CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 97 : TEMUI DIA


__ADS_3

“Om, Lang. Ay tangen om.” Aydan sudah menghabur berlalri bahkan melompat ke atas tubuh Gilang. Bagaimana tidak, ia sudah terlalu sering dekat dengan Gilang bahkan sejak dalam kandungan. Ingatan anak balita itu setia kemampuan otak mereka mampu merekam setiap momen di masa lalunya. Hal tersebut berlaku pada seluruh anak, tak terkecuali Gibran, bukan?


Saat Gibran duduk di kelas 2 SMP ia baru tau bahwa Edy Sudrajat bukan ayah yang harus ia tunggu kedatangannya. Sejak masa kecilnya yang ia  tau ayanhya adalah ayah dari Gilang dan Arum. Mana ia mengerti tentang suami pura-pura atau apapun itu. Yang ia tau hanyalah, lelaki yang pernah tidur dengannya, bersikap manis terhadapnya dulu itu adalah ayah yang begitu menyayanginya.


Setelah di sampaikan jika itu bukan ayahnya, Gibran sempat kecewa. Ia telah lama menanti kembalinya sang pria yang diam diam ia idolakan. Ia bahkan shock setelah mamanya bilang, pria bernama Edy Sudrajat itu bukan ayah kandungnya. Ia juga langsung di perkenalkan dengan Reza, sebagai ayah kandungnya. Saat itu Gibran perlu waktu untuk meyakinkan dirinya, ia tak bisa serta merta menerima begitu saja orang baru dalam hidupnya.


Hingga, mendapat kabar Edy Sudrajat meninggal, dan mulai mengerti bagaimana perangai sang kakek Sudrajat barulah ia pelan pelan mengerti dan menerima Reza sebagai ayahnya. Hidup Gibran tak sebahagia saat ia masih balita, beranjak tumbuh sebagai anak dan remaja, beranjka pula lika liku drama hidup ia rasakan. Terus berpegang pada ajaran agama yang ia dapatkan di sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya adalah satu-satunya pedoman baginya. Walau ayah Edy dan kakek Sudrajat yang seharusnya memiliki peran penting untuknya dalam hal memnimbing pun tidak ia dapatkan.


Ingin belajar dari sang mama, ternyata sudah sejak lama diam-diam berpindah keyakinan demi memiliki kepercayaan yang sama dengan Reza szuami pilihannya. Yang hingga kini, baik ia dan suami tak pernah meminta Gibran untuk memeluk agama yang sama dengan mereka.


“Iya… Ay. Om Lang juga kangen. Makanya ke sini.” Jawab Gilang mencium-cium Aydan yang masih dalam gendongannya, melingkarkan kedua kaki di pinggang Gilang. Aydan tersenyum kesenangan mendapatkan sambutan hangat dari pria yang juga ia sayangi itu.


“Kita jalan-jalan yu Om.” Ajaknya dengan menggemaskan.


“Hmm… kemana?”


“Mana mana aja. Bem… bem… bem. Pakai motoy papap. Ada yang becay…baguus cali om.” OH, rupanya Aydan ingin mengajak Gilang jalan jalan dengan MoGe baru milik Kevin.


“Oh… ya. Bagus banget ya?”


“Bagus calliii, om. “


“Oh… bagus sekali?” Aydan mengangguk-angguk membenarkan ucapan Gilang.


“Lain kali saja kita pakai motor papap. Ini sudah hampir senja. Kita mau sholat, Ay udah bisa sholat belum?” tanya Gilang pada anak sekecil Aydan.


“Colat… yang Ay ga pakai celana om?” tanyanya lucu.

__ADS_1


“Hah…?” kejut Gilang. Aydan mengangguk-angguk.


“Iya… celana Ay kata mamam di dalam. Telus Ay pakai calung. Mau… mau Ay cuka.” Ujarnya antusias. Gilang tertawa saja. Kesininya Aydan memang semakin lucu dan cepat mengerti.


“Wah… ada kalian. Yuk wudhu, kita berjamaah saja.” Kevin baru keluar dari kamar mereka di atas, dan sepertinya sudah suci. Sementara Gita justru sejak tadi ternyata sudah di kamar Naya, sekedar melihat proses pemindahan ASI ke perut bayi 5 bulan tersebut.


Mereka pun melaksanakan rukun Islam tersebut bersama, dan benar saja. Aydan kecil yang walaupun tidak mengerti sedang melakukan apa dan membacakan apa, pun ikut serta. Sepertinya ia sudah mulai paham urutan gerakan sholat, walau kadang masih melirik pada orang di kiri dan kanannya. Rupanya entah Kevin atau Muna yang sudah mulai memperkenalkan kebiasaan melaksanakan itu, sehingga ia pun tertyarik untuk ikut melaksanakannya.


“Ay… main sama engkong sebentar ya nak. Papap mau ngobrol sama om Lang.” Ujar Kevin yang melihat setelah sholat tadi pun, Aydan menempel lagi dengan Gilang.


“Iya pap.” Jawabnya berjalan menuju kamar engkongnya. Yang ternyata tak ada di sana sebab sedang bermain bersama Naya.


“Gimana Lang, sudah ketemu Gibran?” Kevin langsung pada tujuannya memanggil Gilang kerumah mereka melalui chat pribadinya di whatsapp.


“Iya… sudah pak. Tadi, kami sudah bertemu di kantor.” Jawab Gilang cepat.


“Maksudnya?”


“Ya penilaianmu bagaimana? Apa kamu bersedia meletakkan dia pada di bagian sekretaris?” tanya Kevin lebih tegas.


“Dari akademiknya bagus pak. Dari attitudenya juga sepertinya baik saja.” Jawab Gilang dengan nada suara yang terdengar tidak yakin sendiri. Dan hal itu tentu saja sudah Kevin tangkap dan ketahui.


“Kenapa terdengar tidak yakin atau besok ingin memanggil Melani untuk di wawancara khusus. Agar lebih yakin jika, Melani saja yang menggantikan posisi Gita nantinya?” Tembak Kevin. Membuat Gilang agak terkejut, Karena Kevin menangkap keraguannya.


“Oh… tidak pak. Tak perlu mewawancarai Melani ulang. Gibran sepertinya bisa di ajak bekerja sama dengan baik nanti.” Putus Gilang pelan.


“Mengapa terdengar terpaksa?” pancing Kevin.

__ADS_1


“Tidak pa, tidak terpaksa kok.”


“Tetapi mengapa terasa tak bersemangat.” Cecar Kevin.


“Ah… tidak juga.” Bantah Gilang.


“Kenapa…?” tanya Kevin seolah memaksa agar Gilang jujur.


Gilang mendongakkan kepalanya menghadap Kevin, ia merasa jika Kevin kini tengah mendesaknya.


“Gimana…?” Ujar Gilang balik bertanya.


“Ada apa dengan kamu, yang seolah sejak awal tak pernah mau menerima Gibran di bagian itu. Kamu tak mau dekat dengannya? Kamu ingin menghindarinya?” pertanyaan Kevin semakin membuat Gilang tak mengerti.


“Maksudnya?”


“Gibran Sudrajat. Pelamar yang nilai akademiknya paling bagus itu sangat menarik perhatian saya, Lang. Lebih menarik lagi saat nama belakangnya itu sama dengan nama almarhum mertua adik saya. Karena itu, saya merasa perlu mengerahkan orang-orang saya untuk melakukan penyelidikan. Dan ternyata


cocok, jika nama Sudrajat itu adalah nama yang sama dengan ayahmu.” Jelas Kevin. Gilang hanya menggatuk lehernya yang tak gatal.


Sudah Gilang duga, percuma saja ingin lama menutupi sesuatu dari Kevin Sebastian Mahesa ini, to. Semua masalah baginya hanya bagai bang kai. Yang dapat di tutup sebentar namun akan ketahuan juga nantinya.


“Saya bahkan sudah menemukan di mana kakek Sudrajat mu itu. Beliau tinggal di desa tak jauh dari pinggiran kota ini. Tetapi, sekarang beliau sakit. Terkena penyakit gagal ginjal yang mengharuskannya cuci darah 2 kali


satu minggu. Hartanya sudah habis, istrinya yang muda itu pun sudah tak peduli padanya. Di desa ia bisa bertahan hidup hanya dengan belas kasih para tetangga saja untuk memberinya makan. Ia lebih sering berpuasa, sehingga ginjalnya tak banyak bekerja untuk memfilter makanan yang masuk. Tapi beberapa hari ini, beliau sudah saya minta di rawat di rumah sakit daerah sini. Sebelum menyesal, temuilah. Ajak serta ibu dan kakakmu.” Jelas Kevin panjang.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2