CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 209 : PR DUNIA


__ADS_3

Sebelum meninggalkan rumah sakit tepatnya setelah Gita dan Gilang berbicara banyak dengan dokter yang menangani penyakit kakek Sudrajat. Keduanya kembali menyempatkan untuk memastikan keadaan sang kakek. Namun, saat mereka ke ruang rawat. Kakek tidak berada di sana. Beliau sedang berada di ruang Hemodialisa.


“A’a … mau ke kantor?” tanya Gita yang sesungguhnya ingin tau bagaimana proses cuci darah yang sedang du jalani oleh pasien gagal ginjal di rumah sakit tersebut.


Gilang melihat arloji di tangannya sebentar, lalu memberikan jawaban pada Gita.


“Masih ada waktu 2 jam lagi Neng. A’a hanya perluj ke pabrik untuk memastikan kinerja mereka dan keterrsediaan bahan di gudang kita.”


“Kita liat kakek yang sedang cuci darah ya …” Gita memang yang paling bersemangat dalam hal memeperhatikan kakek Sudrajat ini. Membuat Gilang tak punya alasan jika setengah-setengah menolong kakeknya.


Ada 20 ranjang yang berhadapan-hadapan dalam ruangan itu. Di tiap sisinya ada alat besar hampir sebesar lemari es satu pintu. Di situlah proses bertukaran darah terjadi. Penyaringan antara darah yang bersih dan kotor. Proses itu bisa sampai 4 jam. Dan saat proses itru berlangsung, bagi sebagian pasien adalah surganya memanjakan lidah. Di mana saat proses itu berlangsung, mereka bebas mengkonsumsi apa saja. Makanan yang jarang mereka makan, seperti buah-buahan yang banyak mengandung getah. Bahkan pisang yang sarat akan kalium. Dan kandungan itu sangat tidak baik untuk kerja ginjal mereka yang sudah gagal untukmemefilter di dalam tubuh.


Ada pasien yang bisa sambil duduk menikmati prose tersebut. Ada juga yang hanya rebah dengan erangan yang keluar dengan sendirinya, akibat bukan hanya gagal ginjal yang ia sandang, melainkan ada komplikasi lain, yang mungkin akan memeprrcepat proses kematiannya. Sebagian lampu menyala sebagai tanda yang hanya para perawat yang tau apa artinya. Juga kadang terdengar suara suara dari mesin dan alat yang sedang beroperasi.


Ruangan itu cukup bersih, juga termasuk ramai. Ramai di karenakan ke akraban penunggu pasdien yang sudash layaknya saudara dengan penunggu pasien lainnya. Mereka ada yang sudah 10 tahun, 4 tahun, 7 bulan dan ternyata bagi mereka ruang hemodialisa sudah seperti rumah kedua bagi mereka, sudah seperti sekolah. Sebab ada yang 3 kali dalam seminggu mereka ke sana untuk mengantar orang terkasih agar tetap bertahan untruk hidup. Mereka yang terbaring di ranjang pesakitan itu adalah orang-orangyang sduah berdamai dengan hatinya untukmenerima penyakit mereka dengan tetap bersukacita menerima takdir dan kepercayaan yang Allah berikan untuk mereka.


“Pasien baru ya bu …?” tanya seorang pasien pria yang rebah berjejer dengan kakek Sudrajat.


“Oh … iya Pak. Bapak?” tanya Gita ramah. Ia tidak tau harus ngapain. Sebab Kakek Sudrajat terlihat sedang tidur.


“Hem … saya senior di sini. Ini sudah tahun ke sepuluh. Dulu waktu awal dua kali seminggu, pernah meningkat jadi 3 kali seminggu. Tapi sekarang Cuma 1 x seminggu.” Jawabnya dengan ramah.


“Wah … lama juga ya Pak.”

__ADS_1


“Iya … kuncinya hanya konsisten dengan segala pantangan. Hindari stress. Dan jangan capek.” Ujarnya menjelaskan tanpa di minta.


“Bapak sendiri?” tanya Gita lagi memastikan jika taka da yang mengantar pasien itu, sebab kursi di sebelahnya kosong.


“Iya. Saya ke sini masih nyetir sendiri. Dulu ada istri saya yang selalu menemani dan menyuapi makanan saat saya cuci darah. Tapi, dia sudah lelah.” Ucapnya lirih.


“Mungkin istri bapak perlu istrirahat minggu ini, dan akan menemani di minggu depan.” Hibur Gita yang menangkap kesedihan di raut wajah lawan bicaranya.


“Tidak. Dia tidak akan pernah datang lagi menemani saya di sini.” Jawab Bapak itu dengan tatapan kosong.


“Jangan pesimis Pak. Semangat.” Lagi-lagi Gita menghibur bapak itu.


“Hari ini genap sebulan, dia di ambil Tuhan. Huh … mengapa dia yang lebih dahulu pulang. Padahal saya pun sudah capek hidup seperti ini.” Jawabnya menatap Gita.


“Innalilahiwainalilahirojiun.” Gita berbelasungkawa. Mana ia kira maksud obrolan bapak itu, mengisyaratkan jika istrinya meninggal.


“Jangan bicara bergitu Pak. Allah maha pengatur segala. Mungkin masih ada PR yang belum bapak selesaikan di dunia ini. Sehingga belum waktunya untuk pulang.” Jawab Gita seadanya.


“Hum … mungkin. Siapa yang sakit?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Kakek kami.” Jawab Gita mengalihkan tatapannya kea rah Kakek.


“Jika di lihat dari kondisinya. Kakek kalian juga sudah tua. Mestinya, orang setua itu sudah banyak mengerjakan tugas dunianya. Tapi juga belum di nyatakan layak untuk menghadap Tuhan. Pasti beliau juga masih punya PR yang belum di selesaikan, sehingga belum di ijinkan pergi untuk meninggalkan dunia.” Simpulnya sendiri.

__ADS_1


“Ya … mungkin.” Jawab Gita yang baru saja di kembalikan ucapannya tentang PR dunia.


“Sebaiknya bangunkan kakek kalian. Dan beri makanan kesukaannya. Selagi proses cuci darah ini berlangsung. Setidaknya , saat cuci ini dia bisa menikmati makanan lezat, setelah nanti harus di batasi makan ini dan itu.” Sarannya kemuadian.


Gita dan Gilang saling berpandangan. Bukan karena tak berani membangunkan kakek. Tapi mereka tidak tau, makanan apa yang kakek sukai. Bukankah mereka baru 2 kali bertemu orang tua yang mereka akui sebagai kakek mereka ini.


“Permisi, keluarga pasien Sudrajat?” seorang perawat mendekati ranjang yang di tiduri oleh Sudrajat.


“Iya suster, ada apa?” tanya Gilang.


“Bisa bicara sebentar?” tanyanya kembali.


Gita memberi anggukan kecil memeberi tanda ijin pada Gilang agar memberi kesempatan perawat itu berbicara dengannya.


“Iya ada apa Suster?” tanya Gilang saat mereka sudah berada di meja perawat.


“Begini … pesan dokter Birawa. Pasien Sudrajat akan di berikan vitamin dan suntikan penunjang lainnya. Agar kondisi pasien cepat pulih dan stabil. Suntikan ini untuk ginjal juga ada yang membantu elastisitas kulitnya juga mencegak plak yang tumbuh di kulinya. Sebab pasien hemodialisa cendrung menghitam efek dari mesin cuci darah tersebut.” Jelas perawat tadi dengan jelas.


“Oh iya … silahkan di berikan semua yang di sarankan dokter.” Perintah Gilang setuju.


“Iya … kami hanya menyampaikan untuk segera kami lakukan tindakan. Tetapi, maaf. Pasien tidak menggunakan jalur BPJS. Sehingga, maaf. Ini resep yang harus di beli. Jikalau memungkinkan, sebaiknya di beli dalam jumlah banyak. Agar tiap beliau datang untuk Hemo, bapak tidak harus bolak-balik membelinya.” Perawat itu memberikan kertas resep pada Gilang.


“Oh … iya siap. Nanti akan kami titipkan di sini stok obatnya. Terima kasih.” Jawab Gilang sopan. Yang kemudian meninggalkan pereawt itu dan berjalan menuju Gita untuk pamit membeli obat untuk sang kakek.

__ADS_1


“Oh … pasien umum ya? Siap-siap bangkrut saja.”


Bersambung …


__ADS_2