CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 125 : BARANG INDENT


__ADS_3

Babe Rojak sudah kembali ke rumah sebelah, dimana keluarga Kevin juga tampak hadir lengkap di sana untuk memberi ucapan selamat untuk Gita yang sudah di nyatakan hamil muda itu. Dan selanjutnya babe cukup terkejut atas keputusan Muna dan Kevin yang sudah bersepakat untuk segera kembali ke Jakarta. Merasa pergi bersama, tentu saja babe pun tak memiliki alasan untuk tetap bertahan dan selalu berada di tengah-tengah keluarga itu tanpa Muna. Ia pun segera berkemas untuk ikut pulang bersama Muna sekelurga.


Papi Diendra dan mama Indira memilih melanjutkan istrirahat dan libur mereka di resort milik Kevin. Tak jauh beda dengan Daren dan Zahra yang juga sedang tidak terburu-buru, sehingga memilih bertahan di desa Cikoneng. Yang Terkenal dengan pesisir dan suasana pantainya yang sangat menyejukkan mata.


Tinggallah kini Gita dan Gilang yang mendadak merasa kesepian. Tak ada celotehan Aydan dan tak terdengar tangisan Annaya yang kadang memang segera Laras dekatkan pada Gita dan selalu tampak tenang setelahnya.


“AGi…eneng mau kan masakan a’a…” manja Gita keluar saat suasana rumah itu anyep, mirip kuburan.


“Mau a’a masakin apa neng?” antusias Gilang yang selalu manis dan siaga terhadap istrinya tersebut.


“Itu makan ikan kalengan.”


“Ngapain makan ikan kalengan, di sini tuh pulaunya ikan seger neng. A’a beli ikan di deket pantai deh, terus a’a masakin buat eneng, oke?” tawar Gilang yang tak mau istrinya menikmati makanan kalengan yang menurut hematnya ga sehat itu.


Gita tidak menjawab. Hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca.


Gilang menatap intens raut wajah istrinya yang berubah sendu. Dalam hatinya tersadar jika omonganya barusan sudah melukai perasaan wanita yang kini berbadan dua olehnya.


Cup.


Perut Gita di kecup oleh Gilang.


“Maafin ayah ya nak. Ayah lupa kalo itu kamu yang mau.” Ujar Gilang justru membuat airmata Gita luruh terharu.


“Jadi bunda segini bahagianya ya a… Bisa di sayang berlipat lipat oleh suami.” Haru Gita melihat Gilang yang semakin sweet itu.


“Kan udah pengen banget bebebph.” Jawab Gilang mencium kening Gita.


“Oke… ikan kalennya di masak gimana?” tanya Gilang pada Gita yang sudah menghapus air mata yang sempat turun di pipinya tadi.


“Itu yang kayak di masak ibu di rumah, yang pake sayur kacang panjang dan mie.” Jawab Gita bersemangat. Gitu amat mood ibu hamil. Bis tiba-tiba mellow, tapi tiba-tiba girang dalam hitungan detik.


“Sarden plus-plus?” tanya Gilang menebak nebak.


“Iya.. a’. Mau itu.  Tapi…” ujarnya menggantung.


“Tapi apa?” tanya Gilang memastikan tidak salah dalam hal memproses dan penyajiannya nanti.

__ADS_1


“Tapi a’a harus masaknya sambil ngoceh yang lucu, ngegombal juga. Sambil nguraikan dan ngejelasih bahan apa saja yang di gunakan.” Gita menjelaskan.


Gilang agak bingung dengan yang Gita maksudkan. Tapi, ia selalu berusaha bilang bisa dan siap.


“Oke… sekarang aGi pamit beli bahannya dulu. Eneng mau ikut?” tawar Gilang santun.


Gita menggeleng. “Ga mau, takut capek. Eneng tiduran dulu aja.” Jawabnya lagi.


“Oke… bidadariku. Agi anterin ke kamar mau?” tawar Gilang persis pelayan yang super santun.


“Mau…” Manja Gita ga ketulungan saudara-saudara.


“AGi jangan pergi dulu, sampai eneng ketiduran.” Lanjut Gita saat ia sudah rebahan di atas kasur.


“Siaap.” Jawab Gilang benar-benar siaga.


“Olesin ini di punggung eneng, ya a’” Ujar Gita meyodorkan minyak zaitun untuk suaminya.


“Baiklah.” Sabar Gita memyambut botol minyak itu, lalu mengusap pelan punggung mulus putih di hadapannya.


“AGi… jangan masak dulu kalo eneng belum bangun ya.  Eneng mau liat secara live dari awal. Sampai selesai.” Ujar Gita yang sudah hampir mempertemukan kelopak mata atas dan bawahnya. Untuk terlelap masuk dalam dunia mimpinya.


Sepuluh menit berlalu, Gita benar benar sudah tak berada dalam dunia nyata. Ia sudah melanglang buana, terbuai dalam alam mimpinya. Perlahan Gilang beringsut meninggalkan kamar itu. Dan tidak menutup pintu itu dengan rapat, agar tetap bisa mendengar panggilan dari Gita jika ia bangun nantinya.


“Na… Mirna. Sini.” Panggil Gilang pada Mirna adik Siska.


“Ada apa kak?” tanya Mirna sopan.


“Boleh pinjem motormu lagi, mau ke warung.” Ujar Gilang tanpa malu.


“Ke warung… cari apa sih?”


“Mau cari sarden kalengan, mie sama kacang panjang.” Jawab Gilang pada Mirna.


“Kak… ini sudah jan 11 siang. Mana ada orang jual sayur kacang di jam segini.” Jawab mirna menahan tawanya.


“Mampus deh aku, mana ga ada hypermart lagi di sini. Gimana dong Mir. Neng Gita ngidam mau makan makanan nyang ada sayur kacangnya tuh.” Gilang malah curhat pada Mirna.

__ADS_1


“Di sini memang desa kak, ga ada hypermart. Tapi di rumah sebelah udah ngalahin swalayan kok. Coba cek kulkas ibu deh.” Ujar Mirna sambil tersenyum.


“Beneran Mir…?” mata Gilang berbinar-binar mendengar ucapan Mirna.


“Kak Gilang liat aja deh sebentar.”


“Kalo gitu, kak Gilang titip eneng Gita ya. Takut kebangun ga ada orang yang nyahutin. Kalo dia tanya bilangin kak Gilang lagi cari bahan makanan pesenannya.” Pamit Gilang yang kemudian berjalan kerumah keluarga Siska yang tak sasmpai lima menit sudah sampai.


“Ibu… punya sayur kacang panjang?” tanya Gilang pada ibu Siska di dapur.


“Mau yang mentah apa yang masak? Tuh di meja udah di oseng sama Siska sejak pagi.” Jawab ibu Siska yang memang sudah akrab pada Gilang.


“Ga bu, mau yang mentahan saja, nanti Gilang yang masak.” Jawab Gilang sopan.


“Nak Gilang bisa masak?”


“Bisa dikit-dikit bu.” Jawab Gilang dengan senyum di kulum.


“Sebentar… oalaaah. Sisa lima batang ini cukup apa sih Lan?” tanya ibu Siska mengerutu sendiri memeriksa isi kulkasnya.


“Ga pa pa bu. Itu cukup kok. Cuma untuk campuran.” Jawab Gilang senang melihat bahannya ada di rumah Siska.


“Masak apa sih, masa lima batang kacang saja cukup?”


“Mau masak sarden, campur kacang dan mie bu.” Jawab Gilang jujur.


“Oh… ya iya cukup saja segitu. Nih sardennya 2 dan mie nya 2 bungkus juga. Cukup kan?” tanya ibu Siska menyodorkan dua bahan yang di perlukan Gilang ke atas meja.


“Alhamdullilaaah, keturutan kidaman anakku kalo begini bu.” Jawab Gilang penuh syukur.


“Laaah… istrinya udah ngidam ya Lang. Alhamdullilaaah, semoga segera nular ke Siska ya.”


“Amiiin.” Jawab Siska dari arah ruang tengah mengamini doa ibunya.


“Cieee… yang baru halal. Udah mau hamil aja. Emang udah DP sebelumnya ya bu.” Goda Gilang pada Siska dengan nada penuh canda.


“Motor kali di DP duluan Lang. Sorry ya, gue barangnya indent. Limitied pula, barang jamin jos gondos, sekali pake langsung jadi.” Kekeh Siska terbahak bersama Gilang.

__ADS_1


“Ngomong apa siih?” tanya ibu Siska heran sendiri, tak mengerti maksud arahpembicaraan Gilang dan Siska.


Bersambung….


__ADS_2