CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 6 : RESEPSI


__ADS_3

Suasana di meja makan tidak hanya mengeyangkan perut, tapi juga melahirkan rasa puas pada batin mereka yang menikmatinya.


Mungkin dulu Muna adalah titisan para koki istana, sehingga masakan yang ia buat selalu enak dan lezat di lidah, walau dengan menu sederhana saja.


Tak salah jika Kevin di awal jumpa jatuh cinta mulai dari perut naik ke hati, sehingga mentok tak bisa pergi. Terpasung dalam penjara cinta Muna, yang makin hari semakin pandai memanjakan suami baik untuk lahirnya terlebih batin Kevin.


Muna sudah mulai aktif menjadi direktur walau tak memiliki jam yang penuh seperti kebanyakan direktur pada umumnya. Tetapi menurut pantauan Kevin. Dalam enam bulan kedepan, ia mungkin berani meninggalkan managemen Hospital Hildimar pada Muna, dan sesekali akan fokus dengan kantor cabang yang akan segera lounching.


"Bagaimana rencana resepsi kalian?" tanya Kevin saat semua sudah berada di teras samping yang suasananya lebih asri dan teduh karena tanaman yang sudah tumbuh merambat dan menjulang di sana. Bukan sekedar tumbuhan biasa, di samping itu lebih mirip kebuh buah, ada kelengkeng, mangga, jeruk, rambutan juga jambu semua ada di sana.


Kevin berharap nanti akan punya waktu bercengkrama dengan anak anaknya sambil memetik buah segar langsung dari pohonnya. Siapa sangka ternyata, mereka tidak bisa menetap lama di Bandung karena tanggung jawab Muna yang seorang pewaris tunggal.


"Persiapan sudah 80 persen. Minggu depan akan di gelar resepsinya." jawab Gilang.


"Minggu depan? Ga terlalu cepat?" tanya Kevin.


"Pihak WO menyanggupi pelaksanaan di tanggal itu. Jadi, kami terima jadi saja." ujar Gilang lagi.


"Di laksanakan di mana?"


"Di Grand Mercure Lt.27." Jawab Gita cepat.


"Tamu sudah di cocokan dengan papi kan, Git?" Kevin memastikan kolega bisnis mereka akan dapat undangan.


"Iya sudah. Dari pihak keluarga A'a Gilang juga sudah beres semua. Dan mungkin nanti ada saudara ibu yang datang dari Lampung yang akan mendampingi ibu saat duduk di pelaminan." Jelas Gita lagi.


"Pastikan saudara ibunya Gilang dapat fasilitas lengkap dari pihak hotel. Minta bawa anak istrinya juga. Biar sekalian liburan di Jakarta." Saran Kevin.

__ADS_1


"Paman Ali hanya punya satu anak perempuan. Istrinya juga sudah meninggal dunia tahun lalu. Jadi, beliau hanya datang berdua. Anisa juga sudah bekerja sebagai ASN, jadi tidak bisa lama meninggalkan pekerjaan." Jelas Gilang lagi.


"Hmm... ya. Biaya tansportnya kalian yang tanggung. Jangan bebankan pada mereka." Tambah Kevin lagi.


"Iya kakak. Karyawan pabrik juga sudah di siapkan 2 bus besar, bagi yang akan ikut hadir di Jakarta. Semuanya sudah Gita serahkan untuk Mas Koco." Gita memaparkan persiapan mereka yang ternyata memang sudah rapi benar.


"Papap nya Ay tuh kesininya makin tua makin cerewet lho. Mendetail banget. Makanya sampe urusan yang printilan printilan gitu aja di bahas. Kayak ga percaya gitu kalo yang ngelangsungkan acara tuh bukan bocah lagi." Muna datang dengan sepiring puding mangga dingin, dan langsung di suapinya ke mulut Kevin tanpa permisi.


"Bukan ga percaya, hanya memastikan semuanya sudah di atur dengan baik." Jawab Kevin sambil mengunyah puding tadi.


"Git, ambil sendiri ya di kulkas. Ada puding varian lain. Mungkin kalian suka." Muna sengaja tidak mengambilkan dissert untuk pasangan baru itu. Sebab kalau sampai Muna yang menyiapkan. Pasti Kevin akan sewot lagi, karena istrinya melayani adik iparnya tersebut.


"Mamam... Ay mau." Bocah yang belum genap 3 tahun itu sudah berjalan berpendar mendekati kedua orang tuanya yang selalu mesra itu.


"Sini... mamam suapin." Ujar Muna lembut.


"Ga... ga. Sini Ay sama papap aja. Ade Naya belum nyedot ASI dari tadi. Sana Mae, ambil Naya." Perintah Kevin pada Muna, yang sejak tadi memang sibuk melayani Kevin dan Aydan saja.


Hari H pun tiba. Tiga hari sebelumnya. Gita dan Gilang sudah berada di Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersil. Berangkat bersama ibu, Arum dan dua anaknya.


Ibu merasa lebih suka tinggal di rumah babe Rojak. Sehingga ada satu mobil beserta supir yang di siapkan Kevin untuk mempermudah mobilitas mertua Gita juga orang tua angkat kesayangan mereka tersebut.


"Maaf bikin repot babe. Gilang titip ibu, teh Arum dan anaknya ya be." ijin Gilang pada orang tua sejuta umat tersebut


"Elu... ah Lang. Kaya sama sape aje. Orang sekarang bilang tuh. Santuy bro. Biar kate sampe sebulan juga emak lu di mari, babe sama enyak senengnye pake banget. Jadi ada temen ngobrol Lang." Jawab babe yang selalu ceria.


"Alhamdulilah. Ga sampe sebulan be. Cukup satu minggu saja." Jelas Gilang yang kemudian pamit. Sebab ia tinggal di rumah kediaman Mahesa.

__ADS_1


Kini giliran Gilang yang tidur di satu atap yang sama dengan mertuanya. Semoga tak ada drama, seperti pengalaman pertama Gita tinggal di tempat ibu Gilang.


Rencana akan menggelar resepsi sederhana ala kadarnya itu hanyalah isapan jempol belaka. Mana bisa Gilang ataupun Gita mewujudkan keinginan mereka untuk mengelar acara biasa. Sedangkan tamunya saja berkisar 2000 orang karena jumlah undangan seribu eksemplar.


Mereka menikah dengan biaya yang tersedia, bahkan Diendra sudah sangat tak sabar akan hari bahagia ini. Semua rencana yang Gita ajukan dengannya semua di coret oleh Diendra. Semua di ganti dengan konsep yang tentu lebih mewah dan megah, spektakuler.


Gita anak sultan sejak dini. Seleranya pun tentu saja berkelas. Mana mungkin pakaiannya biasa saja. Ada hamparan kristal dan biji berlian yang bertebaran di pori pori kain baju pengantin yang ia kenakan nanti.


Bukankah Gita bermohon pada Tuhan ini adalah pernikahannya untuk sekali seumur hidup. Maka ia pun mengerahkan semua mimpi terpendamnya selama ini. Ingin sebuah pesta pernikahan yang bernuansa peach. Dengan tatanan bunga hidup yang akan wanginya akan memenuhi seantero pelaminannya.


Bunga tangannya pun di buat dua. Satu untuk di lemparkan, dan satu lagi untuk ia simpan selamanya, sebab ada mutiara asli khas Lombok yang di semat di bunga tangannya serta lagi, beberapa sampiran emas putih juga permata yang menghiasi buket yang ia pegang sepanjang hari resepsi tersebut.


Riweh pasti, lelah juga. Tapi semuanya terbayar karena acara telah berjalan dengan sukses dan lancar. Tak hanya mempelai yang berbahagia. Seluruh tamu undanganpun tak kalah gembira, saat di acara dapat menikmati hidangan dengan sepuasnya, suasana gedung yang adem, juga pulang boleh membawa satu set alat makan berisi mangkuk dan sumpit ala Jepang kualitas Premium.


Gita dan Gilang tak punya alasan menggelar acara dengan sederhana, sebab bukankah biaya pernikahan mereka sudah di sponsori oleh Kevin Sebastian Mahesa. Orang itu tentu tau berapa biaya yang keluar untuk semua acara tersebut, dan tentu ia sudah sangat ahli dalam mencocokan berapa dana yang di gunakan apakah sesuai dengan pagu.


Kevin bukan pelit, juga tidak mempermasalahkan penggunaan uang itu , jika tidak sesuai. Tapi dari hal itu ia bisa menilai dan menarik sebuah kesimpulan bagaimana karakter Gilang juga Gita.


Bersambung...


Readers kita di larang iri yaaa


Percayalah ini hanya kehaluan otor semata, demi kebahagiaan kita bersama🤭


Selamat berkhayaal semua


❤️❤️❤️

__ADS_1




__ADS_2