
Acara ngerujak berakhir agak ricuh, karena kedatangan babe yang memang merocoki suasana tersebut dengan sengaja.
Buah buahan segar dan asam itu pun ludes tak bersisa, sementara suara gendang dangdutan masih terdengar bertalu talu.
Bagaimana acara itu bisa cepat selesai, tak ada yang berani menghentikannya. Saat yang tersisa di atas panggung adalah pa Herman ayah Siska dan Dae Jung, ayah Asep. Keduanya sudah tidak dalam keadaan sadar. Awalnya maksud Dae Jung hanya berbagi minuman dengan sang besan. Tapi justru kebablasan, saat Diendra datang. Dan hadir sebagai tukang takar putaran gelas minuman yang mengandung alkohol walau berkadar rendah. Karena itu pula Daren segera mengantar papinya ke resort. Untuk mengurangi kemungkinan kericuhan terjadi lebih parah lagi. Daren tau tabiat papi kalau sudah terkontaminasi minuman beralkohol. Bisa bisa seluruh rahasia perusahaan dia bongkar habis habisan, di luar kesadarannya.
Sementara Siska dan Asep terlihat sudah letih dengan atribut khas pengantin yang masih menempel di tubuh mereka. Beruntung, ibu Siska sudah memberi kode saat adzan magrib akan berkumandang, mereka berdua sudah di ijinkan meninggalkan pelaminan. Sekaligus pertanda pesta sungguh telah bubar.
Rumah keluarga Siska memang bangunan baru, tapi ayah Siska tidak menyewa jasa arsitek atau konsultan dalam hal merancang bentuk rumah tersebut. Sehingga, tak terpikir olehnya menempatkan kamar mandi di kamar depan. Kamar yang kini Asep dan Siska gunakan sebagai kamar pengantin mereka.
Dapat terbayang, baik Asep maupun Siska nantinya lumayan repot sekedar untuk mandi atau buang air besar dan kecil. Saat mereka masih menjadi penghuni kamar tersebut.
"Oppa mandi duluan ya..." Perintah Siska yang tak pernah menyerah memanggil Asep dengan panggilan itu.
"Oke siap." Jawab Asep singkat, tanpa penolakan.
"Nih baju sama handuknya, di pakenya langsung di kamar mandi saja. Biar ga terjadi insiden tidak di inginkan." Cerocos Siska pada Asep yang sudah berubah status jadi suaminya tersebut.
"Ha... ha... ha... memangnya insiden apa, siih nyai." Ledek Asep yang juga tetap berkeras memanggil Siska dengan panggilan kesayangannya itu.
"Ya siapa tau dalam perjalanan dari belakang ke depan, tiba-tiba handuk terlepas misalnya. Ingat ya... itu barang belum pernah ku lihat secara utuh ya Oppa." Deliknya ke arah peralatan tempur Asep.
"Mimpi apa sih, tetiba punya istri mesum begini." Tawa Asep menumpuk kedua tangannya ke area sarang burung miliknya.
Keduanya terkekeh, Asep pun keluar dengan membawa perlengkapan mandinya yang sudah di siapkan Siska.
Namun baru keluar pintu, Asep mundur dan menengok ke dalam kamar lagi.
"Nyiii... sarung burungnya sudah di dalam sini kan?" tanyanya mengangkat tas plastik di tangannya.
Siska melotot ke arah Asep sambil berkata : " Ya iyalaah, masa ga pake sarung...?"
Asep hanya tertawa melihat pelototan Siska yang mendadak galak setelah menjadi istrinya itu.
Lalu ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi di belakang.
Suasana rumah Siska masih ramai, kerabat dari pihak ibu dan ayahnya juga masih berada di sana. Memilih menginap untuk ikut memberikan doa terbaik untuk Siska.
__ADS_1
Maklumlah, kini keadaan keluarga Siska sudah meningkat. Sehingga keluarga pun berlomba-lomba ingin mengakui akan hubungan pertalian darah mereka dengan keluarga pak Herman dan istri.
Ah... hal itu sudah sangat lumrah terjadi dalam kehidupan nyata. Dimana apapun akan menempel dengan sendirinya di saat kita banyak memiliki uang dan harta.
Tok
Tok
Tok
Suara kamar pengantin di ketuk dari luar, Siska segera melangkah untuk membuka pintu. Tampak Zahra dengan wajah sumringah menghampiri Siska.
"Boleh aku bantu membersihkan sisa make up mu?" tanya Zahra yang selalu ramah dan baik.
"Dengan senang hati donk, yuks. Udah gatal ini." Ujar Siska yang mulai membuka pakaian pengantin yang meribetknya.
"Duh lega rasanya." Celetuk Siska yang kini sudah menggunakan pakaian daster longgar.
"Kamu santai aja, nanti aku yang bersihkan sampai tuntas. Lagian kamu kan cape jadi rebahan aja deh." Ujar Zahra yang sudah dengan lincahnya mengambil peralatan untuk membersihkan bekas riasan yang masih menempel di kulit wajah Siska.
Asep sudah mandi dan segera bergabung dengan Siska dan Zahra yang masih belum selesai membersihkan wajah Siska.
"Iya." Jawab Asep sambil membuka pintu kamar. Terlihat Daren sudah berdiri dengan penuh senyuman di hadapan Asep.
"Daren... masuk Ren." Asep melebarkan pintu kamar pengantin baru tersebut.
"Abi nyusul...?" celetuk Zahra manja.
"Iya... ummi sudah kasih ke Siska?" tanya suami istri itu berkomunikasi dengan santainya di kamar pengantin orang lain.
Siska mendudukkan dirinya, sebab sudah selesai riasannya terhapus.
"Belum sempat, bi." Jawab Zahra melangkah mendekati tas yang ia letakkan di meja rias Siska.
"Apa sih...?" tanya Siska pensaran. Sementara Asep memperhatikan sambil menggosok-gosok rambut basahnya saja.
"Ini... mau kasih kado." Ujar Zahra menyodorkan sebuah kotak persegi panjang untuk Siska.
__ADS_1
"Waah... apa niih, isinya?" senyum sumringah Siska menerima kotak tersebut.
"Buka aja." Ujar Daren, yang memang menganggap Siska sudah seperti adik sendiri, karena kedekatan mereka selama ini. Bahkan saat masih sama sama bekerja di Jakarta, banyak yang mengira Daren dan Siska adalah sepasang kekasih.
"Oppa... sini. Kita buka sama sama." Tarik Siska pada tangan Asep yang sudah ia dekati.
"Ga malu di liat yang ngasih?" tanya Asep ke arah Daren.
"Ga papa... mau liat ekspresi Siska sekalian." Jawab Daren sambil tersenyum lebar.
"Oke deh. Bismillahirahmanirahim." Doa Siska sebelum membuka kotak tersebut.
Zahra segera di tarik pinggangnya oleh Daren, agar mereka bisa menikmati wajah bahagia yang terpampang di wajah pengantin baru itu.
"Apaan sih kok kosong?" ucap Siska saat tak menemukan apa-apa dalam kotak itu dengan wajah kehilangan tawa.
"Mana..., sini." Ujar Asep mengambil kotak yang sampulnya sudah terbuka itu.
Pelan pelan Asep membuka kotak itu hingga sampulnya terlepas habis. Dan mendapatkan sebuah amplop putih di dalamnya.
"Nah, ini ada." Ujar Asep menyerahkan amplop itu pada Siska.
"Waaah... voucer bulan madu." Teriak Siska kesenangan.
"Iih... tapi oppa Asep kan ASN. Sulit cutinya." Rengut Siska lagi.
"Bisa di atur kok, kapan mau di pakai. Sesuaikan saja dengan waktunya Asep." Jawab Daren.
"Ini kemana?" tanya Asep ikut memegang Voucer itu.
"Pulau Bintan." Jawab Zahra cepat.
"Kepulauan Riau?" tanya Asep memastikan.
"Ya... betul sekali." Jawab Daren.
"Kenapa jadi kesana?" tanya Siska agak bingung.
__ADS_1
"Karena pulai ini relatif jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Jadi sangat cocok untuk pasangan yang mencari suasana intim dan romantis." Jelas Zahra yang terlihat sudah paham betul dengan destinasi wisata di Pulau Bintan yang terkenal akan deretan resor mewah, hiburan kelas dunia, dan keindahan pesisir pantai yang menakjubkan.
Bersambung...