
Ada langkah kaki yang tergopoh-gopoh memasuki lorong menuju ruang VVIP no.6 di Hildimar Hospital. Derap kaki seorang pria dewasa yang lebar dan cepat, demi ingin segera bertemu anak dan istri yang sedang berada di salah satu ruang rawat inap di sana. Tetapi bukan istrinya yang ia lihat terlebih dahulu. Melainkan Ami, baby sitter yang terlihat sedang menggendong bayinya, yang terlihat sedang menghisap air susu pada dotnya.
“Mamam ke mana, Mi …?” pertanyaaan pertama yang Kevin lontarkan pada Ami.
“Oh … ada Pak. Mamam ada di dalam sedang bekerja.” Jawab Ami yang sejak tadi memang resah melihat Muna dan Erwin di dalam sana.
“Bekerja …?”
“Iya Pak. Baru saja, mungkin baru 30 menit setelah dua temannya datang.” Bohong Ami. Sebab sejak satu jam yang lalu Erwin yang datang lebih duluan tanpa Nia. Asisten Muna yang baru saja 30 menit yang lalu datang.
Kevin segera mengambil alih Annaya dari Ami, mencium kening putrinya kemudian melangkah masuk ke ruangan di mana Muna berada.
“Kerjaannya sampe di sini juga, Mae …?” kalimat tanya itu penuh tekanan, tersirat nada tak suka yang jelas dari suaranya, pun tatapan matanya melihat Muna, Erwin dan Nia yang baru saja merapikan berkas yang berserakan pertanda pekerjaaan telah selesai.
“Wah, abang sudah pulang.” Muna segera melangkah mengambil tangan kanan suaminya, menyalami dan mencium punggung tangannya dengan hormat, seperti kebiasaannya biasa. Tanpa canggung dan malu walau di sana ada orang laian. Kevin mencondongkan wajahnya, mencari kening istrinya untuk di cium.
“Masih ada pekerjaan …?” tanya Kevin lagi ke arah Nia.
“Baru saja selesai Pak. Dan ini kami akan permisi.” Jawab Nia yang curiga jika tatapan mata suami bosnya itu, tidak nyaman untuk di pandang dalam durasi yang lama.
__ADS_1
“Maaf Pak, keadaaan pekerjaan kami agak mendesak. Sehingga kami harus melakukan pekerjaannya di sini.” Terang Erwin tanpa di minta.
Kevin hanya mengangguk, kemudian berbalik untuk menjauh tempat itu. Merasa lebih penting ia bercengkrama dengan Annaya putrinya di ruang tengah kamar VVIP tersebut. Daripada harus terus melihat lelaki lain yang memiliki urusan dengan istrinya.
Erwin dan Nia pamit pada Muna juga Kevin yang menanggapi dengan ogah-ogahan, kepulangan dua orang yang sungguh mulai tak di senanginya.
“Sholat Mae …?” Ajaknya lembut dan meletakan Annaya pada bed pasien.
“Kita pulang?” tatap Muna penuh tanya pada wajah suami yang masih kaku.
“Di sini saja.” Ujar Kevin.
“Sudah Abang bawakan.” Terniat sekali Kevin membawakan peralatan sholat untuknya dan istri. Sebab saat ia datang dan masuk kamar mereka tadi. Ia masih melihat sajadah dan Mukena yang berserak di atas tempat tidur. Itu artinya, sebelumnya istrinya sempat pulang hanya untuk sholat lalu kembali ke rumah sakit dengan lumayan tergesa.
“Sayang … Abang ijinkan Mae bekerja. Tapi tidak sekeras itu.” Tegur Kevin dengan pelan pada Muna setelah mereka selesai melaksanakan sholat magrib di kamar VVIP tersebut.
“Maaf. Tadi lumayan emergency.” Muna membela diri.
“Emergency itu gawat darurat, Sayang. Sesuatu yang genting antara hidup dan mati. Tapi, abang liat sambil bekerja, kalian masih sempat memikirkan cemilan apa yang bisa di makan untuk penyemangat kerja.” Kevin tidak melihat bagaimana proses Sempol Daging itu masuk ke mulut Muna. Ia hanya melihat beberapa sisa lidi dan makanan yang masih tersisa di atas meja tak jauh dari tempat mereka bekerja tadi saja.
__ADS_1
“Kerjaan itu penting, menyeimbangkan gizi juga tak kalah penting kan, Bang.” Muna merasa ada aura yang tak sedap dari cara suaminya berbicara. Muna tau, suaminya si bucin sejati. Saat tau Erwin ambil alih pekerjaan Sisil saja. Ia hampir memutuskan hubungan kerja sama. Hanya saja, Sisil yang memohon padanya, untuk meminta pengertiannya. Untuk tetap bekerjasama dengan kantor yang mereka jalankan. Agar tetap bisa mendapatkan uang, demi menyokong biaya pengobatan anak Sisil yang sakit.
“Benar. Tak ada yang salah. Saat sibuk bekerja tak boleh lupa makan ya, Sayang.” Ujar Kevin yang sudah menarik dagu Muna untuk dekat dengan wajahnya tak berjarak.
“Dan saat makanan raga itu sudah tercukupi. Jangan tak adil dengan kebutuhan makanan jiwa yang telah lama tak terpenuhi, Mae.” Kevin langsung melahap rakus bibir Muna yang sejak tadi hampir tertempel dengan bibirnya.
Dalam hitungan menit, ciuman tadi sudah berubah menjadi sebuah kecupan lama dan dalam. Keduanya sama-sama terbuai dalam kenikmatan rindu yang memang lumayan lama tak tersalurkan. Mereka bahkan lupa, jika sedang berada di ruang tengah kamar rawat inap bayi mereka. Tangan Kevin satu di tengkuk Muna, satunya di balik rok selutut berbentuk A yang Muna gunakan. Rok A itu bentuknya melebar di bagian bawah. Tentu tak sulit bagi Kevin untuk bergerilya ke rumah Mumun yang selalu mampu mengalihkan otak warasnya.
“Kita sedang di kamar rawat inap Naya, Pap.” Bisik Muna yang baru saja berhasil lepas dari pagutan posesif suaminya. Gelenyar aneh di dadanya, saat jemari Kevin berhasil mengitari tepian karet segitiga dan menerobos ke punuk yang terhimpit di antara pahanya itu menyadarkan Muna. Bahwa ia pun ingin di tuntaskan dengan sempurna oleh suaminya.
“Ami tetap di sini bersama Naya. Kami keluar mencari makan dulu.” Ujar Kevin menarik tangan Muna tanpa kompromi. Bahkan tanpa mendengar jawaban Ami, keduanya sudah keluar dari ruangan VVIP no. 6 di sana.
Keluar mencari makan. Tentu itu adalah alasan yang logis untuk Ami yang tugasnya menjaga Annaya. Tetapi, pasti bohong saja mereka mendapat makanan dalam waktu yang cepat. Jika ternyata Kevin tidak sungguh membawa Muna keluar dari rumah sakit tersebut. Tetapi, hanya berjalan beberapa langkah kemudian masuk ke pintu kamar rawat inap di sebelah kamar Annaya di rawat. Ya. Itu masih kamar VVIP no. 7. Berada sejajar persis di sebelah ruang rawat inap Annaya. Yang entah mengapa sudah wangi dan bersih, seolah memang telah di kondisikan untuk di gunakan.
Kevin hanya sempat masuk di ikuti Muna. Menempelkan tubuh istrinya di balik pintu, memastikan pintu itu terkunci. Dan selanjutnya, mereka bahkan tak sempat untuk melanjutkan tujuan ke tempat lain. Sebab pengelihatan Kevin sudah kabur. Tak dapat indra pengelihatannya berfungsi dengan jelas, sebab telah tertutupi kabut asmara yang sudah membuncah.
Awalnya bibir Muna yang ia santap, tapi kemudian leher Muna sudah ia sesap penuh gairah. Tangan Kevin masih cekatan dan trampil dalam hal melucuti atribut yang Muna kenakan untuk menutupi tubuhnya.
“Aah … Abang.” Rengek Muna malu malu mau. Kevin tak pernah gagal membuat Muna terpesona dengan lembutnya cara Kevin meminta haknya sebagai suami. Posisi mereka masih berdiri di balik pintu, saling menyalurkan rasa rindu yang tertahan. Memberikan kenikmatan satu sama lain, menciptakan suasana yang menjalar hangat semakin memanas di dalam ruang rawat inap sebuah rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung …