
Belum sempat Siska mengambil motor Mirna yang terparkir di sebelah rumah itu. Pick up Pak Herman terlihat sudah datang dengan sepeda listrik ibu Siska yang terlihat terikat di bak belakangnya.
Gita sudah berada di teras depan rumah Siska. Tentu saja datangnya pick up tadi tak luput dari pandangan mata Gita juga yang lainnya. Sebab mereka memang tampak semua sudah berada di teras depan. Untuk menikmati pempek yang sebagian sudah matang tadi.
“Mau ketawa takut dosa.” Celetuk Siska tepat saat pickup itu berhenti di depan rumah. Akan menurunkan sepeda listrik milik ibunya.
“Ketawa aja Sis, terbahak juga boleh.” Ujar Gilang tampak kesal melihat Siska yang mulai cengegesan.
Gita merasa bersalah, melihat wajah kesal suaminya yang baru saja turun dari sisi kiri depan mobil itu, dan hendak akan menurunkan sepeda listrik yang low batt itu.
“Udah sampe mana sih?” tanya Siska sambil mengulum senyum mendekati Asep dan Gilang yang sama-sama berdiri di dekat bak belakang Pick up akan siap menurunkan sepeda.
“Sampai gempor ngayuh… Puas!!” Ketus Gilang ke arah Siska yang tak dapat menahan rasa gelinya.
Mendengar itu, Gita terburu-buru berdiri dan setengah berlari untuk pulang ke rumah Kevin di sebelah rumah Siska tersebut. Dengan menahan air yang terbendung di pelupuk matanya.
Gilang tersadar, ia tidak bermaksud marah pada Gita istrinya. Melainkan agak kesal karena Siska tidak bilang jika sepeda itu akan habis daya batrenya. Sebab walau apapun yang menyala di kepala sepeda itu, Gilang tak paham. Ia tak mengerti. Yang ia tau hanya, ketika semua peralatan di sepeda listrik itu mati, berarti habis daya. Dan yang Gilang tau itu adalah sepeda. Yang memiliki pedal untuk di kayuh, sehingga dengan semangat empat lima, iapun berhasil sampai ke kios di sebelah balai desa untuk membeli pempek kidaman sang istri tercinta.
Yang lebih sakit adalah ucapan penjaga kios itu. “Oh… masnya yang lagi nyari pempek biat istri yang sedang ngidam ya? Kan tadi ibunya Mirna sudah saya bilangin, kalo stoknya habis.” Itu yang membuat Gilang dongkol. Kenapa Mirna atau Siska tidak bilang padanya, kalau di sana tidak ada pempek. Jikalau tau, mungkin ia juga tidak akan mengayuh sepeda sejauh ini untuk mencari pempek kidaman Gita.
Tapi, apa nasibnya se apes ini, sudah lelah mengayuh sepda. Masa iya, pulang harus menghadapi istrinya yang sepertinya marah padanya. “Oh Tuhan… inikah sensasi istri hamil. Nyeri nyeri sedap ya.” Batinnya sambil melangkah ke rumah Kevin dan meninggalkan Asep san Siska yang sudah bekerja sama menurunkan sepeda tadi.
Gilang kalah cepat, Gita sudah masuk dan mengurung dirinya di dalam kamar.
“Neng… buka pintunya neng.” Ketuk Gilang berkali-kali pada pintu kamar tersebut.
Tidak di jawab, hanya hening dan terdengar. Sayup sayup suara hidung yang berair terdengar naik turun di kedua rongganya. Pertanda jika istrinya sedang menangis terisak-isak.
“Neng… bukain a’a neng.” Rengek Gilang memaksa agar Gita membuka pintunya.
“Ga mau. AGi marahkan sama eneng…” Samar suara serak Gita terdengar dengan nada takut dari dalam.
__ADS_1
“Enggak Neng, ngapain aGi marah sama eneng…” Jawab yang sesungguhnya takut istrinya ngambek dalam waktu yang lama.
“Tadi… Siska aja di bentak.” Ujarnya dengan suara yang meninggi.
"Ngaak neng, a'a ga bentak Siska. Kami hanya bercanda neng." Jelas Gilang pada istrinya agar segera membukakan pintu.
"Bohong.. pasti aGi mau marah sama eneng. Tapi Siska kena batunya." Suara Gita makin meninggi.
“Buka pintu dulu, kita bicaranya baik-baik dong neng. Malu kedengeran tetangga. Dikira kita berantem. Ya neng… buka ya…” Rayu Gilang pada istrinya dengan pelan. Gilang semakin paham akan arti kata Sabar yang berkali-kali ia terima dari beberapa orang setelah istrinya di nyatakan positif hamil.
Tidak ada suara.
“NengGi sayaaang, bukain pintu buat aGi donk neng. A’a sepanjang jalan kuat ngayuh sepedea tuh karena kebayang wajah cantik eneng lho…” Jiwa gombal Gilang tersulut, saat rengekannya tidak di gubris oleh sang istri.
Masih tak ada suara balasan dari dalam.
“Neng… tau ga? Sepanjang jalan di desa tadi aGi di pelototin ibu-ibu dan remaja putri lho. Ada juga yang nawarin buat aGi mampir dulu di rumah mereka, jika kecapean. Tapi pikiran aGi di penuhi wajah eneng, dengan penampilan perut eneng yang membesar karena hamil anaknya aGi, itu mood boster bagi a’a Neng. Agar lebih cepat ngayuh pedalnya. Biar cepat pulang dan ketemu enang. Mau cepat peluk eneng, cium eneng.” Ujar Gilang yang kini memilih duduk bersandar di depan pintu kamar yang Gita kunci.
Gilang terrebah tepat di bawah kaki Gita, saat mendadak pintu itu ia buka.
“Tapi aGi ga singgahkan?” rupanya Gita takut suaminya kepincut ibu-ibu dan remaja putri di desa itu. Sehingga dengan cepat ia segera membuka pintu kamar, terpancing dengan yang Gilang sampaikan untuknya.
Gilang segera bangkit dan memeluk tubuh Gita.
“Uweeek… uweeks” Gita mendadak mual. Hidungnya tak terbiasa dengan bau peluh yang menyengat dari tubuh suaminya.
“A’a bau…” teriaknya memencet hidungnya sendiri.
“Mana… seger gini.” Bela Gilang pada dirinya sendiri.
“Bau a’… mandi sana.” Usirnya pada suaminya tersebut.
__ADS_1
“Iya makanya buka pintu. Gimana a’a bisa mandi kalo pintunya di kunci.” Jawab Gilang yang sesungguhnya senang, karena sudah bisa masuk ke dalam kamar itu.
“Mandi sana…” Perintah Gita dengan nada sewot, masih memegang hidungnya.
“Iya tapi janji… jangan lari lagi. Kita belum bicara sayang.” Ujarnya mengiba.
“Cepat mandi sana…” sergahnya.
“Janji dulu…” desak Gilang.
“Iya bawel ah… sana buruan. Keburu eneng muntah nih.” Ancam Gita memegang mulutnya.
“O o o… iiii yaa siap. Bentar neng.” Secepat kilat Gilang sudah berlari masuk ke dalam toilet di dalam kamar itu. Untuk mengganti aroma peluhnya dengan wewangian segar di dalam kamar mandi itu.
Sementara Gita, sudah tampak menghadapi pempek goreng dan kuah yang Mirna antarkan untuknya. Gita hanya memotong-motong pempek itu hingga kecil, agar cepat dingin sambil menunggu Gilang selesai mandi.
“Cium… cium. Coba cium a’a sekarang. Udah wangi belum?” Gilang tanpa aba-aba mendekatkan ke teknya ke dekat hidung Gita.
“A’a… ya ga gini juga nyiumnya.” Ujarnya menjauhkan tubuh suaminya yang sesungguhnya sudah wangi.
“He… he… kali aja ga jelas gitu. Kalo aroma tubuh a’a sudah wangi maksimal.” Ujarnya duduk di samping tubuh istrinya.
“Nah .. ini pempek. Dapat dari mana?” Comot Gilang pada pempek yang sudah tersedia di hadapannya.
“Huaaa…. Kenapa di makan. Itu belum eneng foto buat captionnya kidaman kedua a’a.” Suara Gita meninggi lagi. Padahal tadi suasana hatinya sudah mulai tenang, saat menunggui suaminya mandi.
“Ya Allah … a’a salah lagi ya neng?” tanya Gilang lemes.
“Iiih… kok sore ini malah bikin kesel sih…!” Marah Gita. Membelakangi Gilang dengan tangan bersidekap di depan dada.
“Oh yess… istri hamil begini amat ya. Udah cape ngayuh sepeda cari kidaman. Suami pulang malah di kunciin kamar, di bilang bau. Giliran comot makanan, eh di marahin lagi gegara belum di foto daong. Sabaaaar.” Gilang mengelus dadanya sendiri.
__ADS_1
Bersambung…