CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 171 : ADZAN MAGRIB


__ADS_3

Kalau soal poligami sebenarnya bukan hanya Kevin yang sensi, padahal dia dulu kaum cassanova. Muna lebih lebih alergi soal orang-orang yang tidak setia pada pasangannya. Sama kayak reader nyak juga pasti semua tidak setuju jika Daren akan memilih jalur pintas itu untuk mendapatkan anak.


“Maaf Zahra … sebaiknya kalian bicarakan saja terlebih dahulu berdua dengan kepala dingin. Sebelum Daren bertemu dengan Papanya Aydan. Urusannya bisa ruewt dan tambah panjang. Dua hari dua malam bisa ga kelar kelar ngedumelnya.” Saran Muna pada Zahra yang terlalu hanyut dalam pikiran sesatnya.


“Masa Kak Kevin begitu …?” heran Zahra tak percaya.


“Heem … gitu deh.” Muna malas untuk menguraikan maksud dari istilah yang ia ucapkan barusan.


“Waaah ada tante Zah …” Celetuk Aydan yang sudah sedari tadi mencari keberadaan Muna.


“Umi …, Ay. Panggilnya Umi Zah.” Muna memperbaiki panggilan Aydan pada Zahra.


“Assalamualaikum Aydan.” Sapa Zahra pada bocah tiga tahun lebih itu.


“Wa’alaikumcalam Umi Zah.” Cadel Aydan yang sudah bisa membalas salam agama mereka tersebut.


“Iiiih gemes. Ay … nanti sekolah sama Umi ya. Di sekolah kita mainnya sampai sore, akan banyak teman dan guru di sana.” Zahra langsung berbinar, jelas Aydan akan menjadi siswa baru perdananya saat PAUDnya di buka nanti.


“Cekolah campai cole, Mi. Heeem …. Kayak papap kelja …? Ga mau, nanti ay capek Umi.” Tolak Aydan mentah-mentah. Mana aydan mengerti dengan konsep sekolah yang di tawarkan oleh Zahra. Baginya pergi bergabung bermain bersama orang lain hingga sore itu hanya mengurangi aktivitas bermainnya di rumah.


“Bukan bekerja tapi kita bermain-main saja.” Rayu Zahra pada Aydan.


“Oh main … kapan?” pikirannya langsung goyah saat tawaran itu berubah judul menjadi bermain.


“Nanti Umi kabari ya. Umi siapkan semuanya dulu, biar nanti Aydan banyak temennya di sana.” Zahra tersenyum, sejenak lupa dengan kesedihannya tadi.


“Iya Umi.”Jawabnya sambil bertoas pada istri om nya tersebut.

__ADS_1


“Kak Muna, terima kasih waktu dan sarannya. Zahra permisi dulu, semoga tidak magrib dijalan.” Pamitnya dengan santun. Tak lupa mengucapkan salam khas kepercayaan mereka.


“Mam … kenapa papap mandi lama cekali. Ay kan mau bilang lego Ay ada yang ilang. Mau beli lagi boleh Mam?” tanyanya dengan ekspresi lucu.


“Hilang di mana?” tanya Muna duduk meladeni curhatan anak sulungnya.


“Da tau Mam. Ga ada.” Alisnya hampir bertemu antara kiri dan kanan.


“Coba ingat-ingat lagi. Terakhir main di mana? Masa bisa hilang sendiri.” Kini tangannya beralih kepinggang kiri dan kanan. Sementara otaknya masih memindai di mana terakhir ia memainkan lego lego kesayangannya tersebut.


“Ha … di lumah engkong Mam.” Jawabnya terkesiap sendiri.


“Ayok kita telpon engkong, benar atau tidak, ada lego tertinggal di sana.” Ajak Muna masuk ke kamar di mana tempat ponsel itu berada.


Derai tawa antar cucu dan kakek itupun terjadi lewat sambungan video call. Ternyata benar saja, beberapa orang-orangan legonya memang tertinggal di sana. Ah Aydan memang lucu, sudah pandai marah, juga kembali ceria sangat apik memasang mimic wajahnya sesuai kondisi. Bocah itu sudah lupa jika tadi sempat mencari sang ayah, sebab urusannya sudah beres setelah menelepon Babe Rojak. Kini ia sudah berlari masuk ke kamar mama Rona dan abah Dadang. Ia juga merasa perlu membina hubungan baik dengan nenek dan kakeknya tersebut.


Tertinggallah Muna yang penasaran dengan ungkapan Aydan tadi, tentang papapnya yang mandi lama. Muna masuk kamar mandi yang tidak terkunci, dan benar saja Kevin berendam dalam bath up. Berendam saja atau tertidur, Muna memilih mendekat untuk memastikannya.


“Abaaaang.” Toa kambuh di saat genting.


“Ha … ha.. Mandi bareng yuk, kangen.” Hah … Kevin mana punya alasan lain kalo sudah dekat-dekat Muna. Kalo ga Kangen, ya pasti pengen. Ga jauh-jauh deh urusannya, itu itu saja.


Muna istri pengertian, tanpa di pinta dua kali. Bahkan tanpa melepas pakaiannya. Ia sudah bergabung saja membaur dirinya dengan suami yang sudah tidak mengenakan apa-apa dalam rendaman air hangat itu.


“Kenapa ga lepas baju dulu sih …?” rutu Kevin saat Muna sudah menindih tubuhnya.


“Kan ada yang spesialis, ngelepas baju.” Jawab Muna cuek. Sudah tak lagi malu-malu, jika suaminya pasti akan meminta jatahnya di mana saja dan kapan saja.

__ADS_1


“Heem candu kan.” Sindir Kevin pada Muna dengan suara bangga.


“He’em … bisa sakau malah kalo ga di giniin.” Muna malas berdebat ikut mengayuh sindiran suaminya pasti akan membuat Kevin merasa terhibur dan itu akan semakin menambah pahalanya bukan.


“Bang …”


“Heeem…”


“Kira-kira Daren nikah lagi ga ya, demi mau dapat keturunan?” Muna membuka obrolan saat mereka bergantian menggosok punggung satu sama lain.


“Bisa ga … saat lagi beginian ga ngurus urusan orang? Bikin Otong ciut tau ga, Mae.” Sedikit menghardik Kevin tak suka, momen bercintanya di ganggu oleh tema lain.


“Haah.. . emang Otongnya aja yang kekenyangan tapi sok lapar. Kerjaanya minta jatah terus.” Kikik Muna menertawakan Otong yang sejak tadi sebenarnya memang tidak bangun. Eh bukan tidak tapi hanya belum bangun.


“Kenyang dari mana …? Jajan? Enak aja nuduh sembarangan. Bekal juga di kasih kemarin malam. Mana cukup.” Protes Kevin yang memang tak selalu meminta jatahnya sebab tau Muna cukup lelah dengan kehamilannya dan semua beban yang ia tanggung beberapa minggu terakhir.


“Yang bilang jajan siapa … nyolot aja, abang ah.”


“Nuduh kenyang …? Orang puasa aja ada sahur juga ada bukanya. Lah … abang di kasih cuma kemarin malam, Mae. Udah hampir 48 jam ini. Wajarlah lapar.” Kevin membela diri tak terima di tuduh kenyang.


Allaahu Akbar, Allahu Akbar.


Asyhadu alla illaaha illalaah.


Ku mandang adzan magrib berbunyi dari alarm ponsel Muna yang memang selalu ia settel untuk pengingat diri, agar tak melewatkan waktu ibadahnya.


“Sholat dulu Bang, Insya Allah kalo rejeki. Entar malam kita sahur sampai subuh.” Muna tanpa wajah bersalah sudah berdiri meninggalkan Kevin yang sudah mulai On di dalam rendaman air hangat yang sudah berubah dingin itu.

__ADS_1


“Ya ampuun. Nasib looh begini amat ya Tong. Kebanyakan narasi tuh si Mae anak babe Rojak. Segala nuduh kamu kekenyangan. Akhirnya tertunda lagi kan.” Dumel Kevin yang juga ikut keluar dari bak besar dalam kamar mandi mereka. Dan kemudian membaca niat akan berwudhu.


Bersambung …


__ADS_2