CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 186 : KEKELIRUAN


__ADS_3

Gilang sudah kembali menemui Gita dengan segala rasa yang sulit ia artikan sendiri. Cemas, takut, khawatir semua setan suguhkan dalam benaknya saat ini. Ya hanya pekerjaan setan bukan yang ingin mencuri kemuliaan kuasa Tuhan.


“Neng … udah siap kan?” Gilang menemui istrinya tercinta. Sedapat mungkin menghilangkan guratan ciptaan setan tadi dalam pikirannya.


“Eneng udah ga di bolehin makan a’. “ Jawab Gita lemas.


“Iya … memang begitu prosedurnya. Ga papa … hanya sebentar kok. Nanti juga terbayar semuanya saat dengar tangisan anak-anak kita.” Gilang mengecup kening Gita dengan penuh rasa sayang.


“Ada yang sakit Neng …?” tanya Gilang meastikan keadaan istrinya.


“Ga ada A’ …” jawan Gita yang memang sudah tau, jika akan melahirkan kemungkinannya adalah sakit pinggang, area pinggul, betis sakit dan segala rasa sakit ada di derita oleh kaum ibu-ibu pejuang tangisan bayi.


“Kalo di bawa sholat kuat ga Neng …?” tanya Gilang melihat waktu Ashar akan tiba.


“Bisa sih … tapi. Di sini saja. Ga usah ke mushola ya …” Gita khawatir sendiri dengan keadaannya.


“Iya … a’a ambil perlengkapan di mobil dulu ya, sayang.” Pamit Gilang pada Gita.


Bukan hanya perlengkapan sholat yang ada di mobil mereka. Tapi sampai perlengkapan bersalin dan pakaian bayi pun selalu ada di dalam mobil mereka sudah sejak sebulan yang lalu. Sebab mereka tidak mau panic. MemilIh sedia payung sebelum hujan adalah hal yang sudah mereka berdua lakukan jauh-jauh hari.


Tidak aka nada drama tertinggal popok atau semacamnya saat si kembar nanti lahir. Sebab kondisi bayi selalu mereka periksa sesuai jadwal yang di aturkan untuk mereka. Hanya menjenguk Muna ke Jakrta yang mereka tidak lakukian. Takut jika Gita tiba-tiba akan mbrojol di tengah jalan.


Sama dengan Siska, hingga kini belum ada tanda-tanda bisa melihat si bagi ke tiganya Muna. Sebab. Dia masih sibuk bercanda dengan kasur dan ember tempat muntah, juga gorden kamar yang selalu tertutup, agar tidak melihat cahaya matahari pagi yang membuatnya mabuk, sungguh sengsara nasibmu Siska.


Bagimanapun, Indira adalah ibu kandung Gita. Maka sejak tau Gita akan melahirkan sore nanti. Sejak siang Gilang sudah memberi kabar pada mertuanya. Demikian juga Arum dan ibunya. Kini dua wanita itu sudah ada di ruang rawat menjaga Gita.


Waktu puasa telah sampai, jadwal operasipun telah tiba. Penampilan Gita sudah seperti pasien Operasi pada umumnya, infus, oksigen sudah terpasang pada tubuhnya, pun Gilang tak ingin melewatkan momen penting dalam hidup Gita. Walaupun ia sendiri, sesungguhnya hampir tidak bisa berdiri sempurna. Akibat rasa gugup yang mender. Tapi ia adalah kepala keluarga. Dimana Gita bertopang jika ia lemah.

__ADS_1


Gilang sudah menggunakan pakaian steril, hingga ujung rambutnya pun tak terlihat. Gita sudah di bius total, berangsur kesadarannya sudah jauh demi menggurangi rasa nyeri yang nanti akan menderanya.. Operasi pun akan segera di mulai. Nama Allah bertalu-talu Gilang panggil. Demi memohon keselamatan ibu dan bayi yang akan siap menyapa dunia.


“Bismilahirahmanirahim.” Tak henti Gilang mengatas namakan Tuhan dalam setiap awal pergerakan yang dokter lakukan.


Gita bagai orang tidur, sudah tenggelam dalam mimpi panjangnya. Meletakkan semua kepercayaannya bahwa ketika bangun ia sudah akan mendengarkan deraian tangis kedua buah hatinya.


Tangan dokter spesialis kandungan sudah begitu lincah memainkan perannya. Menyetrtilkan area yang akan ia kerjakan, kemudian memainkan pisau bedah tepat pada kulit permukaan perut yang sudah sangat besar itu.


Tegang


Hening


Hanya suara alat medis yang berbunyi dalam ruangan menegangkan itu.


Gilang tak berhenti berdzikir, sambil matanya melirik pada tangan tangan yang dengan cekatan melakukan pekerjaan mereka.


“Sudah lahir dokter …?” Gilang terkesiap, berdiri dan melangkah mendekati arah perawat tadi dengan tangan yang masih mengenggam tangan istrinya.


“Mengapa tak bersuara …?” Gilang panic, bingung melihatyang di depannya. Itu sungguh seorang bayi. Tapi mengapa diam.


“Mohon tenang, kami masih melakukan pekerjaan.” Ucap dokter dengan nada tegas, dan masih terlihat berjuang di area perut Gita.


Gilang ingin marah, tapi tak berdaya. Kembali menangkup kepalanya pada kepala Gita yang tak sadarkan diri. Membisikkan kalimat apa saja yang bisa ia ungkapkan di dekat telinga istrinya.


“Neng … anak kita satu sudah lahir. Tapi belum menangis Neng. Yang kuat ya … Allah baik kok sama kita.” Air mata Gilang tak tertahan. Sekuat-kuatnya ia sebagai laki-laki. Tapi, hatinya ciut juga saat berada pada keadaan yang membuatnya terguncang.


“Ya Allah … ampuni dosa-dosa kami. Janganlah kiranya kau timpakan kesalahan kami pada anak-anak yang tak bersalah ini. Percayakan kami menjadi orang tua ya Allah.” Rintih Gilang di dalam hatinya. Hanya bahasa kalbunya yang terhubung pada maha besar Tuhan.

__ADS_1


“Hua … huwwaaa.” Gilang bergidik menderngar suara tangisan bayi yang cukup memekakkan telinga di ruang operasi tersebut.


Seketika, tangan Gita terlepas begitu saja. Karena Gilang sudah setengah berlalri melihat bayi yang menangis tadi. Dan ternyata dugaannya salah. Ia kira tangisan bayi itu adalah suara yang berasa dari bayi yang ia


 lihat tadi. Namun, bukan. Yang menangis adalah bayi keduanya, sedangkan bayi yang pertama masih di periksa dan di usahakan untuk menangis oleh tim medis lainnya.


“Selamat Pak. Bayinya perempuan. Berat badan 2,2kg panjang 48cm.” Terang perawat yang sudah membersihkan tubuh bayi bersuara nyaring tadi.


Bohong saja Gilang tidak bahagia mendengar pernyataan itu, tapi bagaimana dengan keadaan bayi pertamanya …? Mengapa ia tidak mendengar keterangan tentang bayi yang ia lihat lebih dahulu di selamatkan tadi.


“Alhamdulilah …” ucapnya dengan mata berkaca.


“Mohon maaf pak. Segala upaya sudah kami lakukan untuk anak pertama bapak yang berjenis kelamin laki-laki, berat badan 1,8Kg, panjang 50 cm. Lahir dalam keadaan sempurna namun sudah tak bernyawa.” Seketika itu langit terasa runtuh menimpa tubuh Gilang. Ia terduduk di atas ubin lantai ruang operasi, kakinya serasa tak berpijak di bumi. Mengapa dunia sebercanda ini pada jalan hidup yang menjadi bagian mereka. Apa salah dan dosanya sehingga hanya di ijinkan menimang satu buah hati …?


“Maksimalkan untuk putra pertama saya dokter … katakana info ini hanya kekeliruan.” Wajah Gilang memerah, tak kuasa ia menahan emosi yang memuncak dalam hatinya. Ia hanya manusia biasa, yang memiliki batas kesabaran juga emosi yang tak mudah ia kendalikan dalam masa-masa genting seperti sekarang ini.


Bersambung …


Maaf ya readers …


Dunia ga selalu manis kan...,


Kadang pahit juga


Supaya kita bisa sama-sama belajar menyingkapi sisi buruk kehidupan


Jangan merajuk pada nyak

__ADS_1


Terima Kasih


__ADS_2