CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 27 : PUSAT PERHATIAN


__ADS_3

"Jangan tanya kabar Baskoro di depan suamiku." Bisiknya di telinga Gita. Dan itu sangat di tangkap oleh indra dengarnya.


Gita mengurai senyumnya saat pelukan mereka pun terlerai. Dengan wajah sedikit tak mengerti Gita mengangguk akrab pada wanita yang ia tau bernama Miranda itu.


"Gilang... ini istri om, Miranda. Masih cantikkan, jangan tanya usianya. Sebab servisannya mungkin tak kalah dengan kemampuan kalian yang baru nikah." Pujinya pada wanita yang tadi masih di terka terka saja oleh Gilang.


Miranda berjabat tangan dengan Gilang, dengan tatapan agak cemas. Takut saja, jika tiba tiba Gilang mengeluarkan cuitan perihal pertemuan mereka di Bandung.


"Gilang tante." Ucap Gilang yang agak terganggu dengan cubitan Gita dari belakang, yang merusak fokusnya untuk berbicara pada Miranda.


"Oh... Om Prayoga dan tante Miranda sungguh pasangan harmonis ya a'. Mesranya awet." Gita segera mengalihkan isu, ketimbang Gilang yang bicara, ia kalo isinya tepat.


"Jadialah suami yang loyal pada istri, agar selalu memenuhi kebutuhan kita dengan sempurna hingga rambut ini memutih." Ucap Prayoga dengan bangga, menepuk bahu Gilang. Lalu mengajak istri luar biasanya itu mencari tempat duduk. Dengan di pandu waiters yang sudah di breafing untuk mendukung acara malam itu.


Sebelum acara sungguh bermulai, Gita dan Gilang bertindak sebagai penerima tamu, guna menyambut kedatangan relasi mereka tersebut.


"Eneng kenapa cubit a'a tadi. Ga secepat itu juga kali, neng. Kalo kangen a'a." Obrolnya di sela menunggu tamu yang lain hadir.


"Stt.. ga gitu juga a'. Tadi, eneng hanya kasih kode. Supaya a'a ga komen kalo kita udah pernah kenal dengan istri Om Prayoga itu." Jelas Gita.


"Kenapa?"


"Soalnya pas tante itu peluk eneng. Bilangnya, jangan tanya Baskoro di depan suamiku. Gitu." Jelas Gita.


"Oh... a'a paham neng. Jadi, mami ketemu gede yang Baskoro kemarin bilang itu. Mungkin, Baskoro itu simpanannya si tante itu." Simpul Gilang baru on. Hadeeh.


"Urusan orang a'ayank." Jawab Gita menampilkan senyum cantiknya pada sang suami.


"Sudah lewat jam tujuh neng, kita mulai saja acaranya." Gilang mengalihkan topik pembicaraan, ke hal yang lebih penting.


"Okeeh..." Ujar Gita sambil memegang jam di pergelangan tangannya.


"Eh... bentar tuh masih ada satu pasangan lagi yang akan tiba. Kita tunggu yang itu sebentar." Lagi Gita berucap sebab dari kejauhan ia melihat ada sepasang tamu yang datang memenuhi undangan mereka.


Pasangan itu semakin mendekat, jika pasangan tadi membuat mereka agak kaget. Pasangan yang datang ini lebih membuat mereka takjub lagi. Dari tampilan mereka yang elegan dapat di taksir outfit itu justru mengalahkan pasangan pengantin yang malam ini sebagai pengundang.


Tangan sang wanita tak pernah lepas dari buku siku sang pria, jas abu abu gelap metalic sangat kontras dengan gaun senada kerlap kerlip, bertaburan permata di kain sang wanitanya.


Model pakaiannya biasa saja, hampir tertutup semua, tapi tak mampu menyembunyikan lekuk tubuh yang proporsional. Dari bentuk bamper depan dan bamper belakang semua terisi penuh, tapi tidak dengan perutnya yang langsing terjaga.

__ADS_1


"Kak Muna..." Hambur Gita memeluk pasangan yang baru datang itu.


Oh Tuhan, pantas saja outfit pengantin baru kalah malam ini, ternyata sang CEO dan Direktur yang datang malam itu pada acara mereka.


"Pak bos." Ujar Gilang berjabat tangan merasa terpukau, tak terlintas di benaknya, jika atasan sekaligus kakak iparnya ini akan hadir.


"Ini malam bahagia kalian di sini. Masa tak ada orang tua yang merestui kalian, ya kan Mae." Ujar Kevin kembali menautkan tangannya pada pinggul istrinya.


Kevin sungguh telah menjelma menjadi manusia, entah. Apakah dulu ia adalah sung go khong, yang kerjanya hanya mengembara mencari kitab suci. Sehingga saat Gita meminta sarannya akan meakukan syukuran atas pernikahannya di Singapura. Setelahnya tiada hari tanpa merengak pada Muna, agar mau ikut ke acara tersebut.


"Mae... sabtu kita ke Singapura sebentar."


"Singapura? Sebentar? Abang aja."


"Minggu pulang Mae."


"Anak - anak ?"


"Di tinggal saja, hanya satu malam. Kita pake Jets Hildimar, biar cepet."


"Urusan apa sih, kok mendadak gitu."


"Kenapa ga bawa Ay juga Naya?"


"Kalo Mae mau, ya ajak saja Laras dan sebagainya." Jawab Kevin memberi pilihan.


"Ah... tapi kalo cuma satu malam repot, ntar anak anak kecapean." Timbang Muna.


"Cuma satu malam kan, ga nambah?"


"Iya, kalo perlu selesai acara kita langsung pulang." Tantang Kevin lagi.


"Buseeettt.... Singapura ya bang, bukan kebayoran." Teriak Muna persis nyak Time.


"Mae... pake acara ga percaya. Abang sejak dulu konsisten ya. Hanya karea Mae keteguhan abang bisa goyah." Kekeh Kevin menggoda Muna.


"Hiiiisss... iya. Muna tanya nyak, babe dulu. Mau tidur di sini atau anak anak yang bobo di rumah babe." Putus Muna sebagai tanda persetujuannya untuk ikut berangkat.


***

__ADS_1


Acara pun berlangsung dengan lancar. Dan benar saja, Kevinlah yang bertindak sebagai perwakilan orang tua sekaligus pimpinan pasangan yang baru menikah itu.


"Dalam hal ini, sedikitpun tiada maksud kami ingin berlebihan hingga mengadakan makan malam bersama. Ini semata-mata bagian dari rasa syukur, bangga dan bahagia kami. Atas pernikahan adik kami Gita Putri Mahesa dan Gilang Surenra yang juga sebagai Wakil CEO pada perusahan kami. Besar harapan saya, agar ke depan bapak/ibu dapat memberikan doa dan restu untuk kelangsungan rumah tangga mereka. Sekaligus menutup akses keduanya jika ada kemungkinan dari rekan rekan yang ingin mengambil mereka menjadi menantu." Kelakar Kevin saat menutup sambutannya sebelum mereka memulai pesta.


Muna tentu duduk hanya dengan Gita yang ia kenal, kemudian Gilang dan Kevin pun ikut berbaur dengan mereka.


"Git, kamu tau ga pentingnya acara malam ini." Ujar Kevin yang di depan nya sudah tersedia makanan yang Muna siapkan untuknya.


"Kenapa?"


"Inget ga waktu kalian di sini jaga Aydan, dan kami ke acara Aniv siapa ya Mae... abang lupa."


"Sama bang, Muna juga udah lupa."


"Ya pokoknya ada gitu. Nah, sementara kakak ngobrol gini, ada aja yang mau nembak bini abang." Kevin membuka cerita yang berakhir mobil bergoyang itu.


"Hah... ngeri dong kak? emang ada mafia?" Kevin menoyor kepala Gita, tapi tak sempat. Muna sudah langsung menahan tangan suaminya, sebab malam ini mereka sedang menjadi pusat perhatian.


"Bukan tembak beneran..." Hardik Kevin dengan suara yang di pelankan.


"Muna baru ingat. Yosa namanya."


"Nah iya, Yosa Witama. Karena, pernikahan kakak dan Mae kurang menyebar luas, maka ada yang tidak tau jika kakak sudah menikah. Makanya ada yang mau mengambil Mae jadi..."


"Bukan Git, pak Witama itu yang mau, abang melamar anak nya yang cewk biar abang jadi mantunya." Potong Muna.


"Eh... jangan lupa. Malam itu Yosa ya yang juga sempat dekat Mae." Kevin mana mau kalah.


"Yang udah duduk se meja dengan tu cewe, sape bang?" Muna tetep nyolot yak.


"Iiis iis... Sttt... kita pusat perhatian lho kak malam ini. Yang mana yang bener?" ujar Gita menengahi pasangan basi itu.


"Bener semua lah. Anak pa Witama itu kembar Git. Yosa nya ngedeketin Mae, Yosi nya mau di kasih ke kakak." Jelas Kevin dengan nada yang lebih santai. Gilang dan Gita pun hanya menutup mulut menahan tawa. Ternyata memiliki anak dua saja, tidak cukup untuk menutupi betapa kedua manusia itu masih saling suka gontok gontokan, pertanda cinta dan cemburu mereka masih kadang datang secara bersamaan.


Bersambung....


Makasih masih setia baca dan lempar bunga, kopi n tips.


Lop all

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2