
Bukan isapan jempol semata, jika banyak orang orang terdahulu memberi pesan kepada bapak bapak muda yang baru niukah dan istrinya hamil muda, selalu di pesankan agar selalu sabar. Sebab, baru beberapa jam yang lalu Gilang di puja puji dan di sanjung oleh istrinya setelah berhasil memasak sarden dengan hasil perfecto. Dan mendapat bintang lima dari seantero pelosok tanah air karena kepiawaiannya menyenangkan dan memanjakan sang istri.
Tapi kini, lihatlah. Gita marah, nilaiGilang bahkan turun anjlok. Walaupun perjuangannya yang lebih dari 1 jam
mengayuh sepeda listrik. Hilang lenyap bahkan sia-sia akibat kesalahan kecil yang tidak sengaja ia lakukan.
Sabaaaar.
Ya, benar kata itu memang mudah di ucapkan namun sulit untuk di laksanakan. Tidak lucu kan, jika pasangan suami istri ini menghabiskan sisa hari yang sudah menjelang magrib ini untuk saling kesal saja.
“Neng… di perutnya eneng sekarang tuh ada calon anak kita. Yuks, kerja sama neng sama a’a untuk kita sama sama menyenangkannya. Jangan sampai calon anak kita ngerasa kalo dia hanya jadi beban kita. Bukannya kita sama-sama sudah sangat menginginkannya. Jadi, kita berdualah yang sama-sama saling bantu menyenangkannya.” Ucap Gilang pelan, membelai rambut Gita yang membelakanginya.
Huuuwaaa… Gita malah sesungukkan. Berbalik menghadap Gilang dan menabrakan kepalanya di dada suaminya.
“Sebenernya, eneng takut a’a yang marah sama eneng. Karena udah cape naik sepeda demi cari kidaman eneng. Liat a’a marah sama Siska aja, eneng udah ngerasa bersalah a’…” Curhatnya di sela tangisan yang masih jelas Gilang dengar.
“Enggak… aGi kesel sama diri aGi sendiri kenapa ga bisa mendapatkan kidaman eneng. Di tambah lagi, kata yang jaga kios. Ibunya Siska sudah tau kalau stoknya kosong. Jika saja aGi tau dari awalkan, aGi ga maksa pergi kesana.’ Jelas Gilang menjelaskan dengan tenang duduk permasalahnnya.
“Maaf a’… Mirna bilang, saat a’a memang sudah pergi. Lalu eneng juga sudah usaha nelpon biar aGi cepat kembali. Tapi, ponsel aGi ga di bawakan.”Gita sudah tenang, tangisnya sudah reda, suaranya sudah lebih jelas dari tadi.
“Iya… makanya. AGi kok yang salah. Terlalu gegabah. Semangatbanget karena ga mau mengecewakan istri dan calon anak kita neng.” Senyum Gilang terkembang lebar. Gita mendongak melihat wajah tampan suaminya yang
tersenyum padanya.
“Senyumnya semanis itu ya tadi, pas di jalan?”
“Apa lagi sih neng?” bingung Gilang.
“Senyum a’a semanios itu ya, samam ibu –ibu dan remaja putri atau kembang desa tadi, waktu a’a
sepedaan?” ulangnya lebih galak.
__ADS_1
“Masya Allah… tadi a’a Cuma bercanda sayaaaang. Mana ada a’a liat kiri dan kanan. Sejak nikah sama eneng, a’a sudaj pasang kacamata kuda lho. Supaya pandangan mata a’a ga liar.” Bantah Gilang yang selalu pintar ngeles.
“Punya suami kok gombal banget siih.” Tukas Gita so sebel.
“Punya istri kok ambekan banget sih.” Celetuk Gilang memeluk Gita erat.
“A’… Tetap setia sama eneng ya.”
“Iih… ngapain nikahin eneng sih. Kalo Cuma mau selingkuh?” Gilang balik tanya.
“Nanti eneng gendut lho a’…?”
“Ga papa, kan seksi.”
“Bohong. Pasti nanti a’a ngeri liat eneng.”
“Neng… kalo semua wanita hamil itu ngeri. Ngapain donk para suami sampai rela ikut program buat istrinya cepat hamil? Pasti karena bahagiakan liat istrinya hamil. Sudah gitu, pada gam au istrinya hamil sekali lagi, pasti di minta berkali-kali. Yak an…” Gilang terus saja memberi pengertian pada Gita dengan kata-kata yang tidak menyinggung perasaan istrinya yang makin sensitif itu.
“Eneng maunya punya anak berapa?” Gilang balik bertanya.
“Eneng, maunya dua saja a’.” Jawab Gita.
“Ya udah dua aja kalo gitu.”
“Kok sama…?”
“Yang hamil kan eneng. Yang ngerasain bawa anak kemana-mana Sembilan bulan kan eneng. A’a Cuma bisa bantu dikit neng, yang dominan kan bundanya. Jadi, seikhlas eneng bersedia lahirin anak buat a’a aja. AGi ngikut aja neng.” Gita mencium pipi Gilang dengan mesra.
“Terima kasih selalu jadi suami yang tenang dan pengertian ya aGi sayang. Maaf tadi marah-marah.” Pintanya malu-malu.
“Marah boleh sayang. Asal jangan ngambek dan menghindari a’a. AGi palingga suka, kalo eneng lari lalu ngurung diri. Ingat, semuanya itu bisa di bicarakan. Oke sayang?” tegasnya pada istrinya tersebut.
__ADS_1
“Maaf…” ulang Gita.
“Iya… maaf juga. A’a terburu-buru jadi lupa baha ponsel.” Ujar Gilang tak mau kalah menyesali .
“Itu kan karena a’a udah ngalahin kopasus. Demi cepat dapatkan makanan buat eneng.” Kekeh Gita.
“Makasih untuk cintanya ya a’.”
“Itu kewajiban a’a neng.” Ujar Gilang merasa hatinya plong karena Gita sudah tak marah padanya.
“Neng…, ijin pempeknya sudah boleh di makankah?” tanya Gilang yang sudah ngiler dengan pempek buatan ibu Siska tadi.
“Masya Allah, sampai lupa makan ini. Sok atuh, a’. Di makan sama-sama. Mau eneng suapin?” alakazaaaam, istri hamil super ajaib ya. Sumpah snewen. Tadi, bebrapa menit yang lalu bisa semarah itu pada suaminya, tapi pada
menit berikutnya bisa seramah ini, bahkan mau menyuapi suaminya. Gila, Gilang beneran bisa gila menghadapi istri hamil semacam ini.
“Sabaaar, di nikmati saja.” Gilang membatin sendiri sambil menikmati suapan demi suapan dari
Gita bergantian dengan menyuapi dirinya sendiri.
“Pempek buatan ibunya Siska beneran enak ya a’. Ikannya terasa banget. Mungkin karena ikan segar kali ya.” Komen Gita pada pempek olahan ibu Siska.
“Kan Mirna sudah bilang kalo pempek buatan ibunya sudah paling the best di desa ini.” Ulang Gilang mengulang informasi dari Mirna.
“Iya… kemarin kata Mirna mereka punya kelompok gitu ya Semacam kelopok khusu bikin kuliner. Apa aja ya kira kira olahannya. Ada amplang ga ya? Kalo pempeknya seenak ini. Pasti amplangnya juga nonjok deh rasa ikannya.” Ide Gita muncul lagi.
“Bencana apalagi ini ya Allah, ujian masak sarden sudah, ngayuh sepeda demi pempek juga sudah hamba jalani ya Allah. Tidakkah kiranya datang rahmad-Mu. Untuk memudahkan segala jalan yang akan hamba lalui untuk menyenangkan istri hamba yang sedang hamil ini ya Allah. Bismillahirohmanirohiiim, mudahkan jalanku ya Allah, sebab Engaku maha mengetahui kemampuan hamba sebagai manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran dan penuih akan kelemahan ini, Amin.” Panjang doa yang Gilang haturkan dalam hatinya pada sang pencipta. Berharap permintaan sang istri selalu dapat ia penuhi dengan keikhlasan. Dan doa itu dapat ia tutupi dengan senyum lebar dantulus yang ia pasang selalu untuk istri tercinta.
“Amplang ikan segar ya neng?” ulang Gilang sambil berpikir keras.
Bersambung…
__ADS_1