
Gilang hanya tersenyum menanggapi para seniornya yangtelahclebih dahulu melewati fase yang ia hadapi sekarang. Sembari berdoa dan berharap dia tidak ketiban sial dalam hal memenuhi keinginan sang istri di masa hamil muda ini.
“Ada papi dan mama…” Celetuk Muna saat keluar dari kamarnya dan sudah terlihat menggeret koper yang sudah selesai ia kemasi.
“Wah… Mun. Sudah berberes saja. Pulang hari ini?” tanya papi mertuanya sambil melepas peluk cium mereka.
“Ia pi. De Naya rewel. Mungkin tidak cocok dengan cuaca.” Jawab Muna beralih memeluk mama Indira.
“Oh… iya. Namanya juga masih bayi Mun. Sensitif sekali. Kembali ke tempat yang biasa dia tinggal itu hal yang benar. Takutnya kalo di paksa nanti bisa sakit.”Jawab mama Indira bijaksana.
“Tama…!!!” panggil Kevin pada asisten merangkap supirnya itu. Lantas Tama pun dengan sigap mengambil koper dan barang-barang yang akan segera di susun di dalam mobil Van milik Kevin.
“Eh… ada besan.” Sapa babe yang baru masuk rumah, setelah ikut asep bebrsih di halaman sisa pesta semalam.
“Iya be. Mau ketemu dan main sama cucu di sini. Eh, malah pulang hari ini.”
“Bujug buset… beneran Mun kite pulang hari ini?” tanya babe agak kaget, sebab ia memang tidak di beritahukan akan pulang hari ini.
“Ga juga be, kalo nyak sama babe mau pulang bareng hari ini, boleh. Tapi kalo mau bertahan agak lama juga ga papa.” Muna tidak memaksa kedua orang tuanya untuk ikut skejulnya yang terbilang mendadak. Hanya sungguh, Muna khawatir dengan Annaya yang terlihat tak nyaman di sana.
“Ya kalo kite berangkatnye bareng, harus lah pulangnya bareng juga Mun.” Jawab babe menandakan jika mereka akan ikut serta.
“Ya ga juga be, Gilang sama Gita tinggal kok.”
“Yah.. kalo Gita pan lain ceritenye.” Bantah babe.
“Bentar nyak babe berkemas dulu kalo gitu. Babe permisi dulu ye.” Pamit nya sopan pada besan dan
anaknya di ruang keluarga tersebut.
Belum lewat dari 60 menit, bahkan tidak menunggu makan siang. Mobil Van Kevin sudah terisi orang-orang yang akan kembali ke Jakarta.
Peluk cium tanda pamit pun sudah di laksanakan. Terutama pada keluarga Siska yang baru saja menyelesaikan hajat besarnya. Ijin dan permintaan maaf tentu sudah Kevin sampaikan pada pak Herman, sebab mereka tak
__ADS_1
bisa lama bahkan terkesan pulang dengan terburu-buru.
Di perjalanan Muna masih kehilangan keceriaan. Entah masih dongkol pada Laras, atau kesal pada Annaya yang masih belum mau di dekapnya. Di jalan Muna tak malu memeras air susunya, sebab ia rasakan payu daranya memang mengeras dan terasa penuh, sebab Annaya memang tak mengisapnya sejak kemarin, bahkan sebelumnya.
“Ngape suasana pulang ini kaga enak ye? Ape perasaan babe aje. Ade ape sih, Mun?” tanya babe yang penasaran Muna diam diaman saja di dalam mobil.
“Perasaan babe aja mungkin.” Jawab Muna seadanya.
“Oh .. syukur dah.” Ujar babe yang sebenarnya curiga tapi tak berani menuduh. Dan sungguh tak tau siapa y ng ia tuduh.
Tapi, perjalanan pulang itu sungguh canggung, bahkan saat mereka singgah untuk menikmati makan siang di area rest pun, sauna dingin itu masih terasa.
“Pin… kalian kagak lagi berantem kan?” babe Rojak penasaran dan kali ini bertanya pada Kevin selesai menikmati makan siangnya.
“Tidak be. Apa yang mau di berantemin sih?” Kevin balik bertanya.
“Ya kali, wajah Muna jutek gitu.” Tebak babe sungguh tak yakin.
“Itu, Naya sejak kemarin ga mau ngasi sama dia. Jadi dia be te. Mana kalo deket mamamnya bawaanya nangis lagi. Jadi Mae kesel be.” Kevin sedikit memberikan bocoran untuk babe.
Cikoneng ke Bandung hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit, sehingga mereka masih bisa singgah di Bandung untuk beristrirahat. Lalu selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Jakarta, masih menggunakan jalan darat. Sehingga sebelum magrib mereka pun sudah tiba diJakarta, tempat yang mungkin Annaya cari suasananya.
Laras tak berani menegur Muna, takut salah. Hanya melakukan pekerjaan secara otomatis tanpa perintah, seperti yang biasa ia lakukan secara rutin.
Muna sudah berada dala kamar mereka dengan pakaian daster kesayangannya. Dan kali ini ia sungguh memaksa dan berusaha untuk mendekap Annaya dalam pelukkannya.
“De Naya ga kangen mamam nak?” ujarnya lembut.
“Maafin mamam ya… kalo ga ngerti Nay maunya apa?” curhat Muna pada bayi yang sesungguhnya belum mengerti apa-apa dan tak bisa menjawab obrolannya.
“O…o..” hanya itu yang keluar dari mulut Annaya.
Bayi itu rebah berguling-giling di atas kasur empuk mereka. Sambil kadang memegang ujung ibu jarinya, berusaha keras ingin menarik jempol kakinya untuk di masukkan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
“Nay… ngapain isep jempol kaki. Ini makanan mu.” Muna masih berusaha menyodorkan pen til susu dari dalam beha nya.
Annaya mencium-cium sekitarnya, dan kemudian mengulum yang Muna sodorkan untuknya.
Berhasil.
Akhirnya Muna berhasil memberi ASInya lagi untuk Annaya. Dan kedua manik mata ibu dan anak itu pun saling berinteraksi lewat bahasa kalbu mereka. Hingga keduanya terlelap, sama-sama tidur nyeyak.
Kevin masuk, setelah berhasiul menidurkan Aydan di kamarnya. Setelah membacakan buku cerita untuk anak sulungnya tersebut. Ia tersenyum menatap dua malaikat tak bersayapnya itu sama sama tidur ternganga saking pulasnya. Dengan posisi Annya yang maish berbantal lengan Muna, dengan salah satu saluran ASI yang masih terjulur dekat mulut Naya.
Kevin meletakkan guling di dekat Annaya yang berada di dekat dinding kamar itu. Pelan pelan, kemudian ia mendorong Muna agar memberikan sedikit tempat di sampingnya, agar dia bisa ikut bergabung meratakan punggungnya di sebleh Muna.
Dan hal itu membuat Muna terbangun dan agak terkejut.
“Abang…” desisnya.
“Nay udah selesai tranfusi ASInya, giliran abang yang mau donor darah putih ke Mae.” Kekeh Kevin mencium kening Muna dengan penuh kelembutan.
“Capek bang… “ jujur Muna.
“Bercanda Mae. Sini abang peluk sampai pagi.” Tawar Kevin menyodorkan tangannya. Muna membelakangi Annaya, menyambut uluran tangan suaminya.
“Sumpah di cuekin itu pedih banget bang.”
“Udah… yangpenting Nay udah mau ngasi kan?” tanya Kevin.
Muna mengangguk,
“Tepat, sama kayak papapnya.” Ujar Kevin yang sudah melepas tangannya yang tadi jadi bantal Muna, Dan sekarang justru sudah turun, mengendus-ngendus, kasak kusuk di saluran ASI milik Annaya tadi.
“Abang ngapain?”
“Cek kadar rasa dan keasamannya, mencari sumber penyebab kenapa Nay kemarin ga mau. Kali aja rasanya basi.” Jawab Kevin.
__ADS_1
“Abang modus iih.” Celetuk Muna pasrah. Mana Muna berdaya kalau bagian itu sudah di endus dan di isap isap Kevin. Sudah tentu, kegiatan selanjutnya adalah aksi lorot pelororan kain sehitiga deh.
Bersambung…