CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 193 : PERTEMUAN


__ADS_3

Kevin dan Muna menggunakan waktu di malam hari mereka, untuk saling berbagi cerita. Tepat setelah suasana rumah tentram dan aman dari rengekan si kecil tentunya. Juga aktivitas rutin mereka membacakan dongeng sebelum tidur pada ke tiga anak mereka.


Kadang keduanya tidak hanya mengobrol di tempat tidur. Namun juga sesekali pergi ke café yang buka 24 jam, hanya untuk menebus waktu siang mereka yang tergadai oleh pekerjaan dan anak-anak mereka. Ya … mereka pasangan harmonis dan selalu romantic.


Bahkan Kevin tak menutupi, jika kini ia tengah seperti di uji oleh relasi bisnisnya. Dengan mengirimkan seorang wanita smart juga cantik. Untuk bolak balik berkonsultasi dengannya. Muna istrinya sudah termasuk dalam kategoti cantik, smart juga masih sangat muda. Tetapi, bagaimana tampang dan rupa wanita yang di kirim relasinya, sehingga Kevin merasa inscure.


Namun, Kevin sekarang adalah cassanova insyaf. Bukannya tergoda. Ia justru ingin membentengi cobaan itu dengan berlindung pada kemesaraan rumah tangganya dengan Muna. Kevin terlalu bersyukur telah mendapat Muna. Tak sedikitpun niatnya untuk berpaling dari wanita yang dengan perjuangan yang luar biasa untuk ia dapatkan, bukan.


Bahkan kini, mengapa begitu konyolnya. Ia meminta kembali wanitanya untuk memberikannya satu anak lagi. Sebagai hadiah di usianya yang ke 40 nanti.


“Mau minta Mae hamil lagi.” Jawab Kevin memandang lekat pada wajah wanitanya.


“Buseeet dah, bang. Muna kok persis kucing yang bunting tiga kali setaon sih bang. Bisa yang lain aja ga sih …?” Sontak dialeg Betawi yang sudah lama tidk terdengar itu menguar lagi di indra dengar keduanya dalam kamar mereka.


“Mana ada setahun 3 kali. Lebay banget.” Kedek Kevin.


“Abang … ga kasihan sama anak-anak. Aydan belum 4 tahun udah punya 2 adik, Bang. Naya kemarin bahkan Cuma jarak tiga bulan, Muna udah hamil lagi. Sekarang, Ade baru tujuh bulan Bang. Apa iya di kasih ade lagi. Berarti nanti dia Cuma 16 bulan udah punya adik lagi. Ga mau, capek.” Tolak Muna mentah-mentah.


“Katanya mau kasih apa aja buat abang.”


“Ya ga anak juga, Bang.” Bantah Muna Cepat.


“Sayang … besok usia abang tuh 40 tahun. Mae kebayang ga, kalo abang tunda lagi punya anak, itu anak kita masuk TK usia abang berapa? Jangan-jangan nanti abang di kira kakek mereka.” Kevin berusaha meyakinkan Muna.


“Salah sendiri lambat menikah.” Bantah Muna santai.


“Kana bang kelamaan nungguin Mae.”

__ADS_1


“Alasan … makanya jangan kelamaan baper. Lambat start … ya wajarlah terlambat finish.” Ujar Muna dengan nada sewot.


“Abang … kali ini mintanya baik-baik lho. Ga pake acara potong sarung kaya buat Ade.” Ujar Kevin pelan.


“Ya … kan sekarang Muna yang udah KB. Enakkan, si otong bisa ngamuk di dalam tanpa haling rintang kecuali sedang datang bulan. Dan di jamin aman, ga pake drama pengaman kepotong.” Jawab Muna bangga. Sebab ia sudah antisipasi memasang IUDnya sejak Adera berusia satu bulan.


“Iya … tau gitu sejak Naya lahir. Mae pasang itu ya. Jadi bebas merdeka, bikinnya sering-sering tapi ga jadi-jadi.” Puji Kevin ikut senang dengan keputusan Muna menggunakan kontrasepsi itu.


“Iya … bikin abang ga tau waktu minta terus.” Jawab Muna dengan nada seolah tak suka.


“Kan mintanya sama istri sendiri. Pahala, sayang.”


“Iya … pahala. Tapi ga bikin Muna gempor juga kali.”


“Mae lelah selama ini layani abang …?”


“Maaf. Salahkan saja tubuhmu yang selalku membuatku candu untuk selalu meminta dan tak pernah bosan untuk di cicipi. I lop you, Mae. Terima kasih sudah menjadi istri luar biasa untukku.” Kecup Kevin bertubi-tubi pada pucuk kepala Muna.


“Ai lop yo to… papap Ay, Naya dan ade.” Muna tak pernah meluntur pula rasa cintanya pada suaminya yang makin hari semakin baik padanya dan anak-anak. Kevin yang sudnagguh telah menjelma menjadi manusia tersempurna dalam versi Muna.


“Gimana … oke ya Mae.”


“Oke apanya …?”


“Kita punya anak lagi. Satuuuu aja. Setelah itu abang yang KB kayak dulu. Janji.” Pinta Kevin dengan serius.


Muna hanya diam.

__ADS_1


“Abang janji, setelah punya anak empat, Muna bebas mau kerja atau kuliah lagi juga boleh. Asal kita sudah punya anak 4.” Lanjut Kevin.


“Kenapa …?”


“Biar Hilidmar tambah satu, jadi adil sama Mahesa.” Rayu Kevin semakin menjadi-jadi.


“Itu permintaan sulit. Muna ga berani janji.” Tegas Muna.


“Mae ga sayang abang …?”


“Ini bukan soal siapa yang ga sayang siapa …? Tapi lebih kita lihat pada perkembangan anak-anak kita abang sayang. Mereka semua masih sangat kecil untuk berbagi kasih sayang kita.”


“Tapi dengan jarak yang dekat mereka seperti teman, Mae. Mereka tidak tunggal seperti kita berdua. Hubungan mereka sebagai makhluk sosial akan menguat dengan jumlah mereka yang tidak sedikit dan jarak dekat itu. Mereka butuh teman untuk berbagi, dan itu baik jika di lakukan dengan sesama saudara. Percayalah punya anak empat itu seru, sayang.” Papar Kevin.


“Entahlah … kali ini Muna belum bisa menerima cara pikir abang. Dan soal nambah anak. Sepertinya maaf, Muna ga bisa dang a bersedia. Abang Cuma kebagian kegigit ajakan. Yang ngerasain nyeri dan ngilunya lahiran kan Muna.” Lanjut Muna dengan suara pelan.


“Maaf jika abang egois. Abang hanya menyampaikan hal yang abang mau saja. Tentang di setujui atau tidak, Itukan hanya usulan, sayang. Jangan sampai permintaan abang ini, membuat hambar hasrat yang sejak tadi sudah mengganggu abang.” Jawab Kevin pelan, kemudian mengantarkan tangan Muna pada otong yang sudah on fire.


“Halaaah basi. Si Otong selalu mau nih.” Kekeh Muna mencengkrang benda di balik celana suaminya yang tak pernah berhasil Muna tolak dalam keadaan apapun. Demikianlah dua insan di mabuk asmara tersebut. Selalu dapat menyampaikan aspirasinya masing-masing dengan gelak canda tawa dan tutur bahasa yang tidak di sertai emosi lagi, seperti masa –masa yang pernah mereka lewati bersama.


“Gweeeeen. Hallo cantik. Sini sama mamam sayang. Iih gemoy banget sih Git, si Gween. Berapa kilo ini?” Muna sudah rapi saat mengetahui jika baby Gwen akan bertandang ke rumah Hilidmar. Muna juga pagi itu memutuskan tidak pergi ketempat kerja. Demi ingin melakukan pertemuan perdananya secara live pada Gwen putri Gilang dan Gita.


Gita melakukan hal yang sama pada Adera.


“Ya Ampun, Ade tampan banget siih Kak. Gemes tau.” Ujar Gita girang menyembunyikan sedikit sedihnya, teringat pada baby boynya yang sudah pergi. Mungkin jika Genta hidup, ia akan kerepotan menjaga dua bayi.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2