CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 86 : AYAM TERIYAKI


__ADS_3

Gilang menatap istrinya dengan tatapan sarat makna. Ada sedikit galau di dalam hatinya, haruskah jujur atau memendamnya sendiri. Gilang terlalu pongah, merasakini ia adalah seorang kepala keluarga yang seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat. Eh… itu kerjaan polisi kalinya🤭


Maksudnya Gilang tak ingin terkesan cengeng dan manja pada Gita. Ia ingin menjadi pria sejati dan suami yang kuat sehingga Gita tak pernah ragu untuk menyandarkan bahu dan segala keluh kesahnya nanti hanhya padanya,


yaitu lelaki kuat dan tahan banting.


Karena itu Gilang berniat menyimpan sendiri saja masa lalu dan masa kecilnya yang kurang bahagia. Namun Gita takhanya baru kemarin kenal dengan Gilang. Bukankah sudah lebih dari dua tahun mereka dekat tanpa status, hanya berteman tanpa saling malu dan menutupi sifat dan sikap asli satu sama lain. Secara sikap saja, tapi tidak dengan silsilah keluarga mereka. Sehingga Gita sukses menipu Gilang akan identitasnya. Dan ternyata


demikian pula dengan Gilang Surenra.


“A’a… kenapa gam au Gibran yang ganti posisi eneng?” tembak Gita tanpa basa basi.


“Hah…?” Gilang terhenyak dari lamunannya sekilas.


“A’a sungguh mau hanya Melani yang gamtiin posisi eneng?” tanya Gita lagi.


“Oh… eh. Ga Juga. E..e. NengGi… kita belum makan siang. Makan di luar yuks?” Gilang mengalihkan topic pembicaraan mereka.


“Eneng masih kenyang a’. Tadi sama mamam Ay, banyak makan buah. A’a… belum makan, ayo… kita pulang kerumah saja. Tadi ayam teriyakinya sudah eneng marinasi, tinggal di panggang bentar pasti cepet empuknya.” Gita…Gita walau udah makin mesum, ternyata juga sudah makin pintar bagi waktu antara melayani suami di tempat tidur juga dapur. Terbaiiiik.


“Woow… istri sholehah. Sempet sempetnya siapin bahan untuk makan siang. Ayok, kita pulang sebentar neng. Ga papa belom masak, karena laparnya belum masuk tahap level maksimum.” Kekeh Gilang menarik tangan Gita untuk keluar ruangan.

__ADS_1


“Haikal… sudah makan?” ramah Gilang menyembulkan kepalanya keruangan sekretarisnya dulu.


“Sudah pak.” Jawab Haikal sopan. Walau mereka satu angkatan dan pernah sedih suka menjadi sekretaris di perusahaan itu, tapi Haikal tetap berahklak baik dan sopan pada Gilang yang kini berstatus ipar pemilik perusahaan.


“Oke deh, titip kantor ya Kal. Ku mau pulang makan siang dulu.” Pamit Gilang pada Haikal. Jika mengikuti kata hati, Gilang sih, maunya Haikal saja yang jadi pengganti Gita, sebab sudah hapal dengan segala karakter Gilang juga kinerja Haikal sudah ia bisa jamin kebaikkannya.


“Siap bosque.” Ujar Haikal membulatkan ibu jari dan telunjuknya tanda setuju. Dengan senyum tulusnya bangga melihat kemesraan rekan sekerjanya tersebut.


Diperjalanan menuju rumah mereka, Gilang tak henti hentinya merem as rem as jari jemari Gita, sesekali mencium cium punggung tangan wanita kesayangannya tersebut. Hangat menjalari sudut hatinya, bagaimana tidak runtuh seluruh rasa sayang dan cintanya pada wanita di sisi kirinya tersebut. Gita Putri Mahesa yang notabene adalah anak dari keluarga berada, namun sungguh bersahaja. Sungguh tidak menampakkan jika dirinya anak orang kaya yang identic dengan manja juga sombong.


Gita memang terlahir dari keluarga yang kaya, tapi tidak serta merta di limpahi harta. Rumah tangga kedua orang tuanya pun pernah hampir porak poranda, sebab awalnya memang mereka sempat menjadi duri dalam daging maminya Kevin. Sikap mama Indira memang salah. Tetapi, dalam kisah ini anya sedang ingin menunjukan, bahwa pelakor tak selamanya jahat untuk selamanya.


Tetap ada sisi kehidupan seorangyang salah jalan di awal, tetapi pelan pelan bertanggung jawab dan konsisten dengan pilihanya. Banyak pelakor yang hanya ingin menghabiskan uang seorang pria saja, dengan alasan dendam di masa lalu. Sehingga setelah mendapat sumi orang, hanya untuk main main dan tidak serius dengan hubungannya. Berbeda tujuan dengan Indira, yang memang jatuh cinta pada Diendra, dan memang tanpa malu merebut itu dari Beatrix. Tetapi dengan sungguh ingin membins denga rumah tangga yang serius dengan Diendra.


Sedapat mungkin Gita ingin menjadi istri ideal dan ibu sempurna bagi anak – anak mereka kelak. Gita buta bumbu dapur, tapi ia tak patah arang untuk belajar. Membuka segala konten di youtube yang di jaman ini sudah semakin marak dan banyak sekali, guru guru dadakan yang bisa di jadfikan teladan untuknya menjadi koki sederhana untuk suami tercinta.


Keduanya sudah tiba dirumah. Gita segera melepa pakaian kantornya, lalu menggantikannya dengan pakaian dinas rumahan. Yaitu daster tali satu. Memasang apron, mencuci tangan lalu membuka kulkas untuk mengambul bahan yang memang sudah ia siapkan, sudah ia potong dan cuci, siap di eksekusi.


Bi Inah ada, hanya sejak kejadian menggedor pintu kamar mandi, ia hanya bertuga untuk memastikan kebersihan rumah dan mencuci, setrika pakaian saja, yang datang di jam 8 pagi hingga selesai pekerjaannya lalu pulang. Sedangkan untuk makan, Gilang dan Gita lebih memilih memgatur sendiri, apakah masak atau makan di luar, maklum saja. Masih dalam masa pacaran, belum terlalu sibuk seperti Muna dan Kevin.


Gilang hanya melapas jas, melipat tangan bajunya hingga siku. Lalu duduk manis di atas kursi dapur, sambilo memikmati pemandangan, sang istri yang sudah bak koki handal memasak untuknya. Walau terlihat kaku dan belum mahir, tetapi yang Gita lakukan untuknya patut di acungi jempol. Pelayanan yang sangat luar biasa baginya.

__ADS_1


Ayam teriaky tabur wijen dan sayurannya pun sudah tersaji. Gita tersenyum melihat hasil karyanya, dan kali ini ia yakin, jika masakannya tidak akan ke asinan lagi. Sebab ia sudah terlalu yakin dengan kekuatan rasa dari saos teriyaki yang ia gunakan, tinggal di tambahkan gula merah dan sedikit asam jawa. Dengan percaya diri, Gita menyuguhkan untuk sang suami.


“Heem… sempurna.” Puji Gilang setelah mengucap kata Bismilah, ia tak sabar segera menulai masakan sang istri.


“Hah… beneran.  Masakan 25 menit lho a…” Bantah Gita yang sesungguhnya bahagia.


“Udah di bilang sempurna itu, ga bisa di tawar neng. T.O.P banget pokokknya.” Puji Gilang lagi mengaduk aduk nasi panas yang masih  mengepul di atas piringnya.


“Yang sempurna itu apanya a…?” tanya Gita tak puas.


“Semuanya dong. Dari rasa nya, pas. Tidak keasinan, tidak ke manisan, pokoknya ngurih. Terus tuh, durasi waktu memaskknya. Pas masak saat perut a’a udah lapar beneran.” Gigi depan Gilang hampir terlihat semua, saking senangnya ia dengan pelayanan prima dari sang istri.


“Serius a’…?” Gita haus pujian banget deh perasaan.


“Iya… masa bercanda. Yuks… sini, aGi suapin nengGi.” Gilang yang selalu romantic pada sang istri.


Bersambung...


Buat para istri yang suaminya ga seromantis Gilang, harap tenang ini ujian. Kita satu server wkwkwk


Makasih timpukan mawar n kopinya ya semua.

__ADS_1


Lope all❤️❤️❤️


__ADS_2