
Matahari bersinar terang, cerah, seceria wajah Gita yang sangat cerah pagi itu. Gilang lebih senang, sebab pagi itu Gita tak terdengar mual muntah seperti hari hari biasa. Yang terlihat begitu menyiksanya. Membuat Gilang hanya bisa mengelus bahu Gita untuk mengurangi sedikit beban istrinya.
"A' a ... Eneng hari ini boleh ke kantor ya." Pinta Gita saat mereka tengah sarapan di meja makan.
"Yakin ... Ga papa Neng?"
"Insya Allah ga papa, A'." Jawab Gita.
"Asal hati-hati. Kalo udah cape kita pulang duluan ya Neng." Gilang super protektif pada istri dan calon anak-anaknya.
"Ayah kalian gitu banget Nak, sama kita. Jadi, yang pinter ya di dalam." Gita mengelus perutnya sendiri.
Jabatan Gita masih sebagai sekretaris. Dan dalam ruangan itu sudah berubah formasi. Sebab Haikal sudah pindah ke Cisarua. Masih ada Siska yang bisa di andalkan dan Gibran yang harus bisa dengan cepat menyerap semua yang harus ia kerjakan di bidang itu.
Gibran banyak diam melihat aksi Sisak dan Gita yang bekerja dengan terlihat begitu santai. Tetapi jangan salah, sekali saja Gibran menyodorkan hasil pekerjaannya, keduanya dulu duluan menyampaikan kritik.
"Gibran ... Kalo bos yang kamu hadapi hanya Pak Gilang. Mungkin kamu masih bisa selamat. Tapi jika yang memberimu pekerjaan adalah Pak Kevin. Hati-hati." Siska menelaah pekerjaan Gibran.
"Coba sini kan." Pinta Gita ingin ikut melihat jadwal yang baru saja Gibran buat.
Gibran anak karyawan Magang. Tapi sungguh di perlakukan bagai anak SMA yang sedang berlatih bekerja di sana.
"Ini Gibran. Kamu ga bisa susun seperti ini. Kamu harus perhitungkan jarak tempuh yang akan di gunakan dalam hal menemui klien. Mau itu Pak Kevin atau Pak Gilang, mereka bukan Amoeba yang pintar membelah diri. Ga bisa, mereka melakukan dua kegiatan dalam sehari bahakan hanya berjarak waktu 30 menit." Gita lebih detail dalam hal mengamati pekerjaan Gibran.
"Ijin saya perbaiki, Bu." Pinta Gibran mengulurkan tangan kanan di susul tangan kiri yang terlipat di sikunya, sopan.
"Ini, kamu periksa kembali." Gita menyerahkan tab yang biasa ia pegang untuk membuat jadwal kerja CEO dan Wakil CEO di Perusahaan mereka.
"Oh ... Iya Bu. Ini saya salah input. Ternyata di hari yang berbeda." Gibran baru saja mengecek kembali pekerjaannya.
"Itu fatal Gibran. Jangan di biasakan." Gita menyahut tanpa meliht wajah Gibran.
"Jadwal juga tidak bisa di buat sepihak, sebaiknya kamu harus pastikan klien dan tempat yang akan kalian tuju. Apakah benar bisa berkoordinasi untuk melakukan pertemuan tersebut." Lanjut Siska.
"Siap." Jawab Gibran yang tidak mengira, jika pekerjaan yang ia buat lebih dari 60 menit itu mendapat kritik bahkan hanya dalam 6 menit. Padahal keduanya tadi tampak sedang bekerja sambil bersenda gurau saja. Tapi ternyata di balik guraian itu, menyimpan tatapan mata elang. Yang sangat tajam dan sungguh teliti.
__ADS_1
"Permisi ..." Suara dari luar pintu lalu wajah Gilang tersembul ke dalam.
"Iya ... " Jawab Siska dan Gita mendongak serentak.
"Gita bisa ke ruangan saya sebentar?" Ucapnya formal.
Dengan senyum Gita sudah langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati pintu. Menyusul Gilang ke ruangannya.
"Anak-anak Ayah pinter ikut kerja sama Bunda ...?" Hah, bahkan pintu ruangannya baru saja tertutup, Gilang langsung saja memberi pertanyaan itu pada Gita.
"Pinter dong Ayah." Senyum Gita lebar, bahagia dengan perhatian sang suami yang selalu manis kapan mau dan tanpa di sangka.
"Tadi pagi, kalian ga sempat minun susu lho. Ayah sudah minta OB belikan dan ... Taraaa. Sudah Ayah buatkan, di minum ya Bun." Gilang menyodorkan segelas susu yang masih hangat untuk Gita yang sendirinya lupa jika pagi tadi tak sempat minum susu, seperti yang suaminya sampaikan.
"Aiiiissh ... Ayah manis banget sih. Suka deh, hamil kali A'a manisnya kebangetan kayak gini." Gita mencubit pipi Gilang gemash.
"Makasiih Ayah anak-anakku." Ucapnya setelah menghabiskan segelas susu tadi.
"Masih mau kerja? Atau kita pulang saja?* tanya Gilang lagi.
"E ... Itu Neng. Berkas untuk melanjutkan kuliah di minta secara mendadak. Eneng masih ijinkan A'a lanjut kuliah ga?" Gilang meminta persetujuan.
"Oh ... Soal kuliah lagi ya?" Gita agak ragu dengan kemampuan suaminya membagi waktu. Perusahaan sudah semakin banyak dia yang pegang, karena Kevin pasti fokus di Cisarua. Ia tengah hamil, kembar pula. Tapi bagaimana mungkin Gita tak bisa membaca sorot mata suaminya penuh harap untuk di setujui untuk melanjutkan kuliahnya.
"Iya Neng, bolehkah?" ulangnya menatap bola mata Gita dengan tatapan sendu, sungguh sangat ingin arti tatapan itu.
"Di mana?"
"Jakarta."
"Reguler?"
"Ekstensi."
"Tiap weekend?"
__ADS_1
"Iya ... 4 Semester." Jawabnya lagi.
"2 tahun ya ..." Ucap Gita lirih. Mendadak gamang membayangkan apa yang akan terjadi ke depan.
Drama kehidupan macam apa yang ingin Tuhan berikan pada rumah tangga mereka.
Jika saat menempuh pendidikan S1, Gilang di uji dalam bidang ekonomi. Bertekad sukses dalam keadaan keuangan yang sangat jauh dari kata cukup.
Berbeda jauh dengan keadaanya sekarang, yang sudah tidak lagi bermasalah dengan kecukupan uang. Melainkan di tuntut dalam segi keadilan.
Keseimbangan yang harus ia ciptakan antara keluarga, pekerjaan dan cita-citanya lagi
"Iya, Neng. Bolehkan?" paksanya lagi pada istrinya.
"Iya ... Boleh A'. Jawab Gita tak berdaya menolak permintaan suami manisnya.
"Makasiih ya, Neng. Pokoknya A'a janji nanti A'a bakalan bi ..."
"Stt ..." Gita meletakkan telunjuknya ke bibir Gilang.
"Eneng ga mau denger janji apapun dari mulut A'a. Apapun yang ingin A'a lakukan nanti. Eneng percaya pasti yang terbaik untuk kami. Ihktiar ya A'. Semoga bukan hanya Eneng yang ijinkan A'a sukses. Tetapi, Allah yang memudahkan semuanya. Allah itu maha. Kita hanya menjalankan takdir sesuai kerangka yang sudah di buatnya untuk kita." Jelas Gita panjang.
Gilang terharu akan kata itu, sungguh wanita di depannya ini adalah titisan malaikat. Tapi juga iblis.
What ...? Iblis.
Ya ... Iblis penggoda.
Kenapa pagi ini, kemeja Gita terlihat begitu ketat di bagian dada?
Apa pakaian yang ia gunakan sudah kekecilan? Atau memang isiannya semakin berisi?
Saat matanya tak sengaja lewat bagian itu, kenapa jiwa lelakinya justru bangkit. Gilang cukup lama puasa, sejaj istrinya di nyatakan hamil muda, ia sudah mencoba bersolo karier. Berteman sabun sabunan saja di kamar mandi. Tapi baginya itu saja tidak cukup. Ia juga rindu ingin gelonjotan di dada Gita, sekedar bercanda dengan buah-buahan di sana. Yang beberapa bulan lagi pasti tak bisa ia kuasai seorang diri. Sebab anak kembar mereka nanti yang akan mengepung area itu untuk menyambung hidup mereka, dengan bagian yang memang akan jadi hak milik mereka.
Bersambung ...
__ADS_1