CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 111 : BELUM REJEKI


__ADS_3

Demikianlah keadaan jika pernikahan di laksanakan di desa. Selain kegotong royongannya masih kental, juga dapat menjadi ajang mengais rejeki bagi para pedagang yang peka akan kegiatan seperti demikian.


Aksi jejal jejalan para emak emak rempong tadi pun berakhir, saat jualan si penjual mainan tadi hanya tersisa keranjangnya. Ludes tak bersisa. Di rombong itu hanya ada penjual dan Tama yang menyelesaikan pembayaran semua belanjaan.


"Terima kasih banyak ya pak. Saya doakan bapak sekeluarga rejekinya lancar dan sehat selalu." Doa tulus sang penjual sambil merapikan keranjang jualannya. Dan akan berkemas untuk pulang.


"Amiiin. Bukan saya yang bayar pak. Saya hanya menjalankan perintah. Tuh, yang sedang bersama anak laki laki yang memainkan mobil remote itu yang meminta saya bayarkan semuanya." Jelas Tama menunjuk demgan jempolnya.


"Oh... ya sama saja pokoknya. Saya terima kasih sekali. Dengan habisnya jualan ini, saya jadi bisa cepat pulang." Lanjurnya masih bersiap sebab kendaraannya mulai rapi.


"Lho kok pulang. Sudah banyak untung itu, ga nyawer dulu pak." Goda Tama memutar dua jempolnya di depan dada seolah ikut menyesuaikan irama dangdutan yang menggelegar di area itu.


"Waah... ga berani ikut nyawer pak. Bisa habis keuntungan hari ini." Ucapnya serius.


"Ya... kan sudah untung juga." Tama masih saja berusaha menggoda si penjual.


"Heemm... anak saya sedang sakit. Alhamdulilah jualan hari ini bukan hanya ada yang beli, tapi ludes. Mungkin Allah memang sedang kasih jalan lewat bapak dan bos itu. Jadi, setelah ini saya bisa langsung bawa anak saya berobat." Ujarnya jujur, membuat Tama agak terpana.


"Mari... pak. Saya permisi pulang dulu." Pamitnya sopan. Kemudian benar berlalu meninggalkan Tama yang masih tercenung. Sekaligus banyak bersyukur saat Allah mempertemukannya dengan Kevin, hingga kini ia memiliki pekerjaan tetap bahkan banyak mendapatkan uang serta suasana hati yang nyaman saat sungguh mengabdi dengan keluarga itu.


Suasana hingar bingar resepsi pernikahan Siska tak kunjung usai walau penunjuk waktu sudah merujuk pukul 4 sore. Sedangkan Asep dan Siska sudah terlihat senyum terpaksa dalam hal meladeni tamu yang menyambangi mereka ke atas pelaminan. Tapi, bukankan menikah hanya sekali seumur hidup. Sehingga walau tak mengenal semua tamu yang datang. Asep tetap berusaha ramah pada semua orang yang ikut berbahagia di acara mereka tersebut.


Gilang dan Gita bukan pengantin hari itu. Sehingga hanya sekedarnya saja duduk di kursi tamu VIP. Saat para pegawai kantor mereka datang dengan 2 bus yang sudah di sediakan oleh perusahaan. Demi ikut serta memberikan doa dan restu untuk Siska dan Asep.


Para pegawai kantor tak langsung kembali ke Bandung, sebab resort Kevin masih muat menampung bagi mereka yang ingin menikmati indahnya pantai di dekat situ.


"Eneng teh, mau ke pantai lagi bareng teman kantor?" tawar Gilang saat Gita baru membuka mata dari tidur sorenya.


Gita tak langsung menjawab. Ia hanya mengerjab-ngerjabkan matanya untuk memastikan, kini ia berada di mana.


"Tidurnya enak banget ya sayangnya aGi... muaach." Gilang mengelus kepala Gita dan mencium kening istrinya.


"Hmm... tidur eneng lama ya a'....?"

__ADS_1


"Eehhm... satu jam. Cape banget kayaknya si eneng. Padahal semalam ga a'a apa-apain kan." Senyum Gilang mengembang menggoda istrinya.


"A'a apaan siih..." malu Gita.


"Neng... jalan jalan yuk. Kita beli tespack."


"Hah...? di mana ada jual tespack a'...?" tanya Gita agak tidak percaya dan tak terpikir jika keresahan mereka berdua selama ini harus segera di pastikan.


"Ada, di bidan desa. Tadi a'a ada ngobrol sama tetamu yang ternyata suami bidan di desa ini. Mereka tinggal di perumahan dinas dekat Pustu tidak jauh dari balai desa." Jelas Gilang yang ternyata sudah mendapatkan informasi yang lengkap saat istrinya tidur tadi.


Gita tersenyum dengan pengetahuan suaminya, sekaligus sangat senang merasakan betapa Gilang memperhatikannya sedetail itu.


Beberapa hari di Cikoneng memang nyaman, saat harus lepas dari kesibukan kantor juga terbebas dari rutinitas memasak untuknya dan suami. Sebab semuanya sudah tersedia. Tetapi, tetap saja hatinya merasa deg degan, saat menyadari keterlambatan haidnya yang namun belum sempat di periksa.


Terlunta lunta dalam perkiraan saja tentu tidaklah nyaman. Berhati-hati itu wajib. Namun, bukankah mereka hanya sedang berada di sebuah desa yang masih memiliki tatanan peradaban. Tentu saja masih ada Puskesmas dan toko yang menjual alat tes kehamilan. Berbeda cerita jika mereka terdampar di sebuah pulau atau hutan belantara yang tak memiliki tanda tanda kehidupan.


"Jauh ya a'.. ?" tanya Gita memastikan tempat yang akan mereka tuju.


"Kita pinjam mobil kak Kevin saja ya A'..." simpul Gita.


"Heem... ga usah."


"Terus... kita harus jalan kaki gitu?" tanya Gita mendelik ke arah Gilang.


"Ya ga lah. A'a udah pinjam motornya Mirna. Ya... anggap saja kita jalan jalan sore." Jelas Gilang.


Dan penjelasan itu membuat mata Gita berbinar-binar kesenangan. Merasa lama tidak melakukan hal itu. Mungkin sejak menikah, mereka hampir tak pernah berboncengan di atas kendaraan dua roda tersebut.


Membuat pikirannya kembali pada masa indahnya bersembunyi dari identitas aslinya sebagai anak sultan.


Saat Gita di perlakukan selayaknya rakyat jelata. Tertawa senang menuju tempat mana saja yang ia dan Gilang ingin tuju, walau status mereka hanya sebagai teman waktu itu.


Saat mereka kadang harus singgah berteduh di bawah pohon atau di teras toko, saat mendadak hujan turun membasahi permukaan bumi. Semua itu memperkaya pengalaman manis bagi Gita.

__ADS_1


Dan justru di saat saat itulah, Gita menyadari betapa hatinya bergejolak, menginginkan Gilang menjadi pria yang akan mendampinginya selama sisa hidupnya. Hati Gita yang hampir tak bisa ia redakan sendiri, saat Gilang menarik tangannya agar melingkar erat di perutnya, sebab ia akan memacu kuda besi itu dengan kecepatan yang kencang. Oh... masa masa jatuh cinta memang sangat indah dan manis. Tentu berbeda dengan rasa, saat jatuh dari motor... luka cuy.


"Heeii... kok ngalamun si eneng mah. Mau ke bidan ga?" tanya Gilang mengusik flasback Gita barusan.


"Eeh iya... a'. Eneng mandi dulu ya." Ujarnya beranjak dari tempat tidurnya.


"Okeeh. A'a siapin motornya dulu." Pamit Gilang yang juga beranjak keluar kamar untuk meminta motor pada Mirna adik Siska.


"Om Laaaang." Teriak suara bocah tiga tahun arah Gilang, siapa lagi kalau bukan Aydan.


"Iya... Ay."


"Om mau kemana?"


"Mau jalan-jalan lah."


"Ay ikut ya om." Pintanya memelas.


"Okee... tunggu aunty sebentar ya." Jawab Gilang yang memang pernah berjanji mengajaj Aydan jalan jalan dengan motor.


Gilang masuk lagi kekamar untuk memastikan jika Gita sudah selesai mandi.


Tapi yang ia dapati, istrinya justru hanya menangis di sudut tempat tidur.


"Eneng teh kenapa?" tanya Gilang menghampiri Gita.


Gita tidak menjawab, hanya mengangkat celana berbentuk segitiga dengan sedikit noda kecoklatan di bagian mendatarnya.


Gilang memeluk istrinya.


"Sabar neng. Mungkin belum rejeki kita." Ucap Gilang di telinga Gita.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2