
Muna sudah dengan pakaian rapinya berangkat ke rumah sakit, setelah menyelesaikan segala ritual yang harus ia lakukan sebelum meninggalkan 2 buah hatinya bersama satu baby sitter di rumah. Ia menyambangi Nia untuk kemudian di antar pak Didi supir Muna yang akan mengantar mereka ke kantor Sisil. Yaitu Kantor Akuntan Gunadi & Rekan.
Sebuah kantor minimalis berukuran mungil dengan halaman parkir yang juga tidak besar, berada di kawasan lumayan ramai, berdiri di atas dua lantai. Sebuah bangunan yang cukup nyaman di pandang mata yang tertata demikian apik, sebab memiliki sirkulasi udara, pencahayaan serta tata letak furnitur yang rapi. Sehingga tak hanya terasa nyaman, ruangan pun sehat dan ideal sebagai kantor.
Dapat Muna pastikan jika pemilik dan pekerja di kantor ini adalah orang orang yang berjiwa segar dan hangat. Dan benar saja, baru tiga langkah Muna memasuki kantor tersebut. Bahkan belum sampai di meja reseptionis. Mereka sudah di sapa dengan oleh seorang pria tampan bersuara gantle.
"Selamat pagi ada yang bisa kami bantu?" tanya serorang pria berparas manis, berlesung pipi di kiri kanannya. Menyambut hangat dan ramah kedatangan Muna dan Nia.
"Kami ingin bertemu dengan ibu Sisilia Priskila." Jawab Nia sebagai asisten Muna, ia menjawab dengan sigap.
"Apakah sudah membuat janji?" tanyanya kemudian, sembari melangkah menuju meja reseptionis. Memastikan Muna sudah membuat janji temu.
"Iya pak. Kami sudah membuat janji pukul 10 ini. Lima belas menit kemudian." Sahut Muna sembari melihat arloji di pergelangan kirinya.
Pria tadi mengangguk anggukkan kepalanya, saat mendengar penjelasan Muna dan mencocokkan janji temu tersebut pada buku di meja reseptionis. Sementara yang bertugas di balik meja reseption itu hanya memantung melihat tamu yang baru saja datang.
"Ibu Monalisa Hildimar." Bacanya pada agenda yang ada di meja reseptionis tersebut.
"Betul pak." Jawab Muna cepat.
"Silahkan naik ke lantai dua, ibu Sisil ada di sebelah kiri." Jelasnya sopan.
"Baik terima kasih pak... Erwin." Muna membaca nama itu, sesuai name tag yang ada di dada kiri pria itu.
"Sama sama, silahkan." Pria itu senyum sambil mengelus name tag yang ia kenakan sendiri.
Muna dan Nia berjalan sesuai petunjuk pria bernama Erwin tadi. berjalan menuju arah kiri sesuai petunjuk.
Tok
Tok
Tok
Nia mengetuk sebuah pintu yang mereka yakini adalah ruangan Sisil.
"Ya ... masuk." Suara dari dalam ruangan tersebut.
Muna dan Nia pun kini sudah berada di dalam ruangan Sisil. Yang sangat rapi, juga memiliki view langsung ke arah luar. Memberi kesan ramai walau berada dalam sebuah ruangan.
__ADS_1
"Oh... bu Mona. Mari silahkan duduk." Sambutnya ramah dan antusias.
"Iya terima kasih." Jawab Muna pelan.
"Bu Sisil perkenalkan ini asisten saya Nia. Mungkin nanti tak selalu saya punya banyak waktu dalam hal bekerja sama, maka dengannya akan lebih mudah untuk menjembatani pertemuan kita." Jelas Muna panjang.
"Baik... baik siap." Ujarnya.
Mereka pun berjabat tangan untuk menandakan saling menerima satu dengan yang lain.
"Bu Mona, kami mohon maaf. Perjanjian kontrak kemarin belum rampung kami siapkan. Sebab ada beberapa poin yang kami revisi, dan kami belum sempat memberi info itu dengan cepat. Jadi maaf, bisakah sekali lagi ibu memeriksa isi perjanjian? Jika setuju. Kita akan lakukan penandatanganan di ruangan pa Gunadi." Jelas Sisil menyodorkan isi revisi kontrak terbaru.
Muna bukan anak kemarin sore, ingatannya pun masih dapat mengingat dengan baik. Maka hanya dalam waktu beberapa menit saja, ia sudah menemukan revisi tersebut, menanyakan lalu menyetujuinya.
"Karla..., pa Gun sudah di kantor?" tanya Sisil melalui ponselnya menelpon seseorang.
"Bu Sisil, saya tetap setuju dengan persyaratan yang di buat ini." Ujar Muna tegas.
"Baik. Kita ke ruangan pak Gun sekarang. Sebab beliau sudah datang." Ujar Sisil yang terlihat masih menyelesaikan beberapa pekerjaan di laptopnya beberapa menit.
Ketiga wanita itu pun berjalan beriringan keluar ruangan Sisil, lalu berjalan ke arah kanan. Menuju ruang sang pemilik Kantor tersebut. Sebab nama kantornya sama dengan namanya, begitu yang ada di dalam pikiran Muna.
"Pagi Gun." Sapa Sisil. Dan pria itu berbalik dengan dokumen penting di tangannya
"Hmm... ya pagi Sil."
"Ini, calon patner kita enam bulan kedepan. Kontrak sudah siap?" tanya Sisil tampak biasa dengan pria itu, tidak ada embel embel pak sebelum menyebut namanya.
"Ya... senang bertemu denganmu. Ibu Monalisa Hildimar." Ujarnya ramah mengulurkan tangan akan berjabat tangan.
"Pak... Erwin?" Muna menyambut uluran tangan yang akan seling berjabat itu dengan ragu melafalkan nama sesuai yang tertera di name tag tadi.
"Erwin Gunadi." Tegas pria itu menyebut nama panjangnya pada Muna dan mengalihkan jabat tangannya pada Nia di samping Muna.
Lagi lagi lesung pipi pria itu terlihat, saat senyumnya terkembang.
"Penampilan bu Monalisa Hildimar sungguh jauh dari ekspektasi saya. Sebab hanya mendengar jabatannya yang sebagai direktur di sebuah rumah sakit terkemuka. Dalam pikiran saya adalah mungkin seorang ibu ibu tua. Maaf ya. Ternyata bahkan masih muda belia, bahkan nampak belum berusia kepala tiga." Tebaknya ringan.
Muna hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Pak Erwin berlebihan jika mengatakan saya masih muda belia, bahkan saya sudah punya anak dua." Jawab Muna jujur.
"Waaah... sama dong dengan istri saya." Jawabnya ramah.
"Hemm... " Jawab Muna sambil mengulum senyumnya.
"Maaf... boleh saya memanggil anda dengan sebutan Miss Hildimar? Sebab lebih cocok dengan bola mata yang anda miliki." Ujarnya dengan sopan dan antusias.
"Boleh, silahkan pak Erwin." Jawab Muna.
"Bu Mona... maaf. Gun selalu suka bercanda pada tiap calon kliennya. Dia teman kuliah saat mengambil S2 juga sepupu suamiku." Terang Sisil tanpa di tanya.
"Oh... iya. Tidak masalah bu Sisil, toh masih dalam batas wajar." tegas Muna lagi.
"Oke... ini dokumen yang akan kita sepakati bersama. Dan jika ini selesai, besok kami mungkin akan mulai membedah semua laporan keuangan kalian. Mohon kerjasamanya ya Miss. Sebab, nantinya pihak kami akan banyak merepotkan dalam hal meminta data." Ujarnya lebih serius.
"Siap. Silahkan pa Erwin. Apakah kami perlu membuat ruangan khusus untuk tenaga audit, untuk memudahkan mendapatkan data lebih cepat?" tawar Muna.
"Tidak perlu. Sebab saat kami bekerja di tempat yang sama dengan pihak yang akan di audit, biasanya justru memberi efek stres pada bagian yang akan di periksa tersebut. Jadi, biar seolah mereka bekerja seperti biasa. Agar tak ada kesempatan untuk memanipulasi data yang sudah di olah selama ini." Terang Erwin tegas kali ini.
"Oke... setuju." Jawab Muna.
"Tapi, ya seperti yang saya katakan tadi. Mungkin agak saya repotkan dalam hal meminta data." Ucapnya lagi.
"Tidak masalah, itu resiko kerja sama, bukan." Muna menanggapi dengan tawa renyahnya.
Bersambung...
Maaf ya readers kemarin bolong up.
Semoga ga kehilangan kesempatan dapat vote dari readers.
Ini tak kasih pic di pria berlesung pipi deh.
Makasih semuanya
πΉπΉββππππ
__ADS_1