CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 170 : POLIGAMI


__ADS_3

Mata Muna sejak awal sudah menangkap sekelat gundah di bola mata milik Zahra. Serta kedatangan Zahra tanpa kabar sebelumnya juga mengundang curiga dalam hati Muna. Kemungkinan Zahra akan membawa sebuah berita yang besar.


Namun, karena Zahra memulai cerita dengan pembahasan tentang PAUD yang mereka bangun bersama itu, tertepis dengan sendirinya rasa curiga Muna. Tetapi, kedatangan Zahra sesungguhnya tidak hanya ingin menyampaikan berita PAUD. Tentang kemandulannya ini lah sesungguhnya yang ingin ia bagikan pada seorang Monalisa Hildimar alias Muna Hidayatullah.


“Apakah Daren akan tetap menjadikan aku istri satu-satunya ya Kak?” pikiran wanita mandul itu bermacam-macam, tidak dapat di terka. Mulai dari takut di cerai, curiga suami selingkuh, sampai mengijinkan suami nikah lagi itu selalu menjadi fenomena yang sering terjadi.


“Janga pernah punya pikiran sependek itu.Tujuan kita menikah tidak semata-mata ingin mendapat keturunan. Menikah adalah ibadah, buah hati adalah bonus. Allah mempercayakan mereka ada dalam rahim untuk di jaga, dan saat lahir untuk di pelihara, di didik dengan penuh kasih sayang. Anak dari rahim siapapun akan menjadi baik selama di asuh oleh tangan ikhlas dan hati tulus. Zahra … mungkin kamu sempat bingung mengapa aku punya dua ibu dan dua ayah. Aku tidak berasal dari rahim Nyak Time, dan tidak di titik oleh Babe Rojak. Tapi aku tetap tumbuh menjadi manusia yang takut akan Tuhan, karena didikan orang tua yang mengasuhku. Aku bahkan tidak tau bagaimana nasib ku jika sejak awal hidup sebagai anak keturuan Hildumar. Bahkan mungkin aku tidak pernah bertemu kalian. Bisa saja aku sejak bayi akan tinggal di Belanda sana.” Muna membeberkan asal usulnya. Ya …Zahra mungkin orang baru, Daren juga mungkin tidak menceritakan secara detail mengapa kakak iparnya ini berwajah Belanda tetapi logatnya Betawi medok.


“Bagaimanapun aku malu dengan kekuranganku, Kak. Aku merasa tidak berguna sebagai seorang wanita.” Imbuh Zahra tetap dalam mode isakan yang tak tertahankan.


“Pernahkah kamu melihat nyak Time bersedih ? Pernahkah kamu melihat nyak Tine tidak percaya diri? Ia bahkan dengan gamblang mengakui kemandulan yang ia derita.” Sambung Muna meyakikan Zahra.


“Mandul itu bukan kehendakmu. Itu bukan aib, itu hanya takdir yang harus kamu terima. Tetaplah bahagia menerima semua kekurangan itu. Besok di PAUD yang akan kamu pimpin, akan bermacam anak yang bisa kamu anggap sebagai anakmu. Kamu tak harus capek hamil dan menyusui. Kamu tinggal didik anak-anak itu sesuai dengan tata cara yang benar. Bahkan Nanti Ay, Nay atau adek yang aku lahirkan lima bulan lagi juga akan semua meninggalkan kami, ketika dewasa. Yang tersisa hanya suami. Yang sudah berikrar sehidup semati dengan kita.” Muna membuka kelas tauziah gratisnya pada Zahra.


“Apa Daren bisa menerima kekurangan ku ya Kak …?” Zahra meragu, sungguh tak percaya diri ia dengan kekurangannya.


“Bicarakan baik-baik. Aku yakin Daren suami yang baik. Ia paham tentang agama sehingga ia pasti mengerti akan keadaanmu.”


“Aku bahkan tak berani mengakuinya pada Daren.” Suara itu terdengar putus asa.

__ADS_1


“Atau aku ijinkan saja dia menikahi perempuan yang siap memberikannya keturunan?” Zahra membayangkan hal-hal tak masuk akal kembali.


“Itu hanya ada dalam novel Zah. Jika memang kalian ingin anak, tak perlu meminta Daren menikah lagi, cukup kalian pergi ke sebuah klinik bersalin, atau panti asuhan. Tinggalkan kartu nama kalian. Sampaikan jika kalian ingin mengadopsi seorang anak. Itu lebih masuk akal.” Saran Muna pada Zahra.


“Tapi itu bukan keturunan Mahesa. Anak itu bukan darah daging Daren.”


“Apa kamu yakin keturunan Mahesa itu semua premium?” hah… Zahra saja yang tidak tau bagaimana Kevin di masa lalu. Bagaimana cara Indira mendapatkan ayah Kevin. Apakah Daren tidak termasuk dalam kategori memiliki bibit pelakor?


“Ahklak anak bukan hanya dari bibit nya Zah, tapi didikan dan lingkungannya. Sehitamnya darah seseorang akan sedikit muncul jika di ubah dengan doa. Percayalah … pilihan itu lebih baik daripada mempersilahkan Daren menikah lagi. Tapi …”


“Siapa yang mau menikah lagi …?" Muna terlalu asyik ngobrol dengan Zahra. Sampai tak tau suaminya pulang. Bahkan sempat mencuri dengar pembicaraan Muna dan Zahra walau hanya sepotong.


“Bisa di ulang …? atau aku hanya salah dengar? Daren mau menikah lagi?” Kevin Kepo apakah rungunya salah tangkap kalimat yang baru ia dengar tadi.


“Tidak begitu Kak. Emmh … aku mandul.” Ulang Zahra menelan salivanya sendiri. Yang ia telan hanya air. Air liurnya sendiri, tetapi sumpah, baginya itu sangat keras bagai batu yang sangat sakit saat melewati kerongkongannya sendiri.


“Kamu mandul …? Lalu Daren akan menikah lagi begitu?” sengit Kevin merasa gusar. Raut wajahnya terlihat tak suka dengan keputusan sang adik.


“Tidak begitu Bang. Zahra baru saja memeriksakan dirinya dan ternyata memang dinyatakan tidak dapat memiliki keturunan. Lalu Zahra sendiri yang mengandaikan, apakah sebaiknya Daren menikah saja, agar mendapatkan keturunan. Begitu maksudnya.” Jelas Muna pelan pada Kevin yang maunya memang nyolot saja dalam urusan poligami.

__ADS_1


“Mana boleh menikah lagi hanya gara-gara tidak bisa punya anak. Sana, di Panti Asuhan banyak anak yang tidak beruntung. Tak punya ayah dan sudah tak beribu. Untuk apa repot-repot mencari wanita hanya untuk melahirkan anak.” Kevin menyampaikan lebih gamblang.


“Sudah Muna bilang begitu tadi. Hanya pemikiran Zahra sedang kacau saja.” Muna menenangkan suaminya yang bahkan lebih sensitive menghadapi permasalahan rumah tangga adiknya.


“Mana Daren … panggil dia ke sini. Nanti kakak yang akan bicara padanya.” Kemudian Kevin pamit akan membersihkan tubuhnya, mandi menyegarkan badan yang lelah baru tiba dari Cisarua.


“Kak … apa Daren akan di amuk oleh Kak Kevin?” Zahra lebih takut melihat ekspresi Kevin yang terlihat marah tadi.


“Tidak … Abang hanya memang selalu sensi kalo urusan poligami. Dia anti dengan sesuatu yang tidak setia. Dia benci pengkhiatan.” Jelas Muna.


“Poligami tidak berkhianat kak, selama itu di ijinkan oleh istri pertama.” Zahra mungkin ingin jadi wanita penunggu surga, semacam menantang nyalinya untuk di madu.


“Oke … benar. Suamimu tidak berkhianat dengan mu sebab atas persetujuanmu. Tapi kamu yang berkhianat dengan hatimu sendiri. Kamu yang menyiksa organ merah lemah dalam dadamu sendiri. Bagaimanapun poligami tidak ada yang bahagia. Mereka yang sudah menjalaninya hanya orang-orang yang berpura-pura bahagia. Hanya percaya pada Allah, yang menjaminkan surga adalah keabadian mereka kelak di Janah.” Tukas Muna tegas, menohok Zahra.


Bersambung ….


Readeers …


Gimana …? Ada yang setuju Daren menikah lagi demi punya keturuan?

__ADS_1


Boleh curhat Dear… sesungguhnya nyak udah bosan dan mau tamatin ini. Tapi kesininya kok masih banyak konflik yang belum nyak bereskan ya? Tambah 30 eps lagi masih di baca ga Ya …?


__ADS_2