
Mak Emak Ghibah Squad sepertinya sudah menyusun rencana dengan matang, dengan modus ingin ikut bantu bantu membersihkan sisa pesta yang di gelar, mereka berharap akan mendapatkan perhatian juga paket sembako lebih.
Dan kemudian bagai mendapat angin segar bagi mereka saat Gilang mengerti akan maksud mereka, yaitu boleh mengambil paketan sembako itu kembali. Oh... bukan kah minyak goreng 4 liter cukup untuk sebulan untuk pemakaian rumah tangga normal. Benar benar cerdas tuh mak emak rempong cari double rejeki.
Mak ghibah squad kini sudah berada di meja prasmana dengan membawa wadah makanan yang anti basi, siwareware itu. Dengan ramah, mereka lagi melakukan sesi wawancara pada pelayan cathering untuk menutup modus mereka yang sedang mentransfer makanan yang berlebihan tadi.
"Mbak... bisa minta kartu nama chatringnya, soalnya rendang sapinya ini empuk dan bumbunya pas sekali." Mama Ucah membuka obrolan.
"Iya benar dek, apa lagi gulai kambingnya. Aroma kambingnya benar benar hilang. Hanya yang pro lho yang bisa masak begini." Tante A'ai menambah volume pujian agar pihak cathering tak sungkan menambahkan sendokan pada wadah mereka.
"Hmm... kalo aku paling suka rasa ayam opornya. Masakannya khas seperti masakan ibu saya di kampung jadi kangen rumah deh." Puji bu Joyo, sementara tangan mereka sudah sangat trampil menambahkan isian siwareware yang mereka siapkan.
"Kalau saya suka bebek panggangnya, matangnya sempurna. Sangat cocok dengan selera lidah saya. Minta agak banyakan ya dek, sekalian buat sarapan besok." Mak Dinda tak mau kalah menggunakan teknik tinggi dalam urusan memuji demi mendapatkan porsi yang lebih banyak.
"Misiii... mbak. Jangan lupa sisihkan semua makanan ini untuk yang punya rumah ya. Terus ini, tolong minta sop iganya. Sama bebek panggang." Suara wanita yang agak asing di telinga mak emak ghibah squad.
Mereka sontak menoleh ke arah suara yang sudah menyodorkan tempat makanan yang tak kalah besar dengan milik tim GS. Sosok wanita yang tak familiar di mata emak emak rempong tadi.
Mak Dinda mengedipkan matanya pada tante A'ai. Mama Ucah juga bu Joyo, untuk memberi kode akan memulai aksi mereka selanjutnya.
"Maaf... ibu ini. Mertuanya Gilang ya?" Mak Dinda tanggap darurat banget.
"Oh iya. Bu." jawab mama Indira agak bingung.
"Sudah dapat di pastikan. Kelihatan lah dari tampilan yang paripurna ini. Wajah cantik, kulit kencang rajin perawatan. Belum lagi perhiasan berlian yang berkilauan, memancar sana sini ngalahi sinar bintang di malam hari." Mak Dinda juara dalam memuji manusia untuk mengambil hati mama Gita.
__ADS_1
"Ah ibu ibu ini bisa saja memuji. Biasa saja bu." Senyum Indira mengembang dong dapat pujian demikian.
"Haaaah. Rendah hati sekali sih. Tampilan begini di bilang biasa. Sebentar kita hitung outfitt yang ibu pakai hari ini dulu." Bu Joyo memancing yang lain ikut angkat bicara.
"Ga usah di tanya. Kain brokat yang ibu ini gunakan per meternya saja sudah 3 juta, ini brokat asli dari Perancis kan bu?" tante A'ai pintar menebak. Sambil memberanikan diri meraba lengan yang tertutup brokat ke emasan itu.
"Waah... kalo harga kainnya segitu yang ngejahit tentu di butik khusus dong. Jasa jahit saja sudah pasti belasan juta. Orang kaya mah bebas." sambung mama Ucah.
"Fix nih kebaya brokatnya saja auto 20jt. Apa kabar kain sutra untuk roknya? iiih... gemes deh pakaian sekali berdiri udah 30juta dong bu ibu." Tante A'ai pintar berhitung. Indira melayang ke angkasa raya dapat sanjungan tebak tebakan receh emak ghibah squad itu.
"Stt... tasnya, sepatunya, set berliannya, jangan lupa lho. Ya ampun, sekali jalan auto ratusan juta ini mah. Fix kita hanya remahan rengginang deh pas jejer sama mertuanya Gilang ini." Masak banget deh puja puji Mak Dinda. Kompak sekali ekspresi mak mak itu memuja tampilan mama Indira. Hadeeeh.
"Aaah ibu ibu ini, berlebihan banget mujinya. Ga segitu juga kok." Wajah Indira tersipu sipu, merasa tersanjung. Padahal tubuhnya hampir limbung mendengar semua itu, hampir benar semua tebakan mak rempong.
"Gilang beruntung banget ya bu, dapat anak gadisnya ibu, udah cantik, ramah, kaya lagi. Auto iri lho bu. Beneran titisan bidadari dah tuh anak, nuruni kecantikan ibunya dong." Celetuk mama Ucah makin melambungkan mama Indira ke khayangan hampir lupa daratan. Super sekali
"Mama Indira...!!!" Suara Kevin menggelegar, memotong kalimat yang belum selesai Indira ucapkan. Sontak Indira mendongak menatap resah pada tatapan tajam Kevin dengan wajah garangnya khusus untuk Indira.
"I...iya Vin." Agak gagu mama Indira menjawab. Berusaha menyembunyikan ketakutannya. Gugup donk, kalau sampai Kevin menghardiknya di tengah pemujanya. Mau di taroh di mana donk wajahnya.
"Papi minta kopi." Suaranya nyaring dan kaku. Indira mana berani membantah Kevin. Walau ia masih ingin berlama lama ngobrol dengan ibu ibu rempong yang sesungguhnya ingin menggali informasi yang lebih akurat saja.
Kevin sudah sejak awal melihat gerak tubuh tim GS. Tetapi tak mungkinkan ia mengusir tanpa alasan. Sebab ia juga tau posisinya adalah tamu di rumah Gilang. Hanya menahan diri di pojokan sama sekali bukan tipe Kevin.
Sejak tadi matanya terganggu dengan modus para ibu ibu itu. Yang lebih parah saat mereka terlihat so' akrab dengan ibu tirinya, menggrepek grepek tubuh istri papinya yang mungkin saja akan berbicara sesuka hati. Kevin tidak mau, sepulang acara nanti keluarga Gilang menjadi tranding topik yang di kemas dengan narasi di luar skrip. Di luar nalar tanpa dasar kebenaran.
__ADS_1
Indira segera meninggalkan tim GS, melangkah masuk melewati Kevin yang sudah memasang wajah tegasnya. Dengan sedikit menunduk hormat tak berani menatap suami Muna itu. Hiii.
Mak emak Ghibah Squad bergidik ngeri melihat tatapan tajam Kevin pada mertua Gilang. Dan otak mereka segera memindai untuk memastikan siapakah dia, pria tampan nan tegas ini. Vin, hanya itu clue yang di tangkap telinga mereka tadi.
"Mas... Paket sembako yang tersisa itu angkat semua ke mobil. Antar ke masjid terdekat, agar di bagikan di sana. Sesuai kebutuhan." Perintah Kevin pada tim dekor yang masih wara wiri membereskan sisa acara.
"Siap, baik pa." Jawab tim dekor patuh.
"Pastikan kalian yang bekerja di sini dan semua pelayan Cathring juga dapat paketnya dengan merata." Lanjut Kevin lagi.
"Siap, terima kasih banyak pa." Tim dekor senang dong. Sudah dapat uang pembagian hasil kerja, dapat paket sembako lagi. Nikmat mana yang akan mereka dustakan.
"Bu... tolong semua makanan yang lebih itu di bungkus dalam box yang rapi, bagikan untuk yang bekerja hari ini. Kalau masih banyak sisa, tolong antarkan ke tiap tiap rumah kiri kanan sekitar sini. Supaya cepat bersih." Kevin masih memerintah dengan tegas.
"Baik pa." Jawab pelayan cathering patuh.
Sementara tim ghibah squad masih berdiri seperti patung masih takjub dengan pria yang di mata mereka seperti pria arogan itu.
Bersambung...
Cie cie... Readers udah paling senang deh kalo banh Kevin udah keluar taring kayak gini.
Tunggu part selanjutnya sore nantinya
Nyak lop kalian
__ADS_1
πΉπΉββππππ