CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 211 : KESEMPATAN


__ADS_3

Setelah kedatangan Gilang ke ruang Hemodialisa itu lagi. Suasana ruangan tepatnya di meja pereawat mendadak heboh. Tidak menyangka para petugas medis di sana. Jika pria yang tadi keluar hanya membeli vitamin untuk pasien mereka, tiba-tiba datang dengan beberapa bungkus nasi Padang. Rejeki memang tidak kemana-mana.


“Mbak ini titip vitamin buat kakek saya, Sudrajat. Misal di kesempatan lain kami tidak bisa datang menemani beliau saat cuci darah. Tolong di berikan. Dan ini, maaf. Saya juga titip untuk membeli makanan atau apapun keperluan kakek yang sifatnya mendesak, saat kami tidak ada. Tolong di pegang. Dan ini nomor ponsel yang bisa kalian hubungi.” Ujar Gilang menyerahkan nasi. Vitamin juga amplop berisi uang untuk di kelola oleh pihak ruang Hemodialisa.


“Maaf, Pak. Sebenarnya kami tidak berani memegang uang. Karena yang jaga itu tidak selalu kami. Kami berjadwal. Dan sifatnya randon. Jadi kami tidak bisa menerima ini.” Tolak salah satu dari mereka yang sama-sama melihat apa saja yang Gilang berikan pada mereka.


“Ya setidaknya di sini ada kepala ruangan. Dan saya juga memberikannya di hadapan kalian semua. Sehingga bisa saling mengingatkan. Tolonglah. Kami memiliki pekerjaan lain, dan di rumah kami masih punya bayi, yang sebenarnya tidak bisa lama-lama kami tinggalkan. Jadi, mohon di maklumi. Jika di lain waktu kami terlambat untuk menjaga kakek.” Jelas Gilang setengah memohon.


“Baiklah, kami terima. Tapi ini bukan sogokan untuk kami ya Pak. Kami hanya membantu jika keluarga pasien terlambat datang. Sebab, tolong upayakan untuk bisa selalu menemani kakek anda. Karena, umur tidak ada yang tau.” Hanya itu yang di ucapkan perawat tersebut. Yang tentu saja cukup menohok hati Gilang. Ia tidak bermaksud ingin melalaikan tugas menjaga kakek. Hanya ia juga memiliki serangkaian pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Maka, menurut hematnya. Dengan menitipkan uang bisa membantu dalam hal memperhatikan kakek.


Gita kemudian menyuapi kakek Sudrajat dengan telaten. Terlihat sekali jika Kakek Sudrajat sangat antusias mendapatkan perhatian dari cucu menantunya tersebut.


“Gilang … jika kakek makan banyak. Apakah kakek akan bisa cepat sembuh?” tanya Sudrajat di sela mengunyah makanannya.


“Iya lah Kek. Kakek akan segera sembuh dan bisa segera keluar rumah sakit.” Jawab Gilang duduk di dekat kepala sang kakek.


“Tapi … jika kakek keluar rumah sakit. Kakek tinggal di mana? Rumah kakek sudah di jual oleh Lisa. Karena itu kakek di kirim ke kampung halaman kakek. Dan di kampung, kakek juga sudah tidak punya rumah, apalagi harta. Kakek hanya menumpang. Untuk bekerja juga kakek sudah tidak kuat. Kemarin sempat menjadi buruh angkut padi untuk mendapatkan uang untuk mengganti jatah makan kakek 3 kali sehari. Tapi, tenaga kakek tidak muda lagi. Kadang untuk mendapatkan kopi saja, kakek harus berpindah-pindah dari rumah warga yang satu dengan yang lainnya. Kakek lebih mirip pengemis di kampung sendiri.” Cerita Sudrajat penuh dengan kepiluan.


“Ceritanya di simpan dulu. Nanti tunggu alat-alat ini terlepas dari tubuh kakek. Kita akan mendengarkan cerita kakek. Tugas kekak sekarang hanya berjuang melawan penyakit ini. Agar kita segera berkumpul di rumah. Kakek boleh memilih mau tinggal bersama ibu dan teh Arum. Atau sama Gilang. Semua pintu rumah kami terbuka untuk kakek.” Jawab Gilang yang sesungguhnya sudah mulai gelisah. Waktunya ke gudang sudah tersisa 30 menit lagi.

__ADS_1


“Hah … kakek malu pada kalian.” Jawab Sudrajat kemabali pada mode mellow.


“A’a … mau ke gudang?” tanya Gita yang memangkap kegelisahan Gilang.


Dan Gilang tidak menjawab. Ia hanya menatap istrinya dengan tatapan minta di mengerti.


“A’a ke Gudang saja. Biar Gita di sini sampai kakek kembali ke ruang rawatnya.” Ujar Gita paham.


“Jangan. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian. Kakek bisa di bantu para perawat di sini.” Ujar Sudrajat mengerti dan tau diri.


“Tidak Kek. Yang ada pekerjaan hanya a’a Gilang. Gita hanya ibu rumah tangga. Jadi tidak ada pekerjaan mendesak di rumah.” Ujar Gita merendahkan pekerjaannya. Padahal ia pun cemas, jika lama meninggalkan Gwen.


“Permisi … maaf. Saya kesiangan. Tadi ke ruangan bapak di lantai 2. Ternyata bapak sedang di cuci darah.” Suara Dian tiba-tiba menguar, tepat di ujung kaki sang mertua.


“Bapak sudah makan? Ini saya bawakan pepes ikan kesukaan bapak. Sudah lama saya tidak memasak untuk bapak.” Dengan penuh percaya diri Dian membawakan rantang berisi makanan dan lauk kesukaan ayah mertuanya. Bagaimanapun, mereka pernah tinggal serumah. Sedikit banyak Dian tau makanan favorit mertuanya. Dan ia pernah berjuang sekuat tenaga untuk mengambil hati dan perhatian ayah suaminya tersebut. Walau usahanya sia-sia. Namun, Dian adalah wanita gigih yang tak pantang menyerah di masa itu.


“Oh … Dian. Kamu semakin membuat bapak merasa bersalah saja.” Kenang Sudrajat kembali bersedih. Ia tau. Istri anaknya itu dulu memang sering mencuri kesempatan dalam hal melayani makanannya. Memang dia yang berkeras hati untuk tidak menerima kebaikan dari Dian. Sebab matanya terlalu di butakan oleh kesilauan harta dan tahta yang di miliki oleh keluarga Lisa.


“Tadi kakek sudah makan rendang sapi. A’a Beli di warung Padang Bu.” Jawab Gita tanpa di minta.

__ADS_1


“Oh … ibu benar terlambat.”


“Tidak. Itu bisa bapak makan untuk sore nanti.” Sudrajat segera memastikan jika ia akan memakan makanan yang menantunya bawakan.


“Lang … kamu tidak bekerja?” tanya ibu Gilang memandang ke arah anaknya.


“Kerja bu.” Jawab Gilang cepat.


“Ya sudah, biar ibu yang menjaga kakek. Kalian pulang saja. Gwen juga kasian kelamaan di tinggal.” Ujar Dian penuh pengertian.


Dengan tatapan mata berbinar Gilang tak sungkan segera berpamitan pada sang kakek. Untuk segera menuju gudang untuk melanjutkan pekerjaan yang hampir terlambat.


“Maafkan bapak ya, Dian. Maaf sekali.” Ucap Sudrajat lirih menatap wajah Dian dengan sendu.


“Pak. Jangan lagi bicara tentang maaf dan memaafkan. Saya tidak berada di sini jika masih menyimpan semua yang pernah terjadi di masa lalu. Banyak musim sudah berganti, kita tak bisa selalu mengingat semanis apa juga sepahit apa kenangan di masa lalu. Kita hanya segelintir manusia yang masih di ijinkan Allah tetap tinggal di dunia ini. Kita hanya di pinjamkan tempat untuk sementara, dan sewaktu-waktu bisa di panggil pulang. Dan saya tidak mau pulang dalam keadaan menyimpan dendam di masa lalu.” Terang Dian dengan sorot mata tak berkedip, memandang ke arah mertuanya.


“Terima kasih. Allah masih ijinkan saya panjang umur. Walau dalam keadaan tidak sehat.Paling tidak saya masih punya kesempatan untuk meminta dan di beri maaf oleh kalian.” Jawab Sudrajat lirih.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2