
Muna uring-uringan, entah lebay atau wajar. Sulit baginya menerima kenyataan jika kini ia berbadan dua kembali.
“Abang sengaja bikin Muna hamil ...?” pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Muna di malam hari. Ketika mereka sudah berada di dalam kamar tidur mereka.. Sebab, setelah Kevin minta maaf dan memeluk Muna di ruangan dokter Obgyn tadi. Mereka pun pamit untuk kembali kerumah. Sejak itu Muna melakukan aksi diamnya, hanya berinteraksi dengan dua buah hatinya. Seperti biasa namun berusaha menghindar untuk menegur Kevin. Tapi setelah mereka kini sudah berada dalam ruang yang sama dan hanya berdua saja. Muna merasa perlu untuk kembali membahasnya, melanjutkan mengungkapkan kekesasalannya.
“Ga juga.” Jawab Kevin datar,sambil menghadap laptop memerikasa email yang masuk.
“Abang, ga sungguh-sungguh kan ijinkan Muna kerja dan melanjutkan cita-cita ...?” tanya Muna lagi dengan nada suara yang rendah, sangat rendah. Terdengar nada kesal yang amat dalam pada intonasi suaranya.
“Bicara apa sih ...?” Kevin masih terlihat sibuk dengan pekerjaan yang tak bisa di tunda untuk dibereskan.
“Ini ... Muna jelas di buat bunting lagi oleh abang. Terniat banget ya, sampe motong sarungnya.” Ujar Muna yang tidak peduli jika suaminya tengah sibuk itu.
“Ga gitu.” Kevin hanya sepotong-sepotong menjawab pernyaaan Muna, bahkan tanpa menoleh kea rah istrinya tersebut.
“Mestinya abang jujur saja dari awal. Kalo ga ijinkan Muna jadi wanita yang bekerja di luar rumah. Abang bisa langsung bilang sama kakek untuk menolak warisan itu. Sehingga Muna bisa jadi pabrik anaknya abang. Ngedekem aja di rumah, hamil tiap tahun, ngalahin kucing.”Muna masih dongkol, tidak terima dengan kehamilan ketiga ini.
“Ngomong apa si Mae ... ?” Kevin terusik dengan pernyataan istrinya. Buru-buru mematikan layar monitor yang menyala sejak tadi. Dan siap memberikan penjelasan untuk istrinya.
__ADS_1
“Ngomongin kehamilan ini lah.” Muna berubah galak. Sungguh hatinya keras, sungguh seolah merasa di tipu oleh suami sendiri. Dengan segala rayuan mengajaknya berhubungan badan, bahkan berakting menggunakan sarung pengaman, yang nyatanya hanya berfungis sebagi penutup batang, bukan kepala yang menjadi penyebab utama terjadinya pembuahan pada rahim yang baru saja pulih pasca melahirkan anak kedua.
“Mae ... kamu itu wanita bersuami. Apa masalahnya dengan kehamilan itu?” Kevin tersulut, hatinya meradang. Merasa seolah di salahkan dengan tuduhan yang bercam-macam.
“Dari awalkan abang sudah janji kalo Muna boleh kerja, tapi. Muna di buat hamil terus. Kapan Muna kerja dengan benar.” Suara Muna naik satu oktaf. Beruntung kamar mereka kedap suara, Aydan sudah tidur di dalam kamarnya di temani Bunda Laras. Annaya sedang di kamar lain bersama Ami. Sehingga keduanya bisa bertengkar dengan leluasa.
“Abang ijinkan Muna kerja dan melanjutkan cita-cita, kok.” Tukasnya sudah menatap Muna yang berdiri dengan dua tangan di pinggang, seolah menantang suaminya.
“Alaaaah bohong …!!! Buktinya Muna lagi lagi di buat hamil lagi, hamil lagi. Ini bukan hanya soal Muna yang mau serius kerja Bang, ini soal perhatian Muna ke anak-anak, usia Naya bahkan tepat setahun nantinya, tapi sudah harus punya adik. Ia bahkan mungkin baru bisa jalan atau hanya masih bisa berdiri saja, tapi Muna sudah harus menggurus bayi kecil lagi. Abang mikir ga, tentang psikis Naya …?”Muna sudah tidak berdiri. Ia terduduk berurai air mata di tepian ranjang mereka.
“Muna tidak hanya memikirkan tentang pekerjaan. Toh Abang telah menjadi wadir di rumah sakit. Tapi tugas seorang ibu itu tidak tergantikan Bang. Aydan masih sempat menikmati ASI hingga dua tahun. Lalu mengapa kita tidak bisa adil pada Naya …? Ia bahkan hanya bisa menikmati ASI hingga usianya 6 bulan saja. Itupun ia sendiri yang memutuskan untuk berhenti. Sejak Muna hamil Naya, selalu rumah sakit tempatnya berakhir, bahkan kini iapun sudah merasakan sakitnya jarum infus. Tidak kah abang memikirkan hal itu …?” Muna melemah, sungguh ia ingin di mengerti saat ini.
“Mae … maaf. Waktu itu abang hanya iseng. Tidak terpikir akan jadi. Dan itu hanya pernah abang pakai sekali.” Jujur Kevin duduk di depan Muna sambil meremas kedua tangan istrinya, sambil sesekali mengusap basah pipi Muna.
“Kapan …?” tanya Muna ingin tau. Kapan ia tertipu.
“Waktu kita di Singapura. Acara Gilang dan Gita.” Jawabnya lugas. Oknum gitu ya. Tentu tau kronologis yang benar, saat di mintai keterangan.
__ADS_1
“Abang senang , usaha bang ga sia-sia ya.” Sindir Muna masih dengan rasa dongkol yang teramat berat di hatinya.
“Sayang … bisa ? udah aja marahnya.” Ujar Kevin lembut sambil mencium-cium tangan Muna sungguh seperti orang yang tampak menyesal.
Muna tidak menjawab. Ia hanya membuang muka, sumpah kesal rasanya.
“Janin ini, abang yang inginkan. Tiap kali kita melakukannya tak pernah abang lupa membacakan doa niat agar setiap cairan itu keluar dan tersembur dalam rahimmu. Akan menjadi makhluk yang di lindungi Allah. Di jauhkan dari gangguan se tan serta di rezekikan untuk kita.” Kevin mengelus perut Muna yang memang tidak rata. Dan itu memang Kevin sadari sejak mereka di Cikoneng bukan? Bahkan saat itu Kevin sudah mulai curiga dan menyindir Muna. Tetapi Muna malah sewot. Dan hal itu tentu terjadi, sebab hormone estrogen, progesterone, oksitosin, prolakti sudah ikut beraksi dalam tubuh istrinya tersebut.
Muna masih diam seribu bahasa, menegakkan punggungnya, menengadahkan kepalanya agar air matanya tak tumpah lagi.
“Maaf jika membuatmu hamil lagi. Sungguh abang tidak sejauh Mae berpikir, tentang rapatnya jarak tersebut. Tapi sekali lagi Abang mau bilang. Abang sangat menginginkan buah hati ini. Abang janji akan meringankan bebanmu selama hamil, sayang. Naya akan semampu Abang berikan kasih sayang bahkan ia akan menjadi prioritas utama Abang. Tolong, terima kenyataan jika kini Mae sudah punya seseorang yang harus di jaga lagi di sini.” Ujar Kevin memohon sambil terus mengelus perut Muna.
“Ia sudah tiga bulan, kita bahkan sempat naik paralayang di pantai waktu itu. Tapi dia tetap bertahan dalam rahimmu, Sayang. Tidak kah menurutmu ia sangat ingin hidup bersama kita.” Lanjut Kevin meyakinkan istrinya. Agar segera beralih ke mode syukur.
“Pliiiish, terima dia demi Abang. “ Pinta Kevin mecium perut Muna lama.
Bersambung …
__ADS_1