CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 180 : KHILAF METIK MANGGA


__ADS_3

“Asep … kamu lagi cari kidaman istri atau mau penelitian?” Asep menelan salivanya sendiri, baru tersadar kecerewetan sang istri sudahmenular padanya.


“He … he … he . Maaf Pak. Istri saya nanyanya gitu.” Asep malu, sampai wajah putih nantampannya memerah menahan rasa mmalu yang baru ia sadari.


“Ha … ha… ha… Beda kepala anak beda permintaan dan kidaman Lho, Sep. Kami punya 3, dan semuanya mempunyai sensasi ngidam yang berbeda-beda. Sabar ya … buruan pulang sana, ajak dia langsung makan buah itu di bawah pohonnya. Nanti saya telpon istri saya, biar siapkan cocolannya sekalian.


“Alhamdulilaaaaah. Makasih banyak Pak. Permisi.” Pamit Asep yang sepertinya sudah tidak perduli dengan Tukin atau tunjangan jenis apapun, yang mungkin akan terpotong nantinya, karena menomor satukan kehendak istrinya,


“Nyaaaaaiii … akang pulang.” Rumah sepi, bahkan tidak ada sahutan menyambut kedatangannya.


“Heeiii … udah kayak Ambu aja. Ngambek langsung minta pulang. Nyai kaya Nia Daniaty.” Ucap Asep asal. Saat melihat istrinya sudah berpakaian rapi bahkan lengkap dengan tas yang berisi penuh pakaian, mungkin.


“Nia Daniaty …? Siapa lagi??”


“Pulang kan saja, aku pada ibuku atauu ayahkuuuuu …” Asep dengan cueknya menyanyi dengan suara cemprengnya.


“Akang ngeseliin.” Siska tentu saja gengsi untuk tersenyum mendengarkan nyanyian fals suaminya.


“Iya … tapi sayang Nyai kok.” Rayunya tanggung.


“Antar ke Cikoneng aja. Kan ada Irma yang bisa bantu Akang.” Sewot Siska kesal.


“Stt … ucapan adalah doa. Kalo Nyai pergi … beneran Akang boleh di jaga cewek lain?” Asep bukan tipe perayu ulung seperti Kevin atau segombal Gilang.


“Mana mangganya …? Ga ada kan? Akang sudah ga sayang Nyai.” Siska cepat mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Ada … yuk ke sana.” Tariknya pada tangan Siska.


“Kemana …?”


“Katanya mau makan di bawah pohon sambil minum es cendol.” Jawab Asep memasang helm pada kepala istrinya. Ya … dari semua pasangan, mereka yang paling lambat kaya. Padahal Asep punya warisan dari Abah Dadang. Sebuah kebun the, yang mestinya cukup untuknya membeli kendaraan roda empat. Tapi, hal itu belum ia dan Siska bicarakan secara serius.


“Oh … udah dapat ?” Sebegitu mudahnya kemarahan Siska Sirna setelah mendengar pesanannya tadi sudah suaminya dapatkan.


Dalam waktu kurang lebih 25 menit, mereka pun tiba di rumah Pak Kabid yang sungguh sudah menghubungi istrinya untuk menyiapkan cocolan untuk mendukung kidaman Siska.

__ADS_1


“Itu … tuh yang itu Kang, sebelah kanan.” Siska menunjuk dari bawah dan Asep sudah betengger saja di atas menunggu perintah sang ibu suri.


“Yang kiri itu juga, besarnya sedang, Kang.” Siska sibuk jadimentor dari bawah, sampai tak sadar mereka sudah memetik hampir setengah bakul yang di sediakan ibu rumah.


“Nyai … udah ya. Kebanyakan, emang habis semua …?” tegur Asep pada istrinya yang kalap. Mana Siska sadar jika buah itu bahkan sudah lebih dari 30 biji. Setiap buah yang di petik Asep selalu di penagn dan di ciuminya, untuk menghirup aromamnya saja, lalu ia lepas. Di ganti dengan buah yang baru lainnya.


“Hah …?” pekiknya sendiri setelah menunduk kebawah menyadari sudah banyak buah yang di petik suaminya.


“Kang … turun. Udah.” Pertintahnya. Dengan cepat Asep segera melompat untuk turun.


Hup.


Mulus, tanpa ada drama jatuh seperti kisah lain pada umumnya.


“Kaaaang, maaaf.” Rengeknya merasa bersalah.


“Kenapa lagi …?”


“Kebanyakan metiknya …”Rasa bersalah Siska baru muncul saat melihat buah itu sungguh terlalu banyak. Bahkan ia makin merasa gugup saat ibu rumah berjalan menuju tempat mereka berpijak kini.


“Bu … maaf. Saya metiknya khilaf.” Asep yang lebih dahulu meminta maaf pada istri bosnya itu.


“Waaah makasih pengertiannya bu.” Jawab Asep, sedangkan Siska hanya mengigit bibirnya agak merasa malu.


“Santau saja, ibu juga pernah hamil. Jadi tau rasanya ngidam. Ayo … mulai makan yang mana?” tanya ibu Vinda pada Siska.


“Huum … ga tau bu. Nyium bau getahnya aja sudah kenyang rasanya.”


“Ya Allah … Calon anakku, apa ibunya nih yang kelewatan.” Monolog Asep dalam hati.


“Jadi ga ada yang mau di makan niih?” tanya ibu itu dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya.


“Satu biji ini aja bu, yang paling menggiurkan.” Jawab Siska tanpa rasa bersalah.


“Oke … sisanya mau di bawa pulang atau coba makan di sini?” tanyanya sungguh tanpa raut marah sama sekali. Padahal yang Asep petik semua mangkal dan ranum. Yang mungkin dua minggu lagi bakalan besar dan masal sempurna.

__ADS_1


“Boleh cuma ambil satu ini ga, Bu …?” Siska bertanya pelan, sadar jika setengah pohon itu buahnya sudah pada hijrah ke dalam bakul.


“Boleh dong .. kalo Cuma mau yanbg itu aja ya , ga usah di paksa.”


“Tapi sisanya gimana bu?” tanya Asep tau jika keluarga itu jelas menderita kerugian karenaulah mereka.


“Ga papa … pohon mangga ini. Langganan tempat orang cari selera ngidam. Modelan istri kamu ini umum dan lumrah.” Jawabnya sambil mengupas beberapa mangga yang sudah di petik.


“Lalu sebanyak ini di apakan?” penasaran Asep.


“Dikupas semua lalu di buat manisannya. Di jual deh. Tuh di warung depan komplek. Kadang malah bisa nanya ke sini kapan asianan mangga buatan ibu ready.” Jawabnya dengan santai.


“Alhamdulilah, jadi ga mubajir dong bu.” Lega Asep mengusap dadanya.


“Iya … ibu malah senang ada yang manjat buat ibu. Jadi iku tinggal ngupas deh. Terima kasih ya.” Stok senyum bu Vinda memang banyak, selalu awet tak meluntur. Sungguh Asep pun ikut bahagia mendengar jika ulahnya tidak membuat istri kepala bidangnya merugi.


“Bu … di depan komplek ada jual es cendol?” tanya Asep yang ingat ujaran bosnya tadi di kantor.


“Oh ada … lengkap malah. Ada es kelapa, es cendol, dawet, es buahm es teller, es sarang burung, apa itu yang kekinian …? Pop ice, Boba aah apalah segala jenis es,ada semua pokoknya.” Bu Vinda malah lebih mirip sales yang menawarkan jualan produknya ya gaes.


“Kaaaang …. Ayo kesana” Pinta Siska manja.


“Eh … bu, es cendolnnya itu pakai gula aren ?”


“Gula aren ada, gula putih ,siyrup merah juga ada.” Jelas Bu Vinda kembali dengan tangan yang masih saja sibuk mengupas mangga muda di depannya.


“Itu gulanya di rebus atau di siram saja? Kotorannya di saring ga …b…” Mulut Asep sudah di bekap oleh tangan Siska. Ternyata Siska merasa malu sendiri saat suaminya bertanya sedetail itu pada istri KaBidnya.


“Ha…ha …ha kalian ini lucu.” Bu Vinda merasa terhibur dengan kedatangan pasangan pengantin baru ini.


Bersambung ….


Haiii readers … gimana?


Keturutankan yang kemarin mau nyak bahas tentang kehamilan Siska dan Asep.

__ADS_1


BTW ... 'RAHIM PELUNAS HUTANG' nya mohon di ramaikan yaa...


Terima Kasih🙏🙏🙏


__ADS_2