
Manusia memang muara dosa. Tak perlu repot dan perjuangan yang besar untuk menambah dosa. Cukup dengan menghibah saja sudah jadi deh. Instan bukan.
Berbicara tanpa dasar, sudah melebihi Tuhan yang menciptakan manusia saja. Bahkan lebih pandai memprediksi, ngalah ngalahin mbah dukun dan google saja.
"Stt... bu ibu. Jangan berburuk sangka. Kita kenal saja belum, masa sudah di judged." Dari sekian kumpulan itu, rupanya ada satu yang remnya belum blong.
"Bukan nge jud, bunda. Hanya mengingatkan ibunya Gilang saja. Agar waspada. Sudah banyak kejadian seperti itu. Anak menikah dengan anak orang kaya, orang tua di terlantarkan. Para orang kaya juga kalo sudah di posisi nyamannya itu, jangankan mertua, orang tua kandung sendiri juga malah sering di ungsikan ke panti jompo saja. Malas ngurusnya." oh... gosip, gosip. Di gosok gosok terus makin siip dah.
"Iya betul itu bu Gilang. Tapi, tenang saja. Kan ibu masih punya Arum. Jangan di kasih ijin menikah lagi. Nanti dia di bawa suaminya pergi ninggalin ibu. Sebatang kara deh ntar bu." Lengkap pake bingit deh, topik ghibah di sore kamis itu.
"Iih... ngapain ngelarang Arum nikah, kenapa ga ibu Gilang aja yang nikah. Supaya ada yang nemenin. Jadi walau Arum nanti nikah lagi dan Gilang ga pulang pulang dari rumah istrinya. Ibu tetap ada yang jaga, ya kan ibu ibu." Kekeh ibu itu, yang mulut dan otaknya ga pake ayakan tepung, gaskeun.
"Astagafirullahalazim. Sebelah kakiku sudah di tanah kubur bu ibu. Hanya nunggu jemputan azal ini. Ngapain menikah, sudah pikun apa?" Bantah ibu Gilang menyela isi ghibahan yang beralur bebas itu.
"Ha..ha.. mana tau yang namanya rejeki. Kali kolega besan yang tajir ada yang duda dan butuh teman hidup, menunggu hari tua untuk hidup berdua." Sahut yang lain lagi.
"Astafirulah... astafirulah... Nauzubillah min zalik." Dzikir ibu Gang merasa panik. Udah jarang ngerumpi sama ibu ibu komplek. Tenyata isinya udah setajam silet aja.
"Bercanda bu. Ah... ibu mah, gitu aja di anggap serius. Jangan di ambil hati atuh. Yang penting ibu teh, tetep jadi yang nomor satu di hati Gilang. Jangan kasih kendor atuh, jaga hati anak laki laki ibu. Biar tetap lengket dan sayang sama ibu." Busyeeet bentuk bisikan setan apa lagi ini.
"Itu urusan gampang bu Gilang. Dimana mana anak orang kaya tuh pasti manja. Ga bisa kerja rumahan, ga bisa masak. Paling bisanya cuma shoping buang buang uang saja. Jadi, ibu tetap harus jadi ibu terbaik untuk Gilang, yang melayani kebutuhan lahirnya dengan makanan lezat seperti yang biasa ibu berikan untuknya sejak kecil. Ya kan bu ibu?"
"Betull... betul pake banget bingit binggo." Jawab para penghibah garis keras itu.
"Eeh... tapi kalo mantunya kaya. Sebaiknya jangan di musuhi bu. Ntar ibu ga di traktir belanja lho. Kapan perlu minta di naikin haji lah Bu. Kan kaya besannya mah." Racun... benar benar racun dah isi obrolan ini.
"Sudah sudah.... mulut kok lames banget siih bu ibu. Ini rujak kapan di makan siih. Ngobrol aja dari tadi." Salah satu dari mereka memang masih ada yang dalam posisi waras, di banding yang lain.
"Mampuuus... gilak. Ini sambel pedasnya level berapa sih, pedes banget. Ampun dah." Coloteh ibu yang sudah mulai memamahbiak rujak dan sambal hot jelotot bumbu ghibah itu.
"Masa sambel ini pedes? masih pedes omongan kalian tadi kali.... hahaha." Bahak tawa terlerai di antara mak emak ghibah squad itu.
"Mana... mana sini coba." Ucap yang lain. Dan ibu Gilang hanya berani memandang sambal itu, sebab punya penyakit maag. Sehingga tak berani menyentuh sambal yang terlihat merah karena kebanyakan cabe itu.
"Huuuh... ini bukan sambal kacang aroma cabe. Tapi sambal cabe aroma kacang mak. Masih ada bahannya ga? buat yang baru gih yang lebih manis. Bisa putus lidah kalo makan sambel beginian." omel yang sudah mencicipi sambal tadi.
__ADS_1
"Bukan hanya lidah yang putus, tapi besok pagi, WC bakalan jebol kena boom semua." Tawa yang lain lagi.
Terpaksa mak Dinda memindahkan sambel pedas angkara murka itu ke piring, untuk kemudian menguleg ulang sambel yang lebih sopan dan santun, sesuai permintaan ibu ibu yang lain.
"Naah beginikan lebihkan lebih manusiawi untuk di nikmati. Kalo yang tadi, gilak. Parah." Puji mereka kembali saat sambel manis sudah tersedia dalam waktu singkat.
Sebuah kendaraan roda empat bak terbuka keluaran dari Mitsubishi, Toyota Hilux silver itu berhenti di depan rumah keluarga bu Dian ibu Arum dan Gilang.
"Permisi di sini rumah pak Gilang Surenra bu?" tanya seorang pria bercelana pendek kaos oblong itu, bertanya pada ibu ibu ghibah squad tadi.
"Iya mas. Benar. Ada apa ya?" tanya mak Dinda yang paling rempong.
"Oh... ini mengantar paket. Bisa di taruh di mana ya?" tanya lelaki muda tadi kembali.
"Sini, titipkan ibu saja. Mana paketnya?" tanya ibu Gilang menyodorkan dua tangannya.
"Maaf bu, ibu bakalan ga kuat kalo cuma dengan dua tangan itu." Kekehnya kembali.
"Kenapa?"
"Hah...? Sebanyak itu? emang apa isinya?" mak Dinda masih mendominasi sesi wawancara itu demi mendapatkan suatu kebenaran.
"Maaf bu, kami hanya kurir pengantar barang. Di perintahkan untuk mengangkut dan menyusun di rumah pak Gilang. Soal isinya, tanya sama pemesan saja." Tegas lelaki itu, akan memulai pekerjaannya.
"Mas.. itu sovenir pesanan pak Gilang ya?" tanya salah satu tim dekorasi yang masih tampak menentukan denah posisi acara sabtu lusa.
"Oh... iya mbak." Jawab anak muda tadi.
"Iya ... pak Gilang sudah menghubungi kami tadi. Sini tolong susun di sini." Perintah tim dekorasi itu. Dan pemindahan paket itu pun berlangsung lama.
Belum selesai paket itu berpindah tempat. Tampak sebuah mobil Audi R8 warna hitam sudah berhenti di depan pekarangan rumah bu Dian.
Mau keluar dong mata mak mak ghibah squad melihat dengan mata kepala mereka masing masing, bahwa yanh keluar dari mobil sport itu adalah Gilang bersama wanita cantik yang masih mengenakan pakaian kerja.
"Assalamualaikum." Sapa Gilang dan Gita bersamaan.
__ADS_1
"Walaikumsallam." Ghibah squad serempak menjawab salam itu.
Gita sudah langsung meraih tangan kanan mertuanya untuk di salimi.
"Ish... tangan ibu kotor lho." Ibu Gilang agak kikuk.
"Ga papa bu. Gita juga belum mandi." Jawabnya sambil memeluk ibu mertuanya itu.
"Waah ini ya istrinya Gilang. Cantik." Mak Dinda langsung celetuk dong.
"Oh... iya bu ibu. Ini perkenalkan istri Gilang. Namanya Gita." Jawab Gilang dengan senyum terkembang. Dan Gita tanpa di perintah sudah menyalami satu per satu tangan mak emak Ghibah squad tadi.
"Lang, itu paket apa?" ibu Gilang tak sabar ingin tau apa isi paket yang baru selesai di susun itu.
"Itu sovenir buat di bagikan saat acara ngunduh mantu bu."
"Isinya teh, apa atuh Lang?" Mak mak kepo dong.
"Paket sembako." jawab Gilang pelan.
"Hah... sembako. Ada minyak gorengnya ga sih Lang?" Yang lain udah nyambar dong ingin tau lebih banyak.
"Ada bu. Dua liter ya neng kemarin kita pilihnya?" tanya Gilang pada Gita yang sudah selesai bersalam salaman mirip orang silaturahmi lebaran.
Bersambung...
Eeiits... udah 1k aja nyak nulisnya.
Cut
Lanjut di part sore nanti ya.
Sambil tunggu kiriman dari readers
πΉπΉββππππ
__ADS_1