
Gilang dan Gita tidak melanjutkan aktivitas yang sekiranya hanya membuat sesuatu memanas satu sama lain. Mereka hanya bercanda. Sedapat mungkin Gilang mengalihkan hasratnya agar tidak mengganggu istrinya untuk sementara demi anak-anak mereka.
Walaupun itu adalah kebutuhan bathin yang haqiqi. Tetapi keinginan untuk menjaga dan melindungi anak dan istri baginya lebih utama.
Kini mereka berdua sudah melahap makan siang buatan Gita. Entah, apakah anak di perut Gita semua cewek, yang pasti ke sininya Gita memang suka ke dapur. Bercanda dengan kompor, alat masak dan segala resep makanan. Sehingga ia memang lebih trampil dalam urusan membuat cemilan dan makanan.
"Neng ... Tadi Gibran ada chat A'a. Katanya besok udah fix A'a berdinas ke Jakarta. Sekalian saja A'a mau antar berkas untuk daftar ulang. Eneng mau ikut?" Gilang mana pernah menutup apapun dari Gita, urusan kantor sampai apapun itu.
"Malas cape di jalan A'. Eneng sama anak-anak saja di rumah. Boleh?" Bayi mereka memang belum lahir. Tapi gumpalan darah yang berangsur terbentuk jadi rangka manusia dalam perutnya sudah Gita anggap ada, untuk ia jadikan teman ngobrol. Sebab ia percaya mereka sudah dapat mendengar dan memiliki hati untuk merasakan sesuatu. Komunikasi sejak dini pada calon buah hati mereka bagi Gita semacam hiburan. Juga kesempatan yang harus ia nikmati dan syukuri tatkala mereka sudah di titipkan dalan rahimnya.
"Yakin Eneng tinggal?"
"A'a kali yang ga yakin kalo Eneng mau di rumah aja." Gita balik meyakinkan suaminya.
"Kali Eneng mau main ke Mama Indira." Tawar Gilang pada Gita. Iya, Indira mama dari istrinya. Tapi kenapa terlihat berjarak dan ga ada kangennya pada orang tuanya sendiri.
"Kangen sih. Tapi ga mau cape di jalan A'." Gita lebih mengutamakan kehamilannya kerimbang melepas rindu pada orang tuanya.
"A'a dua hari di Jakarta, ga papa?" tanya Gilang lagi.
"Ga papa. Anggap saja latihan. Nanti juga bakalan tiap Minggu kan di tinggal A'a kuliah." Jawab Gita rasional.
"He'em. Maaf ya Neng. Maafin ayah ya, anak-anak." Gilang mengusap perut Gita.
"Ga perlu minta maaf. Ini kesepakatan kita berdua. Yang penting tetap amanah." Senyum Gita melebar.
"Insya Allah. Kalian alasanku untuk terus istigfar dan setia." Gilang selalu meminta Tuhan di pihaknya untuk menjaga hatinya dari segala godaan yang mungkin akan mengecewakan Gita.
"A'a ke kantor lagi?"
__ADS_1
"Iya ... Mau ikut?"
"Ga ... Eneng mau tiduran saja setelah ini. Ga papa kan?"
"Memang itu yang A'a mau. Eneng banyak istirahat saja. Biar anak-anak kita sehat." Jawabnya. Sumpah emak emak semua yang baca, pada mau punya mantu seperti Gilang yang nyaris sempurna ini.
Rumah mereka memang selalu sepi, Gilang sudah kembali ke kantor. Gita sudah memilih mengurung dirinya di kamar. Tentu jauh berbeda dengan suasana rumah Muna yang sudah memiliki anak dua. Apalagi usia Aydan sudah 3 tahun, tentu ia sudah menjadi spesialis memporak porandakan rumah. Yah ... Walaupun tidak semua sisi rumah yang ia buat berhamburan. Sebab ia punya ruang sendiri dalam urusan bermain.
Waktu berlalu, hari berganti. Itu berarti kini Gita sungguh sudah sendiri saja di rumah yang ia tempati. Suaminya sudah pergi setelah sarapan pagi. Setengah hari terlewati, Gita masih tak merasa sedang sendiri. Ada Bi Inah yang menemani siangnya dengan segala cerita dan ilmu masak yang bisa ia serap untuj di ketahui.
Tapi tidak dengan malamnya yang baru menyapa. Berada dalam kamar yang hanya ia huni sendiri, ternyata menbuatnya nelangsa.
Ujung matanya sudah berembun. Terutama saat ia meneguk susu hamil yang ia buat sendiri. Gita sudah terbiasa ada suami di sisi. Bahkan memperlakukannya bak seorang putri.
Ia memang sudah mahir memasak dan melayani suaminya, tapi tidak dengan susu hamil. Gita tetap di manja oleh lelaki itu. Sisi manjanya muncul saat itu berhubungan dengan calon anak-anak mereka.
"Nak ... Minum susu buatan bunda aja malam ini, ya." Usapnya pada perutnya, akan berkompromi pada cabang bayi di dalam sana.
Hah ... Ternyata susu itu tidak bisa tertelan. Justru air matanya yang jatuh dalam jumlah tidak sedikit. Kenapa selebay itu. Gita yang kemarin menolak ajakan Gilang untuk ikut dengannya. Tapi kenapa kini, justru dia yang sesedih ini. Saat sendiri dalam kamar mereka.
Gita ingin menjadi istri kuat, yang bisa hidup normal saat suami tak bersamanya. Tapi, kenapa hatinya tidek selaras dengan logikanya. Gita benci suasana ini.
Masih dalam tahap perjuangannya meneguk susu hamilnya. Smartphonenya berdering. Tampak icon biru meronta-ronta pada layarnya, ingin segera di sentuh agar kominikasi itu lekas tersambung.
"Malam bundanya calon anak-anakku. Sedang apa kalian?" Sapa Gilang ceria di seberang gawai itu.
Tidak ada jawaban. Kamera ponsel Gita bahkan hanya menampakkan langit langit kamar mereka saja.
"Neng ... Lagi apa?" Gilang menyapa kembali.
__ADS_1
"Lagi mau minum susu, A' ..." Gita menyahut tapi belun berani menunjukkan wajahnya yang sembab dan kusut karena menangis sendiri.
"Mana gelasnya ... Udah kosong belum?" tanya Gilang pelan. Samar Gita melihat suaminya berada dalam mobil.
"Belum habis a'..." Jujur Gita masih belum mau mengubah posisi kamera ponselnya. Tidak mau suaminya tau jika ia sedang menangis. Ia tidak mau Gilang terbeban olehnya.
Lekas berdiri dan mengambil tisue untuk membersihkan sisa air mata yang melembabkan matanya.
Lalu mengambil sisir untuk merapikan rambutnya yang tadi kusut masai.
"Kenapa istri A'a baru di tinggal belum 24 jam udah berubah jadi langit kamar ya?" Gilang penasaran, kenapa sejak tadi wajah Gita belum muncul pada benda pipih yang jelas saling terpaut tapi tidak memunculkan wajah yang di rindukannya.
Gita segera meraih ponselnya dengan tangan kiri, lalu memegang segelas susu di tangan kanannya.
Bagai model yang sedang berakting di depan kamera. Gita menghabiskan minuman itu hingga tandas.
Senyumnya melebar, bukan hanya karena sudah memperlihatkan pada suaminya jika susu itu sudah habis. Melainkan ia bahagia bisa melawan rasa malasnya menghabiskan susu buatannya sendiri.
"Neng ... Jangan di bersihkan bekas susu di pinggiran bibirnya ya." Ucap Gilang masih di depan kamera dengan latar yang sepertinya Gita hapal itu di mana.
"Hah ..." Gita bingung. Tapi beranjak dari posisinya untuk memastikan jika pengelihatannya tidak salah.
"A'a di rumah ...?" Gita masih memagang ponselnya dengan tangan kiri. Persis seperti orang yang sedang bercermin sambil berjalan, ke arah luar kamarnya menuju ruang tamu akan mendekati pintu utama.
"Eneeeeng." Peluk Gilang yang juga melangkah makin dekat dengan tubuh Gita.
"Ini bukan mimpi kan?"
Bersambung...
__ADS_1