CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 167 : INSTROPEKSI


__ADS_3

Gilang kenal kevin sejak awal membuka perusahaan di Bandung. Saat Kevin sudah menjadi manusia berahklak mulia. Gilang tidak banyak tau bagaimana masa lalu Kevin yang sesungguhnya. Sebab hanya readers yang udah end baca OB Milik CEO saja yang sangat tau aslinya Kevin bagaimana.


Bukankah kantornya sempat jadi rumah keduanya? Tempat bekerja sekaligus ia jadikan tempat maksiat juga. Lalu apakah saat kini Gilang tidak bisa membendung keinginan untuk awalnya mengusap saja, tapi kesininya malah sudah mengisap buah buahan yang sebenarnya tidak di suguhkan secara langsung. Tapi bagi Gilang mereka sungguh menarik untuk ia mainkan.


Hah ... Bohong saja jika Gita tidak merasa nyaman saat Gilang melakukan itu padanya. Saat mereka berdua duduk di pojok sofa saat posisi Gita setengah rebah di bawah tubuh Gilang yang kepalanya sibuk kekiri dan kekanan menyapa gunung kembar milik Gita.


"A'a ..." Rintih Gita antara ingin di akhiri tapi juga suka di perlakukan begitu.


"Kangen, Neng." Gilang melepas sesapnnya. Meninggalkan jejak basah di permukaan kulit dada istrinya.


"Kita di kantor A' ..." Gita mengancing kemejanya. Agar adegan itu tidak berlanjut.


"Maaf." Gilang menyunggar rambutnya. Segera berdiri menjauh dari Gita. Ada semburat merona merah di pipinya dan rasa hangat menjalar di aliran darahnya, setelah ia melakukan itu pada wanita yang sejatinya sudah sah jadi istrinya.


Iya, mereka memang sudah sah. Tapi kehamilan muda Gita yang membuat itu menjadi tabu. Belum lagi tempat mereka melakukannya, sungguh bukan tempat yang layak untuk mereka melakukan hal tersebut. Cukup Kevin yang mesum, author usahakan Gilang tidak masuk golongan itu.(Maunya ha ... Ha ...)


"Pulang yuk ..." Gilang sudah membasahi wajah nya di wastafel toilet ruangannya. Membuang sedikit rasa pengennya yang tiba-tiba muncul tadi.


"Ngapain ...?" curiga Gita, apakah yang Gilang lakukan tadi akan berlanjut atau tidak.


"Kan A'a mau ngumpul berkas Neng." Jawab Gilang yang sudah terlihat normal, tidak se mupeng tadi.


"Oh." Hanya dua huruf itu yang Gita suarakan. Dan segera mengenyahkan pikiran mesum yang sempat hinggap di otaknya tadi.


"Eneng, pamit ke Siska dulu ya ..." Gita keluar dari ruangan Wakil CEO yang sempat terisi oleh setan setan cabul tadi di dalamnya.


"Ah ... Iya." Gilang kemudian membereskan apa saja yang bisa ia limpahkan untuk ke bidang sekretaris.


"Jadwal saya kosong?" tanya Gilang pada Gibran.


"Kosong Pak." Jawab Gibran sambil berdiri tanda hormat. Sambil menyodorkan Tab pada Gilang.

__ADS_1


Alis Gilang terangkat dua, untuk melebarkan biji matanya membaca jadwalnya di sana.


"Ini dengan pihak, PT. Jaya di Jakarta sudah fix?" tanyanya pada Gibran.


"Eh ... ah. Belum, Pak." Jawabnya agak tergugu.


"Tidak bisa di buat jadwal begini jika belum koordinasi." Mata Gilang ke arah Siska.


"Maaf Pak Gilang. Tadi saya sudah sampaikan." Siska tanpa di tanya sudah langsung menyampaikan alibinya.


"Maaf Pak. Tadi sudah saya coba chat Sekretarisnya. Tapi belum di respon." Jawab Gibran membela diri.


"Kalo belum di respon, tidak bisa di agendakan. Saya pulang, ada berkas yang harus saya siapkan. Tolong konfirmasi perihal keterlaksanaan kegiatan besok. Jika sudah pasti, siapkan juga bahan yang akan di prslerstasikan." Tegas Gilang cuek. Kemudian sudah meninggalkan bidang itu.


"Bu Siska ... Bisa minta tolong bimbing saya lebih detail lagi untuk urusan bahan presentasi? Saya benar benar masih meraba dengan pekerkaan ini." Pinta Gibran sopan pada Siska.


"Yang sabar Bran. Saya bahkan menghabiskan lebih dari 7 tahun berkutat di bidang ini. Itu artinya kemampuan saya tidak serta merta datang."


"Siap. Pelan-pelan pasti saya bantu. Tapi no baper ya ... Mungkin saya juga akan cerewet dalam hal menyampaikan penjelasan nanti."Jawab Siska sambil tersenyum.


Di angguki oleh Gibran tanda setuju.


Kemudian Siska dan Gibran sudah tenggelam dalam kesibukan mencocokkan pekerjaan yang harus segera di konfirmasi pada Gilang yang ijin pulang tadi.


Sementara di rumah Gilang. Pasangan pengantin yang masih masuk kategori baru itu sudah tiba. Gita segera mengganti pakaian dengan pakaian khas bapak friendly. Tau kan? Daster kan yaa.😀


Lalu buru buru ke dapur memasang apron, dan siap bergabung dengan bi Inah yang sedang berselancar indah di dapurnya.


"Kita masak apa siang ini, Bi?" tanya Gita berbaur di area tersebut.


"Ibu Gita mau makan apa?" Bi Inah balik bertanya.

__ADS_1


"Maunya yang seger seger hangat saja, Bi."


"Bibi buatkan sup ikan saja, mau?" Bi Inah mungkin hanya pernah berseragam merah putih, sebab menurut cerita beliau. Ia hanya sempat enam bulan saja duduk di bangku sekolah menengah pertama. Selanjutnya sudah di suruh berhenti sekolah, agar ikut sibuk menanam padi dan berkebun lainnya. Namun, pendidikan rendah tidak membuat Bi Inah menjadi orang yang tidak pintar. Pengalaman yang membuatnya menjadi pribadi yang memiliki ketrampilan untuk mejalani kehidupan. Terlihat dari caranya membantu rumah tangga Gilang dan Gita. Ia selalu bisa membaca keadaan rumah tangga tersebut. Sehingga Gita merasa nyamam di layani oleh Bi Inah.


"Jangan Bi. Bibi ajarin Gita aja. Bilangin caranya, tapi semua Gita yang buat." Tolak Gita.


"Ijin ya Bu." Bi Inah mengelus perut Gita.


"Ini anak-anak pinter semua. Suka masak, ga bikin mamanya malas malasan." Puji Bi Inah yang juga tau jika di dalan perut Gita ada dua nyawa.


Gita terlahir kaya tapi tak bisa berleha leha dan semena mena, dengan status kekayaan dari ayah, yang juga bukan hanya suami ibunya. Dengan status itu, Gita tak punya alasan untuk jadi anak manja dan sombong.


Bahkan di saat hamil, Gita berusaha mandiri. Hanya saat rasa mual, muntah dan lemas saja ia terlihat tak berdaya. Tetapi selalu ia usahakan untuk kuat dalam beraktivitas.


"Huum, segarnya. Wangi lagi, jadi makin laper deh " Gilang sudah keluar dari kamar dan tampak lebih segar. Sepertinya habis mandi rambutnya agak lembab.


"A'a udah sholat?" tanya Gita melihat penampilan suaminya yang hanya menggunakan celana pendek tapi rambut basah


"Hah ... Belum jamnya kali, Neng." Jawab Gilang duduk di kursi siap akan menikmati makan siangnya.


"Iya ... Ya. Masih 30 menit lagi." Ujar Gita sambil menyendokkan nasi ke piring suaminya.


"Hm ... " Dehem Gilang cepat.


"Siang ... Siang. Kok mandi basah?" senyum Gita terkulum.


Tangan Gilang nakal. Jarinya menjepit daging kenyal berisi tak jauh dari paha.


"Emang enak udah icip-icip tapi ga di kasih?" bisik Gilang sambil mencubit istrinya gemas.


"Jangan salahkan yang ga mau kasih. Introspeksi dong sama tangan sendiri. Tadi di dada sekarang dekat paha. Salah gue ...?" Gita nakal. Sudah tau suami puasa, eh malah di ledek.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2