
Kevin terkekeh dengan tampang kesal istrinya, sekaligus senang karena bisa mendengar lagi teriakan khas Muna, yang kadang ngangenin.
"Haaalllaah, segitunya kesal padahal suka. Tinggal wudhu ulang ini. Abang juga belum sholat, nungguin makmun." Peluk Kevin yang selalu merasa rindu pada Muna yang hanya bersela jam tak saling bertemu.
"Heemm..., udah niat tadi bang." Oceh Muna kembali ke kamar mandi untuk berwudhu ulang.
Keduanya sudah menyelesaikan rukun Islam yang kedua. Kemudian Muna pun memeriksa ulang barang barang yang akan mereka bawa ke Bandung. Dengan daster tipis bertali satu di atas lutut, Muna sangat menyukai style itu.
Belum selesai kegiatan Muna tersebut, Kevin sudah datang membawa Anaya ke dalam kamar mereka.
"Nayaaaa sayang mamam... muuaaach." Muna melepas pekerjaannya. Lalu mengambil alih putrinya itu dari Kevin. Mencium cium putrinya gemas.
"Kak Ay mana, bang?" tanya Muna yang langsung mengeluarkan satu buah da danya ke mulut Annaya untuk mentransfer makanannya.
"Masih tidur." Jawab Kevin singkat, lalu menyelesaikan pekerjaan Muna tadi, memasukan beberapa keperluan yang sudah Muna letakan di atas ranjang mereka dan mengunci koper tersebut, beres. Hah, saat masih sendiri, Kevin bahkan tak pernah melakukan itu, sebab selalu ada Gilang yang melakukan untuknya. Tapi, kini justru dia yang bertindak seperti Gilang untuk Muna dan anak anaknya.
Kevin yang dulu benar benar sudah mati, dan hidup kembali dengan sikap dan perangai yang baru. Tentunya lebih menuju pada kebaikan berkat Muna, juga keinginan yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Annaya pun seolah rindu dengan suguhan yang Muna berikan padanya, walau ia telah kenyang meminum ASI dengan kemasan botol dotnya, tetapi akan selalu segera terlelap jika ia hisap langsung dari sumbernya.
"Hah... sudah tidur, Mae?" tengok Kevin pada putrinya yang sungguh sudah tertidur nyenyak. Muna hanya mengangguk. Lalu berdiri meletakkan Annaya pada boxnya di kamar itu.
Muna lalu ke lemari pakaian, akan memilih busana yang nyaman untuknya di perjalanan nanti. Tapi Kevin buru buru menempelkan tubuhnya dari belakang Muna, setelah memastikan pintu kamar itu sudah terkunci.
"Naya sudah tidur setelah mengisap ini." Tangan Kevin sudah nemplok di dada Muna.
"Sekarang justru giliran otong yang minta di tidurkan olehmu, Mae." Tangan Muna sudah Kevin arahkan, agar mencengkram otong yang sudah tegang.
"Hah... ini barang masih bagus bener siih. Ga bisa, liat kemasan susu Annaya sebelah saja sudah on." Kekeh Muna berbalik memegang dengan benar otong yang menegang tadi.
__ADS_1
"Usia Kevin boleh akan menjelang kepala empat yank, tapi otong tetap seusia remaja yang baru akil baliq. Kuat dan peka." Puji Kevin pada senjatanya yang memang tak pernah berkhianat untuk memuaskan istrinya itu.
Daster tali satu yang Muna kenakan setelah sholat tadi sudah melorot ke lantai.
Tangan Kevin selalu gesit pada bidang keahliannya tersebut. Ia sudah mengendong tubuh Muna dan duduk di atas sofa, dengan tubuh bagian bawah yang sudah tak berbusana, sebab Muna juga sudah berhasil melepas celana yang mungkin akan mengganggu aktivitas sore mereka.
Muna duduk menghadap suaminya, berada di atas Kevin dengan posisi kaki terbuka sempurna melingkar di pinggang Kevin.
Tidak ada kata kata yang Kevin bisa sampaikan untuk istrinya, sebab lidahnya sedang sibuk menyapu bekas isapan Annaya pada buah kembar sempurna di hadapannya.
Gerakan organ kenyal kecil itu bahkan mampu menciptakan debaran yang tak pernah berubah memenuhi partikel partikel kecil di dalam rongga hati Muna. Selalu rusuh, terjadi huru hara kala sarapnya terbuai akan sentuhan yang Kevin suguhkan saat mengeksplor setiap inchi bagian bagian sensitivee tubuhnya.
Apapun yang Kevin sentuh pada tubuhnya selalu mampu membangkitkan gairahnya. Seolah baru kemarin mereka memecahkan keperawanan Muna, desiran itu tetap sama, pyar pyar, melumpuhkan seluruh indranya untuk selalu terbuai, terpasung tak berdaya untuk berontak dengan perlakuan lembut dan membuatnya ketagihan.
Otong sudah tegang, Muna cukup mengambil posisi jongkok seolah sedang BAB saja, untuk menyempurnakan posisi kepala otong itu bisa masuk keluar ke dalam rumah mumun.
Kevin merem melek, mendapat gerakan cepat dan kadang melambat sengaja di buat Muna sedramatis itu.
Perlahan mulut Kevin bergeser sesuka hati, men ji lati setiap inci leher jenjang Muna yang baginya memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu di sesap. Dan ditinggalkan jejak kecil di sana. Muna mende sah, Kevin makin gelisah, makin tegang dan keras saja kepala otong hampir muntah di buatnya.
"Abang ga pake sarung?" Muna menghentikan aksinya, yang bergerak naik turun. Membuat kepala itu terelus keluar masuk, nikmat.
"Nanti abang buang di luar." Nafas Kevin sudah ngos ngosan, menahan gejolak besar yang sudah hampir sampai di ubun ubun.
Posisi Muna sudah tak lagi duduk, melainkan terebah dengan pan tat, agak tinggi di atas tangan sofa. Memudahkan Kevin melesatkan otong, untuk beraksi dalam posisi berdiri, dengan menekuk nekuk sedikit lututnya.
Bergerak maju mundur cantik... mundur lagi mundur lagi cantik.
Tetapi.... aaaww. Gerakan selanjutnya otong mengompa dengan frekuensi cepat dan kuat.
__ADS_1
Sheeeet.
Kevin segera mencabut tancapan kuat otong di dalam tadi, jika lambat sepersekian detik saja. Air suci kental mirip susu itu, hampir saja tumpah di dalam. Muna tau gerakan itu, adalah pertanda otong akan menyemburkan laharnya. Mumun pun berkedut, kegelian, tatkala merasa ada cairan hangat yang juga berhasil mumun keluarkan dari dalam rumahnya.
Seketika basah di area pelataran rumah mumun dan sekitar pusat terkena semburan lahar dari otong yang masih sangat produktif.
Keduanya hanya tertawa melihat kejadian itu, ingin marah karena perut bagian bawahnya basah. Tapi mau bagaimana lagi, Muna takut hamil lagi. Sedangkan sarung sedang jauh dari jangkauan. Belum lagi perasaan tanggung yang keduanya rasakan saat otong dan mumun sama sama sedang melakukan penyatuan sempurna tadi.
"Huh... terbuang lagi ini bibit pramugari, pilot dan dokter Mae..., Mae." Kevin bersungut sambil membersihkan bekas cairan itu dengan tisue basah, kemudian mengeringkannya dengan tisue kering.
Cup
Pelataran rumah mumun di kecup Kevin sebentar. Gemesh Kevin dengan bagian itu, sebab walau sudah ratusan kali ia masuki. Tak pernah membuatnya bosan, bahkan ketagihan.
"Hamil aja deh yank... sayang lho cairan premiumku, selalu terbuang percuma seperi ini. Yaaa...ya..." Rengek Kevin manja memeluk Muna yang sudah ia pangku lagi di atas sofa tempat mereka bercinta tadi.
"Pap... Naya masih bayi. Bukan hanya kecil. Repot yank." Tolak Muna mencium cium pipi Kevin.
"Kita tambah baby sitter, Mae." Kevin meyakinkan Muna.
"Muna masih suka kerja di rumah sakit, pap. Jangan bikin Muna hamil dulu, sayangku." Rayu Muna pada sang suami. Belum selesai rayuan itu mendapat kesimpulan.
Pintu kamar mereka terdengar di ketuk dari luar.
Bersambung...
Maaf jika agak hareudang.
Silahkan komen tak suka jika ini kelewatan.
__ADS_1
Terima kasih🤭🙏