CUKUP SATU

CUKUP SATU
BAB 190 : DIA TAMPAN SEKALI


__ADS_3

Tak dapat di pungkiri duka nestapa sungguh sedang berkunjung lama di keluarga kecil Surenra dan Mahesa. Sebab manusiawi sekali. Kebanyakan orang kadang akan lebih lama terlarut dalam kesedihan masa lalu dari pada menghadapi kenyataan di depan mata.


Gilang terlihat masih agak murung, sebab bayangan Alm. Genta kadang masih terlintas saat baru Gita lahirkan beberapa waktu lalu. Ya, kini Gita sudah kembali kerumah mereka. Setelah 5 hari di ijinkan melakukan rawat jalan di rumah. Gwen sudah pandai meminum ASInya, bahkan sering terlampau kenyang. Karena air susu Gita memang melimpah.


Gita sudah bisa berjalan, namun agak pelan. Tapi untuk melakukan apapun. Ia di larang keras. Ada mama Indira yang meminta tinggal untuk beberapa minggu di rumah anaknya tersebut. Sepertinya, Diendra sungguh telah melakukan didikan keras terhadap istrinya itu, agar tidak berulah ataupun berbicara apapun yang sekiranya membuat anaknya atau orang-orang di sekitar menjadi membenci bahkan menentangnya.


Indira wanita, sakitnya melahirkan pun pernah ia lalui. Jalan hidup tak pernah bisa mereka prediksi. Ia ingat masa lalunya yang begitu nakal pernah mengambil suami orang lain. Secara kasat mata ia bahagia kini. Tapi lihatlah nasib kedua anaknya. Satu harus berjuang untuk mendapat keturunan sedangkan yang satunya lagi harus di berikan ujian dalam hal kehilangan anak pertamanya. Tidakkah itu bagian dari karma yang di bayar lunas pada sang pencipta. Gita dan Daren terlahir sempurna, baik jiwa dan raga. Akhlak mereka mulia, jodoh mereka pun adalah orang yang memiliki iman serta keperibadian yang baik pula. Ternyata pada keturunan mereka di uji. Dan Indira menyadari hal tersebut.


“Eeeh …. Mau kemana?” tegur Indira pada Gita yang terlihat berjalan menuju dapur.


“Mau ambil minum, mah.” Jawabnya pelan.


“Tinggal bilang mama saja. Nanti mama yang ambilkan.” Ujarnya segera beranjak mengambilkan segelas air putih untuk Gita.


“Ma … mestinya Gita bisa ambil sendiri, supaya sambil latihan banyak gerak.”


“Belum waktunya sayang. Percaya deh sama mama. Yang namanya orang habis melahirkan itu, bukannya tidak boleh bergerak. Tapi harus di batasi dulu. Sebentar saja sayang. Hanya sampai darah kotormu habis keluar. Kita hamil itu 9 bulan. Masa pemulihan hanya seminggu. Apalagi kamu operasi, lukamu jelas belum kering. Jika terlihat sudah menyatu, itu hanya di bagian luarnya saja, tapi lapisan dalamnya belum tentu.” Ujar Indira yang memang ada benarnya.

__ADS_1


“Rasanya bosan mah, mau mandi di mandikan. Pakai baju, di pasangin. Sehari-hari hanya makan, tidur duduk nyussui Gwen.” Keluh Gita pada mamanya.


“Terus kalo ga gitu kamu mau ngapain …? Nyangkul di sawah? Ke pasar ? atau mau nongkrong di café …?” tanya Indira gemas dengan keluhan putrinya.


Memang, Gilang melayani Gita dengan sempurna. Gita tidak boleh mandi sendiri. Sebelum ke kantor, Gita sudah ia mandikan, di gantikannya plester anti air dan di taburi obat. Tubuh Gita di lumurinya dengan minyak kayu putih untuk memberikan efek hangat di seluruh tubuh wanita yang ia cintai itu. Kaki dan tangan Gita sudah pula ia oleskan body lotion agar kulitnya tetap lembab terjaga. Perlakuan yang sama ketika ia sudah pulang dari kantor. Hal itu bagai ritual wajib yang Gilang lakukan untuk wanita tercintanya itu.


Jangan tanya soal makanan. Ada bi Inah yang sudah menyiapkan semuanya. Tanpa di minta dan tentu penuh paksaan, Kevin sudah mempekerjakan satu baby sitter yang ia kontrak hingga 3 tahun untuk membantu Gita dalam hal mengurus Gwen. Sehingga, Gita berjumpa dengan Gwen hanya saat siap menyusui saja. Urusan menjaga tidurnya, mengganti basah popoknya dan membersihkan, memandikannya. Semua menjadi tanggung jawab mbok Darmi. Ya begitu panggilannya, pengasuh Gita berusia 47 tahun. Cukup tua jika di bandingkan Laras, Ami dan Karti baby sitter Adera.


Hal itulah yang membuat Gita agak uring-uringan. Ia tidak sepenuhnya merasa sibuk saat memiliki anak. Ia hanya mendengar tangisan Gwen sebentar, saat merasa tak nyaman dengan panttatnya yang basah. Dan itu segera di ganti oleh mbok Darmi. Kemudian Gwen di serahkan pada Gita, untuk di susui. Semua orang menjadi cerewet pada Gita, jika ia ingin melakukan pekerjaan rumahan.


“Sabar ya sayang … fokus pada kesehatanmu saja. Bukan mama melarangmu bekerja selamanya. Bukan pula ingin mengurangi frekuensi mu ingin mengurus anak sendiri. Tapi ini adalah proses yang memang mesti kamu lewati. Nikmati saja terlebih dahulu.” Rayu Indira pada anaknya.


“Pipi Gwen makin embul ya, Neng.” Puji Gilang memencet pipi si cantik Gwen.


“Iya … sama dengan pipi Eneng. Karena kerjaan kami sekarang sama, A’. Cuma makan dan tidur saja. Bosan.” Curhat Gita pada GIlang, saat mereka belum merasa kantuknya datang.


“Terus … eneng mau ngantor?” tanya Gilang.

__ADS_1


“Ya ga gitu juga a’ … bosan juga ternyata mau ngapa-ngapain tapi udah di bereskan semua. Eneng ngerasa kaya lagi di hukum. Ga boleh ngapa-ngapain. Mau ganti popok Gwen aja udah ada yang bersihin, mau makan, hampir ada yang mau nyuapin, mandi juga kadang masih di mandiin. Eneng udah berasa kayak orang cacat, A’.” Lanjutnya dengan wajah cemberut.


Gilang menghalau baby G yang ada di tengah mereka, demi mencuri kecupan di bibir Gita yang sedang curhat padanya.


“Bersyukur Neng. Di luaran sana masih banyak ibu nifas yang kurang beruntung lho. Entah itu mereka melahirkan secara normal atau Caesar. Tapi mereka masih harus langsung terjun mengurus bayinya sendiri tanpa bantuan babby sitter dan orang tua yang mampu ikut menjaga bayinya.” Ujar Gilang mengingatkan Gita.


“Astagafirullahaladzim.” Dzikir Gita menyadari keberuntungan hidupnya.


“Oh … iya. Kerjaan di kantor sedang banyak ya A’ …”


“Tidak juga …”


“Kenapa terlambat pulang …? Hampir magrib tadi.” Ujar Gita memastikan kemana suaminya sepulang kantor.


“A’a tadi mampir dulu ke tempat Genta. Rindu rasanya tidak memandangnya di sana.” Jawab Gilang pelan.


“Dia tampan sekali ya A’ ….” Kenang Gita yang telah kenal putranya melalui foto yang sudah di siapka untuknya. Juga rekaman video di dalam runag operasi.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2