CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 45 : ISTRI SEMPURNA


__ADS_3

Gita dan Gilang mana pernah serius dalam hal ingin bercinta saat jam akan bekerja. Keduanya hanya pandai saling bercanda saat berdua. Kemudian masuk dalam mode serius saat sudah berada di tempat kerja.


Awalnya Gilang sempat bingung dengan kehadiran 3 wanita yang ia tau bidang kerjanya bukan sebagai cleaning servis. Tapi kenapa bahkan kaca jendela ruangan Kevin pun menjadi urusan mereka.


"Pa Danu. Kenapa ada 3 orang karyawan bidang pemasaran, bersih bersih di ruangan pak bos?" tanya Gilang ke ruangan HRD.


"Biasa... dapat jackpot dari Pak Kevin. Kedapatan ngobrol di meja teman lainnya. Dua kali dalan sehari, untung ga langsung di pecat. Ha... ha..." terang Danu dengan derai tawanya.


"Euleeeh... euleeh. Cari kasus." Gilang ikut tertawa mendengarkan alasan yang Danu sampaikan.


"Gimana progres pelamar pak Danu? Sudah sampai tahap mana?" tanya Gilang langsung masuk pada tujuan utamanya datang ke ruangan Danu.


"Sudah beres tes tertulisnya. Dan sudah di saring sesuai juknis. Ada sisa 35 orang. Pesan pak Kevin. Beliau dan ibu komisaris akan turun langsung di penentuan akhirnya nanti." Jelas Danu.


"Oke siap siap. Satu lagi pak Danu, saya minta rekom nama nama orang yang bisa masuk di bagian sekretaris ya. Gita mau resign."


"Hah...? yakin?" kejut Danu.


"Gitu maunya..."


"Maunya dia, atau permintaan suaminya?" Danu sedikit menggoda Gilang.


"Maunya sendiri, padahal sudah saya sampaikan efeknya. Dia pasti bosan karena terbiasa jadi wanita karier kan. Tapi, ga tau. Mau fokus jadi ibu rumah tangga dulu katanya." Gilang memang selalu menganggap orang lain adalah tempat curhat dan berbagi yang baik. Tidak peduli jabatan mereka setara atau ia setingkat lebih tinggi, baginya semua sama saja. Semua orang di anggapnya teman baik.


Kemudian Gilang sibuk meneliti semua berkas yang masuk, lengkap semua di sana. Dari hasil pekerjaan saat tes tertulis hingga curriculum vitae semua lengkap di sana. Dan ada satu nama yang menarik perhatiannya. Seorang pelamar berjenis kelamin laki laki, dengan nilai tertinggi. Dengan foto yang tertera dalam berkas tersebut, Gilang tidak begitu kenal. Tapi nama Gibran Sudrajat itu mengingatkannya dengan nama mendiang kakeknya.

__ADS_1


Ayah Gilang adalah keluarga mampu dan cukup terpandang pada masanya. Menikah dengan Dian ibu Gilang yang tergolong orang dari kalangan biasa, sempat menimbulkan fenomena dan drama sebelum mereka menikah dan di awal pernikahan mereka.


Ibu Gilang pernah di posisi di benci mertua, mereka di asingkan dari keluarga ayah Gilang, Edy Sudrajat. Tak pernah di anggap layak jadi menantu keluarga itu, hingga ayah Gilang menghembuskan nafas terakhirnya pun, ibu Gilang di anggap telah merebut anak kesayangan dan kebanggan keluarga itu. Itu penyebab utama ibu Gilang tak pernah punya niat untuk menikah lagi. Walau tak sedikit pria dewasa juga duda yang ingin menikahinya. Mengingat saat itu Arum dan Gilang masih usia sekolah, yang tentu masih memerlukan sosok ayah sambung juga mendapatkan pendidikan yang layak.


Di tambah lagi nasib Arum tak jauh berbeda dari sang ibu. Pernah mengeyam sebentar berumah tangga, bahkan bergelimang harta. Tapi tak berusia lama, suaminya pun meninggal dunia.


Itulah hal ikhwal ibu Gilang sedikit goyah pada Gita. Baik ia, maupun Arum pun mendapat jodoh dari kalangan kaya, namun berakhir pilu. Tentu ia tak ingin Gilang bernasib sama dengan mereka. Namun, perlahan dengan seiringnya waktu. Ketulusan Gita lah yang dengan sendirinya meyakinkan hati ibu Gilang.


Sementara Gilang di sibukkan dengan berkas para pelamar. Gita sudah masuk ke ruangannya, yang sebelumnya sudah ia ketuk hanya hanya sebagai formalitas.


"Pak Wakil CEO, waktunya makan siang. Mau makan di rumah atau di luar?" tanyanya ramah.


"Hmm... kalau makan di rumah, sepertinya waktunya ke buru, sebab istri saya juga wanita karier jadi tak sempat mengolah makanan untuk siang ini." Kekehnya.


"Oh... jangan salah. Tadi pagi eneng udah goreng ikan Nila. Dan bumbu halus untuk ricanya sudah siap. Tinggal di campur, di tumis sebentar." Jawab Gita antusias.


"Oke... tapi waktu kita hanya dua jam ya a'... Kita ada meeting pukul 2 nanti di resto King." Gita mengingatkan suami merangkap bosnya itu.


"Aduh neng, makin beres gini kerjaan eneng. A'a makin ga siap tanpa eneng di kantor. Punya sekretaris plus plus memang nikmat ternyata." Puji Gilang sambil melangkan mendekat, dan mencuri kecupan di pipi istrinya itu.


"Jangan bilang a'a berubah pikiran ya. Ntar eneng ga di kasih resign lagi."


"Emang a'a belum ikhlas eneng brenti juga." Jawab Gilang sembari menggandeng Gita untuk mereka bersama keluar ruangan menuju pintu untuk pulang makan siang di rumah.


"Hmm... a'a ga konsisten." tukasnya pelan.

__ADS_1


"Ya... kalo udah terjadi nanti, harus di terima kok. Asal enengnya seneng." Gilang sudah memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya. Sebelum Audi R8 itu berbaur dia antara pengguna jalan lainnya, melaju memecah asalap hitam bermarka putih di jalan yang lumayan ramai siang itu.


Di Jakarta, Kevin sudah sepakat dengan Muna untuk tidak ikut hadir dalam penandatangan kontrak dengan pihak Kantor Akuntan Gunandi & Rekan.


"Mae... abang tidak ikut ke kantor Sisil ya. Abang masih ngawas proses kalibrasi. Sepertinya Mahmud memang mencurigakan perihal biaya. Sebab, pihak TIM kemarin mengajukan kuitansi perihal uang muka kegiatan tersebut. Mereka minta deposit."


"Jadi pak Mahmud tidak memberi bayarannya?" tanya Muna.


"Sepertinya begitu."


"Lalu...?"


"Sudah abang bayarkan lunas. Tetapi meminta mereka tetap melakukan penagihan, dan pura pura tidak menjalankan kegiatan tersebut. Padahal hampir 80 persen alat kita sudah di proses." Bahas Kevin sambil menikmati layanan Muna merapikan dasi dan penampilan lainnya sebelum berangkat ke kantor.


"Hmm... ya. Semoga strateginya berhasil ya bang." Jawab Muna yang baru saja memberikan hadiah sebuah kecupan di dahi istri yang sudah menyelesaikan pelayanannya pada Kevin.


"Amin. Mae abang berangkat duluan ya. Sampaikan maaf abang untuk Sisil. Kalai abang tidak ikut mendampingimu."


"Maaf saja? tidak salam apa gitu?" pancing Muna.


"Jangan mengada-ada ya..." kekeh Kevin lagi mengecup pucuk kepalanya akan berangkat duluan. Sebab Muna masih harus memberi ASI nya terlebih dahulu untuk Annaya. Setelah selesai semua, urusah dua bocahnya barulah ia berangkat.


Kini Muna dan Nia sudah berada di Kantor Akuntan Gunadi & Rekan untuk melakukan penandatanganan kontrak.


"Selamat pagi ada yang bisa kami bantu?" tanya serorang pria berparas manis, berlesung pipi di kiri kanannya. Menyambut hangat dan ramah kedatangan Muna dan Nia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2