
Gilang lega walau baru untuk pertama kalinya memberi nafkah yang berbagi dengan istrinya. Namun ia percaya bahwa kedua wanita yang sama ia hargai dan cintai beda genre itu, tulus menerima nafkah darinya.
Untuk selanjutnya jika ibu maupun istrinya tak nyaman dengan pembagian itu, mungkin nanti akan Gilang atur ulang senyaman mungkin, sesuai kesepakatan kemudian.
Gilang seorang wakil CEO, bahkan Kevin hampir tak pernah ikut campur banyak tentang hal keuangan. Proyek dan bernegosiasi dengan klien. Semua sungguh ia serahkan pada Gilang, karena itu hanya gaji pokok saja bernilai 17 juta. Pemasukan lain tentu banyak.
Gita dan Gilang sudah menyiapkan semua keperluan untuk berdinas ke Singapura. Sungguh sesuatu yang di luar bayangan Gilang.
Dulu waktu Kevin dan Muna berjauhan, kemanapun Kevin selalu ada Gilang menjadi sektrtarisnya. Juga sebagai Asprinya. Karena itu, Gilang sangat terbiasa melayani dengan apapun yang menjadi kebiasaan bos yang kini jadi kakak iparnya.
Gilang ringan tangan, juga cekatan. Pekerjaan beberes dan bersih bersih itu adalah keahliannya. Gita yang memang belum terbiasa dengan pekerjaan itu, tentu saja selalu tertinggal saat melakukan pekerjaan itu.
"A'a... tangannya ada enam ya? kok cepet banget ngerjakan ini itu. Eneng baru ambil baju satu a'a sudah enam saja." Cemberut Gita agak kesal melihat hampir semua pekerjaannya di selesaikan Gilang.
"Sudah kebiasaan neng. Kalo lambat 1 menit saja. A'a ga tahan liat tatapan pak bos. Serem neng." Ujar Gilang bercerita.
"Masa...?"
"Hmm... pa bos sangat tegas dan disiplin. Selain itu dia teliti dan mendetail banget. Hanya butuh waktu sebentar baginya untuk mengecek file dan data apa saja. Satu lagi, instingnya sangat bagus dalam menilai seseorang. Pak bos tak pernah salah, menentukan yang salah, juga pada siapa menjatuhkan hukuman. " Jelas Gilang kagum pada Kevin.
"Kalau urusan tegas dan hal menilai kak Kevin memang juara. Mama saja tidak berani dengannya. Papi juga tidak berkutik jika ia sudah mengeluarkan kata-kata." Gita ikut menyimpulkan kekagumannya pada kaka beda ibunya itu.
"A'a sebenarnya ga bisa bayangin gimana mama Aydan ngadepin bos galak itu." Umpat Gilang setengah curhat pada Gita.
"Hah... jangan salah. Antara mereka. Mama Aydan kali a', yang berkuasa?" Gita ikut terpancing dengan isi pembahasan mereka.
"Masa...? kalo pak bos garangnya aja begitu, berarti bu Mona lebih tegas lagi ya. Tapi pertama kali a'a ketemu beliau. Baik kok. Orangnya lembut, ga ada ciri ciri so kuasa." Papar Gilang.
"Kak Kevin bucin tingkat dewa. Ga perlu sampai istrinya keluar taring, dianya udah kaya di cucuk kerbau gitu hidungnya." Kekeh Gita.
"Kok bisa gitu ya neng? Apa karena bu Mona lebih kaya?" tanya Gilang polos.
"Ga tau sih pastinya. Soalnya mereka kenalkan mulai dari mama Aydan jadi OB di kantornya. Jadi, neng rasa bukan karena kekayaannya." Ujar Gita mengenang.
"Hm... berlika liku juga ya kisah cinta mereka."
"Banget. Eneng sih, ga ngikutin kisah mereka dengan detail, kan waktu itu masih di Inggris."
__ADS_1
"Hm... sambil masih sibuk juga sama si Baskom ya...?"
"Baskom apa?"
"Itu si Baskoro."
"Hahaaaa... cemburu nii?"
"Ah tidak neng. A'a lebih baik dari mantanmu dan a'a akan selalu berusaha jadi yang terbaik untuk eneng." Yakin Gilang yang sudah mengunci koper yang selesai ia siapkan.
"Ada hal-hal yang jauh lebih baik di depan daripada yang kita tinggalkan. Eneng percaya sama a'a, jadi jangan kecewain eneng ya."
"Insyaallah." Harap Gilang.
"Besok di Singapura, kita tidurnya di apartement kak Kevin atau di hotel?"
"Istri a'a maunya di mana? a'a ngikut aja." Jawab Gilang santai.
"Apart aja kalo gitu. Biar irit." Jawab Gita singkat.
"Sebenarnya... eneng itu emang ga suka foya-foya atau memang pelit?" tanya Gilang agak bingung dengan sifat istrinya yang menurutnya yidak berlebihan itu.
"Ga percaya... neng." Gilang so menantang.
"Jangan nyesel kalo tabungan biaya S2 a'a nanti terkuras dalam sehari ya."
"Coba saja kalau tega..." Kekeh Gilang yang tau hati istrinya tidak begitu.
"Ya... kita liat besok deh. Btw... a'a nanti kuliahnya di mana?"
"Jakarta boleh neng?" tanya Gilang serius.
"Hah... kita pisah? Kita LDRan. Ga setuju. Hati eneng ga sekuat itu a' jauh dari a'a. Di sini aja kenapa?" Cerewet Gita kumat. Ia paling tak bisa jauh jauhan dengan pasangannya. Gita tak sekuat Muna yang sanggup terpisah antar benua.
"Yang bilang kita pisahan siapa? A'a ambil yang kelas khusus diadakan pada waktu sore hingga malam hari dan ada juga yang membuka kelas di hari Sabtu. Jadi, A'a tetap bisa kerja dan dekat dengan istri."
Gita masih diam menyimak yang di sampaikan suaminya.
__ADS_1
"Kelas khusus cocok neng untuk yang sambil bekerja karena berlangsung di malam hari agar tidak mengganggu aktivitas bekerja. Walaupun memang di beberapa jurusan, biayanya juga lebih mahal dibanding kelas reguler."
"Bukan mahalnya, tapi kenapa harus di Jakarta?"
"Karena itu juga bagian dari impian. A'a sudah lama mau jadi alumnus kampus itu." Jujur Gilang tanpa menyembunyikan kehendaknya.
"Ntar kalo a'a ke Jakarta... eneng boleh selalu ikut?" tanya Gita lagi.
"Boleh, atau mau kuliah bareng? Biar ada temen sharing."
"A'a...."
"Kenapa?"
"Eneng maunya punya anak, bukan mau jadi mahasiswa." Jujur Gita menunduk tak berani menatap suaminya.
Cup.
Kening Gita mendapat kecupan dari Gilang agak lama.
"Iya maaf. Atau kuliah A'a di tunda sampai kita punya anak saja?" Gilang tak segan menunda mimpinya demi istri tercinta.
"Ya jangan lah a'. Yang mau hamil kan eneng, kenapa a'a yang ga jadi kuliah. Lagi pula itu, cita cita a'a. Iya deh boleh, a'a kuliah di Jakarta. Tapi eneng berenti bekerja saja."
"Waduh... kok ancamannya gitu amat sih? Neng sudah biasa bekerja, bertemu dengan orang di luar. Dunia eneng akan berbeda saat menjalani peran sebagai ibu rumah tangga nantinya."
"Kalau bekerja hanya ingin mencari teman, bagi eneng. A'a sudah lebih dari segalanya menemani eneng selama ini. Kalau tujuan eneng bekerja untuk mencari uang. Hmmm... uang saja tidak cukup menjamin kebahagiaan kita a'. Intinya neng malas repot. Neng mau fokus saja jadi istri a'a." Gilang bingung dengan permintaan istrinya ini.
Disaat orang berlomba lomba mengejar karier, ia justru ingin mengakhiri capaian di perusahaan.
Cukup unik bukan.
Bersambung...
Haiii readers
Sehat selalu yaa
__ADS_1
Makasih. dukungannya
πΉπΉββππππ