CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 146 : HAI BIJI KACANG


__ADS_3

Kevin pria sempurna dalam hal menciptakan suasana romantis. Ia sangat peka dalam hal membaca situasi. Hanya raganya di Bandung untuk tetap menjalankan perusahaannya, tapi tidak dengan jiwanya. Bukankah ia cassanova, yang tak bisa jauh dari santapan ranjang. Lima hari tanpa bercinta itu membuatnya gundah gulana. Ia terbiasa menyalurkan hasrat biologisnya dengan teratur dengan pasangann halalnya.


Apa gunanya kekuasaan jika tidak di gunakan. Maka, sebelum benar tiba di Jakarta. Semua telah ia kondisikan. Ia hapal dengan alasan Muna yang pasti akan menolak saat di mintai jatah, jika mereka akan bertukar peluh di kamar rawat inap Annaya.


Lalu, apa guna statusnya sebagai Wakil Direktur Hildimar Hospital itu. Bukankah hanya dengan menekan beberapa angka pada gawainya saja, Ia sudah dapat dengan mudah memberi perintah untuk pegawainya menyiapkan sebuah kamar untuknya bercinta.


Untung saja Kevin masih waras, sadar jika itu hanya kamar VVIP sebuah rumah sakit. Ia bahkan hampir sempat meminta petugas untuk menebarkan kelopak mawar merah di atas tempat tidur empuk, tempatnya dan Muna nanti bertempur.


Tapi, ia tau. Muna tak pernah suka kenorakkannya tersebut. Muna mau di kurung di kamar sebelah saja, bagi Kevin sudah anugrah. Sehingga, ternyata bukan hanya Kevin yang mendamba. Muna bahkan mau-mau saja di serbu bahkan hanya masih di balik pintu.


“Aaaah abang.” Rengek Muna manja saat dengan posisi berdiri Otong sudah meringsek Mumun dengan kuat dan dalam.


“Heeem … kangen Mae.” Rintih Kevin pelan di telinga istrinya.


Huush … bubaar. Bubar, ga usah nempel-nempelin telinga di balik pintu ya. Sebab ruangan itu kedap suara, juga sudah terkunci. Kita ijinkan saja pasangan halal itu saling melepas uneg-uneg mereka setelah lima hari terbenan dalam kesibukan mereka masing-masing.


Kevin tidak hanya menyiapkan kamar. Pakaian ganti untuk mereka berdua juga sudah siap di kamar ruang rawat inap tersebut. Dan mereka tidak hanya berakhir di balik pintu. Ranjang empuk yang sudah di siapkan tentulah menjadi tempat mereka mengakhiri ronde ke dua mereka. Dan alasan keluar mencari makan tadi, jelas hanya isapan jempol saja.


Hanya Muna yang terlihat tersipu agak malu, saat kembali ke kamar VVIP no.6 tempat Annaya di rawat, rambut Muna basah setelah mandi besar. Siapa yang berani menegur atau sekedar berkomentar dengan penampilan pasangan majikan itu. Bukankah tak berfaedah bagi para pegawai mereka untuk menyimpulkan apa yang baru saja mereka berdua lakukan.


Keesokan harinya, Annaya sungguh telah di ijinkan pulang. Keadaanya sudah membaik, ia sudah kembali ceria. MPASI pun sudah di ijinkan untuk ia konsumsi. Sebab Muna juga sudah menyampaikan pada dokter, perihal Annaya yang sudah semakin jarang menyu su padanya.


“Baik bu, ini obat yang masih harus baby Annaya minum. Tolong sampai habis ya agar kondisinya semakin fit.” Ujar dokter itu menyampaikan dengan ramah.


“Baik terima kasih dokter. Lalu, bagaimana dengan kemundurannya menerima ASI saya, dokter? Usianya baru 6 bulan. Dan itu masih masa emas untuk Naya menerima ASI Ekslusif.”

__ADS_1


“Soal menerima ASI ekslusif tidak selalu harus dengan menyu su langsung. Bisa saja, mungkin ia lebih suka pu ting dot. Ketimbang pu ting payud@ra ibu. Jadi sebaiknya jangan di paksa. Ikuti saja maunya dia, senyamannya dia saja lah, begitu.” Lanjut dokter. Muna mengangguk setuju juga sebenarnya tak terima. Merasa gagal menajdi seorang ibu, jika anaknya hanya meminum ASInya hanya sampai usia 6 bulan.


“Bagaimana dengan stok dan ketersediaan ASI ibu, apa masih lancar?” tanya dokter itu kembali


“Eheemm … masih keluar sih.” Jawab Muna agak tergagap.


“Ibu menggunakan alat kontrasepsi …?”


“Oh … tidak. Saya selalu lupa ingin memasang IUD, sebab bukankah sebaiknya itu di pasang saat haid. Dan setelah melahirkan Naya, sampai sekarang saya belum mendapatkan haid.” Jawab Muna mengingat-ingat.


“Pernah perikasa atau USG begitu …?” Dokter anak itu mengorek informasi lagi.


“Pernah, waktu Naya berusia 3 bulan.”


“Ehm … maksudnya tidak ada gangguankan?” lanjutnya.


“Iya … waktu itu. Kata dokter kandungan baik-baik saja. Hanya rasanya memang agak gimana gitu, karena tak mendapat haid. Padahal maunya KBnya pake sitem kalender saja.” Curhat Muna pada dokter di hadapannya.


“Saya sarankan, lebih baik ibu memeriksa secara rutin Rahim ibu. Apa lagi sudah lama tak mendapatkan haid. Mungkin akan ada obat atau treatment apa yang bisa di jalankan, agar ibu bisa haid dengan lancar.” Lanjut dokter tersebut.


“Ya … sepertinya. Setelah ini saya tak akan menunda untuk memasang IUD.” Tekad Muna yang hanya di pandang Kevin dengan seksama. Ya, Kevin sedari tadi ada di sebelah Muna. Ikut mendengar penjelasan dokter anak tadi.


Annaya sudah di rumah, kembali tertidur nyeyak bersama Ami di kamarnya. Sedangkan Muna dan Kevin masih terlihat sibuk berputar-putar di dalam rumah sakit mereka, untuk menunggu giliran masuk berkonsultasi pada dokter kandungan.


“Wah … lama tak berjumpa. Gimana kabarnya?” sapa dokter obgyn itu ramah pada pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.

__ADS_1


“Kabar baik dokter. Ya … lama ga bisa ke sini. Dan akhirnya hari ini saya putuskan untuk memasang IUD saja, walau tidak dalam keadaan haid.” Jawab Muna dengan nada akrab.


“Huum. Oke. Kita siapkan dulu. Tapi, sebelumnya kita perikasa dulu ya.” Dokter itu, tak serta merta mengikuti kemauan Muna. Ia dokter Obgyn, jangankan bentuk tubuh, bahkan dari cara Muna mengambil nafas saja ia bahkan curiga jika direktur rumah sakit ini, tengah berbadan dua.


Kevin tidak pernah keberatan saat Muna berkonsultasi pada dokter Ariyeta ini. Sebab ia adalah seorang wanita. Tak masalah baginya jika tubuh Muna di lihat dan mungkin akan di raba nantinya.


“Haaii … biji kacang. Apa kabarmu?” Sapa dokter itu dengan senyum lebarnya.


“Gimana …?” tanya Muna heran.


“Maaf bu. Saya tidak boleh memasangkan alat kontrasepsi pada mulut Rahim ibu. Karena di dalam sana sudah ada mahkluk hidupnya.” Kekeh nya tertawa.


“Maksudnya …?” Muna bergegas duduk memastikan yang ia dengar adalah sebuah kesalahan.


“Sebentar … belum di ambil foto si dede bayinya.” Lanjut dokter itu meminta Muna merebahkan dirinya kembali di ranjang pasien tersebut.


“Dokter .. ini gimana sih. Apa maksudnya?” Muna agak berang tak ingin salah dengar lagi.


“Ini, dalam Rahim ibu ada janin. Sudah berusia 3 bulan, beratnya sekitar 23 gram. Panjangnya 7,5 cm  nih. Tuh… dengerkan suarabjantungnya.” Jelas dokter Ariyeta sejelas-jelasnya.


Bagaimana hati Muna tidak mencelos, telinganya belum tuli. Bahkan ini adalah kehamilan ketiganya. Tentu ia paham dan mengerti dengan irama jantung yang terdengar dari alat yang dokter itu gunakan memeriksa keadaanya.


Apa yang sesungguhnya Muna rasakan?


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2