
Sementara tujuh hari tanpa Gita dan Gilang di Bandung. Tak anyal menimbulkan sedikit prahara dalam rumah tangga Kevin dan Muna yang pun sempat menciptakan drama picisan.
Alasan utamanya tidak lain dan tidak bukan hanya seputar perasaan Kevin yang tak pernah mau jauh dari Muna sang istri yang selalu membuatnya kangen tingkat dewa.
Perusahaan di Cisarua mestinya sudah buka. Tapi tertunda, sebab Kevin merasa tak sanggup untuk menjangkau perusahaan barunya itu sambil melakoni perannya sebagai CEO di perusahaannya yang di Bandung.
Pun Muna berkeras untuk tetap mengawasi jalannya administrasi Hospital Hildimar miliknya yang masih dalam tahap penyelidikan dari tim audit pilihannya.
Muna bekerja dengan profesional, ia tetap memperhatikan dua buah hati yang bersamanya di bantu Laras dan Ami. Baby sitter baru lagi untuk lebih intens menjaga Annaya.Sesuai perintah Kevin tentunya. Sebab, waktu Muna lumayan tersita dan banyak di rumah sakit.
Sisil mulai jarang melakukan pekerjaannya sebagai pengaudit, sebab masih sibuk mengurus anaknya yang memiliki penyakit kelaiann jantung. Sisa Erwin yang lebih dominan melakukan pengauditan. Bahkan lebih sering bersama Muna dalam hal bekerja sama demi cepat selesai pekerjaan tersebut.
Kevin, Muna arahkan untuk tidak tiap hari pulang ke Jakarta. Agar semua bisa berjalan maksimal dan cepat selesai.
“Miss Hildimar. Boleh ijin makan siang dulu …?” sopan Erwin Gunadi pada Muna realsi bisnisnya.
“Ya ampun maaf Pak Erwin. Ini kelemahan saya, kadang lupa makan kalo sudah asyik bekerja.” Jawab Muna merapikan pekerjaan mereka yang berserakan.
“Sama, miss. Kadang saya juga begitu, tapi keadaan lambung sudah tidak se fitt dulu. Maklum sudah tua, jadi harus jaga kesehatan supaya panjang umur.” Erwin mengutarakan alasannya.
“Oke, kita makan siang di mana nih?” semangat Muna saat ia pun merasakan lonjakan lapar di kampung tengahnya.
“Maunya apa …?”
__ADS_1
“Sepertinya yang hanget-hanget enak nih, cuaca agak mendung.” Simpul Muna memandang luar, ke arah langit yang memang tidak begitu cerah siang itu.
“Sop saja bagaimana?” tawar Erwin asal.
“Oke. Sesuai dengan yang saya bayangkan.”
“Mau bareng? Soalnya setelah ini masih ada dua jilid yang harus kita cocokan.”
“It’s oke. Yang penting cepat selesai.” Jawab Muna tanpa pikir panjang. Tanpa memikirkan efek kemudian. Jika saja ada yang usli dengan rumah tangganya. Yang sekarang sedang tidak tinggal dalam satu kota.
Erwin selalu kagum dengan selera makan Muna yang lahap. Apalagi dengan menu daging. Awalnya saja Muna memesan sop Iga bakar, selanjutnya steak sapi lada hitam yang berhasil ia jejal di perutnya hingga benar-benar kenyang.
“Lapar bu …?” ledek Erwin akrab.
“Enak, sumpah.” Jawab Muna tanpa menjaga imejnya. Ya itu adalah hari ke empatnya kemana-mana bersama Erwin Gunadi. Yang awalnya canggung, tapi karena seringnya bersama. Telah mampu mengabaikan tatanan hubungan sebagai relasi bisnis semata.
Erwin bukan satu-satunya lelaki yang Muna kenal dalam urusan pekerjaan yang membuat mereka dekat. Sewaktu kuliah pun Muna sering berinteraksi dengan lawan jenisnya, namun tidak seintens ini. Apalagi kini status Muna adalah ibu beranak dua, terlalu dekat dan cepat memang hubungannya terjalin dengan Erwin.
Muna hanya dekat dan akrab, tapi tidak serta merta bermain hati, walau ia hanya pernah jatuh hati sekali pada satu lekaki. Yaitu Kevin Sebastian Mahesa suaminya kini.
Tetapi entah, ada sisi kegenitan Muna yang tak bisa ia elakkan untuk merasa nyaman bekerja dan terbahak bersama dengan seorang Erwin yang juga memperlakukannya dengan manis dan sopan.
Ah, mungkin hanya perasaan Muna saja. Ia merasa asyik bekerja sama dengan pria dewasa ini. Tetapi, Muna tetap dalam koridor dan batasan yang wajar. Toh, selalu ada Nia sektertarisnya yang siap menjadi orang ketiga, jika mereka sedang tenggelam dalam berkas yang memang harus mereka audit.
__ADS_1
Empat hari berpisah dengan anak istri, sama saja seperti dalam neraka bagi Kevin. Jiwa raganya tersiksa, jauh dari istri tercinta. Jangan tanya betapa cerewetnya Kevin untuk sekedar menanyakan kabar Muna. Apalagi ia baru tau, kalau bukan Sisil yang mengerjakan audit itu. Tetapi Erwin. Jika Kevin bisa terbang, mungkin ia sudah bersaing dengan nenek sihir di udara untuk segera menemui Muna, menjaga Muna, permata hatinya tersebut. Tapi apalah daya. Ia sudah berjanji pada Gita dan Gilang. Akan menjaga kestabilan perusahaan saat mereka tak bisa pulang. Sabar, kata itu tidak hanya untuk Gilang. Tapi Kevin juga.
“Yang … abang pulang malam ini ya.” Rengek Kevin pada Muna saat waktu menunjukkan sudah pukul 10 malam, bahkan lewat. Karena memang banyak hal yang perlu Kevin selesaikan setelah lama berleha-leha jelang nikahan Siska.
“Sudah malam bang. Tidur saja di Bandung, besok siang baru ke Jakarta. Ga efisien juga, pulang dalam keadaan capek gitu.” Jawab Muna sambil mengoleskan lotion pada seluruh tubuhnya, saat Annaya sudah tidur sambil sambungan Video Call itu masih berlangsung.
“Mae, mau bilang abang ga perkasa kalo lagi capek …?” Kevin ngadi-ngadi banget kan. Muna bilang apa, dia nanggapinya apa.
“Yang bilang abang ga perkasa itu siapa?” nada suara Muna meninggi bingung dengan jawaban suaminya yang tidak nyambung.
“Bilang ga efisien kalo pulang malam. Itu sama saja Mae mau bilang, abang ga bisa gagahi Mae sampe pagi.”
“Terserah abang deh, Muna ngantuk. Udahan ya bang.”
“Heey … semudah itu Mae mau tutup VC ini. Mae kira abang enak, liat Mae pasang lotion gitu di hadapan abang. K0nak iya, Mae.” Kesalnya pada Muna yang seolah sengaja menggodanya saat hampir semua tubuhnya terekspos saat melakukan aktivitas rutin sebelum tidurnya itu.
“Ya maaf.” Jawab Muna singkat dengan cuek, tanpa beban.
Kevin tidak menanggapi permintaan maaf Muna. Memutuskan sambungan vicall. Kemudian mencari Tama untuk mengantarnya ke Jakarta malam itu juga. Dahsyat, Otong nih. Pasti Otong yang ga punya otak itu yang memprovokasi Kevin untuk nekat pulang ke Jakarta, malam itu juga.
Di perjalanan Kevin sengaja tidak mengaktifkan ponselnya. Sebab ingin ia gunakan untuk tidur saja selama di perjalanan. Enak saja, istrinya bilang kedatangannya tidak efisiean. Apa Muna sudah lupa betapa gagahnya suaminya itu.
Kevin, tidur pulas tanpa gangguan deringan ponselnya. Padahal Muna sudah lebih dari 10 kali menghubunginya, sempat panik. Karena tubuh Annaya mendadak demam tinggi.
__ADS_1
Muna hanya menggunakan piyama tidurnya, meluncur di temani Laras ke UGD Hospital Hildimar yang dapat di tempuh hanya dengan berlari saja, karena memang rumah mereka satu komplek dengan rumah sakit miliknya tersebut.
Bersambung …