harga, sebab fokusnya masih terbagi untuk meyakinkan Zahra yang merasa serba tak enak karena harga yang baginya merusak sel sel tubuh dan jantungnya.


"Ukti Gita... aku ga usah di beli jam di sini deh. Ga ada yang cocok sama aku." Alasannya yang sungguh merasa jengah dengan jam yang sempat di taksir dan di pegangnya itu seharga 153 juta. Kepalanya mendadak berkunang kunang, semacam kurang darah. Zahra sederhana dan tak biasa dengan barang mewah itu.


"Udah Git, minta langsung bungkus saja yang di pegangnya tadi. Cocok kok, lucu bentuknya kaya kepala cobra, bisa melilit dengan fleksibel, benaran cantik di tangannya." Saran Muna memberi kode pada Gita.


Tanpa banyak cingcong, Gita pun sudah meminta pelayan membungkus sebuah jam Bulgari yang terbuat dari rose gold 18 karat ini memiliki bagian dial berbentuk oval dan dihiasi berlian di kedua sisi dengan menggunakan stainless steel pada bagian strap. Sementara pada bagian crown, jam tangan ini tampil kontras dengan emas 18 karat. Zahra tak mampu berkata kata lagi. Selain menerima dengan penuh ucapan terima kasih.


Gita tak mau kalah dong, ia juga membungkus sebuah jam tangan fari merk Van Cleef & Arfel dengan dial berbentuk bulat bernama Sweet Charms Watch dibuat di atas emas putih 18 karat. Yang membuat jam ini terlihat one of a kind adalah ornamen charm yang digantungkan pada sisi jam selayaknya charm yang biasa di aplikasikan di sebuah gelang.


Bersambung...


Ya ampun sampe lebih 1k lho tulisan nyak gegara belanja ini.


Met berhalu yaak


Makasih


🌹🌹☕☕👍👍🙏


__ADS_1


__ADS_2