
Muna, Kevin dan Annaya masih bersantai ria di tempat tidur. Hari itu sabtu, sehingga mereka tidak perlu lekas-lekas beraktivitas. Tama sudah di kirim le Cikoneng untuk menjemput Gita dan Gilang. Sebab kehamilan Gita sudah di nyatakan sehat dan kuat.
Sebelumnya Muna sudah mengecek ke kamar Aydan, dan bocah 3 tahun yang sebentar lagi jadi kakak dua adik itu masih tidur dengan pulasnya. Maka, Muna tidak ingin mengganggu si kakak yang masih
mengembara di alam mimpinya. Tanpa bermaksud mencueki si anak sulung.
“Hey … hey. Mamam kenapa cium-cium Papap …?” suara khas bocah itu sudah terdengar posesif menyapa, saat pintu kamar Muna dan Kevin terbuka.
"Kakak Ay ... Sini sayang. Mamam kangen." Muna langsung beranjak menyambut ke datangan putra sulungnya tersebut.
"Iya Mam ... Cama. Lacanya lamaaaa ga yiat Mamam. De Naya udah cehat Mam?" benar. Aydan benar, Muna memang lama tak jumpa dengan Aydan, karena harus menjaga Annaya yang sakit kemarin. Dan Aydan adalah kakak yang sangat pengertian. Hanya dengan penjelasan dari Laras saja, ia sudah bisa mengerti jika saat itu, ia harus mengalah pada adiknya yang sedang sakit.
"Alhamdulilah, Ay. De Naya udah sehat sejak kemarin. Maafin Mamam, ga sempat sayang Kakak." Peluk erat Muna pada tubuh mungil itu.
"Papap juga, lama ga cayang, Ay." Protesnya pada Kevin yang selalu ke Bandung karena pekerjaan.
"Sini ... Sini ... Sini. Mana jagoan Papap?" Kevin segera melepas Annaya dan menggendong Aydan dengan sedikit rasa sesal, karena lebih mementingkan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Pap ... Main ke lumah engkong yuk. Ay kangen, engkong juga." Pintanya dengan lugas.
"Mau main aja atau bobo di sana nih?" tantang Kevin yang tau, Aydan paling senang jika di ijinkan menginap di rumah Babe Rojak.
"Boleh bobo di cana, Pap?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
"Boleh dong. Masa Papap bohong." Kekeh Kevin.
"Bobo cemua ya, Pap?" tanyanya lagi meyakinkan.
"Semua, kecuali Laras dan Ami." Jawab Kevin memastikan pada Aydan.
__ADS_1
"Mamam cama De Naya juga kan?" tanyanya lagi. Maklumlah, Aydan kritis mana bisa menerima jawaban bulat bulat begitu saja, selalu di ulang dan di tanyakan terus menerus hingga tuntas.
"Iya, Kakak Ay. Mamam, De Naya, Papap semua ikut." Jawab Muna menegaskan lagi pada Aydan.
"Lap yu, Mam." Ciumnya di pipi Muna dengan spontan. Kevin sampai melotot di buatnya. Bukankah tadi Aydan yang masuk, dan menghardik Muna saat menciumnya. Tapi mengapa kini,malah bocah itu yang mencium pipi Muna dengan genitnya.
“Heeyy … Papap ga di cium?” tanya Kevin merasa di cuekin.
“Papap bau, belum mandi.”
“Emangnya Kaka udah mandi …?” Kevin memeluk tubuh kecil itu erat, dan mengendongnya tinggi-tinggi.
“Kita belenang yuk, Pap.” Ajaknya lagi pada sang ayah.
“Ayo …” Jawab Kevin semangat. Tentu Kevin tak mau mengecewakan anak sulungnya tersebut.
“Mamam juga ya …” Pinta Aydan menoleh kea rah sang bunda.
“Tapi … tapi, Mamam liat kakak Ay, dali pinggil ya Mam.” Pinta Aydan manja. AYdasn baru 3 tahun, tentu saja ia masih sangat ingin di perhatikan oleh wanita yang melahirkannya. Bukakan iapun masih balita saat sudah harus berbagi kasih dengan Annaya. Dan nanti juga akan kembali berbagin dengan adik ke tiganya.
“Siaap, Sayang. Nanti Mama sama De Naya. Jadi penonton di pinggir kolam, oke?” cubit Muna pada pipi temben Aydan.
“Asyiiik.” Bagi Aydan, bahagia itu sederhana. Saat kedua orang tuanya dapat meluangkan waktu untuknya. Sekedar bermain, berenang, makan dan tidur. Itu sudah cukup. Memang sepele, hanya terkadang. Itu sulit terwujud, saat kedua orang tuanya memiliki tanggung jawab yang besar dengan beban pekerjaan yang ada di pundak mereka.
Kevin dan Aydan sudah bertukar tawa di dalam kolam, sementara Muna pun melakukan hal yang sama. Berbagi cerita dengana bahasa yang hanya mereka berdua yang tau apa isinya. Namun semua itu adalah bentuk komunikasi yang dapat mereka lakukan untuk menjawa dan merawat bkebersamaan keluarga kecil mereka, agar senantiasa harmonis dan hangat.
“Mae … buatkan sandwich daging ya.” Pinta Kevin saat masih di dalam kolam, sebab Muna merendam kakinya di dalam kolam tersebut.
“Muna minta, Tinah yang buat ya, Bang.” Muna menyebutkan salah satu nama pelayan yang mengurus dapur rumah tangga mereka. Kevin menggeleng.
__ADS_1
“Ga mau …., Mae aja yang buat. Kaya waktu di kantor dulu, Yank.” Rengeknya lebih manja dari Aydan.
“Naya …?” tanya Muna memberi kode pda bayi enam bulan yang ikut main air bersamanya.
“Sini, ikut Abang berenang saja.”
“Ga boleh, dia baru habis sakit, Pap.” Bantah Muna.
“Titip Ami sebentar.” Perintah Kevin cepat.
“Heeem. Titip lagi.” Dengus Muna malas.
“Kakak … Papap udahan ya. Kakak Masih mau berendam?” teriak Kevin Ke arah Aydan.
“Udah Pap. Ay … lapal. Mau makan.” Jawab bocah itu menaiki tangga kolam.
“Naah …, Biar Papap urus dua-duanya. Mamam buatkan sarapan saja, oke? Minta tolong, Sayang.” Rayu Kevin pada Muna yang selalu gagal membantah perintah sang suami.
Kevin hanya menggunakan handuk berbentuk kimono. Dengan satu tangan menggendong Annaya, dan satu tangan lagi menggandeng tangan Aydan yang juga menggunakan busana yang sama dengannya. Papa idaman sepanjang masa ga sih, Kevin kalo sudah gitu. Sementara Muna hanya berlenggang dengan membawa perut agak buncitnya ke dapur, untuk membuatkan sarapan mereka pagi itu.
Entah cabang bayi di peruit Muna itu memang tidak sekejam waktu hamil Aydan, atau belum, atau juga sudah terlewat masa ngidam. Sehingga sandwich buatan Muna, sukses masuk dalam perut Kevin tanpa rasa eneg, mual dan ingin muntah seperti semalam. Sehingga Kevin merasa lega, dia tidak akan merasa lemes seperti saat pertama baru tau Muna hamil anak pertama.
“Assalamualaimum.” Sapaan wajib dan sudah menjadi kebiasaan keluarga itu, saat Kevin sekeluarga sudah berada di ambang pintu rumah Babe Rojak.
“Walaikumsallam.” Jawab Babe Rojak semangat. Dari deru mesin mobil yang terparkir di depan rumanya pun ia tau, jika yang datang adalah anak, memantu dan cucu kesayangannya.
“Engkooooog …” teriak Aydan berlari memeluk tubuh tua di depan pintu.
“Cucu, engkong.” Jawab Babe tak kalah senang melihat empat orang itu hadir lengkap di depan matanya.
__ADS_1
Bersambung …