CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 178 : SATU UNTUK SELAMANYA


__ADS_3

Dalam sebuah kamar bernuansa cream dengan ornamen ke emasan pada tiap sudut dinding membuat ruangan itu tampak elegan juga sangat luas. Dilengkapi sofa, toilet dan meja rias senada membuat pemiliknya selalu betah berada dalam waktu yang lama di dalamnya. Di situlah Daren dan Zahra berada sekarang. Saling berbagi kesah dan bebannya di atas peraduan yang hampir setahun mereka huni bersama sebagai suami istri.


Daren memeluk tubuh Zahra yang sudah jauh lebih baik akan keadaan kesehatan rahimnya.


“Umi Zahra … kita bertemu di Jabal Rahma di sebuah padang Arafah. Allah menggerakkan hatiku saat pertama melihat wajahmu. Sejak itu, hanya namamu yang ku pintakan pada Allah untuk menjadi pendamping hidup selamanya. Apa mungkin, kemudian aku memutuskan untuk menikah lagi hanya karena kamu di nyatakan mandul?” Daren mengulik kisah pertemuan pertama mereka yang sungguh manis.


Daren bukan tipe pria mata keranjang, apalagi jelalatan. Gelar cassanova jauh darinya, tidak seperti Kevin juga Diendra. Ia hanya beberapa kali menjatuhkan hatinya pada seorang gadis, sejak masa kuliah. Dan Cut Zahra adalah satu-satunya gadis yang meresahkan hatinya sejak pertama bertemu. Buku buku kakinya terasa bergetar, dorongan untuk kenal lebih jauh tentang Zahra tak dapat ia bendung. Bahkan lebih dari dua belas purnama telah ia habiskan hanya untuk menyebut nama Zahra pada tiap tahajudnya. Tidak mungkin, kini sekonyong-konyong ia mengkhianati wanita itu hanya karena mandul.


“Sayang … aku adalah anak dari wanita kedua dalam sebuah rumah tangga. Mama sudah merebut kebahagiaan seorang wanita demi mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Itu salah. Itu menyakitkan. Apapun alasannya, di duakan itu tak pernah berujung bahagia.”


“Bagaimana jika itu, Umi ijinkan Bi?” Zahra menanggapi masih dalam isakan pilu.


“Siapa kamu yang berani mengijinkan suami sendiri untuk menikah lagi demi mendapatkan seorang anak? Malaikat …?” tanya Daren menghapus airmata yang melembabkan pipi mulus istrinya.


Zahra terdiam. Hatinya menghangat menyadari jika pemikirannya sungguh salah. Mungkin ia terlalu berprasangka buruk. Saat menyadari kelemahannya yang tak bisa menjadi ibu dari anak-anak Daren. Sehingga menyarankan agar suaminya mencari wanita lain yang bisa memberikan hal itu untuk suaminya.

__ADS_1


“Sumpah janji pernikahan kita sesungguhnya tidak hanya di saksikan oleh manusia saat Ijab dan Qobul telah terucap. Namun, sudah tercacat oleh malaikat dan di restui Allah. Bukankah kita sudah berjanji akan menerima satu sama lain dalam suka dan duka. Dalam sehat dan sakit. Jika salah satu dari kita berkhianat artinya kita sudah melukai Allah. Kita berdosa, Umi.”


“Aku bahkan tidak bisa membedakan apakah aku menikah dengan seorang CEO atau Uztad.” Zahra menepikan sedihnya, menggantikan dengan sedikit senyum yang tersampir di wajahnya menyadari betapa pria bernama Daren Putra Mahesa ini sungguh menerima dia apa adanya.


“Umi … tolong jangan pernah berpikir Abi akan menikah lagi jika kita sungguh tak bisa mendapat keturunan. Kita bisa mengadopsi anak, jika Umi sungguh rindu mendengar tangis bayi di rumah kita. Kita juga bisa melakukan program bayi tabung, sebab hanya system ovulasimu yang bermasalah, beda kasus jika rahim Umi yang tidak ada. Tapi Abi tidak pernah memaksakan kehendak, bahwa Umi harus memberi anak untuk Abi. Saat Allah menunjukkan jalan untuk memilikimu, Abi sudah sangat bersyukur. Tentang cobaan atau ujian rumah tangga kita tidak di karuniai keturunan, bagi Abi itu hanya bagian dari cara Allah melihat kesetiaan kita saja.” Daren sungguh tidak memiliki pikiran buruk atas permasalahan kandungan istrinya yang katanya bermasalah itu. Ia sungguh mencintai Zahra. Juga percaya pada ketentuan Allah pada rumah tangga mereka.


“Terima kasih … Abi dapat menerimaku dengan segala kekurangan. Allahu Akbar, memberikan aku tulang rusuk yang sungguh sempurna seperti Abi.” Zahra mengecup kening Daren setelah menyalimi tangan suaminya dengan takzim.


Tetapi Daren tidak terima akan gerakkan Zahra. Ia justru mengecup bibir ranum istrinya. Zahra hanya bisa mematung dengan manik mata yang membulat sempurna. Bagai baru kemarin mereka sebagai pengantin baru.


“Umi selalu membuat Abi rindu setiap hari …” Bisik Daren lembut di daun telinga Zahra. Sambil meyerempet bagian lejer jenjang nan putih di depan bibirnya. Lalu kemudian kembali memagut bibir Zahra dengan lama dan makin dalam.


“Walau mungkin usaha kita tak pernah berhasil. Setidaknya kita tak pernah bosan untuk berusaha kan, Mi.” Nakal Daren menyampaikan itu sembari melucuti pakaian yang hanya menghalangi tujuannya. Menggauli istrinya dengan segenap rasa yang membuncah dalam hatinya.


Tanpa ragu Daren sudah mengungkung tubuh polos di bawah tubuhnya. Keduanya bermain dengan syahdu dan mesra. Mereguk indahnya surga dunia pada malam yang semakin larut. Setelah keduanya sudah saling terbuka akan pemikiran yang sempat saja melenceng, akibat hasutan setan yang sangat merusak otak Zahra.

__ADS_1


Suara lenguhan yang Zahra keluarkan selalu mampu membuat Daren makin kalap. Semakin bersemangat untuk menciptakan sebuah melodi yang sangat merdu. Sebab erangan Zahra juga memancing desa han Daren yang merasakan kenikmatan tiada tara. Keduanya sudah halal, bukankah wajar bagi mereka saling memberi dan menerima sesuatu yang membuat keduanya bahagia. Nirwana fana sudah berkali-kali mereka tembus. Cinta sungguh membuat keduanya mabuk kepayang. Urusan usaha itu akan berbuah atau tidak. Bagi mereka hanya pengasihan Allah. Melakukan ibadah dengan cara ini adalah hal praktis mendapatkan pahala.


Senyum tak pernah luntur sepanjang ibadah itu berlangsung, di tengah lenguhan yang saling bersahutan, hingga mereka tiba pada finis. Sampai pada puncak kenikmatan itu sendiri. Daren mengerang hebat, sedangkan Zahra terkulai lemas meladeni suami yang selalu perkasa mengagahinya. Mungkin hanya bagian ini ke samaan Daren dengan Kevin dan Diendra. Mereka adalah tipe lelaki kuat dan gagah dalam hal menggempur wanitanya.


“Terima kasih Umi Zahra tersayang.” Kecup Daren pada kening basah Zahra yang sungguh terlihat letih melayaninya.


“Itu hak mu Abi Daren tercinta.” Senyum cantik Zahra selalu mampu melumpuhkan hati Daren. Ia sungguh bucin pada istrinya. Buktinya saat istri di nyatakan mandul pun, tak berkurang satu persenpun rasa cintanya.


Bagi Daren Zahra adalah satu-satunya wanita yang pernah ia pinta pada Allah. Dan akan untuk selama-lamanya, Zahralah istrinya. Satu untuk selamanya. Apapun resiko yang ia hadapi, bahkan saat Allah menguji kesabaran mereka dalam hal mendapatkan buah hati atau tidak. Daren tidak goyah. Tetap akan memiliki satu istri yaitu Cut Zahra.


Bersambung …


Naah readers Nyak semua pada bahagiakan. Bahwa Daren akan tetap setia. Akan hanya memiliki satu istri. Sesuai Judul ya … CUKUP SATU.


Makasih tetap setia bahkan tak mau ini segera tamat.

__ADS_1


Komen kalian adalah mood boster Nyakuntuk selalu ingin terus menulis. Tak perduli ini akan end di bab berapa. Sebab Nyak pernah janji kalau Muna akan punya anak empat dulu baru ini akan benar-benar selesai.


Wasallam.


__ADS_2