CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 156 : SUAMI PEKA


__ADS_3

Gilang dan Kevin adalah CEO dan Wakil CEO jika di kantor. Tapi, sebagai ipar jika dalam silsilah keluarga. Namun Gilang, selalu sopan dan menaruh rasa hormat pada ayah dua anak, eh hampir tiga itu. Kevin sudah sering mengingatkan Gilang. Agar tak memanggilnya dengan begitu formal. Tetapi, itulah Gilang. Yang selalu bersikaf arif dan ramah pada siapa saja.


“Waah … main ke rumah Pak. Eneng lagi bikin kue di rumah. Maklumlah, bu Mil suka berkarya. Bawaan bayi mungkin.” Puji Gilang bangga pada Gita yang walau hamil tidak suka berpangku tangan.


“Siaap … Nanti kami serbu. Siap-siap saja rumahmu di berantakin oleh Ay, ya. Lang.” kekeh Kevin yang masih enggan memberitahukan kabar luar biasa pada wakilnya tersebut.


“Hah … Belum tau dia. Kalau Mae juga sudah berstatus bumil.” Batin Kevin dalam hati.


 “Bisa ke kantor hari ini. Penandatangan kontrak.” Isi chat Gilang singkat dan jelas di tujukan untuk Gibran Sudrajat.


Tiga hari sebelumnya Gibran sudah mendapatkan email. Sebuah pengumunan bahwa ia di terima di perusahaan itu. Dan segala bentuk perjanjian kerja sudah dapat ia pelajari, sebab isi email itu memang rinci. Hanya, penandatangan secara fisik. Jadwalnya menyusul. Sebab Gilang masih belum berada di Bandung waktu itu.


Ada 20 pegawai yang berhasil mereka rekrut kali ini. Lumayan banyak, sebab memang sebagian di sebar di Cisarua. Dan sebagian lagi tempatkan di PT.MK Farma ini. Gibran termasuk dalam tim yang akan di pekerjakan di Bandung. Dan memang langsung di tempatkan pada bagian Sektertaris.


Siska, tak langsung mengambil waktu untuk berbulan madu. Mengingat sebelum menikah sudah banyak ijin. Sehingga kini ia sudah tampak sibuk dengan posisinya. Sebagai kepala bagian sekretaris. Pengganti Haikal yang sudah Kevin adopsi untuk di Cisarua.


“Selamat siang Pak Gilang.” Sapa Siska santun saat mengantarkan 10 orang pewagai baru yang tentu berstatus sebagai pegawai magang itu.


“Oh … iya. Silahkan masuk.” Gilang tak kalah ramah memyambut kedatangan para pegawai baru tersebut. Memaparkan dan menjelaskan lebih rinci lagi isian email tentang kontrak kerja. Selanjutnya penandatangan pun berlangsung. Sebagai formalitas ke absahan status ke sepuluh orang di hadapannya.


“Dari 10 orang ini. Ada yang belum memiliki tempat tinggal …?” tanya Gilang teringat akan pesan dari pihak divisi pengadaan mess.


“Ijin … maaf Pak. Saya pendatang. Dan masih mencari tempat tinggal. Selama ini hanya numpang di tempat teman.” Suara wanita itu terdengar lembut.


“Ada lagi yang perlu di upayakan untuk tempat tinggalnya …?” tanya Gilang melempar tatapanya kesepuluh orang itu.


“Ijin, sudah dapat kost. Pak.” Jawab yang lain lagi.


Gilang mengangguk.


“Baiklah. Siapa tadi yang belum dapat tempat tinggal? Silahkan hubungi bu Ninik. Beliau di divisi personalia. Data pegawai yang pindah ke Cisarua ada dengan beliau, mungkin masih kosong dan bisa di gunakan untuk tempat tinggal, bagi yang memerlukan.” Jawab Gilang memberi informasi.

__ADS_1


“Ijin bertanya Pak.” Celetuk seseorang lagi.


“Silahkan.”


“Bagi yang tinggal di mess yang di sediakan, apakah tidak membayar ?” lebih baik ia jujur menanyakan hal yang berkecambuk dalam pikirannya.


“Iya … bagi yang mengambil hak tinggal di Mess. Maka, uang perumahan akan di potong. Dan bagi yang tinggal di tempat pribadi. Akan ada dana kompensasinya.” Jelas Gilang pelan.


“Siap Pak. Nanti saya akan menemui Bu Ninik, untuk meminta tinggal di Mess saja.” Jawab wanita tadi.


“Maaf, tanya lagi Pak. Messnya di mana?” tanya yang masih penasaran.


“Masih di sekitar kantor ini. Di belakang kantor ini. Messnya ada dua, satunya lagi di area Pabrik obat perusahaan kita.” Jelas Gilang selalu ramah.


“Wah … kalo gitu, aku sebulan saja kostnya. Nanti pindah ke mess saja. Biar hemat BBM.” Celetuk lelaki yang mengaku sudah tinggal di kost tadi.


“Silahkan pertimbangkan untung dan ruginya, dan pastikan ketersediaannya pada bu Ninik.” Tegas Gilang kembali.


“Terima kasih sudah menerima saya bekerja di sini Pak Gilang.” Ujar Gibran sopan dan terlihat sunguh-sungguh.


“Bukan karena saya, tapi ada TIM yang menilai semuanya. Selamat bekerja.” Jawab Gilang dengan nada datar.


Gibran sesungguhnya salah tingkah. Ia tau, Gilang hanya menyembunyikan perasaan yang sulit untuk ia artikan.  Dendamkah? Marahkah? Atau memang hatinya memang baik, sehingga ia tampak professional di mata Gibran.


Gilang sesungguhnya ingin marah, tapi tak tau marah kenapa?


Sebab semuanya sudah berlalu, dan menurutnya Gibran juga tak pernah ingin lahir dari pernikahan yang tak jelas itu. Memilih berdamai dan yakin akan masa depan lebih baik saja, baginya cukup membuat hatinya lapang.


Gilang pulang di siang hari, untuk memanjakan perutnya makan siang bersama ostri cantik yang sedang hamil muda di rumah. Semerbak wewangian pandan menyeruak seantero rumah, mengelitik indra penciumannya untuk semakin cepat sampai di dapur.


“Bundaaa … “ Panggilnya mesra. Sangat manis terdengar.

__ADS_1


“Ayaaaah.” Gita langsung memeluk tubuh lelaki yang selalu membuatnya rindu itu. Tapi …


“Hooeeek.” Huh, Gita masih mabuk dengan bau Gilang yang tidak bersih.


“Huum … anak ayah. Masih ga suka bau peluh ayah niih.” Gilang menyodorkan masker pada istrinya.


“Maaf ya, A’. “ Gilang merasa bersalah. Dia belum bisa menyeting hormone yang berlebihan dalam tubuhnya. Begitu sulit baginya, untuk tidak muntah dan mual, tiap mencium Gilang jika datang dari luar rumah.


“Bukan salah Eneng. Anak ayah suka yang bersih-bersih. A’a mandi dulu ya Neng.” Pamitnya, mendusel pucuk kepala Gita. Lalu beranjak ke kamar mereka untuk mandi dan berganti pakaian.


Mungkin memang harus agak repot, Gilang harus sering mandi. Padahal, peluhnya tidak bau-bau amat. Tapi, hidung bumil sangat peka. Mengalah pada selera istri, baginya hal yang biasa.


Sajian lauk makan siang hari ini terlihat lengkap dan istimewa. Sebab semua serba ikan dan buatan Gita. Jajaran kue Nona Manis nan hijau juga sudah terlihat rapid an cantik, memanggil-manggil untuk segera di sentuh.


Gilang ingin mengambil satu, sebab sejak tadi sudah menelan salivanya beberapa kali ingin segera melahapnya. Tapi ia urungkan, takut akan menjadi kasus.


“Neng …”


“Iya A’ …”


“Kuenya sudah di foto …?”


“Sudah dong.”


“Heem. Sudah boleh di makan?” Gilang meminta ijin terlebih dahulu. Ia sungguh tak mau salah dan menjadi sasaran kemarah bumil yang mendadak bawel itu.


“Udah boleh dong, A’. Masa ga boleh sih.” Ramah Gita menanggapi pertanyaan suaminya yang baginya agak konyol itu. Bumil mana sadar jika, korek apinya geser dikit aja bisa jadi prahara. Tapi, Gilang suami peka. Cukup sekali berbuat salah, selamanya ga akan ia ulangi.


Bersambung …


__ADS_1


__ADS_2