CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 151 : KEVIN MANJA


__ADS_3

Kevin sangat senang melihat wajah sumringah Muna melahap Sate Maranggi khas Kota Kembang, Bandung itu. Entah memang enak atau sesuai ekspektasi si calon jabang bayi yang ada dalam perut Muna sekarang. Sehingga jatah makanan Kevin pun di habiskan hingga tandas oleh Muna.


Berbanding terbalik dengan Kevin yang sedari tadi menahan diri, karena merasa kepalanya pening terhirup asap sate yang sedang di bakar tak jauh dari mereka. Boro-boro ngerokok. Cium asap sate saja mabok, si Kevin mah. Sayang ini orang pernah tercipta di dunia halunya Nyak otor saja. He ... He ... He.


"Hoeeek." Kevin tak mampu membendung rasa huru hara yang terjadi dalam perutnya. Begitu motor yang mereka kendarai sudah terparkir dalam garasi. Dan Kevin hanya sempat berjalan ke arah got pembuangan tak jauh dari garasi tersebut, untuk mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.


"Abang kenapa ....?" tanya Muna menepuk bahu Kevin agak bingung.


"Mabok." Jawab Kevin di sela rasa mual dan perut yang di lilit-lilit.


“Ya ampun, Abang ga alergi Sate …?” Muna menatap bingung.


“Hamil Mae, kamu lagi hamil kan. Abang jadi sensitif nih.” Jawab Kevin sedikit merasa lega setelah habis mengeluarkan sate yang hanya beberapa tusuk tadi, masuk ke dalam perutnya.


“Ouuwwh … anak pintar.” Muna terkekeh sambil mengelus perutnya senang. Tentu saja Muna bahagia, sepertinya rasa mualnya akan berpindah lagi pada suaminya, persis seperti saat ia hamil Aydan 4 tahun lalu.


“Seneng Mae, liat Abang susah …?” Kevin sedikit menghardik.


“Siapa suruh potong sarung. Mau ngakak, takut dosa niih. Maaf ya Pak Suami. I Lap Yuuu deh.” Muna langsung mencium pipi Kevin sekenanya.


“Lap yu tu, Mae.” Ringis Kevin yang memang sudah selesai dengan ritual muntahnya.

__ADS_1


Keduanya masuk ke rumah, membersihkan tubuh mereka di kamar, untuk segera beristirahat. Muna kenyang, bahkan kekeyangan karena menghabiskan hampir dua porsi sate tadi. Menarik selimurt adalah cita-cita dan harapan Muna selanjutnya. Melepas lelah raga, dan berdamai dengan jiwa yang sejak pagi memang sempat gonjang ganjing, akibat baru sadar telah berbadan dua.


“Abang kenapa sih, kasak kusuk ga jelas gitu.” Muna merasa terusik dan tak nyaman, saat tubuhnya sudah dengan lurusnya menyentuh kasur empuk itu, dan akan segera memejamkan mata untuk tidur. Tapi mengapa mahkluk di sebelahnya sejak tadi, selalu balik kanan balik kiri ga jelas.


“Abang susah tidur, Mae.” Jawab Kevin terdengar kesal sendiri.


“Pejem aja, Bang.” Muna memiringkan tubuhnya, mengelus kepala suaminya.


“Lapar, Mae.” Rengeknya, bahkan lebih manja dari Aydan bocah 3 tahun tersebut.


“Ya … sallam. Mau makan apa nih?” dengus Muna tentu saja lebih kesal. Muna istri berbakti, mana bisa ia membantah suami, apalagi dalam hal melayani keinginan lahir dan batin suaminya, yang ia yakini hanya akan mengurangi pahalanya.


“Makan kamu aja.” Desis Kevin mengendus-ngendus ke ke tek istrinya.


“Maaf , Yank. Ya, udah kita tidur aja. Peluk yaa …” Pintanya lemah. Kevin sadar, Muna hamil karena ulah konyolnya. Muna juga hanya manusia biasa yang butuh istrirahat baik jiwa dan raganya. Maka tidak memaksa keinginannya adalah keputusan yang paling tepat.


Muna mengambil kepala Kevin agar berbantal lengannya, membenamkan kepala itu agar tak jauh dari tubuhnya. Berharap bayi besarnya sungguh dapat tidur nyenyak setelahnya. Tetapi nihil, Kevin tetap saja tidak bisa terlelap dengan cepat.


“Kenapa masih melek …?” tanya Muna yang tau Kevin belum tidur, karena tangannya malah pencat pencet dengan tombol saluran air kehidupan Annaya.


“Boleh em mut ini?” pinta Kevin persis anak kecil yang takut di marahi oleh ibunya karena meminta hal yang mungkin saja tidak di kasih oleh sang empunya.

__ADS_1


“Yakin, diem mut saja. Ga lebih kan?” Muna memastikan, merasa ga yakin jika malam ini tubuhnya tetap akan menggunakan pakaian hingga pagi datang.


“Janji Mea.” Rayu sang mantan cassanova itu, terdengar sungguh-sungguh.


Muna malas berdebat, apalagi curiga. Mengeluarkan salahg satu gallon air yang tertutup pakaian tidurnya. Dan mejulurkan di depan mulut Kevin adalah perbuatan yang bisa ia lakukan dengan cepat, agar ia dan Kevin bisa segera tidur.


Mungkin Kevin sudah bisa memanajemen segala keinginan dalam dirinya. Entah sekuatnya menahan diri saja, atau memang hanya ingin di manja oleh sang istri. Setelah menghisap-hisap tombol kecoklatan itu, Kevin sungguh sudah terlelap dengan mulut yang masih tertempel pada pucuk gallon tersebut. Sisa Muna yang memandangi wajah suaminya itu dengan tatapan nanar. Mengelus rambutnya, mencium-cium pucuk kepala pria super manja itu. Muna ibu beranak dua, yang sebentar lagi punya anak tiga. Tetapi, memiliki suami semanja ini membuatnya sudah seperti ibu beranak tiga saja.


Pagi datang, sholat subuh pun sudah mereka laksanakan. Walau akhirnya mereka hanya tidur kurang lebih 4 jam saja. Akibat jalan-jalan semalam. Tapi, Muna sudah terbiasa. Muna juga sudah menjemput Annaya dari kamarnya, tidak untuk di susui, sebab memang sudah tak mau menghisap pucuk itu. Sehingga Muna hanya ingin membagi waktunya untuk sekedar bermain dan dekat dengan bayi 6 bulan yang akan segera punya adik lagi.


Muna bercengkrama, menjawab seadanya celotehan Annaya yang ia sendiri juga tidak tau apa yang Annaya ucapkan. Tetapi, dengan mendengarkan, menyahuti sekenanya, mencium-cium dan membuat Annaya tertawa bagi Muna adalah masa-masa indahnya bersama putrinya tersebut.


“Maafin Abang ya, Mae.” Kevin baru sadar, agak merasa bersalah. Sungguh tak sampai di pikirannya jika perbuatannya di Singapura akan berbuntut panjang. Akan mengurangi masa emas kebersamaan anaknya untuk di sayang dalam jangka panjang oleh sang ibu.


“Barang Abang bagus, ketemu cetakan yang peka juga. Jadi deh.” Jawab Muna yang hanya mengulang kata-kata Kevin sebelumnya.


“Heemm … Maafin papap ya Nay.” Cium Kevin pada Annaya yang tak tau apa-apa. Memandang ayahnya dengan mata berbinar dan senyum yang selalu merekah, saat pria itu menciumnya.


“Jangan lupa, kita sama-sama tanggung jawab ya, Bang.” Cium Muna pada kening Kevin. Muna sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, ibu hebat bagi anak-anaknya. Siapa yang ia harapkan untuk menjadi lebih kuat selain dirinya sendiri. Ia tak mau terlihat tak mampu untuk menjalani semuanya. Muna cinta Kevin. Muna sayang semua anak-anaknya. Tetap terus menjadi pribadi yang lebih baik dengan segala amanah yang di gariskan untuknya adalah satu hal yang harus ia lakukan agar hatinya selalu bahagia.


“Hey … hey. Mamam kenapa cium-cium Papap …?” Suara siapa itu.

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2