
“Eh… di sini saya bosnya ya.” Bahak Kevin menahan malunya.
“Iya pak… maaf. Kami yang salah masuk ga ketok pintu. Habisnya tangannya penuh nih, bawa makanan.” Gita memberi alasan pada Kevin, yang pasti akan menyalahkannya yang main selonong saja.
“Hum… tuh. Taukan salahnya.” Ujar Kevin yang kemudian antusias membuka kotak makanan yang di bawa oleh Gilang dan Gita.
“Git, ibu sama teh Arum udah di hubungi?” tanya Muna di sela makan siang mereka.
“Belum…”
“Kita jemput atau datang sendiri?”
“Sendiri aja kali Kak. Teh Arum tau tempatnya kok.” Jawab Gita.
“Oke deh. Kalo gitu kita pulang kerumah dulu ya. Nih, basah.. lupa bawa kompa. Naya udah kasih alarm kalo gini.” Ujar Muna tanpa malu menunjukkan bagian dadanya yang basah karena rembesan ASInya.
Muna dan Gita pamit pada suami mereka masing masing, untuk pulang duluan. Istri CEO dan WaCEO bebas ya, walau berstatus pegawai di sana, bebas kali mau pulang jam berapa.
“Selalu gitu ya kak, kalo lama ga menyu sui..?” tanya Gita yang baru tau.
“Iya Git, ASIku lancar banget. Biasa bawa kompa. Tapi tadi pas rapat alot banget, sampai lupa ijin ke toilet untuk buanginnya.” Jawab Muna.
“Kenapa di buang?”
“Ya… Karena lupa bawa kompa beserta penampungannya, jadi biasanya di buang saja di kamar kecil.” Jawab Muna menjelaskan.
“Punya anak seru ya kak?” tanya Gita penasaran.
“Banget… eh, udah USG belum?” tanya Muna baru ingat pesan Kevin kemarin.
“Ngapain di USG, tanggal haidku masih empat hari lagi kak.” Jawab Gita yang tau jadwal datang bulannya.
“Oh… kirain ada telat.” Jawab Muna datar.
Mereka sudah tiba di rumah, Muna segera masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Barulah mengambil Annaya untuk memberikan makanan favoritnya. Aydan tampak antusias melihat kedatangan Gita. Dengan mata berbinar berlari memeluk Gita.
“Aunty Gita… Ay, kangen. Om Lang mana?” tanya Aydan yang selalu hafal dengan pasangan pasangan yang datang menemuinya.
__ADS_1
“Om Lang masih kerja sama papap Ay, sayang.” JAWAB Gita sambil mengelus kepala Aydan penuh sayang.
“Aunty ga kelja?”
“Udah tadi, sekarang sudah selesai.”
“Udah cecai..?” beonya cadel.
“Iya tampan, kerjaan aunty dan mama udah selesai.”
“Udah boleh main cama Ay, aunt?” tanyanya penuh harap.
“Mau main apa sih sama Aunty?” tanyanya Gita penuh sabar meladeni Aydan yang sejak bayi memang dekat dengannya.
“Eeemm. Ga ucah main deh. Aunty baca aja buat Ay.” Ajaknya menarik tangan Gita ke kamarnya. Lalu memcari cari buku di rak kecil yang ada dalam kamarnya.
“Ini aja… nih. Celita kula- kula. Ni iat niih aunt. Ini kula - kula kan?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah buku berjudul Si Kelinci yang Sombong dan Kura-kura.
“Oh… iya. Ini cerita Kancil dan Kura-kura.” Jelas Gita pada Aydan.
“Baca ya aunt.” Pintanya manja.
“Ocee.”
“Terus, nanti kalau Ay bangun. Aunty mungkin ga ada di dekat Ay lagi, Ay jangan nangis cari tante ya.” Ucap Gita melakukan perjanjian.
“Haha… haha… Aunty lucu. Aydan kakak. Kakak ga boyeh nangis. Yang cuka nangis itu de Naya.” Ujarnya so dewasa, menertawai bayi lima bulan yang katanya kerjaannya hanya menangis.
“Masa, Naya kerjaannya Cuma nangis?” tanya Gita meladenin obrolan dengan balita cerdas itu.
“Iya… aunt. De Naya itu, ga bica jalan, ga bica lali-lali, ga bica di ajak main juga. Cuma bobo, nangis, minum cucu aja.” Terangnya, seolah ia tak pernah kecil saja.
“Dulu kakak Ay juga gitu kok.”
“Hah… iya ya?”
“Kakak cuma lupa. Masa kakak langsung besar gini. Ya semua juga bayi dulu lah Ay.” Tawa Gita. Kemudian memulai bacaan buku cerita untuk Aydan.
__ADS_1
Dan benar saja saat Aydan sudah terlelap, waktu Annaya menyu su, pun sudah selesai. Waktunya Gita dan Muna pergi menuju Butik langganan tanpa pak Min, juga tanpa Tama. Mereka hanya berdua, dan Muna yang bertindak sebagai supir Gita. Ah, Muna mana pernah minta di hargai dan di perlakukan special dari orang lain, tak pandang bulu.
Di kantor, Kevin masih membahas masalah perngganti Gita.
“Lang… kamu ga papa, sektretarisnya cewek?” tanya Kevin.
“Hah…? Syarat dari eneng harus laki-laki pak.” Jujur Gilang.
“Dasar suami bucin.” Olok Kevin pada Gilang, padahal orang hanya mengikuti langkahnya saja sebagai suami yang sudah jadi budak cinta part 1 itu.
“Memang itu syarat utamanya eneng pak. Dia ga berenti kalo penggantinya belum dapat.” Lanjut Gilang.
“Kamu yang minta dia berhenti, Lang?” tanya Kevin langsung.
“Tidak, eneng sendiri yang mau minta resign. Tapi, ya tunggu ada penggantinya.Padahal Haikal juga bisa, hanya kelemahannya, dia grogi kalau bertemu dengan orang banyak. Untuk konsep dan ide, Haikal sangat sempurna. Tapi tidak dengan tampil di depan umum juga memimpin rapat. Kemungkinan, pertengahan tahun ini, saya sudah aktif kuliah. Mungkin akan sering mendelegasikan pekerjaan pada sektretaris. Sehingga…, sebaiknya juga memang lakji-laki saja pak yang di posisi itu. Agar tidak mudah terintimidasi.” Papar Gilang dengan bahasa yang ryntut, santun dan masuk akal.
Kevin mengangguk angguk tanda setuju.
“Berarti, kita terima Gibran saja. Jadi magang di bagian sekretaris. Dan Gita jangan lantas berhenti. Tugasnya adalah memberi pelatihan yang detail, agar Gibran bisa di andalkan di kemudian hari.” Tutur Kevin pada kesimpulannya.
“Tak ada kandidat lain pa?”
“Catatan terakhir saya dan Mae, hanya pada dua nama, Melan dan Gibran.” Jawab Kevin tegas.
Gilang hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Diterima keduanya saja di bagian itu. Bukankah mereka sama sama memiliki nilai yang baik, juga masih berstatus magang pak. Jadi tak sertan merta menjadi pegawai tetap di bagian itu.” Usul Gilang masuk akal.
“Oke… bisa juga begitu. Tapi, sebaiknya kamu sampaikan pada Gita tentang dua nama ini dulu. Jadi kita bisa ubah, jika Gita tak mau dua nama itu.” Kevin menambahkan.
“Siap pak.” Jawab Gilang hormat.
Gilang sudah di rumah, mendapati suanan rumahnya sepi. Itu artinya Gita istri tersayang masih belum kembali dari sesi berbelanjanya bersama Muna. Gilang memilih mandi saja, sembari berpikir keras tentang salah satu nama yang akan menjadi kandidat pengganti posisi Gita.
Jangan salah sangak, Gilang jelas tidak pernah berpikir segalau itu jika hanya karena nama Melani yang akan menjadi sekretarisnya. Justri Nama Gibran Sudrajat yang sekarang menari-nari dalam otaknya.
Gilang sudah membaca CV Gibran, ia bahkan sudah secara langsung bertemu dengan lelaki itu. Dan tampaknya pelamar itu sudah lupa padanya. Lupa pada orang yang semasa kecil mereka, selalu mengalah baik dalam hal mainan hingga makanan yang wajib selalu di bagi untuknya.
__ADS_1
Bersambung…