CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 96 : NYESEL NIKAH


__ADS_3

“Apakah kakek Sudrajat masih ada?” pertanyaan yang sesungguhnya lama Gilang ingin tau dan tanyakan, Akhirnya ia keluarjan juga terhadap Gibran, tanpa ada maksud apa-apa. Sebab Gilang sendiri seseungguhnya


tidak tau harus apa jika tau keadaan sang kakek. Haruskah ia membenci, haruskah ia membalas dendam, atau mungkin kekuasaan si kakek masih sangat kuat, sehingga sampai detik ini pun ia tak pernah mencari di mana keberadaan mereka dan ibu.


“Kakek… yang kami tau sudah tidak tinggal di kota Bandung ini. Pak.” Jawab Gibran singkat. Namun meninggalkan keheranan yang masih menjadi tanda tanya bagi Gilang.


“Maksudnya…?”


“Saya dan mamah tinggal di rumah itu hanya sampai aku kelas 2 SMP. Tepatnya setelah setahun kakek menikah lagi. Sejak itu, kami tak tinggal di sana.”


“Mengapa?” cecar Gilang, tanpa peduli wajah Gibran sudah berubah sedih dan seolah malu. Gibran menunduk.


“Pak, saya bukan anak kandung ayah Edy Sudrajat. Itu sudah menjadi rahasia umum bukan. Hanya nama belakang saya yang tersemat nama tersebut. Ayah saya namaya Reza Hanggito. Dan mama tak pernah berhenti berhubungan dengan papa, bahkan sejak berstatus istri ayah Edy. Sebut saja mama berselingkuh dengan papa, dan itu mama akui. Saya kira Alm. ayah Edy juga sudah


tau akan hal ini, hanya kita yang masih bocah di saat itu, yang tidak mengerti akan hal-hal semacam itu,” Jelas Gibran pelan.


Gita terus memegang tangan kiri Gilang, hanya sekedar mengingatkan, bahwa ada dia yang selalu setia menemani Gilang di masa senang


bahkan mungkin di masa sulitnya sekalipun.


“Lalu…?” lanjut Gilang.


“Selama alm. Ayah meninggalkan rumah. Kami masih di manja dan di sayang. Hingga kakek bertemu dengan seorang janda Muda bernama Amima. Nah, sejak itu keadaan kami mulai terancam. Finnally kami di usir dari rumah


kakek. Semua kekayaan kakek sudah di kuasai oleh Amima, hingga saat saya masuk SMA. Kabarnya, kakek di pulangkan ke desanya. Karena sudah tak memiliki hak apa-apa atas kepemilikan rumah dan asset berharga lainnya.” Cerita Gibran.


“Astagafirullahalazim.” Dzikir Gilang.


“Kami tidak tau persis di mana desanya, juga keadaannya. Karena kami sudah fokus dengan keluarga yang baru saja. Hidup sederhana dan apa adaya bersama papa Reza yang memang berpenghasilan tidak besar. Ditambah lagi saat pertengahan masa kuliah itu, papa terserang stroke. Sehingga kami kehilangan tulang punggung yang biasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan kami.” Jelasnya.


“Jadi tidak ada kabar atau kepastiannya apakah kakek masi ada atau tiada sekarang?” tanya Gilang lagi.

__ADS_1


Gibran menggelengkan kepalanya.


“Kalau saya tidak tau. Entah jika dengan mama, apakah masih bisa berhubungan dengan mantan mertuanya.” Jawab Gibran pelan. Dan menghembuskan nafas leganya setelah dapat menyampaikan cerita pada Gilang.


“Di minum kopinya, Gibran.” Tawar Gita ramah mengingatkan.


“Iya terima kasih bu.” Jawabnya sopan.


“Kamu punya adik?” tanya Gilang pada Gibran yang baru selesai menyeruput kopinya.


“Tidak pak, mama hampir sepanjang usia pernikahannya dengan papa. Hanya bersembunyi dengan rumah tangga mereka yang sesungguhnya.


Sehingga tak berani untuk menambah buah hati.” Gilang mengangguk-angguk.


“Pak… jika tida merepotkan bapak. Ijin menyampaikan permintaan maaf mama dan kami sekeluarga untuk ibunya pak Gilang ya. Itu pesan


mama tadi. Sebab saya sungguh walnya tidak ingat pada bapak. Tetapi, rasanya nama bapak itu selalu berseliweran di kepala saya. Maka sebelum berangkat saya tanya mama. Pun tidak bisa memastikan. Hanya jika benar itu Gilang anaknya mas Edy katanya, sampaikan salam dari mama.” Gibran menirukan untuk memnyampiakan pesan sang mama.


“Secara pribadi sih, mungkin kami sudah melupakan dan memaafkan. Secara langsung keluarga kita tidak bersalah. Sesungguhya kita hanyalah korban. Tapi, tak salah juga mungkin sesekali kita bisa pertemukan mamamu dan ibu. Sebab kiita hanya manusia ciptaan Tuhan. Allah tak pernah ajarkan kita saling membenci bukan, lagi pula itu masa lalu. Yang tak bisa terulang, kedepannya mungkin kita saja yang harus memperbaiki diri, dan jangan sampai memaksakan kehendak pada anak anak kita kelak.” Ujar GIlang menatap Gibran, dan terakhir melempar pandangannya pada sang istri yang tak hentinya mengelus punggung tangan Gilang di bawah meja.


“Baiklah, Gibran. Maaf… kami permisi duluan ya. Soal urusan perusahaan, akan ada pihak personalia menghubungi kelanjutannya. Untuk salam dan permintan mamamu. Insya Allah kita bisa atur kapan mereka bisa saling bertemu. Salam balik untuk keluarga mu.” Jawab Gilang meanrik tangan Gita untuk berdiri dan meninggalkan tempat tersebut, tentu saja sebelum membayar tagihan makanan mereka.


Cup.


Sesampai di dalam mobil, Gita tak sabar mencuri kecupan di pipi sang suami.


“Bangganya punya suami pemaaf kaya aGi.” Puji Gita gemas.


“Bukan pemaaf neng, hanya ga tau caranya supaya benci dia. Boro-boro marah, dia juga di usir kakek. Papanya sakit lagi. Sepertinya


alam juga sudah menghukum mereka, karena pernah tak adil pada ibu dan kami.” Jawab Gilang melajukan mobilnya bergerakke arah rumah Kevin .

__ADS_1


“Ini bukan arah pulang kerumah kita, a…?”


“Iya… kita ke rumah pak bos dulu. AGi mau main sama Ay.” Jawabnya.


Yanhg ternyata juga bisa merasa rindu pada bocah kecil itu. Tanpa peduli dengan kecut dan masamnya rupa mereka yang bahkan belum pulang mandi atau sekedar berganti pakaian dari kantor tadi.


“Assalamulaiakum.” Salam Gita dan Kevin menguar saat pintu rumah itu mereka buka sendiri tanpa mengetuk, sebab penjaga depan sudah mengijinkan mereka masuk.


“Walaikumsallam.


Di taman bunya banyak mawar,


Tambah bunga lain makin menarik.


Wahai anaku Gita dan Gilang apa kabar?


Babe selalu berdoa agar kalian selalu baik.” Pantun babe


langsung keluar dong, saat melihat pasangan duo G sudah ada di hadapan batang hidungnya.


“Waah… ada babe. Apa kabar nih..?” Gita sduahn menyalimi babeb dengan hormat dan beralih pada nyak Time lal;u mereka saling berpelukan


di sana.


“Kabar babe dan nyak, alhamdulilah selali baik. Tambah baik dan panjang umur lagi. Saat liat keadaan kalian makin mesra.” Jawab babe.


“Kalau urusan kemesraan be, Gilang ga punya alasan untuk jauh jauh sama eneng. Udah candu.” Kekeh Gilang pada babe.


“Lu kaga nyesel Lang, nikahin Gita?” tanya babe lagi pada Gita.


“Nyesel banget be.” Jawab Gilang cepat.

__ADS_1


“Gimana…?” tanya Gita yang sudah nyolot aja ke arah Gilang.


“Nyesel ga dari dulu aja nikahinya.” Bahak Gilang di sambut gelak tawa babe yang paham maksud. Gilang. Membuat Gita ikut senyum sumringah menyadari. Ia hanya di goda oleh babe dan suaminya.


__ADS_2