CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 212 : IDE GITA


__ADS_3

Matahari dan bulan bagai berlomba menduduki rotasinya masing-masing. Membuat hari tak terasa berlalu bahkan melewati dua kali hari minggu. Itu artinya dua pekan sudah Sudrajat menjalani perawatan intensif pada rumah sakit daerah di kota tempat tinggal mereka. Kini keadaan Sudrajat jauh lebih sehat dan segar. Kulitnya tak lagi redup, melainkan bercahaya kekuningan, juga pipinya tampak berisi dari sebelumnya. Jangut dan kumis yang kemarin sempat memenuhi sebagian dari kulit wajahnya pun sudah bersih, di cukur oleh Arum yang kadang datang bergantian dengan sang ibu. Gilang kemudian juga jarang terlihat ke rumah sakit. Sebab ke sibukannya untuk mencukupi nafkah keluarga mereka.


Beruntung Gita bukan hanya terlahir dari keluarga kaya harta. Namun, ia memiliki kekayaan hati yang patut di acungi jempol. Gitalah yang marah pada Gilang jika semangat Gilang sudah mulai kendor dalam hal memperhatikan obat-obatan untuk sang kakek.


Gita juga yang memberikan jaminan pada Gibran, saat saudara tak memiliki hubungan darah itu datang untuk meminjam uang. Dengan jaminan sertifikat rumah yang mereka tempatiu. Untuk menyokong biaya operasi ayahnya yang masih koma tak sadarkan diri. Gibran benar telah meletakan rasa malunya di bawah kaki. Dengan ketentuan potong gaji sebesar 70% per bulan. Terpaksa ia lakukan. Dari pada setiap hari mendapat rongrongan dari sang ibu untuk mencari pinjaman untuk biaya perawatan suaminya yang tak kunjung menyusut juga tak ada menunjukkan tanda-tanda sembuh.


“Ini dulu adalah kamar Gilang. Tapi sekarang cucu bapak sudah berkeluarga dan Alhamdulilah memiliki rumah sendiri. Jadi, sekarang bapak saja yang menempati kamar ini.” Jelas Dian dengan ramah dan sopan pada mertuanya. Mana Dian mengira jika kini ia memiliki kesempatan merawat orang tua dari suaminya. Bukan sebuah musibah baginya, melainkan ini sebuah anugrah yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Dulu sangat di caci namun kini justru sangat di puji oleh sang mertua.


“Hidup kalian sangat berkecukupan.” Jawab Sudrajat merasa malu.


“Biasa saja pak. Alhamdulilah kami bisa hidup layak.” Jawab Dian merendah.


“Gilang itu bekerja di mana?” telisik Sudrajat penasaran dengan pekerjaan cucunya. Ia tau, biaya pengobatannya selama kurang lebih dua minggu. Walau di rumah sakit umum daerah, tentu tetap di bayar dengan uang. Bukan daun nangka.


“Gilang bekerja di sebuah perusahaan Farmasi.” Jawab Dian.


“Apa jabatannya?” tanyanya kembali.


“Wah … kalau soal jabatannya. Saya kurang paham. Yang pasti kadang Gilang ke kantor kadang juga ke gudang. Mungkin mandor.” Jawab Dian sengaja tidak ingin menyampaikan yang sebenarnya.

__ADS_1


“Kalau istrinya, apa benar hanya ibu rumanh tangga?” tanyanya lagi ingin tau tentang cucu menantunya.


“Iya. Dulu mereka satu tempat kerja. Dan di situlah mereka bertemu. Tetapi setelah menikah. Gita ingin fokus hamil dan mengurus rumah tangga saja. Jadi, hanya Gilang yang menjadi tulang punggung keluarga mereka.” Jawab Dian dengan sabar.


“Wah … mengapa Gilang sampai memberhentikan istrinya bekerja. Padahal mengurus anak dan rumah tangga itu bisa di wakilkan pada orang laian. Kesempatan untuk mendapatkan ekonomi yang stabil itu adalah kesempatan yang sangat langka dan sayang untuk di lepaskan begitu saja. Mestinya, kamu sebagai orang tua membantu mereka dalam hal memberi pengertian. Agar Gilang tidak kecapean mencari nafkah seorang diri.” Rupanya kakek Sudrajat benar sudah sembuh. Sehingga sel-sel otaknya kini sudah kembali pada jalan pikirannya yang suka mengatur.


“Pak … saya hanya wanita yang melahirkan Gilang. Untuk urusan wanita pilihannya dan rumah tangga mereka. Saya merasa tak memiliki banyak hak untuk mencampurinya. Yang saya utamakan adalah kebahagiaan mereka, yaitu menjalani rumah tangga yang sudah mereka sepakati berdua.” Jawab Dian tanpa bermaksud menyindir masa lalu mereka.


Demikianlah kemudian kakek Sudrajat tampak betah tinggal bersama menantunya yang pernah ia buang. Tipis memang rasa malunya. Sebab masih sanggup menerima kebaikan yang Dian dan anak-anak mereka beri untuknya.


Kemudian, Arum lah yang harus bisa membagi waktunya. Untuk 2x seminggu ke rumah sakit mengantar Sudrajat cuci darah secara rutin.


Tak lama berselang, dua pekan berlalu. Mobil mewah berhenti di depan rumah bu Dian. Kita tentu masih ingat mobil Gita yang hanya muat dua orang itu. Masih sering wara-wiri Gita gunakan untuk sarananya kemana-mana. Dan mata Sudrajat hampir keluar saat melihat mobil itu berhenti di depan rumah Dian. Juga yang mengemudikannya adalah Gita. Cucu menantunya, yang pernah dengan telaten menyuapinya di rumah sakit. Saat ia sekarat hampir mati, beberpa minggu yang lalu.


“Selamat sore kek. Apa kabarnya?” Sapa Gita menyalami dan menyalimi tangan yang sudah mulai berisi dan tampak jauh lebih sehat dan segar itu.


“Alhamdulilah… kakek jauh lebih sehat. Berkat usaha kalian.” Jawabnya dengan senyum yang melebar senang.


“Kek … Gita sudah menyampaikan sedikit tentang kondisi kesehatan kakek pada kak Kevin. Kebetulan di Jakarta istrinya adalah direktur sebuah rumah sakit swasta. Di sana bisa di lakikan pencangkokkan organ. Cuci darah yang kakek jalani sekarang, sifatnya hanya membuat kakek bertahan hidup. Tapi tidak menyembuhkan. Cangkok ginjal yang bisa membuat kakek benar benar sembuh. Dan itu bisa di lakukan di Jakarta.” Ungkap Gita tanpa pikiran dan prasangka apa-apa. Gita tentu sudah menyampaikan keadaan kakek Gilang pada Muna dan Kevin. Pada orang tuanya juga. Dan mereka semua mendukung, jika kakek Sudrajat bersedia di rawat di Hildimar Hospital, dan melewati semua rangkaian pemeriksaan sebelum pencangkokan ginjal itu di laksanakan.

__ADS_1


“Apa … cangkok ginjal? Gita … kamu berlebihan.” Dian sangat terkejut di buat menantunya. Tidak terpikir olehnya jika menantunya itu sebegitu serius ingin menolong mertuanya.


“Iya bu. Di rumah sakit milik Kak Muna. Bisa, asalkan kita dapat pendonor ginjal yang cocok.” Jawab Gita tanpa beban.


“Siapa Kak Muna …?” tanya Sudrajat penasaran.


“Kak Muna itu istri kakak saya, Kek. Dia direktur Hildimar Hospital di Jakarta Selatan. Jika kakek bersedia, kita akan melanjutkan pengobatan kakek di Jakarta.” Lanjut Gita memperjelas idenya untuk sang kakek.


“Oh … tidak usah saja. Kakek merasa cuci darah ini saja sudah cukup membuat kakek lebih baik dari sebelumnya.” Jawab Sudrajat seolah tidak tertarik dengan tawaran dari cucu menantunya.


“Paling tidak kita akan berusaha maksimal dulu lah, kek.” Jawab Gita masih keukeh ingin Sudrajat menjalani proses pencangkokkan ginjal.


“Gita … kamu ada bawa apa dari rumah? Makanan?” tiba-tiba Ibu Gilang mengalihkan pembicaraan. Berharap Gita bisa berjalan mendekatinya ke arah dapur.


“Oh … iya. Ini Gita baru saja membuat kolak pisang dan ubi jalar. Semoga kakek mau memakannya.” Gita membawa sebuah box berisi makanan yang ia buat dengan tangannya sendiri.


“Bukan tentang kakek mau makannya atau tidak. Tapi, jika tidak sedang cuci darah. Kakek tidak bisa makan makanan dengan sembarangan.” Ujar Ibu Gilang. Yang sudah banyak belajar dan berguru dengan penunggu pasien cuci darah saat beberapa kali menjaga mertuanya.


“Oh … maaf Gita tidak banyak tau. Coba saja kakek ginjalnya baru. Maka kakek pasti bisa menikmati apa saja tanpa pantangan.” Celoteh Gita, masih dengan kekerasannya untuk mengganti ginjal Sudrajat.

__ADS_1


“Jangan keras kepala. Ginjal Gilang yang akan menjadi taruhan. Jika idemu itu terlaksana.”


Bersambung


__ADS_2