
Gita sedari tadi tak mau menunjukkan batang hidung dan raut wajah sedihnya pada sang suami yang sudah ia ijinkan untuk ke Jakrta tanpa dia. Gengsi dong, jika ketahuan mewek atau tiba-tiba di landa rindu sebab belum terbiasa tanpa dia yang janjinya akan menginap dua hari di sana untuk bertemu klien dan mengantar berkas fisik perkuliahannya.
Tapi, kenapa netranya menangkap pemandangan yang seperti ia kenal saat kamera ponselnya ia pegang dan perhatikan dengan cermat.
“A’a di rumah …?’ Gita masih memegang ponselnya dengan tangan kiri. Persis seperti orang yang sedang bercermin sambil terus berjalan, ke arah luar kamarnya menuju ruang tamu akan mendekati pintu utama.
“Eneeeeng …” Peluk Gilang yang juga melangkah makin dekat dengan tubuh Gita. Tubuh yang sedari tadi merusak fokusnya selama di ibukota Jakarta.
“Ini bukan mimpi kan ? A’a ga jadi menginap di Jakarta?’” berondong Gita pada suaminya yang memang sudah gemas memeluknya.
“Eneng lupa hanya menikah dengan lelaki biasa? Kitakan cuma punya rumah di Bandung Neng. A’a ga punya tempat tinggal di sana.” Gilang beralasan.
“Kan bisa nginap di rumah Papi …”
“Kan Enengnya ga ikut. Malu lah, tetiba datang cuma numpang nginap bahkan ga bawa anak orang rumah.” Papar Gilang masuk akal.
“Mertua A’a … itu mertuanya A’a. Kaya sama orang lain aja.”
“Tetep saja ga enak kalo Enengnya ga ada.” Gilang berkeras merasa tak nyaman kerumah mertua tanpa membawa istri.
“A’a … mandi dulu ya Neng. Takut Eneng ga mau di peluk sampai pagi.” Pamitnya ke kamar mereka.
“Iya … eneng buatkan teh chamomile ya A’a. Biar cepet ngantuk.” Gita segera ke dapur membuatkan air minum yang mampu mempercepat rasa kantuk datang. Agar tidur suaminya lebih nyeyak sebab berkendara seharian tentu membuatnya sangat lelah.
Arah jarum jam sudah di angka 11. Artinya sebentar lagi tengah malam. Gilang tidak menyangka jika malam ini ia bisa tidur dalam selimut yang sama lagi dengan istrinya seperti malam sebelumnya.
“Kerjaan a’a beneran sudah beres?”
“Iya, Neng. Meetingnya hanya 2 jam setelah makan siang tadi.”
“Berkasnya?”
__ADS_1
“Berkas itu hanya di antar sebentar sebab A’a sudah mendaftar secara online.”
Gita memeluk tubuh Gilang posesif, senang suaminya tetap pulang walau hari sudah malam.
“Tadi, jadi kemalaman pulang. Karena A’a cari kost.”
“Buat apa …?”
“Perkulihan belum mulai Neng. Jadi bisa berurusan sebentar. Tapi nanti tugas akan banyak juga memerlukan tempat untuk istirahat. Untuk sewa hotel tiap datang jelas tidak mungkin. Biaya kita ke dokter untuk periksakan anak-anak kita juga harus kita siapkan dananya. Jadi, A’a putuskan untuk mencari kost-kostan saja. Lebih irit. Banguannnya tak jauh dari kampus. A’a bisa berjalan kaki ke sana.” Jelas Gilang panjang.
“Kenapa begitu …? Di Jakarta ada rumah Kak Muna, ada Papi, ada Daren ada Babe rojak juga. Kenapa harus tinggal di kost.” Protes Gita.
“Jaraknya semua jauh Neng. BBMnya ya sama saja jatuhnya dengan biaya kost. Belum lagi nanti A’a harus berbasa-basi dengan mereka. Itu mengurangi waktu a’a untuk belajar dan mengerjakan tugas.” Gilang cermat, ia sungguh mandiri dan sudah sangat matang memikirkan semua konsekuensi yang akan ia jelang saat sudah duduk sebagai mahasiswa.
“Kostnya besar?”
“Tidak. Hanya ada satu kasur busa, satu lemari, satu kulkas, satu kompor dan kamar mandi di dalam.” Jelasnya dengan rinci.
“800rb/bulan Neng.”
“Huum … pasti kecil sekali.”
“Ga juga … muat kok untuk ngurung istri satu di dalammya, kalo pas lagi mau nenemin A’a di sana. Kalo mau juga sih.” Senyum Gilang tak pernah luntur terpasangdi wajah tampannya.
“Istri satu …? Emang mau berapa?” kekeh Gita bangga memiliki suami seperti Gilang. Bukan hanya Gita, readers juga udah kasak kusuk sama nyak, mau di carikan satu model Gilang buat jadi mantu. Sabaaar, nyak lagi latih anak-anak nyak biar bisa kayak Gilang.
“Bukan mau dua Neng. Maksudnya cuma cukup masukan satu orang saja, itu juga tidurnya harus bertumpuk biar kasurnya cukup.” Gita mencubit hidung Gilang dengan gemas.
“Ada – ada aja.”
“A’a udah cerita soal hari ini, giliran eneng yang cerita, tadi seharian ngapain?”
__ADS_1
“Ga ngapa-ngapain. Biasa aja.”
“Eh … lupa menyapa.” Gilang merosot keperut Gita untuk menyapa calon anak-anak mereka di dalam perut istrinya.
“Hai … anak-anak . Ayah ga jadi nginap di Jakarta, takut bunda kalian kangen sama ayah. Kalian pinterkan seharian ini sama Bunda. Jangan nakal, nanti Bunda marah-marah lho sama kalian.” Gita tersenyum melihat interaksi itu, aliran darahnya menghangat mendapat perlakuan manis suaminya tersebut.
Entah apa yang merasuki pikiran Gita saat itu. Ia sendiri
yang menyibak dasternya. Lalu melorotkan celama segitiga penutup daerah rawan
di pangkal pahanya tersebut.
Glek.
Gilang menelan salivanya. Merasa imannya sedang di uji oleh istrinya sendiri. Gilang lama puasa guys, mestinya ia jangan di beri kesempatan melihat benda-benda yang sudah lama ingin ia jelajahi itu. Tapi, kenapa kini justru istrinya memantangnya. Benda yang kini tidak tertutup itu sungguh menyiksa pikirannya. Si Jaka juga sangat peka, ia tau itu adalah pasangan yang telah lama di rindukannya.
“Eneng apa-apa an siih …?” Gilang menarik daster yang tersingkap agar menutup bagian yang sangat menggiurkan itu.
“Mungkin ga papa, asalkan pelan.” Jawab Gita mencegah tangan suami yang menutup bagian tubuhnya.
“Ini sangat sulit Neng … A’a takut menyesal melakukannya.” Jujur Gilang. Ia lebih mirip anak perawan yang ragu, akan melakukan hal itu untuk pertama kalinya. Gilang merebahkan dirinya di samping Gita.
Tangan Gita nakal, meraba dada bidang suaminya, membuat lukisan abstrak tak beraturan. Bahkan parah, telunjuknya nyasar ke bawah-bawah. Dua tangan Gilang ia gunakan sebagai bantal, membentuk segitiga sekedar mengamankan tangannya agar tidak terpancing dengan ulah Gita yang tiba tiba.
Pergerakan tangan Gita sungguh menyiksanya. Celana Gilang sudah tidak pada tempatnya. Gerakan naik turun pada batang Jaka, sungguh memanjakan Jaka. Benda itu peka, lama rasanya tak di sentuh bahkan di perlakukan lembut naik turun bergantian seperti itu.
“Neeng … Ampun. A’a ga kuat kalo di gituin.” Rengek Gilang ingin di perlakukan lebih. Gita hanya tersenyum. Memberi kode agar suaminya tidur agak miring. Kepalanya sejajar dengan Jaka, sedangkan si iting sengaja ia dekatkan mengarah sejajar dengan kepala suaminya.
“Eneng cuma lagi rindu sama si Jaka aja, a’a. Kalo A’a capek. Tidur gih. Eneng main sama ini saja.” Busyeeet, Gita nakal. Tadi tangannya yang mencengkaram, memegang erat batang Jaka. Sekarang lidahnya bahkan sudah membasahi kepala Jaka dengan air liurnya sendiri. Masa Gilang tidak makin tersiksa. Terpaksa Gilang membalas perbuatan itu dengan mengelus, kadang menekan biji jagung yang terhimpit di area iting. Hingga lembah bahkan basah di sana.
Bersambung …
__ADS_1